Tag: rudal

Antisipasi Serangan Udara di Atas Jakarta

Dewasa ini kian bertambah Ibu Kota suatu negara berdaulat yang jadi sasaran bombing lewat serangan udara. Dengan beragam dalih dan latar belakang masalah, kita bisa melihat apa yang dialami masyarakat di Baghdad – Irak  dan Tripoli – Libya. Dan, bukan tak mungkin, berikutnya menyusul Damaskus – Suriah, Tehran – Iran, dan Pyongyang – Korea Utara, yang akan menerima serangan udara akibat konflik dengan negara lain. (more…)

AK-230 : Kanon Reaksi Cepat Korvet Parchim TNI AL

Bila dicermati, sebelum tahun 1994, kekuatan armada kapal perang TNI AL mempunyai titik rawan dalam segmen senjata penangkis serangan udara. Pasalnya, sebagian besar elemen sista (sistem senjata) yang digunakan masih dioperasikan secara manual, meski pun dalam operasinya awak diberi panduan tembakan lewat radar. Memang pada faktanya mulai tahun 80-an ada fregat kelas Van Speijk yang dilengkapi meriam reaksi cepat OTO Melara kaliber 76mm yang dioperasikan secara remote. (more…)

Triple Gun : Alutsista “Khas” Korps Paskhas TNI AU

Tripe Gun dipasang pada truk Reo, kanon ini menjadi sosok senjata mobile yang mematikan.

Selain warna baret jingga dan corak loreng pada seragam tempurnya, apa yang benar-benar khas dari Korps Paskhas TNI AU? Jawabannya adalah kanon triple gun 20mm, pasalnya sosok kanon dengan 3 laras ini begitu melekat pada tugas utama Paskhas dalam menjaga dan mempertahankan pangkalan udara serta instalasi vital lainnya. (more…)

Momen Potensial Munculnya Black Flight di Indonesia

Setiap tanggal 9 April dan 5 Oktober, warga Ibukota Jakarta dibuat terkesima dengan defile dan flypass dari pesawat-pesawat tempur TNI AU. Sebagian besar warga Jakarta dibuat kagum atas deru mesin jet tempur yang membelah langit. Yang jadi bintang, tak lain dan tak bukan adalah alutsista nomer wahid milik Republik Indonesia, seperti Sukhoi Su-27/30, F-16 Fighting Falcon, Hawk 109/209, dan F-5E/F Tiger.

Melihat dari kecenderungannya, beberapa hari jelang perhelatan akbar, selalu dilakukan latihan flypass, terbang formasi, bahkan atraksi aerobatik. Saya yang kebetulan tinggal di area Jakarta Selatan, biasanya mulai melihat flypass jet tempur secara intens pada H-7.

Lepas dari flypass dan atraksi aerobatik jet tempur diatas, sebenarnya ada suatu hal yang harus diwaspadai secara seksama, terutama oleh elemen Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas). Seperti sudah menjadi rahasia umum, dari segi kuantitas, Indonesia sangat kekurangan jet tempur. Jumlah jet tempur yang ada setiap hari dioperasikan secara terbatas untuk misi patroli, sebagian lagi ada di pangkalan untuk misi perbaikan.

Meski tentunya sudah disiasati, intinya saat hajatan 9 April sebagai hari jadi TNI AU, dan 5 Oktober sebagai HUT TNI, tingkat kesiapan jet tempur (terutama di wilayah perbatasan) menjadi berkurang, pasalnya sebagian ‘ditarik’ ke Jakarta untuk keperluan flypass. Sampai saat ini Kohanudnas memiliki 17 unit radar yang terbagi dalam Kosek (komando sektor). Kosek I yang bermarkas di Halim membawahi 6 radar, Kosek II di Makassar membawahi 5 radar, Kosek III di Medan membawahi 4 radar, dan Kosek IV di Biak membawahi 2 radar. Dalam pelaksanaan operasinya, unsur Kohandunas berintegrasi dan berkoordinasi dengan radar sipil, terutama untuk wilayah-wilayah di Indonesia Timur yang masih minim dari pantauan radar militer.

Momen Emas Terjadinya Black Flight
Dengan berkurangnya jumlah jet tempur di pangkalannya masing-masing, menjadi peluang emas bagi pihak asing untuk lebih leluasa melakukan misi black flight (penerbangan gelap). Mereka tahu, bila pada tanggal-tanggal tertentu kekuatan ‘interceptor’ TNI AU berkurang. Adanya elemen Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) pastinya dapat mengelimir misi black flight yang akan masuk ke wilayah-wilayah obyek vital. Tapi tetap saja, elemen Kohanudnas yang utama adalah jet buru sergap untuk mengadakan tindakan sebelum black flight bertindak lebih jauh.

Black Flight
Sepanjang sejarah eksistensi hanud di Tanah Air, patut disyukuri ancaman yang dihadapi masih sebatas munculnya beberapa kali penerbangan gelap (black flight). Memang banyak diantara black flight berhasil dihadang oleh jet buru sergap TNI AU, tapi beberapa momen black flight lainnya hanya berhasil ditangkap oleh satuan radar TNI AU tanpa bisa direspon lebih lanjut. Umumnya black flight terjadi di wilayah sengketa atau konflik. Dalam beberapa laporan, black flight atau penerbangan tanpa izin kerap terdeteksi di Timor Timur (sekarang Timor Leste), pasa masa pra dan paska referendum tahun 1999. Black flight juga terlihat saat konflik horizontal di Ambon, Maluku.

