F-16 Skadron 3 TNI AU dengan rudal AIM-9 P4 Sidewinder
Bila dicermati, sudah tiga dekade lebih sistem senjata pada pesawat tempur TNI AU bertumpu pada rudal Sidewinder. Semenjak hadirnya F-5 E/F Tiger II pada awal tahun 80-an, hingga kini TNI AU hanya menyandarkan pada kemampuan Sidewinder sebagai rudal udara ke udara. Versi Sidewinder tercanggih yang dimiliki TNI AU adalah AIM-9 P4 yang bisa menghantam target dari beragam sudut. AIM-9 P4 dipasang oleh TNI AU pada pesawat F-16 dan Hawk 100/200.
Dari analisa kekuatan di kawasan regional Asia Tenggara, AIM-9 P4 boleh jadi masih cukup mumpuni untuk eskalasi pertempuran terbatas. Tapi harus diperhitungkan bila yang dihadapi misalnya Australia atau Singapura, yang mempunyai rudal udara ke udara kelas menengah, seperti Sparrow dan AMRAAM, yang masing-masing punya jangkauan tembak 70 Km dan 110 Km. Perlu dicatat, Sidewinder adalah rudal pengejar panas untuk target jarak dekat, dan terkenal afdol dalam dog fight.
Sedangkan belajar dari perang Teluk, konsep pertempuran udara sudah bergeser, berkat kecanggihan sistem deteksi radar pada pesawat, serta dukungan rudal jarak menengah/jauh, target bisa dihajar pada posisi lintas cakrawala, alias antar pilot pun tak mengetahui sosok pesawat lawan secara langsung. Inilah yang harus dipertimbangkan secara cermat, semoga saja generasi Sukhoi Su-27/Su-30 TNI AU nantinya akan dilengkapi rudal yang setara dengan AIM-7 Sparrow atau AIM-120 AMRAAM. Hal ini penting untuk dicatat dan didengar oleh parlemen di DPR RI, mengingat Singapura dan Malaysia sudah membekali jet tempurnya dengan rudal Sparrow dan AMRAAM.
Sukhoi Su-27 Skadron 11 TNI AU, kita berharap agar jet tempur ini segera dilengkapi dengan rudal yang mumpuni.
Mungkin karena alasan politis yang bertele-tele dan anggaran yang ngepas, tak usahlah melirik rudal buatan AS, sebagai opsi TNI AU bisa membeli Vympel R-77/R-27, rudal jarak menengah berjangkauan 80 – 175 Km yang dirancang sebagai persenjataan untuk Sukhoi. Kita semua yakin, kemampuan pilot tempur TNI AU tak kalah cakap dengan pilot dari Negeri Jiran, namun terlepas dari olah ketrampilan tempur di udara, semuanya akan jadi sia-sia bila arsenal persenjataan yang melengkapi jet tempur TNI AU tidak disesuaikan dengan kondisi tantangan yang ada di kawasan. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Westland Wasp TNI AL kini menjadi monumen di Surabaya
Bila merujuk pada kuantitas kapal perang yang dimiliki, boleh disebut TNI AL merupakan angkatan laut terbesar yang ada di kawasan ASEAN. Tapi terbesar belum tentu jadi yang terkuat, perihal yang terkuat masih harus dikalkulasi ulang, terutama bila dilihat dari perspektif jenis dan teknologi alutsista yang dimiliki oleh AL Singapura dan AL Malaysia. (more…)
Dengan pudarnya dominasi rudal di Indonesia, tentu ada perhitungan sendiri, di bawah panji kestabilan ekonomi dan membina hubungan yang baik di kawasan, pada era Soeharto pengembangan rudal mulai berjalan, walau sangat lamban, bahkan secara de facto etalase rudal Indonesia sudah tertinggal dari Singapura dan Malaysia.
Tapi harus diakui, tak serta merta sistem rudal Indonesia tertinggal secara keseluruhan, di lini rudal anti kapal, terlihat pemerintah sangat serius untuk memperkuat beragam rudal anti kapal, sebagai bukti adalah Yakhont, yang kini menjadi lambang supremasi alutsista Indonesia.
Khusus pada era orba, pemerintah nampak kurang mempersiapkan militer seumpama menghadapi konflik terbuka antar negara tetangga, berkat sosok Soeharto yang sangat disegani sebagai pemimpin pemerintahan paling senior di ASEAN, beragam alutsista di per-modern, tapi sayangnya dengan kuantitas yang serba minim. Tapi fakta kini berbicara lain, musim telah berganti, era baru pun harus disikapi secara tepat tanpa harus berlebihan. Dengan segala intrik dan konflik di seputar perbatasan, potensi munculnya perang antara negara bertetangga bisa saja meletus di masa mendatang.
