Borong Tambahan 20 Unit A400M Atlas, Jerman Bakal Jadi Raja Pesawat Angkut Berat di Eropa

Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) bersiap mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan logistik udara paling dominan di kawasan. Berdasarkan laporan yang pertama kali diembuskan oleh media pertahanan Jerman, Hartpunkt, Berlin saat ini tengah berada dalam fase penjajakan intensif untuk menambah pesanan pesawat angkut berat taktis-strategis Airbus A400M Atlas sebanyak 10 hingga 20 unit baru.

Baca juga: Airbus Ketar-ketir, Perancis dan Spanyol Disebut Bakal Kurangi Pesanan A400M Atlas

Langkah masif itu diambil bukan hanya untuk mempertebal otot logistik domestik, melainkan juga memegang peran krusial dalam mendongkrak kemampuan angkut udara terintegrasi Eropa (European airlift capacity) di bawah panji NATO dan Uni Eropa.

Kabar mengenai rencana penambahan armada ini mencuat ke permukaan tak lama setelah Jerman menyelesaikan kontrak pengadaan gelombang pertamanya. Pada April 2026, Airbus resmi menyerahkan unit A400M ke-53 dengan nomor registrasi 54+63, yang menandai tuntasnya pesanan awal dari Luftwaffe.

Kehadiran 53 unit A400M Atlas sebetulnya sudah menobatkan Jerman sebagai operator terbesar di dunia untuk tipe pesawat angkut bermesin turboprop raksasa tersebut, mengungguli Perancis yang membatasi armadanya di angka 50 unit. Jika negosiasi kontrak baru untuk tambahan hingga 20 unit ini sah ditandatangani, total armada A400M Jerman akan melesat ke angka 63 hingga 73 unit, sekaligus mendudukkan Luftwaffe secara mutlak sebagai raja pesawat angkut berat terbesar di dataran Eropa.

Cetak Sejarah! A400M Inggris Terjang 3.000 Km, Terjunkan Tim Medis Tempur Hadapi Wabah Hantavirus

Berdasarkan informasi dari lingkaran dalam yang dihimpun Hartpunkt, terdapat dua urgensi utama yang melandasi manuver agresif Berlin ini. Pertama, kebutuhan operasional logistik militer jarak jauh Jerman meningkat tajam pasca-pensiunnya seluruh armada pesawat angkut lawas Transall C-160. Jerman kini membutuhkan tulang punggung logistik yang tangguh untuk mendukung mobilitas pasukan dan material berat secara mandiri tanpa harus bergantung pada sewa pesawat kargo pihak ketiga.

Kedua, pesanan tambahan dari Jerman ini dinilai sebagai juru selamat bagi jalur perakitan (final assembly line) A400M milik Airbus di Sevilla, Spanyol. Saat ini, sisa antrean produksi (backlog) Airbus untuk A400M hanya aman hingga tahun 2029. Suntikan kontrak baru dari Jerman akan memperpanjang napas jalur produksi domestik Eropa tersebut, memberikan waktu bagi Airbus untuk mengamankan potensi pasar ekspor baru di negara lain seperti India atau Kazakhstan.

Secara kapabilitas, Airbus A400M Atlas merupakan pesawat multi-peran yang menjembatani celah antara pesawat angkut taktis murni dan strategis. Ditenagai oleh empat mesin turboprop Europrop TP400-D6 berkekuatan masing-masing 11.000 tenaga kuda, pesawat ini mampu membawa muatan maksimal hingga 37 ton sejauh 3.300 kilometer, atau terbang hingga jarak 8.700 kilometer dengan muatan yang lebih ringan.

Fleksibilitas payload memungkinkan Jerman untuk menerbangkan kendaraan tempur lapis baja, helikopter pemadam, hingga sistem pertahanan udara langsung ke landasan pacu yang pendek dan tidak diperkeras (unprepared airstrip) di garis depan konflik atau area bencana—sebuah kemampuan yang tidak dimiliki oleh pesawat angkut strategis berbadan lebar seperti Boeing C-17 Globemaster III.

Realisasi dari Project pengadaan tambahan ini diproyeksikan akan mengubah peta kekuatan logistik militer di Eropa Barat. Dengan armada yang masif, Jerman tidak hanya akan menjadi penopang utama bagi operasi proyeksi kekuatan (power projection) NATO, tetapi juga memperkuat kemandirian strategis Eropa dalam menghadapi krisis keamanan global di masa depan tanpa perlu selalu bersandar pada aset transportasi udara milik Amerika Serikat. (Haryo Adjie)

Inggris Pecahkan Rekor Penerbangan Jarak Jauh Airbus A400M Atlas, Terbang 22 Jam Non-stop Tempuh 11.265 Km

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *