Tentu bukan cerita baru bahwa jalur komunikasi penting di Indonesia telah disadap atau berpotensi kuat disadap pihak asing. Maklum, sampai saat ini lebih dari 90 persen teknologi perangkat komunikasi di Indonesia didominasi produk dari luar negeri. Itu baru dari sisi perangkat, belum lagi dari sisi aplikasi yang marak menggunakan layanan OTT (Over The Top) dari luar negeri seperti Facebook, Twitter, BlackBerry dan WhatsApp. Maka tak heran bila komunikasi di level taktis dan strategis juga rentan penyadapan meski telah dilakukan enkripsi sekalipun. Namun penyadapan komunikasi di era terestrial yang melibatkan peran satelit baru dihadapi Indonesia pada dekade 70-an.
Dengan formasi kekuatan lima kapal selam Type 209, kekuatan tempur bawah laut Indonesia masih jauh dari kata ideal. Sebagai respon atas keterbatasan menghadapi potensi peperangan bawah air, TNI AL punya sejumlah senjata AKS (Anti Kapal Selam). Bekal torpedo SUT, roket AKS, dan bom laut (depth charge) sudah tersedia sejak lama di frigat/korvet dan KCT (Kapal Cepat Torpedo), dan tak lama lagi dari aspek udara bakal hadir helikoper AKS AS-565Mbe Panther untuk Puspenerbal. Meski begitu, tantangan terbesar adalah bagaimana cara memantau pergerakan kapal selam asing, dengan teritori laut yang sedemikian luas, mustahil dilakukan ronda kapal patroli dan pesawat pengintai secara efektif. (more…)
Andai saja proyek KCR (Kapal Cepat Rudal) Klewang Class terus berjalan, mungkin imbas positifnya proyek USV (Unmanned Surface Vehicle) alias drone laut Bonefish akan terus dilanjutkan ke tahapan pembuatan prototipe. Di ajang Indo Defence 2014, PT Lundin Industry Invest (North Sea Boats) telah memperkenalkan full mockup Bonefish, dan bila kesemuanya lancar, saat itu dijadwalkan prototipe Bonefish bakal mulai diuji coba pada tahun 2015. (more…)
Pasca terbakarnya KRI Klewang 625 pada Oktober 2012, debut kapal perang trimaran besutan PT Lundin Industry Invest (North Sea Boats) menjadi tak menentu. Sempat ada kabar di Agustus 2014, bahwa TNI AL akan memesan empat unit KCR (Kapal Cepat Rudal) Klewang Class. Namun seiring berjalannya waktu dan pergantian pucuk pimpinan TNI AL, kabar tentang Klewang Class seolah meredup dan terlupakan. Sementara nun jauh di utara, di tahun yang sama Jepang rupanya sedang merancang kapal patroli berdesain trimaran (tiga lunas), yang sekilas punya kemiripan dengan Klewang Class.
Dalam polling ke-18 yang digelar Indomiliter.com pada periode 3 Mei – 3 Juni 2017, suara mayoritas netizen telah mendapuk CH-47 Chinook sebagai helikopter angkut berat yang paling cocok digunakan oleh Puspenerbad TNI AD. Chinook produksi Boeing Rotorcraft Systems dipilih oleh 1.555 responden (54,91%), mengungguli rivalnya dari Rusia, Mil Mi-26 buatan Rostvertol yang dipilih 1.277 responden (45,09%). Lewat nama besarnya yang telah mendunia di beragam palagan, menjadikan helikopter twin engine ini dipilih sebagian besar responden untuk mendukung misi mobil udara , berguna saat operasi tempur dan mampu berperan banyak untuk misi SAR dan tanggap bencana. (more…)
Setelah menjalani pelatihan selama tujuh hari, 29 orang prajurit Korps Marinir perwakilan dari Batalyon Komunikasi dan Peperangan Elektronika (Yonkomelk) Jakarta dan Surabaya serta perwakilan dari Dinas Komunikasi dan Peperangan Elektronika (Diskomlek) Korps Marinir TNI AL siap mengoperasikan alat komunikasi generasi terbaru Digital Direction Finder (DDF) 550 buatan Rohde&Schwarz, Jerman. (more…)
Siapa yang tak kenal dengan ranpur (kendaraan tempur) Anoa 6×6 produksi PT Pindad, karya Anak Bangsa ini sudah menorehkan prestasi yang gemilang, termasuk digunakan dalam misi Pasukan PBB di Lebanon – UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) dan Sudan – UNAMID (United Nations Mission In Darfur). Debutnya pun tak asing di kalangan warga, lantaran panser ini kerap dipamerkan dalam defile dan ajang pemeran alutsista. Meski sebagian dari Anda mungkin sudah mahfum dengan Anoa 6×6, namun kali ini Indomiliter.com mengajak pembaca untuk lebih detail mengenal sosok panser ini, termasuk lewat sajian video eksklusif yang dapat Anda saksikan. (more…)
Jagad drone helikopter di Indonesia mulai ramai sejak setahun belakangan, persisnya setelah Badan SAR Nasional (BASARNAS) mengoperasikan drone copter SDO 50V2 buatan Swiss, ditambah kedatangan drone copter Saab Skeldar V-200 untuk misi intai maritim pesanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, kini ada kabar baru lagi, meski statusnya baru diperkenalkan, disebutkan Panglima Komando Armada Barat (Pangarmabar), Laksamana Muda TNI Aan Kurnia tertarik dan ingin menjajaki pengadaan drone Schiebel Camcopter S-100 buatan Austria. (more…)
Meski belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Indonesia, namun tanda-tanda Turki yang akan dipilih sebagai mitra pengadaan kapal selam baru untuk TNI AL kian menguat. Seperti dikutip Indomiliter.com dari siaran pers (17/5) Sekretariat Industri Pertahanan Turki (SSM), disebutkan bahwa Savunma Teknolojileri Mühendislik ve Ticaret A.Ş (STM) telah melakukan penandatangan perjanjian dengan manufaktur pertahanan asal Jerman ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS) untuk proyek kapal selam baru TNI AL. (more…)
Dalam suatu kunjungan ke Sydney, Australia di tahun 2013, tepatnya saat menumpangi kapal ferry dari Circular Quay menuju Manly, terlihat beberapa kapal perang AL Australia/RAN (Royal Australian Navy) bersandar di kawasan Port Jackson yang merupakan Fleet Base East RAN. Dari beberapa kapal perang yang sandar, ada kapal perang yang dimensinya terbilang kecil, dan langsung mengingatkan kami pada sosok kapal pemburu/sapu ranjau andalan Satuan Kapal Ranjau (Satran) TNI AL, yakni Tripartite Class, yaitu KRI Pulau Rengat 711 dan KRI Pulau Rupat 712. (more…)