Black flight tak melulu berwujud pesawat jet tempur yang berkecepatan supersonic, tapi bisa juga pesawat sipil, atau bahkan diindikasi juga oleh jenis helikopter. Umumnya pola hadirnya helikopter bisa terendus dari pantauan kecepatan dan manuver yang terlihat dari layar radar. Sumber dari Majalah Angkasa edisi Februari 2009 menyebutkan, sejak tahun 2006 kehadiran black flight cenderung terus meningkat, di tahun 2006 tercatat Lasa (laporan sasaran) tidak dikenal berjumlah 18 kali, tahun 2007 meningkat menjadi 23 kali, dan di tahu 2008 meningkat lagi menjadi 26 kali, dengan perincian 10 kali pelanggaran wilayah kedaulatan dan 16 kali pelanggaran yang bersifat mengancam wilayah kedaulatan.

Jenis-jenis pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah udara nasional diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu pelanggaran wilayah udara nasional, pelanggaran air defence identification zone, dan laporan sasaran tidak dikenal (Lasa X)/black flight. Semenjak tahun 2009 hingga Juni 2010, terjadi 23 kali pelanggaran kedaulatan pada wilayah udara nasional. Diantara jenis pelanggaran yang ada, pelanggaran black flight adalah yang paling sering terjadi (11 kali).

Dari laporan diatas bisa disimpulkan secara pihak asing kian berani melintasi ruang udara RI. Meski sering disambangi black flight, hingga kini tak ada satupun insiden yang dapat ditaklukan oleh sistem arhanud TNI. Tapi ada beberapa kejadian yang cukup menarik antara hadirnya sosok black flight dan keberadaan rudal darat ke udara di Tanah Air.

Seperti pada tahun 60-an, di masa perjuangan operasi Trikora, rudal SA-2 sebagai sistem pertahanan udara lapis kedua (areal defence) setelah pesawat tempur, pernah sekali waktu hampir digunakan untuk melibas target black flight yang diketahui sebagai pesawat intai U-2 Dragon Lady yang tengah melintas di Teluk Jakarta. Awak rudal SA-2 yang masuk skadron peluncur 102 berhasil mendeteksi U-2 dan kemudian melaporkan ke Panglima Kohanud. Oleh panglima diteruskan kepada presiden lewat jalur “telepon merah“ untuk menunggu perintah selanjutnya. Sementara operator radar sudah mengunci posisi U-2. Kalau Bung Karno ada di tempat ketika telepon berdering dari Panglima Kohanud, tidak seorang pun bisa membayangkan. Pilihannya memang bisa tembak atau tidak.

Rudal SA-2

Terlepas dari pertimbangan politik, saat itu bisa hampir dipastikan rudal hanud SA-2 milik TNI mampu menjatuhkan U-2. Hal ini berkaca pada kejadian 1 Mei 1960, dimana SA-2 milik Uni Soviet berhasil menembak jatuh U-2 pada ketinggian 50.000 kaki. Berikutnya ada lagi informasi jatuhnya U-2 akibat sambaran SA-2 pada konflik Kuba vs Amerika Serikat di bulan Oktober 1962.

Gambaran diatas adalah situasi pada era 60-an, pertanyaannya bagaimana kesiapan sistem pertahanan udara kita saat ini? (Haryo Adjie Nogo Seno)

Awas! Black Flight di Atas Lanud El Tari

Pada 16 September 1999 di Lanud El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur, disiapkan 2 pesawat tempur Hawk 209, 1 Hawk 109, dan 3 pesawat tempur propeler OV-10 Bronco. Kegiatan berjalan seperti biasa pada hari itu, penerbang Hawk dipersiapkan untuk menggelar Combat Air Patrol (CAP) sebagai inti Operasi Pertahanan Udara “Elang Jaya”. (Dikutip dari Majalah Commando edisi Juli – Agustus 2004)

Dalam flight plan, ditentukan Kapten (Pnb) Azhar Aditama sebagai tactical lead dengan wing man Mayor (Pnb) Henry Alfiandi dan Lettu (Pnb) Anton Mengko. Azhar akan menerbangkan Hawk-209 TT-1207. Sedangkan Henry dan Anton menggunakan Hawk-100 versi tandem TL-0501. Persis pukul 08.45 Wita, mesin kedua pesawat dinyalakan dan segera lepas landas. Pesawat membumbung dengan formasi sejajar (take spread) hingga ketinggian 10.000 kaki, mengarah ke tenggara (225 derajat) menuju batas FIR (flight information region) Darwin. Jarak antar pesawat 1,2 mil.

Hawk 209 TNI AU
Hawk 109 TNI AU

Saat mendekati FIR, Azhar mengontak Satuan Radar (Satrad) 251 yang mengoperasikan radar jenis ground control interception (GCI). Saat Mayor Haposan melaporkan situasi di udara menurut pantauan radar, jam menunjukkan pukul 09.15. Masih dalam posisi sejajar, kedua pesawat terbang menyusuri FIR menuju arah pulau Roti, sekitar 80 mil dari El Tari.

Cepat sekali, mendadak Azhar dikagetkan oleh laporan Haposan. Satrad menangkap dua pesawat tidak dikenal melewati 10 mil dari batas FIR Darwin di ketinggian 8.000 kaki dengan kecepatan 160 knot. Begitu pelannya, Azhar dan rekannya menduga paling helikopter. Jarak antara Hawk dan ‘tamu tak diundang’ 97 mil, dengan heading 108 derajat dari Satrad. “Artinya mengarah ke lurus ke Satrad dari selatan,” jelas Kapten Azhar.

Karena posisinya mencurigakan, Satrad memerintahkan Hawk mendekati target. Hawk naik ke 20.000 kaki dengan terus dipandu oleh radar karena dalam jarak tersebut, radar Hawk belum bisa menangkap posisi target. Radar melaporkan lagi, bahwa jarak mereka mengecil jadi 40 mil. Mungkinkah Hawk di-jamming? Karena makin mencurigakan, Hawk meminta Satrad untuk terus menuntun hingga mendekati sasaran.