Tanpa bermaksud mengharap datangnya peperangan, tapi diyakini, seandainya terjadi duel antara militer Indonesia dan Malaysia, beberapa lakon dalam pertempuran akan memunculkan nama Sidewinder, Maverick, Exocet, atau bisa jadi Yakhont. Uniknya antar negara tetangga di ASEAN, termasuk Malaysia dan Singapura, mempunyai karakter dan jenis alutsista yang serupa. Sebut saja seperti rudal Maverick, Sidewinder, RBS-70, dan Rapier dimiliki oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura.
Inilah yang menarik untuk dicermati, konflik di masa mendatang akan terkait dengan teknologi tinggi, dan bisa dipastikan rudal akan selalu kebagian peran strategis yang menentukkan. Dalam buku “Indonesian Missile, Perisai Angkasa Nusantara” untuk pertama kalinya dibahas tentang sepak terjang dan etalase rudal yang dahulu dan kini memperkuat TNI.
Informasi Buku
Judul : Indonesian Missile, Perisai Angkasa Nusantara
Penulis : Haryo Adjie Nogo Seno
Penerbit : Matapadi Pressindo
Hal : xii+158
Harga : Rp45.000
Note : Tersedia di Toko Buku Gramedia
Bagi Anda pemerhati bidang kemiliteran, pastinya telah mengenal identitas Whiskey class, ya ini lah jenis kapal selam yang memperkuat arsenal kekuatan Korps Hiu Kencana TNI AL di dasawarsa tahun 60-an. Seperti diketahui, ada 12 kapal selam kelas Whiskey yang sempat dimiliki Indonesia, dan kehadirannya saat itu dimaksudkan sebagai salah satu elemen penggetar dalam operasi Trikora, merebut Irian Jaya dari tangan Belanda.
Seperti banyak ditulis dalam berbagai literatur, keberadaan kapal selam bagi sebuah negara merupakan komponen yang strategis. Beragam fungsi bisa diemban dari adanya kapal selam, mulai dari patroli, intai maritim, penyusupan, hingga perang bawah/atas permukaan laut. Untuk yang terakhir disebut, perang bawah/atas permukaan laut, tentunya bisa berjalan bila kapal selam ditunjang dengan persenjataan yang memadai. Bicara soal senjata kapal selam, jelas yang utama dan tak tergantikan adalah torpedo, setelah itu baru bisa disebut ranjau laut, rudal anti kapal, dan sebagainya.
Sosok torpedo SAET-50 di museum AL RusiaTampilan baling-baling pada SAET-50
Nah, guna menapaki sejarah kejayaan militer Indonesia di masa lalu, TNI AL kala itu juga sudah memiliki jenis torpedo yang terbilang canggih pada masanya. Jenis torpedo tersebut adalah SAET (Samonavodiashaiasia Akustisticheskaia Elektricheskaia Torpeda)-50, sebuah torpedo jenis homing akustik yang ditenagai dengan teknologi elektrik. Kecanggihan SAET-50 yakni saat diluncurkan dapat langsung mencari sasaran sendiri (fire and forget) berdasarkan suara baling-baling atau material magnetik yang dipancarkan oleh badan kapal target. Yang cukup menakutkan bagi armada kapal perang Belanda, hulu ledaknya mencapai berat 375 Kg, dan teknologi homing akustik pasif torpedo ini dapat mengendus sasaran mulai dari jarak 600-800 meter.
Selain negara-negara anggota Pakta Warsawa, Indonesia menjadi pengguna pertama, dan yang pasti di Asia baru Indonesia lah yang memiliki torpedo maut ini. Tentu ada udang dibalik batu atas kedatangan torpedo ini, Uni Soviet tentu berharap kinerja SAET-50 dapat dijajal dalam operasi tempur yang sesungguhnya. Operasi Trikora bisa menjadi kampanye keunggulan militer Uni Soviet melawan kubu Blok Barat yang diwakili oleh Belanda.
Jenis torpedo Whiskey Class di Museum Satria MandalaSosok torpedo di kompartemen Monkasel KRI Pasopati, Surabaya
Sayangnya, kesaktian SAET-50 tidak pernah dibuktikan untuk menghantam armada kapal Belanda. Karena beragam kepentingan, versi torpedo ini kemudian juga diadaptasi oleh Cina secara lisensi. Dan jadilah torpedo berdiameter 533mm ini dengan versi buatan Cina yang diberi kode Yu-3/Yu-4A dan Yu-4B. Ada beberapa pengembangan yang dilakukan oleh Cina, dimana versi torpedo ini dibuat bukan hanya dalam versi akustik pasif, tapi juga akustik aktif, yakni memancarkan gelombang untuk mencari pantulan dari logam di kapal target. Cina sendiri terus memproduksi torpedo yang berasal dari platform SAET-50 hingga 1987.
