Karena alasan politik dan ideologi, hubungan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela mulai memburuk sejak terpilihnya Hugo Chávez sebagai Presiden Venezuela pada 2 Februari 1999, yang kemudian berimbas pada Mei 2006, saat AS mengumumkan secara resmi embargo senjata terhadap Venezuela. (more…)
Flexing kekuatan rudal balistik Cina tidak sebatas DF-5C dan DF-61, dari matra udara juga ditampilan rudal balistik yang diluncurkan dari udara atau Air-Launched Ballistic Missile (ALBM) JL-1. Dipamerkan dengan diangkut truk trailer, sejatinya JL-1 adalah ALBM yang dipersiapkan untuk diluncurkan dari pembom strategis jarak jauh Xian H-6N. (more…)
Selain rudal balistik antarbenua (ICBM) DF-5C, parade milter peringatan Hari Kemenangan (Victory Day) ke-80 di Beijing pada 3 September 2025, juga menjadi momen bagi Angkatan Bersenjata Cina untuk pertama kalinya memperlihatkan ICBM DF-61. Meski sama-sama rudal balistik antarbenua, namun DF-61 berbeda dalam hal spesifikasi dari DF-5C, bukan hanya soal jangkauan, namun sistem peluncurnya juga berbeda. (more…)
Sepanjang masih memungkin untuk ditampilkan, maka alutsista dari matra laut juga akan dipamerkan dalam defile militer di darat. Seperti pada peringatan Hari Kemenangan (Victory Day) ke-80 di Beijing, selain drone bawah laut mirip torpedo – (Unmanned Underwater Vehicle/UUV) berukuran besar (XLUUV) yang dibawa truk trailer, nampak senjata laser berukuran besar yang dirancang untuk dipasang di kapal perang. (more…)
Parade dan defile milter peringatan Hari Kemenangan (Victory Day) Perang melawan Jepang ke-80, pada 3 September 2025, tuntas digelar di Beijing. Turut dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto, parade militer yang disebut terbesar di dunia itu, menampilkan beragam persenjataan dan alutsista terbaru Cina. Di antara yang ditampilkan, sosok rudal balistik antarbenua DF-5C menjadi yang paling membetot perhatian. (more…)
Lantaran situasi dalam negeri dianggap telah kondusif dan ingin memberi sinyal positif pada dunia internasional, Presiden RI Prabowo Subianto, yang awalnya membatalkan lawatan ke Cina, akhirnya telah bertolak ke Beijing untuk memenuhi undangan Presiden Xi Jinping terkait perayaan dan defile militer peringatan Hari Kemenangan Perang melawan Jepang ke-80. (more…)
Setelah mampu membangun kapal selam modern Hai Kun dan LPD (Landing Platform Dock) Yu Shan, Taiwan terpacu untuk membangun kapal kombatan bertonase besar di dalam negeri, yakn fregat dengan berat 6.000 ton. Bukan sekedar omon-omon, proyek fregat 6.000 ton ini telah dianggarakan untuk tahun 2026. (more…)
Kondisi alam dapat dimanfaatkan guna memberikan keuntungan tersendiri pada strategi militer, terkhusus di Laut Cina Selatan, Kepulauan Paracel disebut bisa menjadi submarine kill zone. Indikasi tersebut muncul setelah adanya insiden yang menimpa kapal selam USS Connecticut (SSN-22) yang menabrak gunung bawah laut di Laut Cina Selatan pada tanggal 2 Oktober 2021. (more…)
Secara fungsi, Cina telah mengaptasi kemampuan self propelled MLRS Norinco PHL-16 sebagai tandingan M142 HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System). Namun, PHL-16 mengusung platform kendaraan peluncur yang lebih besar dengan sasis Wanshan WS2400 8×8. Nah, belum lama perusahaan Cina meluncurkan replika kendaraan peluncur HIMARS, yang sedikit banyak mengingatkan pada rancangan “Anoa-HIMARS” dari Bandung. (more…)
Terlepas dari pakta pertahanan AUKUS – Australia (Au), Inggris (UK), dan Amerika Serikat (US) yang dibentuk pada 15 September 2021, pada dasarnya Australia telah menjalankan peran sebagai sekutu utama AS di kawasan Indo Pasifik, yang mana kedua negara disatukan pada kepentingan untuk menghadapi ancaman dari Cina. (more…)