Uji Taktik High-Low Mix: Pod Perang Elektronik NAMIB Sukses Pandu Rafale F4 Hancurkan Radar Musuh

Dassault Aviation dan Harmattan AI, secara resmi mengumumkan keberhasilan uji coba penerbangan taktis kolaboratif yang melibatkan jet tempur Rafale F4 dengan sebuah drone yang menggendong payload (muatan) perang elektronik terbaru bernama NAMIB.
Baca juga: Perancis Validasi Tempur Rafale F4.3, Standar ‘Terbaru’ yang Digadang Perdana Untuk UEA
Uji coba penyerangan simulasi terintegrasi ini menjadi tonggak penting dalam pembuktian arsitektur tempur masa depan yang menggabungkan pesawat berawak dengan jet nirawak (loyal wingman). Dalam skenario uji coba yang berlangsung di Perancis, NAMIB yang bertindak sebagai sensor pasif garis depan berhasil mendeteksi, mengidentifikasi, dan melokalisasi emisi elektromagnetik dari sistem pertahanan udara musuh secara senyap (discrete mode).
Mengandalkan tingkat akurasi tinggi, perangkat ini mampu mengunci posisi radar musuh dari jarak puluhan kilometer. Data koordinat presisi tersebut kemudian dikirimkan secara real-time via tactical data link ke kokpit Rafale F4. Menerima pasokan data target dari drone, jet tempur garis depan besutan Dassault Aviation tersebut langsung melakukan simulasi lintasan tembak (firing pass) untuk menetralisir radar pertahanan udara tersebut tanpa perlu menyalakan radarnya sendiri yang bisa memicu alarm bahaya musuh.
Secara teknis, NAMIB didesain sebagai sistem peperangan elektronik (electronic warfare payload) berbobot ringan yang sangat fleksibel. Perangkat yang mulai dikembangkan sejak Januari 2026 ini tidak hanya bisa dipasang pada pesawat besar, melainkan tangguh diintegrasikan pada drone taktis jenis quadcopter maupun drone bersayap tetap (fixed-wing) dengan kemampuan endurance lama.
Bukan Sihir, Begini Cara Perancis Mengecilkan Jejak Radar Jet Tempur Rafale di Fasilitas Solange
Keberhasilan uji coba ini menjadi bukti nyata kesiapan Rafale F4 dalam mengadopsi taktik High-Low Mix—sebuah doktrin pertempuran udara modern yang mengombinasikan platform berawak yang kompleks dan mahal (Rafale) dengan efektor otonom murah yang bersifat consumable atau dapat dikorbankan di wilayah udara padat bahaya.
Dalam siaran pers, CEO Dassault Aviation, Eric Trappier, menegaskan bahwa arsitektur canggih pada Rafale F4 sengaja dirancang untuk memungkinkannya berkomunikasi secara mulus dengan berbagai aset tempur lintas domain, termasuk kekuatan darat dan drone otonom.
Kerja sama dengan Harmattan AI—perusahaan teknologi pertahanan yang didirikan pada tahun 2024 dan kini bertumbuh pesat memasok ribuan sistem otonom bulanan ke negara-negara NATO—menunjukkan akselerasi integrasi teknologi disruptif yang sangat cepat. Lewat NAMIB, penekanan perang elektronik digeser langsung ke titik terdekat dari sumber ancaman (close to the threat), meminimalkan risiko bagi pilot manusia sekaligus mengamankan superioritas elektromagnetik di mandala ruang udara masa kini. (Gilang Perdana)