SAET-50 versi Cina (Yu-4)Tabung peluncur torpedo di buritan KRI Pasopati
Tidak ada informasi, berapa unit torpedo SAET-50 yang sempat dimiliki TNI-AL. Secara umum SAET-50 produksi Uni Soviet terbagi dalam dua versi, yakni SAET-50 (digunakan mulai tahun 1950) dan SAET-50M (digunakan mulai tahun 1955). Tidak diketahui jenis mana yang dipunyai oleh TNI AL. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah spesifikasi torpedo SAET-50. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Torpedo SAET-50
Diameter : 533 mm
Berat : 1.650 Kg
Panjang : 7,45 m
Berat Hulu Ledak : 375 Kg
Jangkauan : SAET-50 – 4 Km/SAET-50M – 6 Km
Kecepatan : SAET-50 – 23 knots/ SAET-50M – 29 knots
Sumber Tenaga : Lead Acic Battery
Sebagian besar dari kita mungkin sudah mahfum dengan nama KRI Irian, sosok kapal penjelajah pertama dan terakhir yang pernah dimiliki TNI AL pada era orde lama. Tapi untuk segmen kapal permukaan, sebenarnya ada beberapa nama kapal perang TNI AL lainnya yang juga fenomenal di masa tersebut. Sebut saja salah satunya adalah KRI Ratulangi (RLI), kapal yang disebut kapal tender kapal selam ini punya peran penting pada masa operasi Trikora sampai operasi Seroja di tahun 70-an.
KRI Ratulangi adalah alutsista yang khas di era tersebut, pasalnya peran kapal ini begitu vital sebagai kapal induknya armada kapal selam TNI AL yang saat itu memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey buatan Uni Soviet. KRI Ratulangi adalah jenis kapal perang atas air yang berfungsi sebagai pendukung dan pengendali operasi taktis kapal-kapal selam. Keberadaan jenis kapal ini diperlukan untuk menyuplai logistik, merawat, dan memperbaiki peralatan kapal, serta melakukan tindakan medis. Dan karena desain kapal selam kelas Whiskey yang kurang nyaman dan ergonomis untuk awaknya, maka KRI Ratulangi juga dimanfaatkan para awak kapal selam untuk beristirahat selama sedang tidak aktif.
Logistik yang dapat diberikan kepada kapal selam dari KRI Ratulangi adalah logistik cair seperti bahan bakar, pelumas, air suling untuk elektrolit baterai, dan air minum. Logistik padat berupa bahan makanan untuk awak kapal dan suku cadang kapal. Dan tak ketinggalan beban berupa logistik tempur berupa torpedo, ranjau dan amunisi lainnya. Terkait torpedo, yang dibawa kapal tender ini bukan sembarangan, yakni torpedo kendali bertenaga listrik tipe SAET-50.
Torpedo SAET-50 yang dimuat pada kapal tender kapal selam
Torpedo SAET-50 adalah senjata bawah laut paling mematikan milik Soviet saat itu, setelah diluncurkan torpedo ini dapat langsung mencari sasaran sendiri (fire and forget) berdasarkan suara baling-baling kapal atau magnetik badan kapal tersebut. Torpedo jenis ini bisa berada di tangan Indonesia dengan harapan kinerjanya dapat dijajal dalam operasi Trikora, sehingga merupakan poin penting bagi kampanye militer Uni Soviet.
KRI Ratulangi merupakan kapal tender kelas Don buatan Uni Soviet. Bobot kapal ini mencapai 6.800 ton dalam kondisi standar dan 9.000 ton pada kondisi muatan penuh. Don class mulai diproduksi pada periode tahun 1958 – 1961. Untuk keperluan Angkatan Laut Uni Soviet, kapal Tender jenis Don ini diprodukksi sebanyak 7 unit, dan 1 unit diproduksi untuk digunakan oleh TNI AL (ALRI).
Armada Whiskey class TNI AL, kemungkinan tengah merapat di kapal tender
Dalam operasinya, KRI Ratulangi dapat melayani 6 kapal selam sekaligus, selain berupa pasokan aneka logistik, kapal tender ini juga dapat melakukan pengisian tenaga listrik untuk baterai kapal selam yang sedang bersandar, sebab KRI Ratulangi memiliki generator untuk keperluan tersebut. Sebagai kapal dengan bobot yang cukup besar, KRI Ratulangi juga memiliki beragam fasilitas kesehetan umum dan rawat gigi untuk para awak kapal selam.
