Saat Ukraina dengan sokongan Amerika Serikat melakukan serangan artileri M142 High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) ke basis pertahanan Rusia, maka tidak butuh waktu lama bagi Rusia untuk mempelajari karakteristik HIMARS. Dan guna menandingi gempuran roket HIMARS, Rusia yang sejak tahun 2014 mengoperasikan Tornado-S, mengklaim telah sukses meningkatkan kemampuan self propelled MLRS di kaliber 130 mm tersebut. (more…)
Tidak ada yang meragukan daya hancur dari MLRS (Multi Launch Rocket System) kaliber 122 mm. Sebagai ilustrasi, semburan 40 roket MLRS 122 mm yang diluncurkan secara salvo dari RM70 Grad/Vampire dapat menghancurkan area seluas tiga hektar. Lantas, bagaimana jika semburan 240 roket MLRS 122 mm diluncurkan secara salvo? Maka menjadi mengerikan tingkat kehancuran yang ditimbulkan. (more…)
Seolah tidak menggubris tekanan dari Washington, Uni Emirat Arab (UEA) tetap pada pendirian untuk merangkul Cina sebagai salah satu mitra dan pemasok alutsista untuk negara kaya minyak tersebut. Pada ajang IDEX 2023 di Abu Dhabi (20 – 24 Februari), UEA mengumumkan memberikan kontrak senilai AED902 juta (US$245 juta) untuk pengadaan AR3 multiple rocket/missile launchers produksi Norinco. (more…)
Peluncur roket M-51 dengan truk V3S sebagai platform kendaraan pengangkut. Tampak foto milik AD Mesir dalam sebuah defile militer di tahun 1960
Bila ditilik dari sejarah, sista dalam lingkungan armed (artileri medan) baik di TNI AD dan Korps Marinir TNI AL terbilang ‘kaya’ akan ragam tipe senjata. Salah satunya adalah keberadaan jenis senjata self propelled. Dengan diusung platform kendaraan, mobilitas senjata yang terdiri dari jenis roket dan howitzer mampu bergerak cepat menuju daerah operasi. (more…)
Menuju target MEF (minimum essential force) yang dicanangkan oleh pemerintah, masing-masing unit militer memang mendapat ‘jatah’ modernisasi alutsista. Meski pengadaannya terbilang pelan, tapi beberapa agenda kedatangan alutsista sudah ada di depan mata. Untuk elemen korps Artileri Medan (Armed) TNI AD misalnya, setelah lama tertinggal di segmen howitzer self propelled (gerak sendiri), ada kabar bahwa akan dating meriam TRF-1 CAESAR (Camion Equipe’ d’un Syste’me d’ ARtillerie). (more…)
Selain kondang karena reputasi tempurnya, Korps Marinir TNI AL juga menjadi elemen komando utama (kotama)TNI yang unik bila dicermati dari sisi arsenal alutista yang dimilikinya. Keberadaan alutsista tua, seperti tank PT-76 dan pansam BTR-50, memang menjadi trade mark yang melekat kuat di mata masyarakat Indonesia. Tapi bila mau dibedah, bukan hanya tank/panser amfibi, meriam, dan KAPA (kendaraan amfibi pengangkut artileri) yang asli produk Uni Soviet, dan masih digunakan hingga cukup lama, masih ada satu alutsista lain yang namanya tak begitu nyaring didengar, tapi punya kontribusi besar dalam operasi militer di Tanah Air, yang dimaksud adalah BM (Boyevaya Mashina )-14/17. (more…)
Bila diperhatikan secara detil, ada yang menarik dalam perhelatan HUT ABRI/TNI. Entah ada defile peralatan tempur atau tidak, pada latar pasukan yang berbaris, selalu ada sosok kendaraan lapis baja yang parkir rapi, terkesan perkasa dengan laras meriam yang dinaikan secara maksimum. Sosok tersebut, dapat di identifikasi sebagai AMX MK61. Secara kasat mata, AMX MK61 tak ubahnya sebuah tank, dirancang dengan platform chasis dari tank ringan AMX-13 yang jadi tulang punggung kavaleri TNI AD. (more…)