Setelah jarak menjadi sangat dekat, 10 mil, naluri tempur Azhar mulai bekerja. Dihidupkannya switch air combat manouver (ACM), agar radar rudal bekerja. Dengan kata lain, disiagakan untuk menembak. Saat itulah, Azhar, Henry dan Anton, dibuat kaget. Kedua pesawat asing tersebut, mendadak meleset dengan kecepatan 670 knot dan terus naik hingga 30.000 kaki. Melihat gelagat begitu, artinya tahu dikejar, mereka langsung bisa menyimpulkan bahwa pesawat diseberang sana adalah pesawat tempur.

Disinilah saat kritisnya. Kedua Hawk terus mengejar dengan kemampuan penuh, sambil terus mengikuti gerakan kedua target. Dengan kata lain, dog fight baru saja digelar di atas Pulau Roti. Sebagai tactical lead, Azhar mempertahankan posisi untuk tetap mengejar (di belakang). Kejar-kejaran berlangsung seru. Sampai akhirnya Hawk mencapai ketinggian lebih 30.000 kaki. Saat itulah, Kapten Azhar melihat dua titik hitam terbang vertikal dengan kecepatan 675 knot. Azhar dan Henry cepat mengambil posisi serang (pesawat kedua pindah ke belakang).

Tiba-tiba GCI memecah lagi ketegangan, “Target di ketinggian 40.000 kaki (sekitar 12,1 Km) berbalik arah menuju Hawk!” Tapi Hawk saat itu di ketinggian 32.000 kaki (sekitar 9,75 Km) dengan posisi nose up. Sesaat lagi, keempat pesawat akan berpapasan. Ketika itulah, Azhar yang mendongakkan kepalanya ke atas melihat pesawat berekor ganda pada jarak 5 mil darinya menyambar ke arah berlawanan. “F-18,” umpat Azhar.

F/A-18 Hornet, lawan tanding Hawk 209 TNI AU, milik Australia kah?

Sebenarnya, saat kejar-kejaran, posisi dua Hawk sudah menguntungkan untuk menembak. Mereka berada tepat di belakang F-18. ACM sudah aktif, satu dari kedua pesawat telah terkunci dalam TD Box (penunjuk posisi target), missile lock on, tone slave. Artinya tinggal menunggu perintah, AIM-9 P-4 Sidewinder akan meleset mengejar target. Tapi komando bawah hanya memerintahkan : bayang-bayangi dan indentifikasi. Menurut Azhar, sepertinya F-18 Australia. Sayang, kedua F-18 sudah keburu kabur menuju FIR Australia. Kedua Hawk pun, memutuskan kembali ke pangkalan. Setelah itu, GCI banyak menangkap pergerakan pesawat di FIR Darwin. Entah ada hubungannya atau tidak, malamnya terjadi peristiwa menjengkelkan. Delapan F-18 terbang melintas di atas Lanud El Tari.

Nah, soal delapan F-18 yang terbang di atas lanud El Tari yang menarik dikupas, bila kedatangan F-18 Hornet siangnya sudah bisa terdeteksi oleh Satrad 251 yang menempatkan unit radanya di daerah Burean, pantai selatan Kupang, maka pada malamnya pun kehadiran pesawat tersebut bisa lebih dulu di deteksi, dan bukan hanya menjengkelkan, tapi juga memalukan, artinya F-18 berhasil masuk ke wilayah daratan RI, ditambah terbang di atas lanud. Meski ada Satrad, sangat disayangkan sebagai pangkalan aju, El Tari tak dilengkapi elemen arhanud, baik berupa rudal darat ke udara atau pun kanon PSU (penangkis serangan udara) DShk.

PSU jenis DShk kaliber 12,7mm milik Paskhas TNI AU, andalan pertahana udara titik jarak dekat.

Padahal bila ditelaah, pada masa itu arhanud RI memiliki deretan penangkis serangan udara yang lumayan ‘bertaring’, sebut saja dari TNI AD ada Rapier, RBS-70, bahkan rudal bopong SA-7 Strela pun sudah kita miliki. Belum lagi, dari unsur armada TNI AL, ada rudal Sea Cat yang bisa dilepas dari frigat Van Speik maupun frigat kelas Tribal. Entah mungkin karena koordinasi di tingkat Kohanudnas yang rumit dan birokratis, alhasil gelar unsur alutsista tak bisa digelar di lokasi tersebut. Kohanudnas merupakan komando utama terpenting dalam kekuatan Markas Besar TNI. Kohanudnas berfungsi sebagai mata dan telinga yang mengawasi berbagai pergerakan pesawat udara yang melintasi wilayah Indonesia.

Panglima Kohanudnas dijabat oleh perwira tinggi dari TNI AU, meski demikian untuk pengoperasian alutsistanya (rudal dan meriam) lebih banyak berada di bawah TNI AD dan TNI AL. Alustsista yang telah di BKO (bawah kendali operasi)-kan ke Kohanudnas, selanjutnya komando dan pengendaliannya berada di tangan Pangkosekhanudnas (Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional). TNI AU sendiri saat insiden El Tari belum memiliki rudal darat ke udara, TNI AU kala itu masih mengandalkan Triple Gun kaliber 20 mm peninggalan tahun 60-an. Berbeda dengan kondisi saat ini, dimana TNI AU, khususnya Korps Paskhas telah memiliki resimen baterai rudal sendiri yang mengandalkan Portable Combat Radar Vehicle QW-3 berikut rudal panggulnya.

kanon Triple Gun kaliber 20mm, arsenal andalan Paskhas TNI AU untuk pertahanan titik.

Sebuah Teori Insiden El Tari
Pada insiden melintasnya F-18 Hornet di atas lanud El Tari, ada sebuah teori yang mungkin bisa jadi kajian, namun sayang informasi fly pass F-18 Hornet tidak disertai dengan data-data ketinggian pesawat tersebut. Tapi secara logika, bila Hornet melintas dalam rangka pengintaian atau katakanlah provokasi, kemungkinan besar fly pass Hornet dalam ketinggian maksimum. F-18 Hornet secara umum dapat terbang dengan kecepatan 1,7 Mach pada ketinggian 15 Km.