Salah satu yang unik dari kapal ini adalah geladaknya yang cukup luas dan dilapisi papan dari kayu, sehingga memberi kenyamanan, baik bagi pejalan di atas geladak maupun kesejukan di ruang bawah geladak. Seperti diketahui, kayu adalah isolator panas yang baik sekaligus peredam getaran dan tidak licin.
Mesin
KRI Ratulangi ditenagai mesin diesel listrik, denga diesel listrik olah gerak kapal ini menjadi lebih lincah dan efektif. Diesel utama memutar generator, dan generator menghasilkan tenaga listrik. Tenaga listrik memutar elektro motor, dan selanjutnya elektro motor memutar poros baling-baling yang ujungnya terpasang daun baling-baling. KRI Ratulangi memiliki dua poros baling-baling yang memutar pada sisi kanan dan kiri.
Desain
Dibanding jenis kapal perang pada umumnya, desain KRI Ratulangi terbilang lebih mirip kapal penumpang, sebab lambung kapal dibuat tinggi dengan banyak jendela kedap. Adanya fasilitas bengkel dan gudang menjadikan kapal ini layaknya depot. Sebagai induk semangnya kapal selam, pada ujung haluan terdapat sebuah katrol berukuran besar dengan daya angkat sampai 300 ton. Katrol ini diperlukan untuk perbaikan baling-baling dan sistem poros kapal selam dengan jalan menggulingkan kapal selam kedepan, sehingga baling-baling mencuat ke permukaan.
Tampilan bagian buritan Don class submarine tander milik AL Uni Soviet
Persenjataan
Kapal perang dengan awak 300 personel ini dilengkapi dengan aneka persenjataan yang membuatnya setara dengan destroyer. Dalam catatan sejarah, KRI Ratulangi memiliki 4 pucuk meriam kaliber 100mm dalam kubah meriam tunggal, dan 8 pucuk meriam kaliber 57mm berada dalam 4 menara meriam berlaras kembar. Dan untuk melibas kapal selam lawan, kapal tender ini juga dapat menyebar ranjau laut.
Ikhwal Kedatangan KRI Ratulangi
Kedatangan KRI Ratulangi merupakan bagian dari paket pembelian 12 kapal selam oleh misi Nasution I, dalam paket pembelian disebutkan Indonesia akan menerima 2 kapal tender kapal selam. Ini artinya KRI Ratulangi punya ‘saudara’ dalam penusannya, yakni KRI Thamrin (THR). Baik KRI Ratulangi dan KRI Thamrin tiba di Indonesia ketika konflik Irian Barat hampir rampung, sehingga belum sempatt unjuk gigi kepada Belanda.
Uni Soviet masih menggunakan Don Class hingga tahun 1998
Kedua kapal tender ini nyatanya baru berperan penuh saat Indonesia terlibat konfrontasi dengan Malaysia. Bahkan KRI Ratulangi dikabarkan masih beroperasi dan aktif hingga tahun 1980-an, meskipun fungsinya telah berubah dari kapal tender menjadi kapal tempur/kapal markas. Ini tak lain berkat merian-meriam kaliber 100mm di geladaknya.
Saat memasuki order baru, Indonesia terkena embargo militer dari Uni Soviet, kiprah KRI Ratulangi terbukti tetap berkibar. Dengan pola kanibalisasi suku cadang dari jenis kapal perang lain, Ratulangi masih dapat mengemban beberapa misi tempur, terutama pada operasi Seroja di tahun 70-an. Di Uni Soviet sendiri, kapal tender kelas Don ini masih digunakan sampai tahun 1998. Artinya bila suku cadang tersedia, sebenarnya kapal jenis ini masih diperlukan, apalagi bila Indonesia berniat punya kapal selam dalam jumlah lebih dari 2 unit seperti saat ini.
KRI Thamrin Yang Misterius
Bila KRI Ratulangi punya catatan sejarah yang cukup lengkap, maka lain hal dengan KRI Thamrin. Jejak KRI Thamrin agak sulit ditelusuri, antara KRI Ratulangi dan Thamrin meski sama-sama kapal tender, tapi berangkat dari kelas yang berbeda. KRI Thamrin berasal dari kelas Atrek dan berpenggerak mesin turbin uap. Tidak jelas bagaimana riwayat kapal ini, dan kisah-kisah yang menyertainya.
