Intip Kegarangan Self Propelled MLRS Type 85 Thailand yang Beraksi di Perbatasan Kamboja

Alutsista buatan Norinco (China North Industries Group Corporation Limited) kembali jadi tema diskusi, khususnya dalam konflik yang terkait Kamboja dan Thailand di perbatasan, setelah jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan dengan unggahan video pendek yang memperlihatkan deru self propelled MLRS (Multiple Launch Rocket System) milik Angkatan Darat Thailand.

Baca juga: Gempur Thailand, Kamboja Kerahkan Norinco Type 90B 122mm: Self Propelled MLRS yang ‘Sarat Masalah’

Dalam video tersebut, unit artileri roket yang diidentifikasi sebagai Norinco Type 85 (YW 306) terlihat melakukan penembakan masif. Meski lokasi pastinya tidak disebutkan, aktivitas ini diduga kuat merupakan bagian dari uji fungsi alutsista atau latihan kesiapsiagaan operasional Angkatan Darat Thailand di wilayah perbatasan.

Kemunculan video ini menarik perhatian publik karena menunjukkan bahwa meskipun merupakan platform lawas, Type 85 Thailand telah bertransformasi menjadi senjata yang jauh lebih mematikan berkat sentuhan teknologi domestik.

Berbeda dengan konflik besar satu dekade lalu, penggunaan Type 85 baru-baru ini lebih condong pada uji coba kesiapan tempur dan respons terhadap dinamika keamanan di perbatasan yang tetap dijaga ketat. Penempatan dan latihan rutin di wilayah perbatasan, seperti yang terlihat dalam video viral tersebut, merupakan pesan tegas mengenai kemampuan deterrence (penangkalan) Angkatan Darat Thailand terhadap potensi ancaman dari luar.

Norinco Type 85 (YW 306) adalah sistem MLRS berbasis roda rantai yang memberikan mobilitas luar biasa di medan berat Asia Tenggara.

Keunggulan sistem MLRS ini terletak pada sasis lapis baja yang memberikan perlindungan bagi kru dari serpihan artileri dan tembakan senjata ringan, sesuatu yang tidak dimiliki MLRS berbasis truk konvensional. Basis kendaraan yang digunakan untuk sistem MLRS Thailand tersebut adalah Type 85 AFV (Armoured Fighting Vehicle), atau dalam penamaan industri militer Cina dikenal sebagai YW 531H.

Self proplled MLRS ini dilengkapi 30 tabung peluncur yang mampu memuntahkan roket kaliber 122 mm secara beruntun dalam waktu singkat, menciptakan dampak kehancuran area yang luas.

Namun, yang membuat Type 85 Thailand tetap relevan saat ini adalah integrasi Roket DTI-2. Melalui pengembangan oleh Defence Technology Institute (DTI) Thailand, MLRS ini tidak lagi hanya mengandalkan roket impor. Roket DTI-2 menawarkan jarak tembak yang lebih jauh dan tingkat akurasi yang lebih tinggi melalui sistem kendali tembak yang telah dimodernisasi secara digital.

Di seberang perbatasan, Angkatan Darat Kamboja juga terus memperkuat lini artileri mereka. Meskipun tidak mengoperasikan Type 85 versi roda rantai yang persis sama, Kamboja memiliki arsenal yang setara secara kaliber. Kamboja mengandalkan sistem peluncur roket 122mm berbasis truk (BM-21 Grad dan Type 81). Secara daya hancur, roket yang digunakan mirip, namun Thailand memiliki keunggulan pada proteksi lapis baja kendaraannya.

Kamboja baru-baru ini juga memamerkan MLRS kaliber berat PHL-03 (Type 03) 300 mm, yang juga buatan Norinco, yang memiliki jangkauan jauh lebih jauh dibandingkan Type 85, sebagai bagian dari modernisasi militer mereka.

Viralnya video ini diyakini berkaitan dengan upaya Angkatan Darat Thailand untuk menunjukkan transparansi modernisasi militer mereka kepada publik. Dengan memperlihatkan Type 85 yang sedang beraksi, Thailand ingin menegaskan bahwa investasi pada teknologi domestik (DTI-2) telah membuahkan hasil nyata dalam menjaga kedaulatan wilayah. (Bayu Pamungkas)

[Video] Kamboja Serang Pos Perbatasan Thailand dengan MLRS Terkuat, Norinco PLH-03 (AR2) 300mm