Sempat jadi bahan berita pada pertengahan 2018, kini nama Bronco II kembali mencuat setelah Komando Operasi Khusus AS – US Special Operations Command (SOCOM) berencana untuk mengakuisisi 75 unit Bronco II. Umpan tersebut rupanya langsung direspon oleh Leidos, kontraktor pertahanan asal AS yang akan membentuk Tim Bronco II, termasuk penyiapan fasilitas produksi komponen di Vertex Aerospace, Amerika Serikat. (more…)
Jika ditakar dari usia, siapa pun sepakat menyebut bahwa Douglas DC-3 adalah pesawat yang teramat tua, terbang perdana pada 17 Desember 1935, pesawat angkut sedang yang versi militernya disebut C-47 Skytrain ini begitu kental kiprahnya dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. (more…)
Label Bronco sebagai kuda liar dalam misi COIN (Counter Insurgency) serasa tak pernah lekang. Meski di Indonesia kiprahnya tinggal sebatas kenangan. Namun lain halnya di Filipina, OV-10 A/C/M Bronco masih beroperasi penuh, seperti pada Juni 2017, pesawat turbo propeller ini aktif melakukan serangan udara ke basis militas ISIS di Marawi. Dan seolah ingin menampuk rejeki dari nama besar Bronco, perusahaan asal Afrika Selatan Paramount lewat anak perusahannya di AS yakni AHRLAC Aerospace Development Corp (AADC) dengan Fulcrum Concepts yang berbasis di Virginia, merilis prototipe Bronco Combat Systems (BCS) atau populer disebut Bronco II. (more…)
Setelah mengabdi sejak 1978, armada pesawat Latih Dasar T-34C-1 “Charlie” akhirnya resmi dilepas dari operasional TNI AU lewat sebuah upacara di Lanud Adisutjipto pada Selasa (3/4/2018). Dari 20 unit yang didatangkan dari Amerika Serikat, kini tinggal 11 unit yang tersisa, dan pada tahun lalu sejumlah pesawat ini masih ada yang berhasil diterbangkan. Meski debutnya telah digantikan KT-1B Wong Bee, jasa T-34C begitu besar dalam mencetak ratusan penerbang TNI AU. (more…)
Bertepatan dengan momen Hari Pahlawan, pada 10 November 2017 bertempat di Base Ops, Lanud Halim Perdanakusuma, prototipe pesawat pertama N219 karya anak bangsa hasil kerjasama PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan LAPAN diberikan nama oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Pemberian nama “Nurtanio” diambil dari nama Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo yang telah merintis pembuatan pesawat terbang di Tanah Air sejak tahun 1946. (more…)
Saat gelombang perdana pesawat COIN (Counter Insugency) EMB-314 Super Tucano tiba di Indonesia lewat ferry flight pada tahun 2012 silam, beberapa orang sempat bertanya, mengapa Super Tucano yang baru tiba dari Brasil tidak dilengkapi senjata internal? Pasalnya tak terlihat tonjolan laras senapan mesin pada kedua sayap Super Tucano. Meski hadir dengan moncong Cocor Merah yang sangar, namun tanpa senjata internal, pesawat produksi Embraer Defense and Security ini tak ubahnya seperti pesawat latih turborop konvensional. (more…)
Jika dirunut dari awal kehadirannya, kini usia pakai pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano batch pertama baru menapaki empat tahun penugasan di Skadron Udara 21. Sesuai asasinya, Super Tucano menjadi tumpuan dalam beragam ajang latihan tempur TNI AU, terutama dalam misi BTU (Bantuan Tembakan Udara). Maklum porsi Super Tucano dituntut mampu mengimbangi pedahulunya OV-10F Bronco yang telah pensiun pada tahun 2007 silam.
Tak banyak perangkat militer yang sukses dijadikan sebagai ikon dalam komik. Tapi ada satu yang dirasa sangat menarik, yaitu pesawat latih T-33A Bird. Tidak tanggung-tanggung, T-33A menjadi ikon dalam komik tahun 80-an asal Perancis, Tanguy dan Laverdure. Dimulai dari judul “Pendidikan Para Elang”, kemudian berlanjut di sekuel kedua “Demi Kehormatan.” T-33A menjadi pesawat andalan bagi para siswa pilot pemburu Perancis. (more…)
Super Tucano sangat pas dengan corak Cocor Merah, mengingatkan pada P51D Mustang Skadron 3 TNI AU
Beberapa waktu belakangan, energi kita seolah tercurah pada pembahasan seputar polemik pengadaan tank Leopard untuk memperkuat kavaleri TNI AD. Meski mulai ada titik terang akan kedatangan tank tersebut, tapi kontroversi terus saja berjalan, tapi sayangnya justru oknum beberapa anggota parlemen malah meminggirkan esensi dari kebutuhan alutsista RI. Ya, dengan dalih demokrasi dan transparansi, pengadaan alutsista cenderung tersendat, salah satunya akibat birokrasi dan politik yang diciptakan tidak efektif dan efisien. (more…)