Strategi Baru Pertahanan Inggris: Korbankan Kapal Perusak dan Fregat demi Ambisi Armada Drone

Sebuah bocoran laporan mengenai Rencana Investasi Pertahanan (Defence Investment Plan) Inggris yang dijadwalkan meluncur pada hari Selasa besok, memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat militer global. Informasi rahasia yang pertama kali diungkap oleh The Sunday Times pada Minggu, 28 Juni 2026 ini membeberkan langkah radikal London yang bakal menghapus pendanaan untuk proyek kapal perusak masa depan Type 83 dan fregat Type 32.
Sebagai gantinya, Kementerian Pertahanan Inggris memilih untuk mengalihkan fokus anggaran guna membangun struktur armada hibrida yang mengombinasikan kapal berawak (crewed) dan tanpa awak (uncrewed), termasuk pembentukan satuan tugas peperangan drone (drone warfare taskforce) yang baru.
Langkah pengalihan ini secara spesifik berfokus pada pengadopsian drone laut secara masif, baik berupa Kapal Permukaan Tanpa Awak (Unmanned Surface Vessels/USV) maupun Kapal Selam Otonom (Unmanned Underwater Vessels/UUV). Melalui konsep armada hibrida ini, satgas otonom tersebut diproyeksikan untuk mengambil alih tugas-tugas konvensional yang seharusnya diemban oleh kapal kombatan utama, seperti deteksi dini, pengintaian perimeter depan, hingga misi pemburuan kapal selam dan penyapuan ranjau.
Sinergi lintas dimensi ini nantinya juga akan didukung oleh integrasi sistem drone udara (Unmanned Aerial Vehicles/UAV) yang diluncurkan langsung dari dek kapal otonom tersebut untuk memperluas payung perlindungan udara armada udara Royal Navy.
The UK will replace plans for Type 83 destroyers and Type 32 frigates with at least six hybrid “common combat vessels” designed to operate aerial and underwater drones.
The move reflects a shift toward autonomous warfare, with the new ships expected to enter service in the… pic.twitter.com/S7VafSALdW
— Clash Report (@clashreport) June 28, 2026
Meskipun memotong proyek-proyek kapal permukaan utama, laporan yang dibocorkan The Sunday Times tersebut mencatat bahwa rencana strategis ini sebenarnya mendapatkan suntikan dana tambahan yang cukup signifikan, yakni sebesar £1 hingga £1,5 miliiar di atas kesepakatan anggaran sebelumnya. Alokasi dana ekstra ini sengaja dikunci untuk mengamankan pengadaan jet tempur siluman (stealth fighters) masa depan, armada jet tempur F-35A, serta modernisasi peralatan tempur Korps Marinir.
Namun, demi menutup defisit pembiayaan lainnya, pemerintah Inggris terpaksa mengambil kebijakan tidak populer dengan menunda program perbaikan rumah dinas prajurit serta menangguhkan rekrutmen kader taruna baru (cadet recruitment).
NEW: There will be no new Type 83 Destroyers or Type 32 Frigates in the upcoming defence investment plan 💥
I’m told the DIP will be published on Tuesday with £1bn – £1.5bn more than John Healey secured.
It will also include:
⚓️Some kind of new crewed vessel – but not a… pic.twitter.com/oEu9pEMvC2
— Dominic Hauschild (@domhauschild) June 28, 2026
Royal Navy betting its whole future on 5 new classes of vessel which are yet to be designed, built or proven.
Common Combat Vessel (CCV) – Crewed C&C Ship (T31?)
Type 91 – Unmanned Missile Barge
Type 92 – Unmanned ASW Sloop
Type 93 – Unmanned Submersible
Type 94 – Unmanned… https://t.co/T3MwpWWIVj— Britsky (@TBrit90) June 28, 2026
AL Inggris Sukses Uji Pengoperasian Perdana Drone Kargo Twin Engine di Kapal Induk
Langkah berani memangkas kekuatan kapal kombatan utama (surface combatants) demi mengejar armada nirawak ini langsung menuai gelombang kritik tajam dari berbagai elemen pertahanan dalam negeri. Salah satu kritik paling keras datang dari mantan Komandan Angkatan Udara Inggris (RAF), Greg Bagwell.
Ia memperingatkan bahwa fokus berlebihan pada teknologi drone terkesan seperti langkah yang mengutamakan penampilan luar ketimbang substansi nyata. Kekhawatiran ini dinilai sangat beralasan mengingat kekuatan armada kapal permukaan Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) saat ini sudah berada dalam kondisi yang sangat kritis dan “tipis”.
Krisis Kesiapan Tempur, Seluruh Kapal Selam Nuklir Astute Class Inggris Dilaporkan Absen Operasional
Saat ini, Royal Navy tercatat hanya memiliki sekitar 14 kapal pengawal (escorts) utama yang siap beroperasi. Jumlah yang sudah sangat minim tersebut bahkan sering kali berkurang drastis di lapangan karena kapal-kapal tersebut harus mengantre lama di galangan akibat masalah pemeliharaan dan perawatan (maintenance).
Dengan dihapusnya proyek Type 83 dan Type 32 sebagaimana dilaporkan dalam investigasi awal The Sunday Times, banyak pihak menyangsikan apakah gugus tugas USV dan UUV otonom ini mampu sepenuhnya menggantikan kehadiran fisik dan daya gentar (deterrence) kapal perusak konvensional di lautan global. Perubahan haluan ini membuktikan bahwa Inggris tengah bertaruh besar pada revolusi teknologi peperangan masa depan, meski harus mengorbankan pilar-pilar kekuatan laut tradisionalnya. (Gilang Perdana)
BAE Systems Sukses Uji Coba “Herne” XLAUV: Drone Bawah Laut Berukuran Besar untuk Tugas Militer