F-117 Nighthawk, jet tempur yang kampiun untuk misi black flight

Bila seandainya Hornet terbang pada ketinggian tersebut, maka bisa dipastikan sistem hanud rudal dan merim PSU TNI tidak akan mampu berbuat banyak. Obyek bisa jadi sudah terindentifikasi satrad 251 yang menggunakan radar CGI/EW dengan kemampuan deteksi 250 mil (sekitar 403 Km), tapi sayang langkah penindakan tak bisa dilakukan. Sebagai ilustrasi, bila Hornet dihadang meriam PSU S-60 kaliber 57 mm TNI AD, jarak jangkau peluru yang bisa dilepas maksimum hanya 6 Km. Andai kata di kawasan El Tari sudah digelar Rapier dan RBS-70, Rapier pun hanya efektif meluncur maksium 6,8 Km dengan ketinggian ‘hanya’ 3 Km. Begitu pun dengan RBS-70 MK-2, rudal portable ini maksimum hanya efektif menjangkau sasaran hingga 7 Km dengan ketinggian ‘hanya’ 4 Km.

Satuan radar 251

Benar atau salah, saya memperkirakan pihak intelijen Australia memang sedari awal sudah mengetahui gelar kekuatan hanud di El Tari, seperti minimnya unsur arhanud hingga keberadaan pesawat-pesawat tempur TNI AU. Sebagai ilustrasi, ketinggian maksimum Hawk 109/209 adalah 13,5 Km. Bila dilihat dari spesifikasi pesawat, jet tempur TNI AU yang ideal menyergap Hornet adalah F-16 Fighting Falcon Skadron 3 di lanud Iswahyudi, Madiun. Tapi secara teori agak sulit untuk mengerahkan F-16, bila yang dihadapi black flight pada jarak sangat jauh.

Tapi lepas dari itu, misi operasi udara di perbatasan bukanlah misi perang, namum misi daman, sehingga tindakan yang bisa diambil maksmimalnya hanya pengusiran dan force down. Walau bila sampai ‘berani’ terbang fly pass di atas lanud, sebenarnya sudah amat kelewatan. Meski ada kemampuan untuk menyergap atau menembak Hornet sekalipun, situasi politik saat itu membuat pemerintah RI dihadapkan pada keputusan yang sulit untuk mengambil tindakan. Di dalam negeri TNI sedang dihujat berkaitan dengan isu pelanggaran hak asasi manusia, sedangkan di luar negeri, Indonesia kala itu tengah dikepung berbagai sanksi dan embargo.

Belum sempat menampilkan taringnya, akibat embargo militer dari AS dan Uni Eropa berdampak keras pada kesiapan alutsista TNI AU. Sebut saja pengiriman Hawk 109/208 sempa tertunda, bahkan pesawat F-16 sempat tidak memiliki cadangan ban, dan para teknisi asal AS ditarik pulang. Untuk jet F-5 pun nasibnya tragis, suku cadang yang jumlahnya sudah minim, beberapa kiriman komponen yang sudah dibeli malah ditahan pengirimannya. Begitu pun dengan proyek refrofit F-5 pun sempat terganggu karena solidaritas Belgia sebagai sesama anggota Uni Eropa. (Haryo Adjie Nogo Seno)

 

Indonesian Missile – Perisai Angkasa Nusantara

Dengan pudarnya dominasi rudal di Indonesia, tentu ada perhitungan sendiri, di bawah panji kestabilan ekonomi dan membina hubungan yang baik di kawasan, pada era Soeharto pengembangan rudal mulai berjalan, walau sangat lamban, bahkan secara de facto etalase rudal Indonesia sudah tertinggal dari Singapura dan Malaysia.

Tapi harus diakui, tak serta merta sistem rudal Indonesia tertinggal secara keseluruhan, di lini rudal anti kapal, terlihat pemerintah sangat serius untuk memperkuat beragam rudal anti kapal, sebagai bukti adalah Yakhont, yang kini menjadi lambang supremasi alutsista Indonesia.

Khusus pada era orba, pemerintah nampak kurang mempersiapkan militer seumpama menghadapi konflik terbuka antar negara tetangga, berkat sosok Soeharto yang sangat disegani sebagai pemimpin pemerintahan paling senior di ASEAN, beragam alutsista di per-modern, tapi sayangnya dengan kuantitas yang serba minim. Tapi fakta kini berbicara lain, musim telah berganti, era baru pun harus disikapi secara tepat tanpa harus berlebihan. Dengan segala intrik dan konflik di seputar perbatasan, potensi munculnya perang antara negara bertetangga bisa saja meletus di masa mendatang.

Tanpa bermaksud mengharap datangnya peperangan, tapi diyakini, seandainya terjadi duel antara militer Indonesia dan Malaysia, beberapa lakon dalam pertempuran akan memunculkan nama Sidewinder, Maverick, Exocet, atau bisa jadi Yakhont. Uniknya antar negara tetangga di ASEAN, termasuk Malaysia dan Singapura, mempunyai karakter dan jenis alutsista yang serupa. Sebut saja seperti rudal Maverick, Sidewinder, RBS-70, dan Rapier dimiliki oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Inilah yang menarik untuk dicermati, konflik di masa mendatang akan terkait dengan teknologi tinggi, dan bisa dipastikan rudal akan selalu kebagian peran strategis yang menentukkan. Dalam buku “Indonesian Missile, Perisai Angkasa Nusantara” untuk pertama kalinya dibahas tentang sepak terjang dan etalase rudal yang dahulu dan kini memperkuat TNI.