Sosok KRI (RI) Thamrin, kapal tender TNI AL yang misterius
Terkait nomer lambung kapal juga ada yang unik dari keberadaan kapal tender milik TNI AL, mungkin karena dianggap bagian dari Satsel (satuan kapal selam), diketahui KRI Ratulangi memiliki nomer lambung 400, tapi dalam beberapa literatur juga terlihat nomer lambung kapal ini adalah 4101. Bahkan ada foto yang tak terbantahkan, bila nomer lambung KRI Ratulangi adalah 552. Mana yang benar, mungkin pihak TNI AL bisa memberikan informasi lebih lanjut.
Satu hal lagi, tidak jelas pula bagaimana nasib akhir KRI Ratulangi, apakah kapal tender tersebut berakhir sebagai besi tua, atau dijadikan sasaran latihan tembak. Mungkin ada dari Anda yang punya kisah lanjutannnya? Monggo kita saling berbagi.. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi KRI Ratulangi
Pabrik : Nikolayev shipyard
Dimensi : 140 x 17,7 x 6,4 m
Berat Standar : 6.800 ton
Berat Penuh : 9.000 ton
Awak : 300 – 450 orang
Jarak Jelajah : 21.000 Km pada kecepatan 10 knot
Kecepatan max : 17 knot
Fasilitas Sensor : Radar Hawk Screech, Slim Net, 2 x Watch Dog ECM system dan Vee Cone Communication System.
Persenjataan : 4 – 100mm guns (4×1), 4 – 57mm guns
Lama berlayar tanpa bekal ulang : 40 hari
Kapasitas Torpedo : 42 torpedoes 533 mm
Suatu hari di tahun 1997, pada acara “Dunia Dalam Berita” di TVRI, diwartakan bahwa TNI AL akan kedatangan armada kapal selam (KS) jenis baru, melengkapi 2 unit yang sudah ada sejak awal tahun 80-an. Tak tanggung-tanggung, disebutkan TNI AL langsung menambah 5 unit kapal selam. Kala itu, berita pengadaan kapal selam cukup mengagetkan, walau beritanya tak heboh, tapi pengadaan langsung 5 unit adalah ‘prestasi’ di saat itu, pasalnya selain pemerintah harus siapkan budget besar, juga TNI AL harus menyiapkan awak dalam jumlah yang ideal.
Tapi ibarat untung tak dapat diraih, krisis ekonomi (krismon) yang mendera Republik ini terbilang dahsyat, selain akhirnya mampu menjungkirkan kekuasaan Soeharto, paket pengadaan 5 unit kapal selam dari Jerman pun ikut kandas. Padahal 5 unit kapal selam tadi sudah setengah sah jadi arsenal TNI AL, dalam siaran TV bahkan diperlihatkan kapal selam yang diketahui dari Type 206 sudah memakai nomer lambung 403, 404, 405, 406, dan 407. Masing-masing pun sudah dinamai, yakni KRNI Nagarangsang (eks U-13), KRI Nagabanda (eks U-14), KRI Bramasta (eks-U19), KRI Cundamani (eks U-21), dan KRI Alugoro (eks U-20). Bahkan dalam siaran berita TVRI, nampak awak TNI AL wara wiri di sekitar dermaga kapal selam tersebut di kota Kiel.
Meski akhirnya tak jadi milik TNI AL, rasanya ada baiknya kita kenal lebih jauh tentang Type 206. Kapal selam ini dibangun pada periode perang dingin, dan masih terus digunakan hingga tahun lalu (2011), bahkan AL Kerajaan Thailand berencana untuk membeli kapal selam ini. Type 206 merupakan jenis kapal selam untuk beroperasi di perairan dangkal, dan dilihat dari desainnya, jangkauan jenis kapal selam ini pun terbatas. Tapi kapal selam dengan penggerak diesel listrik ini punya mobilitas tinggi dan dapat beroperasi senyap, pasalnya saat menyelam di bawah permukaan laut menjalankan penggerak dari listrik yang berasal dari cell baterai.
Dengan kemampuan diatas, armada destroyer harus bekerja keras untuk bisa mendeteksi keberadaan kapal selam ini. Bahkan bila Type 206 berdiam diri di kedalaman laut, secara teori mustahil kapal selam ini bisa diendus sonar. Perlengkapan peran Type 206 bisa dibilang cukup handal, seperti material baja yang dilapisi bahan anti magnetik. Ini memang sengaja dipersiapkan bagi kapal selam untuk bisa terhindari dari ancaman ranjau laut dari pihak lawan. Tak itu saja, deteksi menggunakan teknologi MAD (magnetic anomaly detector) juga menjadi sulit diterapkan.
