Hari Ini 43 Tahun Lalu, Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi Diluncurkan, Kini Bersiap Perkuat TNI AL

Tepat hari ini 43 tahun yang lalu, sebuah tonggak sejarah penting dalam dunia maritim militer Eropa tercipta. Pada 11 Juni 1983, galangan kapal terkemuka Fincantieri di Monfalcone Shipyard, Monfalcone, resmi meluncurkan ITS Giuseppe Garibaldi (C 551), sebuah kapal induk ringan yang kelak menjadi simbol kekuatan armada Angkatan Laut Italia (Marina Militare).

Baca juga: ITS Francesco Morosini, OPV Italia yang Singgah di Jakarta, Punya Persenjataan Standar Fregat!

Siapa yang menyangka bahwa lebih dari empat dekade kemudian, momentum peluncuran bersejarah tersebut kini bertaut erat dengan masa depan pertahanan maritim Indonesia. Setelah resmi dipensiunkan oleh Italia, kapal induk legendaris ini dikabarkan tengah bersiap untuk memulai babak baru dalam masa kedinasannya dengan memperkuat armada TNI AL sebagai KRI Gajah Mada, yang dijadwalkan tampil memukau dalam defile HUT TNI pada 5 Oktober 2026.

Langkah raksasa Indonesia untuk mengoperasikan platform pengangkut pesawat penempur dan helikopter (aircraft carrier) ini membawa ingatan publik kembali pada cetak biru awal pembangunan sang kapal. Proses desain pembangunannya dimulai sejak akhir dekade 1970-an, di mana Italia membutuhkan kapal penjelajah berpeluru kendali dengan kemampuan dek penerbangan penuh (Through-Deck Cruiser) yang lincah untuk menangkal ancaman kapal selam Uni Soviet di Laut Mediterania.

Setelah diluncurkan pada tahun 1983 dan melalui serangkaian uji coba laut yang ketat, ITS Giuseppe Garibaldi resmi masuk kedinasan atau komisioning pada September 1985. Kehadirannya langsung mengubah doktrin pertahanan Italia, bertindak sebagai kapal bendera (flagship) yang mengombinasikan pusat komando mumpuni dengan kekuatan udara bergerak.

Jelang Kedatangan KRI Gajah Mada, Skuadron Udara 100 Bangun Simulasi Geladak untuk Latihan ‘Deck Landing Practice’

Dari spesifikasi teknis, kapal induk yang dibangun oleh Fincantieri ini memiliki panjang total (Length Overall) mencapai 180,2 meter, lebar 33,4 meter, dan bobot mati standar sekitar 10.000 ton yang dapat membengkak hingga 14.000 ton pada saat muatan penuh. Meskipun dimensinya terbilang kompak untuk ukuran kapal induk (light aircraft carrier), Garibaldi dibekali keunggulan desain yang sangat efisien, terutama dengan keberadaan dek penerbangan sepanjang 174 meter yang dilengkapi landasan pacu melengkung ke atas atau ski-jump sebesar 6,5 derajat pada bagian haluan.

Fitur ski-jump inilah yang menjadi kunci utama keunggulannya, memungkinkan kapal ini untuk menerbangkan pesawat tempur berkemampuan lepas landas pendek dan pendaratan vertikal (Short Take-Off and Vertical Landing/STOVL) seperti AV-8B Harrier II. Selain jet tempur, hanggar bawahnya yang luas mampu menampung kombinasi hingga 18 unit helikopter kelas berat sekelas AgustaWestland AW101 untuk misi anti-kapal selam (ASW) dan perang permukaan.

Akhir Era Jump Jet: USMC Resmi Pensiunkan AV-8B Harrier II, Amankan Rantai Pasok Suku Cadang Terakhir

Di luar kemampuan penerbangan, aspek yang membuat Garibaldi begitu disegani adalah persenjataan organiknya yang sangat padat untuk ukuran kapal induk modern. Berbeda dengan kapal induk Amerika Serikat yang sangat bergantung pada kawalan kapal penjelajah lain, Garibaldi awalnya dirancang terintegrasi dengan sistem rudal anti-kapal permukaan OTOMAT (Teseo) jarak jauh, sistem rudal pertahanan udara Albatros untuk meluncurkan rudal Aspide, serta meriam pertahanan titik dwi-guna sekelas Oto Melara 40mm Dardo.

Kombinasi sensor radar pencarian udara jarak jauh, sonar aktif pada bagian lunas, dan sistem manajemen pertempuran otomatis menjadikannya platform mandiri yang tidak hanya mampu meluncurkan serangan udara, tetapi juga mempertahankan dirinya sendiri dari serangan rudal seberang lautan maupun kapal selam musuh secara simultan.

Namun, di balik optimisme tinggi menyambut kehadiran KRI Gadjah Mada untuk mewujudkan visi Blue Water Navy, TNI AL dihadapkan pada tantangan operasional dan logistik yang sangat masif, terutama dari sektor sistem propulsi. ITS Giuseppe Garibaldi digerakkan oleh sistem penggerak COGAG (Combined Gas Turbine and Gas Turbine) yang mengandalkan empat unit turbin gas Fiat Avio LM2500—lisensi dari General Electric.

Walaupun sistem turbin gas ini mampu memberikan akselerasi instan yang luar biasa hingga memacu kapal melesat dengan kecepatan maksimal 30 knot, konsumsi bahan bakarnya terkenal sangat boros, terutama jika dioperasikan pada kecepatan tinggi dalam durasi yang lama.

Bagi Indonesia, mengoperasikan kapal dengan konfigurasi COGAG murni berskala raksasa seperti ini akan menguras anggaran operasional yang sangat besar untuk pengadaan bahan bakar minyak (BBM) berkualitas tinggi, sekaligus menuntut kesiapan armada kapal tanker pendukung (replenishment oiler) yang prima agar sang raksasa tidak kehabisan napas di tengah luasnya lautan Nusantara. (Gilang Perdana)

Spesifikasi MUGEM Class: Proyek Kapal Induk 60.000 Ton Turki untuk Jet Tempur KAAN dan Drone Siluman

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *