Sesaat setelah lepas landas dari Lanud Paya Lebar, bagi jet tempur tercanggih di Asia Tenggara F-15SG, dengan kecepatan penuh hanya butuh waktu kurang dari satu menit untuk keluar dari teritori udara Singapura. Hal ini menyiratkan betapa terbatasnya ruang udara Singapura. Toh dengan kondisi keterbatasan ruang udara, komposisi interceptor Negara Kota ini sulit ditandingi negara tetangganya, selain F-15SG, masih ada F-16 C/D Block52+. Yang jika digabung, kedua jet tempur tersebut berjumlah tak kurang dari 90 unit. (more…)
Masih dalam rangkaian paket pengadaan sembilan unit C-130H Hercules bekas pakai AU Australia (RAAF). Hari Kamis (21/12/2017), kembali tiba C-130H Hercules ‘baru’ dari dari Australia dengan nomer A-1337. Pesawat yang sudah di cat loreng hijau itu tiba di Parking area Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh Malang, setelah diterbangkan oleh Mayor Pnb Ari Susiono dan Kapten Pnb Gintoro serta Lettu Pnb Bagus dari Australia. (more…)
Suatu hari ada seorang kawan yang bertanya, apakah jenis pesawat intai milik asing yang paling sering wara-wiri di atas udara Indonesia? Jawaban pastinya tentu ada di tangan pihak yang berwenang seperti Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional), namun bila ditakar dari kehadiran pesawat intai yang mampir dan melintas secara ‘resmi’ dengan pemberitahuan, maka sosoknya akan mengerucut pada P-3C Orion, jenis pesawat intai maritim jarak jauh, sekaligus pembasmi kapal selam produksi Lockheed Martin. (more…)
Meski sudah punya enam unit Boeing E-7A Wedgetail, stasiun radar terbang yang punya kemampuan peperangan elektronik (electronic warfare) tingkat tinggi dengan jamming, faktanya AU Australia/Royal Australian Air Force (RAAF) masih belum puas untuk memperkuat elemen electronic warfare-nya. Guna mengantisipasi ancaman dari ‘utara’ yang sewaktu-waktu dapat timbul, AU Australia kini telah didapuk sebagai pemilik kekuatan udara nomer satu di belahan Asia Pasifik, terkhusus untuk meladeni pernika (perang elektronika). (more…)
Dalam babak awal serangan udara ke permukaan, penghancuran fasilitas radar dan sarana berbasis elektronik menjadi prioritas utama untuk segera ditaklukan. Penghancuran radar, terutama radar hanud (pertahanan udara) dengan kemampuan GCI (Ground Control Intercept) menjadi mutlak dilakukan, pasalnya radar inilah yang berperan aktif ‘membimbing’ jet tempur lawan, belum lagi peran radar GCI sebagai integrator IFF (Identification Friend or Foe) pada beragam sistem senjata hanud titik (rudal/kanon) dan hanud terminal (pesawat tempur). (more…)
Skadron Udara 32 sebagai ‘rumah’ dari pesawat angkut berat C-130 Hercules TNI AU, kini kekuatannya telah genap dengan 16 unit setelah pada hari Senin lalu (7/11/2016) tiba satu unit C-130H Hercules A-1335 yang berasal dari hibah AU Australia/RAAF (Royal Australian Air Force). Pesawat Hercules A-1335 ini telah datang di Indonesia sekitar dua minggu yang lalu, dan terlebih dahulu di tempatkan di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta, hingga hari Senin kemarin tiba di markas Skadron Udara 32 Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, Jawa Timur. (more…)
Suasana di kokpit simulator C-130H Hercules TNI AU.
Di bulan Maret lalu, telah dilakukan proses pengiriman simulator FFMS (Full Flight Mission Simulator) C-130H Hercules yang berasal dari bekas pakai AU Australia (RAAF). Dan kabar terbaru, kini simulator tersebut telah berhasil terpasang di gedung Fasilitas dan Latihan (Faslat) Wing 1 Lanud Halim Perdanakusuma. Pengadaan simulator ini merupakan bagian dari paket pembelian lima unit C-130H Hercules bekas pakai AU Australia. (more…)
Bisa dibilang Boeing adalah manufaktur pesawat yang beruntung, di segmen pesawat komersial, Ia masih jadi raja. Mengandalkan basis pesawat komersial, Boeing juga sukses menelurkan beberapa pesawat intai maritim dan pesawat AEW&C (Airborne Early Warning and Control System) yang paling laris di dunia. TNI AU pun sampai saat ini masih setia menggunakan Boeing 737 200 yang dilengkapi radar SLAMMR (Side Looking Airborne Modular Multi Mission Radar) buatan Motorola untuk meronda lautan NKRI. (more…)
Bagi negara yang punya kekuatan udara lumayan besar, hadirnya pesawat angkut lapis kedua jelas diperlukan, perannya bisa diibaratkan sebagai pendukung pesawat angkut berat seperti C-130 Hercules. Bagi TNI AU, andalan pesawat angkut lapis kedua adalah Airbus Military/Casa C-295M. Sementara bagi AU Australia (RAAF) yang jadi andalan yakni C-27J Spartan buatan Alenia. (more…)
Dengan anggaran yang terbatas dan kesiapan operasional yang belum maksimal, keberadaan simulator jelas sangat diperlukan dalam program pelatihan dan pendidikan penerbang, tak terkecuali bagi penerbang TNI AU yang mengawaki pesawat angkut berat C-130 Hercules. Simulator C-130 di lingkup TNI AU bukan barang baru, sejak tahun 2000, di Wing 1 Lanud Halim Perdanakusuma sudah ada simulator C-130. Dan kabar terbaru, akan segera datang tambahan simulator untuk C-130 dari Australia. (more…)