Tampilan 3 dimensi Type 206
Type 206 dibuat di galangan Howaldtswerke Deutsche Werft/HDW, (dahulu masuk dalam wilayah Jerman Barat). Sebagai oleh-oleh masa perang dingin, Bundesmarine (AL Jerman Barat) memang mempersiapkan Type 206 untuk beroperasi di laut Baltik, guna memburu armada kapal perang dari grup pakta Warsawa bila terjadi perang terbuka, dan sekaligus melakukan misi pengintaian.
Dari segi persenjataan, Type 206 mampu menggotong 8 tabung torpedo ukuran 533 mm, jumlah torpedo yang dibawa ya hanya 8, artinya dalam kondisi tempur, kapal selam ini tak bisa melakukan reload ke tabung peluncur. Senjata lain yang bisa ditebar yakni 24 ranjau laut yang dibawa dalam komponen eksternal. Salah satu keunikan pada desain Type 206 yakni adanya tonjolan/punuk pada sisi haluan atau bulge. Tonjolan ini disinyalir berisi beragam sensor, selain Type 206, kapal selam Type 209 yang dimiliki TNI, KRI Cakra (401) dan KRI Nanggala (402) juga memiliki punuk di haluannya, walau tampak tidak sebesar Type 206.
Sejak diproduksi antara tahun 1968 – 1975, total ada 18 unit Type 206 yang akhirnya memperkuat Bundesmarine. Dan untuk misi modernisasi, 12 unit diantaranya di upgrade pada tahun 1990, dan hasil upgrade ini dinamakan Type 206A. Pada versi 206A dilakukan upgrade berupa pemasangan sonar STN Atlas DBQS-21D, juga ada upgrade pada jenis periskop, sistem kendali senjata, lalu ada penggantian sistem ESM menggunakan GPS (global positioning system). Jenis torpedo pun diperbaharui dengan tipe Seeaal. Untuk memperkuat kinerjam sistem propulsi juga diperbaharui, dan terakhir ada perbaikan untuk kompartemen awak.
Dari 18 unit Type 206 yang dioperasikan, sebagian besar kini memang sudah di besi tuakan, tapi ada beberapa yang masih beroperasi hingga pertengahan 2011 lalu, sisa Type 206 inilah yang bakal dibeli AL Thailand, kabarnya pemerintah Thailand telah menyetujui untuk membeli 2 unit Type 206A. Keseriusan Thailand untuk membeli kapal selam yang usianya sudah menjelang 40 tahun ini, membutikan bahwa kualitas Type 206 memang memikat, terutama bagi negara-negara di kawasan ASEAN yang umumnya lebih cocok mengadopsi jenis kapal selam ringan untuk beroperasi di laut-laut sempit. Bila dahulu, sekiranya badai krismon tak menerjang RI, Type 206A bakal menjadi arsenal Korps Hiu Kencana TNI AL.
Sebagai informasi, Type 206 adalah satu pabrik dengan Type 209/1500 yang kini digunakan TNI AL, dari segi desain keduanya pun mirip, tapi bila dilihat dari spesifikasi, Type 209 jelas lebih unggul karena punya jangkauan kedalaman hingga maksmium 500 meter, dan torpedo yang dibawa pun bisa hingga 14, bandingkan dengan Type 206 yang hanya bisa menyelam hingga kedalaman 200 meter dengan maksimum 8 torpedo. Tapi lain dari itu, banyak yang beranggapan Type 206 bekas pakai Bundesmarine punya kualitas yang mumpuni, sebab memang aslinya dirancang dan dipakai untuk kebutuhan AL Jerman. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Type 206A
Berat : 450 ton (dipermukaan)
498 ton (saat menyelam)
Panjang : 48,6 meter
Bem : 4,6 meter
Draft : 4,5 meter
Penggerak : 2 MTU 12V 493, 4-stroke 600 hp (441 kW) diesel engines, each coupled with an Asea Brown Boveri-generator 1 Siemens-Schuckert-Werke 1100 kWelectric motor driving single five (Type 206) or seven (Type 206A) bladepropeller
Kecepatan : 10 knots (19 km/jam) – dipermukaan
17 knots (31 km/jam) – saat menyelam
Jangakauan : 4,500 nmi at 5 knots, dipermukaan; (8,300 km at 9 km/h) 228 nmi at 4 knots, di bawah
permukaan (420 km at 7 km/h)
Awak : 23 orang
Batas kedalaman : Lebih dari 200 meter
Sistem Sensor : STN Atlas DBQS-21 (CSU-83) submarine sonar
Thomson-CSF DUUX 2 passive rangefinder sonar
Safare VELOX sonar intercept
EDO-900 active mine avoidance sonar
Thomson-CSF Calypso II surveillance and navigation radar
Perangkat Perang Elektronik : Thomson-CSF DR-2000U ESM system
Thorn-EMI SARIE
The indomiliter.com/ stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.