Informasi Buku
Judul  : Indonesian Missile, Perisai Angkasa Nusantara
Penulis  : Haryo Adjie Nogo Seno
Penerbit : Matapadi Pressindo
Hal : xii+158
Harga : Rp45.000
Note : Tersedia di Toko Buku Gramedia

 

 

Grom : Rudal Utama Arhanud TNI AD

Rudal Grom Arhanud TNI AD dalam platform peluncur Poprad

Setelah rudal Rapier dipensiunkan oleh TNI AD, maka kemudian Arhanud (artileri pertahanan udara) TNI AD memilih rudal Grom, yakni rudal jenis SHORAD (short range air defence), alias rudal pertahanan udara jarak pendek/SAM (surface to air missile). Sebagai rudal SAM ringan, Grom pertama kali diproduksi pada tahun 1995, dirancang oleh Military Institute of Armament Technology, dan diprodkusi oleh Mesko, Skarżysko-Kamienna, manufaktur senjata asal Polandia.

Dengan berakhirnya masa tugas Rapier pada Juni 2007, secara bertahap Grom mulai memperkuat arsenal arhanud TNI AD. Unit Arhanud TNI AD pertama yang dilengkapi Grom adalah Detasemen Rudal 003 Kodam Jaya, dan kini detasemen rudal Arhanud lain dilingkungan TNI AD sudah berbekal Grom, yakni Detasemen Rudal 001 Kodam Iskandar Muda yang mengamankan area kilang Arun, Detasemen Rudal 002 Kodam Tanjungpura yang mengamankan obyek vital di Bontang, dan Detasemen Rudal 004 Kodam Bukit Barisan yang mengamankan obyek vital di Dumai.

Kobra Modular air defence system

Paket pengadaan rudal Grom mencakup Kobra modular air defence system dari yang terdiri dari battery command vehicle, sistem peluncur rudal Poprad, 3D multi-beam search radar, dan meriam 23-mm/ZUR komposit rudal Grom.

Grom
Rudal Grom berasal dari platform rudal panggul yang bisa dioperasikan secara perorangan. Karena berasal dari Polandia yang merupakan eks sekutu Rusia, basis desain Grom juga diambil dari rudal SAM SA-7 yang sudah lebih dulu kondang. Pertama kali Grom digunakan oleh Angkatan Darat Polandia pada tahun 1995. Dan pada tahun 2007, Polandia menjual beberapa Grom ke beberapa negara, termasuk ke Georgia, negara pecahan Uni Soviet. Georgia membeli 30 peluncur dan lebih dari 100 rudal.

Tampilan rudal Grom, tanpa peluncur
Rudal Grom dalam versi Manpad (panggul)

Pembelian Grom oleh Georgia-lah yang kemudian mengangkat pamor rudal ini, pasalnya Georgia pada tahun 2008 sempat terlibat konflik dengan Rusia dalam perang di wilayah Ossetia Selatan. Dilaporkan selama perang tersebut, 20 helikopter Rusia tertembak oleh Grom. Di medan konflik yang lain, tepatnya pada akhir 2008, pihak Rusia telah menemukan paket rudal Grom yang digunakan oleh pejuang Checknya. Itulah perjalanan tempur rudal Grom yang beberapa kali telah ‘mentas’ di beberapa medan perang di wilayah dingin. Apakah ini yang menjadi dasar pembelian Grom oleh Indonesia?

Secara spesifikasi, Grom mempunyai berat 10,5 Kg, serta berat berikut peluncur mencapai 16,5 Kg. Bobot hulu ledak Grom yakni 1,82 Kg, sedangkan diameter Grom hanya 72 mm dan panjang rudal 1.566 mm. Bagaimana dengan soal jangkauan? Jangkauan tembak Grom horizontal yakni 5.500 meter dan jangkauan tembak vertikal antara 3.000 sampai 4.000 meter, dengan minimal jangakauan tembak 10 meter. Untuk kecepatan, Grom bisa menguber target dengan kecepatan 650 meter per detik. Pihak pabrik menyebutkan, Grom bisa beroperasi pada suhu -35 sampai 50 derajat celcius, jadi secara teori cukup layak digunakan di Indonesia.

Grom berpemandu infrared, sistem penembakan yakni mengusung konsep fire and forget, atau setelah ditembakkan secara otomatis rudal akan mengejar sumber panas sasaran. Secara umum, antara Rapier dan Grom punya kodrat yang sama dalam menguber target, yakni sama-sama mengincar target yang terbang rendah dengan manuver dan kecepatan tinggi.

Peluncur Poprad

Dalam gelar operasinya, Grom milik Arhanud TNI AD dipasang dalam platform peluncur Poprad dan meriam 23-mm/ZUR komposit. Untuk Poprad yang dipakai oleh TNI AD, menggunakan platform jip Defender dari Land Rover. Dalam satu jip tersedia 4 peluncur Grom yang dapat diputar 360 derajat. Dengan adopsi peluncur Grom pada kendaraan berkemampuan off road, diharapkan gelar operasi rudal ini dapat lebih mobile dan fleksibel. Umumnya dalam satu jip peluncur membawa 8 rudal, 4 yang siap tembak, dan sisanya 4 rudal sebagai cadangan.

Peluncur Poprad, dilengkapi beragam sensor canggih
Poprad bisa diadopsi ke berbagai plaform kendaraan tempur

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=me4WZpxvXlc]

Meski dapat ditembakkan secara terpadu dari Battery Command Vehicle, tapi komponen Poprad dapat beroperasi secara mandiri, dengan dua kru (komandan/operator dan supir), Poprad dapat menguntit target lewat atomatic target tracking (videotracker) dalam kondisi siang dan malam hari. Agar akurat membidik target, Poprad juga dilengkapi teknologi FLIR (forward looking infra red) dan electro optical sensor yang berkemampuan thermal camera plus laser range finder. Untuk menghindari friendly fire, atau salah menembak target, Poprad juga sudah dibekali IFF (identification friend or foe) interrogator.

