Tolak Rafale Perancis, Brasil Pilih Borong 20 Unit Saab Gripen Tambahan untuk Perkuat Kontrak Dirgantara dengan Swedia

Dinamika perburuan jet tempur di kawasan Amerika Latin kembali memanas memasuki pertengahan Juni 2026 dengan keputusan mengejutkan dari Angkatan Udara Brasil (FAB). Brasil dilaporkan secara resmi telah menolak tawaran jet tempur Dassault Rafale dari Perancis, dan kini justru mengalihkan pandangannya untuk menambah pesanan 20 unit jet tempur Saab Gripen E/F dari Swedia.
Langkah strategis yang mencuat di sela-sela pameran pertahanan Eurosatory 2026 ini tidak hanya menegaskan komitmen Brasil terhadap platform jet tempur bermesin tunggal tersebut, tetapi juga memperdalam jalur kemitraan pertahanan (defense pipeline) antara Stockholm dan Brasilia yang diprediksi akan mengubah peta kekuatan udara regional di Amerika Selatan selama bertahun-tahun ke depan.
Penolakan Brasil terhadap Perancis ini terbilang menarik, mengingat Paris datang dengan proposal yang sangat agresif dalam beberapa bulan terakhir. Perancis melalui Dassault Aviation diketahui menawarkan paket pengadaan jet tempur Rafale dengan nilai kontrak yang ditaksir mencapai miliaran dolar AS untuk sekitar 24 hingga 36 unit pesawat, bergantung pada skema pendanaan yang dipilih.
Guna memikat Brasil, Paris bahkan menyertakan paket alih teknologi (ToT) yang sangat royal, termasuk jaminan kebebasan penggunaan senjata (black box integration) tanpa intervensi pihak ketiga, serta tawaran kemitraan strategis yang mencakup kerja sama industri dirgantara tingkat tinggi. Tawaran ini sejatinya merupakan upaya Perancis untuk menghidupkan kembali dominasinya setelah sempat kalah dalam tender proyek F-X2 Brasil di masa lalu.
Saab dan Embraer Buka Jalur Produksi Jet Tempur Gripen E di Sao Paulo – Brasil
Namun, tawaran menggiurkan dari Perancis tersebut akhirnya resmi ditepis oleh FAB pada Juni 2026 ini karena pertimbangan pragmatis dan investasi jangka panjang. Pengadaan armada baru seperti Rafale dinilai hanya akan mengacaukan rantai logistik, meningkatkan biaya operasional akibat skema dual-platform (dua jenis jet tempur utama yang berbeda), serta berisiko menyia-nyiakan investasi infrastruktur ToT Gripen yang sudah berjalan matang di dalam negeri.
Sebaliknya, keputusan Brasil untuk menambah armada Gripen ini merupakan kelanjutan logis dari kontrak awal senilai 5,4 miliaran dolar AS yang ditandatangani pada tahun 2014 untuk 36 unit Gripen E/F (dikenal lokal sebagai F-39 Gripen). Melalui kemitraan dengan Embraer, Brasil telah membangun fasilitas perakitan lokal di Gavião Peixoto, sehingga penambahan unit Gripen dinilai jauh lebih ekonomis karena ekosistem produksinya sudah mandiri di dalam negeri.
Bagi Saab dan Swedia, potensi penambahan 20 unit Gripen ini menjadi kemenangan geopolitik dan industri yang sangat krusial, terutama setelah jet tempur ini beberapa kali kalah bersaing dengan jet tempur siluman F-35 buatan AS di pasar Eropa. Selain memperkuat lini produksi domestik di Brasil, kesepakatan baru ini kabarnya juga membuka peluang timbal balik yang menarik, di mana Swedia berpotensi memesan pesawat angkut taktis Embraer C-390 Millennium untuk kebutuhan Angkatan Udara Swedia. Hubungan simbiotik ini semakin mengukuhkan bahwa koridor pertahanan Swedia-Brasil bukan lagi sekadar transaksi jual-beli senjata konvensional, melainkan aliansi industri dirgantara yang strategis.
Dengan tambahan 20 unit baru ini, total armada F-39 Gripen yang akan dioperasikan oleh Angkatan Udara Brasil akan melonjak menjadi 56 unit. Skala armada sebesar ini otomatis akan menempatkan Brasil sebagai operator kekuatan udara paling modern dan dominan di Amerika Latin. Integrasi penuh sistem avionik canggih, radar AESA, serta kemampuan membawa rudal udara-ke-udara jarak jauh melampaui cakrawala (beyond visual range) pada Gripen akan memberikan efek deteren yang masif di kawasan. (Bayu Pamungkas)
Saab Resmi Luncurkan Unit Perdana Gripen F Tandem Seat Pesanan Angkatan Udara Brasil