Here’s an excerpt:
London Olympic Stadium holds 80,000 people. This blog was viewed about 330,000 times in 2011. If it were competing at London Olympic Stadium, it would take about 4 sold-out events for that many people to see it.
Baru-baru ini tengah ramai berita seputar rencana pembelian MBT (main battle tank) jenis Leopard 2A6 buatan Jerman. Sontak saja kabar ini menjadi isu hangat diantara pemerhati militer, masyarakat luas dan tentunya juga para anggota dewan yang katanya terhormat.
Apa yang menyebabkan berita MBT ini jadi heboh? Dari sisi teknis inilah upaya serius dari pihak Kementrian Pertahanan dan Mabes TNI untuk secara eksplisit menyatakan ketertarikannya dalam membeli MBT. Maklum sedari dulu kodrat kendaraan lapis baja milik TNI hanya berkutat pada jenis tank ringan (light tank). Ditambah pengadaan MBT ini turut mengusung skema pembelian government to government, dengan meniadakan peran broker, artinya akan mengelimir terjadinya praktik korupsi.
Lepas dari polemik soal peran broker dan politik, memang sudah jadi tradisi di Republik ini untuk meributkan hal-hal yang membosankan. Contoh, polemik soal tonase MBT Leopard yang mencapai 62,5 ton, disinyalir oleh beberapa pengamat dan analis tidak cocok untuk kontur tanah di Indonesia. Lain lagi dari kubu pro MBT, menyatakan bahwa Leopard cocok dan tidak ada masalah dengan kontur tanah dan jembatan di Indonesia, mereka memperlihatkan contoh Malaysia yang sudah lebih dulu punya MBT, bahkan Singapura sejak 8 tahun lalu sudah punya 196 unit Leopard.
Meski MBT Leopard aslinya buatan Jerman, tapi Leopard yang bakal dibeli Indonesia adalah bekas pakai AD Belanda. Konon disebut-sebut, armada Leopard Belanda dalam kondisi sangat baik, tidak pernah digunakan untuk perang, dan tidak pernah dilibatkan dalam latihan besar. Belanda sendiri menjual Leopard dalam rangka perampingan kekuatan militernya, sebagai imbas krisis keuangan yang mendera Eropa. Sejatinya yang disodorkan Belanda tak hanya Leopard, tapi juga ada helikopter AH-64 Apache dan jet tempur F-16 Block 52.
F-16 Block 52 dan AH-64 Apache milik AB Singapura
Sebagai orang yang awam dalam dunia kemiliteran, saya pribadi senang mendengar bakal datangnya Leopard, F-16 Block 52, dan Apache. Setidaknya TNI bisa punya alutsista (alat utama sistem senjata) yang setara dengan Singapura dan Malaysia. Tapi disisi lain, hati ini rasanya miris juga, lantaran terlihat strategi pengadaan alutsista TNI terlihat tak memiliki platform yang jelas, sekilas seperti didorong pembelian karena emosi, ya emosi karena ada “Big Sale” dan emosi karena sekedar tak ingin kalah dari negara tetangga.
Emosi diatas (jika benar) tentu juga tidak salah, tapi yang jadi aneh bila pemerintah jadi gamang menentukan prioritas. Adanya MBT Leopard dan Apache jelas sangat penting untuk penguasaan teknologi militer Indonesia, tapi menurut saya pribadi, itu bukan prioritas utama. Seharusnya prioritas utama TNI lebih ditekankan pada pemenuhan kekuatan armada pesawat pengintai dan helikopter AKS (anti kapal selam)/Surveillance untuk ketajaman indra kapal-kapal perang TNI AL. Alasan saya tidak terlalu rumit, justru sebenarnya daya getar (deteren) Indonesia ada di Laut, dan sebagai negara maritim terbesar, ironis Indonesia bahkan tak punya heli anti AKS.
Pada era 60-an sistem AKS kita cukup ideal, walau sesusahnya terus redup, kemudian masih ada heli WASP dari Inggris, tapi setelah itu di grounded, dan tak ada lagi gantinya. Sempat di tahun 2005, pemerintah meng-order 3 unit heli BO-105 versi OTHT (over the horizon target) radar dari PT. DI, tapi entah karena alasan apa, order tersebut batal. Bayangkan negara martim terbesar tidak punya heli AKS atau heli intai. Pesawat intai, meski ada satuan intai martim dari Boeing 737 Surveillance Skadron 5 Makassar, jumlahnya yang 3 unit amat minim dan teknologinya sudah mulai usang.