Meriam 23-mm/ZUR komposit rudal Grom
Untuk unsur yang satu ini, keberadaan rudal Grom ditendemkan pada meriam 23-mm/ZUR. Dalam posisi siap tembak, 2 peluncur Grom ditempatkan pada sisi kanan juru tembak, tentu saja proses isi ulang rudal bakal lebih cepat di sistem meriam ini. Secara umum, meriam 23 mm ini memiliki jangkauan tembak maksimum vertikal 2.000 meter, dan jangkauan tembak horizontal 3.000 meter. Meriam ini diawaki oleh 6 awak, 2 bintara dan 4 tamtama. Dengan konsep komposit/hybrid, amumisi meriam dan rudal dapat ditembakkan ke target secara simultan, hingga mencapai daya hancur yang berlipat.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=T2f2e8eYGTE]

Battery Command Vehicle
Dalam Kobra modular air defence system, terdapat elemen Battery Command Vehicle dan Mobile Multibeam Search Radar, kedua ditempatkan terpisah dalam platform jip Defender Land Rover. Battery Command Vehicle merupakan kendaraan pos pengendali baterai, perangkat ini mampu mengendalikan hingga 6 pucuk meriam secara serentak. Command Vehicle dipandu dengan alat bidik optronik yang memiliki interface dengan rudal/meriam. Kemampuan deteksi Battery Command mencapai 20 Km, dilengkapi dengan laser range finder, TV camera, dan optical direcetor. Sebagai ‘jantung’ sistem pertahanan modular, Battery Command dapat mengusung 3 sumber energi, yakni dari generator, listrik PLN, dan baterai.

Awak pada Battery Command Vehicle

Mobile Multibeam Search Radar (MMSR)
Bila Battery Command Vehicle berperan sebagai elemen pengendali, Multibeam Search Radar berperan sebagai radar penjejak dan pemantau pergerakan target. Perangkat ini mempunyai jangakauan horizontal hingga 40 – 50 Km, sedangkan jangakau vertikal mulai dari 50 meter – 10.000 meter. Mobile Multibeam Search Radar dapat menampilkan obyek 3 dimensi, perangkat ini diawaki oleh 2 orang. Karena menggunakan platform jip Defender, waktu gelar radar ini bisa dilakukan dengan singkat, waktu siap tempur hanya butuh 4 menit.

Mobile Multibeam Search Radar

Uji Coba Grom di Indonesia
Untuk mengetahui seberapa besar kehandalan alutsista yang dimiliki, TNI AD beberapa kali telah menggelar Grom dalam serangkaian uji coba. Boleh saja Grom berjaya di medam tempur Eropa yang bersuhu dingin, tapi apakah jenis rudal ini juga handal saat dioperasikan di wilayah tropis seperti di Indonesia?

Rangkaian kendaraan tempur pengusung rudal Grom

Uji tembak pertama seluruh meriam dilakukan pada 24-25 Oktober 2007 di lapangan tembak Ciampea – Bogor, oleh instruktur dari Polandia. Uji tembak ini disaksikan langsung oleh Direktur Peralatan TNI AD dan hasilnya meriam dapat beroperasi dengan baik, dan tembakan dapat mengenai sasaran seperti yang diharapkan.

Selanjutnya dilakukan uji tembak yang kedua, berlangsung pada 28 Oktober – 3 November 2007 di lapangan uji tembak senjata berat di Bulus Pesanteren, Kebumen – Jawa Tengah. Titik berat pengujian dilakukan pada rudal Grom yang diintegrasikan dengan Battery Command Vehicle dan MMSR. Uji tembak ini disaksikan oleh pucuk pimpina TNI AD, sasaran tembak yang dipakai adalah pesawat model yang dikendalikan dengan remote control. Hasilnya, dari empat kali penembakkan rudal, sasaran tidak dapat dihancurkan.

Mengenai kegagalan Grom, ada tanggapan dari pihak operator. “Menurut perhitungan, akurasi, dan toleransi terhadap sasaran yang sebenarnya (pesawat udara), sesunghunnya sasaran itu dapat dihancurkan sebelum mendekati obyek vital yang dilindungi,” ujar Serka Sutoyo, Bintara Den Arhanud 003 Kodam Jaya, dikutip dari Majalah Defender, edisi September 2008.

Kemudian ada lagi uji coba rudal Grom pada 4 Mei 2010, dikutip dari Tribunenews.com, ujicoba tiga rudal di perairan Sekerat, Bengalon Kabupaten Kutai Timur,lagi-lagi tidak mengenai target.
Sistem senjata tersebut jenis Grom Komposit Meriam 23 MM Zur 23-2KG-1 yang diperagakan oleh 26 pria Polandia. Disaksikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI George Toisutta, pejabat TNI AD, pejabat Kodam VI Tanjungpura, juga Muspida Kutim.

Dandim Kutim Letkol Inf Mukhtar menjelaskan, peragaan beberapa elemen sistem persenjataan itu berfungsi secara integral. Adapun rudal yang meleset sedikit dari target atau sasaran karena pengaruh cuaca panas. Menurutnya, sesaat sebelum misil meluncur, komputer melakukan pengecekan terhadap 3 parameter yaitu sistem elektronik misil, jarak sasaran, dan besar suhu sasaran. Bila salah satu parameter tersebut tidak terpenuhi, maka misil tidak akan meluncur ke sasaran. Dalam uji coba, rudal meledak tanpa mengenai target.

Usai peluncuran, pihak pelaksana uji terima menganalisa bahwa faktor yang mengakibatkan luputnya sasaran adalah cuaca panas. “Karena cuaca di Kutim panas, maka misil yang menggunakan detektor suhu bisa jadi luput dari sasaran. Berbeda saat uji coba di Polandia dan Jawa Tengah yang sukses mengenai target” ujar Letkol Muchtar. KSAD Jenderal TNI George Toisutta mengatakan akan membicarakan kembali rencana pembelian rudal ini di Jakarta. Kemungkinan juga akan ada pengujian ulang di Ambal, Jawa Tengah.

