Gagal Total, Jerman Batalkan Proyek Fregat Raksasa F126 dan Alihkan Pesanan ke 8 Unit Meko A-200

Dinamika mengejutkan melanda kancah industri pertahanan Eropa setelah Pemerintah Jerman secara resmi mengumumkan pembatalan total megaproyek pembangunan armada fregat F126 (Niedersachsen class). Seperti yang pernah diulas sebelumnya oleh Indomiliter.com, F126 Class awalnya diproyeksikan menjadi kapal perang terbesar Angkatan Laut Jerman (Deutsche Marine) sejak era Perang Dunia II dengan rencana pembangunan enam unit kapal.

Baca juga: Jerman Mulai Bangun Frigat F126 Class: Jadi Kapal Perang Terbesar Jerman Sejak Perang Dunia II

Namun, akibat masalah penundaan yang berlarut-larut serta proyeksi pembengkakan biaya (cost overruns) yang fantastis, Kementerian Pertahanan Jerman mengambil keputusan radikal untuk mengubur program bernilai miliaran Euro tersebut dan mengalihkan komitmennya ke platform lain.

Berdasarkan kontrak awal yang disepakati pada tahun 2020 dengan galangan kapal asal Belanda, Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), proyek ini sedianya bernilai sekitar 10 miliar Euro untuk enam unit kapal. Namun, Kementerian Pertahanan Jerman baru-baru ini memperingatkan bahwa jika proyek F126 terus dipaksakan berjalan, total biayanya akan meroket hingga menembus angka 18 miliar Euro (sekitar 20 miliar Dolar AS). Meskipun proses pemotongan baja pertama (first steel cutting) telah dimulai oleh Damen sejak Desember 2023, hingga saat ini belum ada satu pun unit fregat F126 yang berhasil diselesaikan akibat komplikasi teknis dan manajemen produksi di galangan.

Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, mengungkapkan bahwa Berlin telah membakar anggaran sekitar 2,3 miliar Euro untuk proyek F126 yang mangkrak ini sejak pesanan pertama dilepas enam tahun lalu. Pemerintah Jerman bahkan tengah memeriksa potensi pengajuan klaim ganti rugi terhadap Damen, walaupun Pistorius mengakui peluang keberhasilan hukumnya relatif kecil.

Sebelum pembatalan total ini diumumkan, sempat muncul wacana untuk mengalihkan kontrak F126 kepada mitra domestik, Naval Vessels Lürssen (NVL)—yang baru saja diakuisisi oleh raksasa pertahanan Rheinmetall pada Maret lalu. Namun, opsi pengalihan ke Rheinmetall/NVL ini akhirnya ditolak mentah-mentah oleh kementerian karena berisiko memicu beban biaya tambahan yang jauh lebih besar.

Sebagai gantinya, Jerman langsung beralih ke solusi domestik yang dinilai lebih realistis dan aman dari segi finansial dengan menggandeng ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS). Jerman memutuskan untuk memborong delapan unit fregat Meko A-200 yang berukuran lebih kecil, yang akan dioptimalkan “terutama untuk misi peperangan anti-kapal selam” (anti-submarine warfare). Langkah ini sejatinya merupakan kelanjutan dari manuver darurat Berlin pada Maret lalu, ketika mereka sempat mengumumkan rencana pembelian empat unit MEKO A-200 sebagai solusi interim (sementara) akibat mencium gelagat keterlambatan kronis pada program F126.

Saham Pabrik Kapal Selam Jerman TKMS Dilepas ke Pasar, Bagaimana Nasib Keluarga Type 209 Indonesia?

Secara finansial, arsitektur pengadaan baru ini jauh lebih masuk akal bagi kantong Berlin. Total anggaran yang disiapkan untuk kedelapan fregat Meko A-200 ini diperkirakan mencapai 11,6 miliar Euro. Rincian struktur anggarannya telah diajukan per 24 Juni 2026, di mana porsi 6,3 miliar Euro akan dialokasikan untuk pembangunan empat unit kapal pertama. Sementara sisanya, sebesar 5,3 miliar Euro, disiapkan sebagai dana opsi untuk menambah empat unit berikutnya, dengan catatan opsi tersebut harus dieksekusi sebelum akhir tahun 2026.

Pihak TKMS sendiri menyatakan telah memulai pekerjaan persiapan sejak Februari lalu dan menargetkan pengiriman unit fregat Meko A-200 pertama kepada Deutsche Marine pada tahun 2029. TKMS juga membuka peluang lebar untuk melibatkan galangan-galangan kapal Jerman lainnya jika pemerintah benar-benar mengeksekusi opsi tambahan empat unit kapal sisa. (Gilang Perdana)

Jerman Mulai Bangun Frigat F126 Class: Jadi Kapal Perang Terbesar Jerman Sejak Perang Dunia II

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *