Pertama Kali Dalam Sejarah, Jet Tempur Gripen C Swedia Sukses Uji Tembak Rudal Jelajah Taurus KEPD 350

Angkatan Udara Swedia mencatatkan tonggak sejarah baru dalam modernisasi kekuatan udaranya setelah berhasil melakukan uji tembak perdana rudal jelajah stand-off Taurus KEPD 350. Pengujian yang berlangsung di Fasilitas Uji Vidsel pada 21 Agustus 2026 tersebut dikonfirmasi langsung oleh pihak militer melalui rilis resmi dan rekaman video.
Dalam pengujian penting ini, sebuah jet tempur Gripen C menerbangkan dan melepaskan amunisi tajam Taurus KEPD 350, yang ditandai dengan keberadaan garis kuning pada badan rudal. Peluncuran ini menjadi bukti nyata percepatan Swedia dalam mengadopsi kemampuan serangan presisi jarak jauh ke dalam doktrin pertahanannya.
Keberhasilan uji tembak ini sekaligus menguak sebuah anomali unik dalam lanskap industri pertahanan global. Pasalnya, Taurus KEPD 350 sejatinya dikembangkan oleh konsorsium Taurus Systems GmbH, yang melibatkan peran Saab Dynamics dari Swedia bersama MBDA Deutschland dari Jerman sejak awal tahun 2000-an.
Meskipun produsen telah lama menampilkan mockup rudal ini di bawah sayap Gripen dalam berbagai pameran dirgantara internasional, Angkatan Udara Swedia justru belum pernah sekalipun mengoperasikan atau menembakkan rudal tersebut secara langsung. Kondisi ini membuat Swedia tertinggal dari negara pengadopsi lain seperti Jerman, Spanyol, dan Korea Selatan yang telah bertahun-tahun mengoperasikan Taurus pada armada Tornado, Eurofighter Typhoon, maupun F-15K milik mereka.
🇸🇪 TAURUS LAUNCH
Today a TAURUS KEPD 350 cruise missile was launched from a Swedish JAS 39 Gripen for the first time. The test was conducted at the Vidsel Test Range in Norrbotten.
Today TAURUS is a long-range cruise missile that introduces a new deep-strike capability.
📷 FMV pic.twitter.com/vYcL75Lu4p— Flygvapnet (@flygvapnet) August 21, 2026
Keterlambatan adopsi rudal buatan dalam negeri ini sangat dipengaruhi oleh doktrin militer Swedia di masa lalu. Selama Perang Dingin hingga beberapa tahun terakhir, Swedia murni berfokus pada strategi pertahanan teritorial untuk memukul mundur invasi di sekitar perbatasan dan Laut Baltik menggunakan rudal anti-kapal RBS-15 serta rudal udara-ke-udara Meteor.
Angkatan Udara Swedia kala itu tidak memprioritaskan kemampuan penyerangan ofensif jarak jauh ke wilayah musuh. Namun, pergeseran geopolitik kawasan Eropa yang dinamis serta bergabungnya Swedia ke dalam aliansi NATO memaksa Stockholm mengubah strategi pertahanannya secara drastis guna memiliki daya gempur ofensif yang relevan.
Fakta bahwa uji tembak ini menggunakan varian Gripen C, dan bukan Gripen E versi terbaru, juga menegaskan prioritas taktis militer Swedia saat ini. Pemerintah Swedia melalui Badan Pengadaan Material Pertahanan telah memutuskan untuk tetap mempertahankan 60 unit Gripen C/D agar terus beroperasi berdampingan dengan Gripen E.
Armada Gripen C/D tersebut tengah menjalani peningkatan kemampuan ke standar MS20 Block 3 dan Block 4, dengan integrasi rudal Taurus sebagai salah satu pilar utamanya. Sementara itu, untuk varian Gripen E yang lebih modern, Saab mengonfirmasi bahwa kesiapan arsitektur sistemnya sudah sangat kompatibel, namun pengujian fisik dan integrasi live firing baru akan dilakukan bertahap setelah paket pada Gripen C/D selesai.
Melalui keberhasilan uji coba ini, target pengoperasian kemampuan deep-strike yang semula diproyeksikan baru terealisasi pada 2028 kini berhasil dimajukan lebih cepat. Kombinasi antara keandalan jet tempur Gripen C dan keunggulan rudal Taurus KEPD 350 — yang mampu terbang rendah sejauh lebih dari 500 kilometer dengan hulu ledak penembus bunker MEPHISTO seberat 481 kilogram — kini memberikan dorongan signifikan bagi daya gentar Swedia di kawasan Eropa Utara. (Gilang Perdana)