Skema gelar Kobra Defence system, terlihat satu sistem radar dapat memasok informasi ke beberapa peluncur Poprad dan meriam 23 mm

Melihat beberapa kali kegagalan Grom dalam uji coba, pertanyaan lalu muncul, apakah Grom adalah alutsista yang cocok untuk Indonesia? Kalau yang menjadi alasan seputar di hawa yang panas, bagaimana dengan gelar operasi Grom saat digunakan di medan perang sesungguhnya, bukankan sebagian besar wilayah/obyek vital berada di area yang panas menyengat, semisal di daerah kilang minyak. Jangan sampai nantinya target sudah terkunci, jutru rudal malah loyo sebelum ditembakkan. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi Rudal Grom
Pabrik : Mesko, Skarżysko-Kamienna – Polandia
Panjang : 1.596 mm
Diameter : 72 mm
Berat rudal : 10,5 Kg
Berat rudal + peluncur : 16,5 Kg
Berat amunisi : 1,82 Kg
Jarak tembak horizontal : 5.500 meter
Jarak tembak vertikal : 4.000 meter
Kecepatan : 650 meter/detik

C-802 : Rudal Penebar Maut dari Cina

C-802 saat dilepaskan dari KRI Layang

Sejak pertengahan 2008 diketahui TNI AL telah memiliki keluarga rudal baru buatan Cina. Rudal anti kapal ini tak lain adalah C-802. Debut pertama rudal ini ditampilkan TNI AL dalam Latgab TNI 2008, dalam ajang latihan tersebut C-802 dipasang pada KRI Layang (805), tipe kapal FPB (fast patrol boat)-57 buatan PT. PAL. Dengan desain kapal yang relatif kecil, memang hanya dua tabung peluncur C-802 yang bisa dipasang pada jenis FPB-57.

Rencananya tiap armada FPB-57 TNI AL akan dilengkapi rudal C-802, ini tentu akan meningkatkan ‘kesaktian’ jenis kapal patroli ini, pasalnya armada kapal patroli cepat TNI AL memang minim yang dibekali rudal anti permukaan. Saat awal tahun 80-an hingga kini TNI AL memang punya jenis KCR (kapal cepat rudal), yakni 4 dari tipe PSMM Mark 5, atau dikenal sebagai kelas Dagger, diantaranya adalah KRI Rencong (621), KRI Mandau (622), KRI Badik (623) dan KRI Keris (624). Ditaambah baru-baru ini TNI AL mendapat hibah 2 KCR dari Brunei Darussalam, yakni KRI Salawaku (643) dan KRI Badau (642).

KRI Badau dan KRI Salawaku - dua KCR asal hibah dari Brunei

Alhasil bila dilalkukasi, TNI AL hanya punya 6 unit KCR, tentu jumlah yang amat minim. Ditambah lagi secara kualitas rudal-rudal pada 6 KCR tersebut sudah cukup tua, keenamnya mengadopsi jenis rudal MM-30 Exocet. Nah, mengatasi minimnya jumlah KCR, TNI AL berusaha meningkatkan status KCT (kapal cepat torpedo) yang selama ini melekat di kelas FPB-57. Dengan dipasangnya C-802, kini FPB-57 dapat berperan sebagai KCT sekaligus KCR. Maklum senjata andalan FPB-57 sebagai KCT adalah dua tabung torpedo berpemandu AEG SUT (surface and underwater target).

Tak semua FPB-57 cocok untuk dipasangi rudal C-802, yang pas menyandang rudal maut ini tak FPB-57 NAV-V yang sudah mengalami modifikasi pada sistem kendali persenjataan. Selain KRI Layang, C-802 juga akan dipasangkan pada KRI Hiu (804), KRI Lemadang (806), dan KRI Todak (803).

KRI Todak - salah satu KCT armada TNI AL
Armada KCR TNI AL kelas Dagger

C-802
Sejarah kelahiran C-802 dimulai sejak masih berupa konsep rancangan CHETA (China Hai Ying Electro – Mechanical Technology Academy) di awal dekade 1970-an. Tujuan kerja proyek ini tak lain untuk memenuhi kebutuhan AL Cina akan sebuah rudal anti kapal perang permukaan yang relatif kecil, lebih kecil bila dibanding desain rudal dari Uni Soviet. Spesifikasi yang diharapkan yakni berkecepatan subsonic, sanggup melakukan terbang sea skimming (sedikit di atas permukaan laut), mampu melakukan attact flight (terbang serang) dengan didukung sistem teknologi penjejak sasaran mutakhir.

Nah, selain melansir beberapa rudal versi lokal untuk konsumsi Cina sendiri, CHETA juga mendesain sejumlah versi ekspor YJ-8. YJ-8 adalah nama lain dari C-802. Tentu saja spesifikasi teknis dan kinerjanya sedikit dibawah versi lokal yang dipakai AL Cina. Nah, nama resmi YJ-8 yang di ekspor adalah C-802 (YJ-82).

Salah satu varian C-802 adalah C-802A. Rudal ini pertama kali menampakkan sosoknya pada ajang DSEIE (Defence Systems and Equipments International Exhibition) di London, Inggris pada September 2005. Jangkauan C-802A dikabarkan mampu mencapai 180 km. Desain YJ (Ying Ji : Sambaran elang) tidak lagi mengacu pada konsep desain rudal asal Uni Soviet. Oleh perancangnya YJ-8 diklaim perancangnya sebagai hasil perpaduan fisik antara rudal RGM-84 Harpoon dan sistem kendali jelajah rudal MM-38 buatan Perancis.

Rudal Lintas Cakrawala
C-802 mampu menjangkau sasaran yang berada di balik garis cakrawala (over the horizon attack), agar rudal dapat mengenai sasaran dengan tepat (misalnya jarak sasaran, ketinggian jelajah optimal dan kecepatan serta arah angin) telah dihitung dengan tepat oleh perangkat kendali penembakan rudal, maka keseluruhan data tersebut dimasukkan kedalam ‘otak’ YJ-8. Selanjutnya dilakukan kegiatan pra penembakan rudal. Begitu rudal telah siap ditembakkan, arah hadap kotak peluncur rudal akan disetel sedemikian rupa agar sasaran berada di dalam jangkauan rudal. Setelah sasaran telah benar-benar berada di dalam jangkauan tembak YJ-8 (sekitar 8-40 kilometer untuk YJ-81) maka juru senjata akan segera menembakkan rudal.

Tampilan mock up C-802

Tidak lama setelah rudal ditembakkan dan melesat keluar dari wadahnya dengan sudut evaluasi penembakan sekitar 30-45 derajat, maka secara bertahap solid propellat booster akan terbakar (bekerja). Dalam hitungan beberapa detik kecepatan jelajah YJ-8 secara bertahap akan meningkat. Dari semula Mach 0,0 menjadi hingga Mach 0,9 (setara 956 kilometer per jam). Setelah terbakar habis, solid propellat booster akan segera terlepas (detached) dari badan rudal. Kini tiba giliran mesin penggerak membawa rudal menuju sasarannya. Dikendalikan oleh sistem otopilot dan radio altimeter berpresisi tinggi, YJ-8 sanggup menjelajah hingga sejauh 120 kilometer dengan terbang pada kecepatan jelajah Mach 0,8 – 0,9. Ketinggian jelajah pra serang yang dapat dicapai oleh masing-masing anggota keluarga rudal YJ-8 sepenuhnya tergantung situasi dan kondisi perairan (sea status) yang tengah dilintasinya.

Saat memasuki tahapan akhir masa jelajahnya, setiap anggota keluarga rudal YJ-8 akan segera mengaktifkan radar penjejak sasarannya untuk memindai (scan) sasarannya agar ia dapat menentukan secara lebih akurat lokasinya dan kemudian mendekatinya. Berkat sistem pemandu berpola pulsa tunggal yang bekerja pada daerah gelombang radio berfrekuensi tinggi, radar penjejak sasaran YJ-8 menjadi lebih kebal dari segala bentuk upaya pengacakan dan pengecohan yang mengandalkan aneka perangkat gelar perang elektronik. Dengan kata lain kemampuan anti jamming-nya cukup tinggi.

C-802 milik AD Iran, C-802 bisa ditembakkan dari platform di darat

Setelah sasaran yang dituju telah ‘dikunci’ (locked) dalam jarak beberapa kilometer, maka secara bertahap ketinggian terbang YJ-8 akan anjlok hingga tinggal lima sampai tujuh meter dari permukaan laut. Begitu sasaran yang dituju telah berada di hadapannya, YJ-8 akan segera menukik ke bawah untuk selanjutnya mencebur ke laut. Tujuannya agar ia dapat dengan telak menghajar daerah lambung sasaran pada titik sekitar garis air kapal (water line).

Sikap serang seperti ini diyakini perancang YJ-8 sebagai dapat memaksimalkan derajat kerusakan sasaran. Setelah dinding lambung sasaran jebol dan moncong YJ-8 berada di dalamnya, maka tidak lama kemudian hulu ledak rudal segera meledak disertai timbulnya tenaga penghancur yang sangat kuat.

Berkat C-802, AS harus berpikir dua kali untuk menyerang Iran dari lautan

Secara fisik C-802 relatif agak sulit terlacak oleh radar kapal perang yang paling canggih sekalipun. Alasannya jejak radar C-802 sulit dibedakan dengan jejak radar ikan lumba-lumba. Tak cuma itu, perancang C-802 juga mengklaim jika hasil karyanya sanggup beraksi optimal dalam segala kondisi cuaca.

Tantangan Pada Radar Permukaan
C-802 dan Yakhont terbilang rudal handal yang bisa beroperasi lintas cakrawala, tapi dalam gelar operasinya bukan tiada tantangan, khususnya bila dioperasikan pada jenis kapal cepat, umumnya punya keterbatasan jangkauan radar. Sehingga bisa jadi jangkauan radar tak memadai untuk kinerja optimal sang rudal yang bisa menjangkau sasaran sangat jauh dibalik cakrawala. Lain hal bila dioperasikan dari kapal jenis fregat atau korvet yang punya jangkauan radar permukaan lebih baik.

Battle Proven

INS Hanit, korban hantaman C-802, sayang kapal ini tidak tenggelam

Produk buatan Cina kerap mendapat stigma kw-2 (kualitas dua), dimana standarnya dicibir masih dibawah produk besutan AS/Eropa. Tapi lewat C-802, Cina berhasil membutikan bahwa rudal yang dibuat cukup ampuh. Salah satunya diperlihatkan saat kelompok Hizbullah menghadang serbuan Isreal di Lebanon pada medio 2006. Mereka mengklaim telah menembakkan C-802 untuk mematahkan blokade laut AL Israel. Hizbullah menghajar kapal perang Israel, INS Hanit, dengan dua rudal, kapal perang itu rusal berat. Walau tidak tenggelam, diketahui empat pelautnya tewas. (Haryo Adjie Nogo Seno)

Spesifikasi C-802
Berat : 715 kg
Panjang : 6,392 meter
Diameter : 36 centimeter
Mesin : Turbojet
Hulu ledak : 165 kg High Explosive
Lebar sayap : 0,72 meter (terlipat)/ 1,22 meter (tidak terlipat)
Ketinggian terbang : 20-30 meter (terbang) / 5-7 meter saat mendekati sasaran
Kecepatan : subsonic/ versi terbaru sudah supersonic
Pemandu : radar aktif
Platform peluncur : kapal permukaan, kapal selam, pesawat tempur dan truck