Heli BO-105 OTHT, sempat dipesan namun gagal direalisasi oleh TNI
Kalau mau di compare, AL Malaysia sejak lama sudah punya Sea Lynx dan AL Singapura memiliki Sikorsky SH-60B Seahawk. Kedua heli tersebut pun sudah dibekali Torpedo. Belum lagi bekal E-2C Hawkeye yang mampu ‘menyapu’ coverage yang sangat luas.
Seolah terlupakan, padahal pemenuhan heli/pesawat pengintai sangat vital, karena bisa menangkal terjadinya tindak pelanggaran teritori di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia, belum lagi aksi kejahatan di laut lebih bisa direspon dengan cepat. Artinya devisa dan hasil bumi Indonesia lebih bisa diamankan. Ujung-ujungnya semua itu akan membawa kesejahteraan bagi ekonomi perairan Nusantara.
Saya pribadi menganggap hal diatas lebih penting ketimbang meributkan pengadaan MBT. Seandainya Leopard tahun depan datang pun, daya deteren TNI tidak akan meningkat signifikan, secara Singapura sudah memiliki tank dengan jenis yang sama, bahkan dalam jumlah lebih besar, begitu pun dari sisi Malaysia. Kalau mau jujur, sebenarnya kita amat butuh heli/pesawat dengan kemampuan OTHT. TNI AL sudah punya rudal Yakhont dan C-802, tapi kehandalannya tak maksimal, bahkan keterbatasan elemen OTHT, untuk pointing target rudal Yakhont ternyata dilakukan lewat kapal selam.
‘Keanehan’ strategi prioritas alutsista TNI juga terlihat dari elemen rudal. Sejak 3 dekade nasib rudal udara ke udara milik TNI AU tak pernah disegerkan, hanya mengandalkan versi ‘tua’ dari Sidewinder, berbanding terbalik dengan Malaysia dan Singapura yang punya versi mutakhir AIM-9X Sidewinder. Belum lagi, sudah sejak lama armada Sukhoi didatangkan tanpa rudal, baru setelah 8 tahun terdengar dalam tingkat desas-desus, Sukhoi TNI AU akan dilengkapi rudal udara ke udara jarak menengah. Semoga ini benar.
Armada sukhoi TNI AU, cukup lama 'merana' tanpa dibekali rudal
Lalu miris lagi di armada heli tempur Mi-24 milik Penerbad, sayang disayang heli sangar ini juga tak dibelai rudal pelibas tank. Tanpa ada kejelasan konsep pengembangannya, pemerintah keburu kesemsem dengan promo “Big Sale” Apache. Ya semoga saja Apache dibeli berikut rudal anti tank-nya. Dan jangan lupa, seyognya pemerintah juga jangan lupa dengan pengalaman buruk embargo militer dari AS. Perlu diketahui meski yang menjual Belanda, tapi toh nyatanya AS dan NATO mampu meng-cut aliran suku cadang dan persenjataan ke Indonesia, terutama bila aksi militer Indonesia bertentangan dengan kepentingan negara-negara Barat.
Memang dalam pemenuhan MEF (minimum essential force), di tahun 2012 anggaran pertahanan RI mengalami kenaikan terbesar, yakni mencapai Rp61,5 triliun, melonjak 29,5% dari tahun sebelumnya. Sebagai informasi, anggaran pengadaan 100 Leopard dari Belanda yakni sebesar Rp2,5 triliun. Memang masih ada sisa anggaran yang cukup besar, tapi seyogyanya pemerintah tetap memikirkan pengembangan alutsista di dalam negeri.
Dalam beberapa hal, ada baiknya strategi alutsista RI mengacu ke Iran dan India, tetap fokus dan tidak gamang. Mungkin saja saya keliru, tapi alotnya penentuan jenis kapal selam terbaru TNI AL, selain karena masalah anggaran, juga karena adanya ‘syarat’ baru dalam spesifikasi yang diajukan. Isunya karena melihat kapal selam Singapura dan Malaysia yang bisa menembakkan rudal anti kapal dari bawah permukaan laut, maka syarat kemampuan tersebut juga ‘harus’ ada untuk kapal selam TNI AL. Dan, untuk hal tersebut pilihan pastinya juga tak terlalu banyak dan budget harus ditingkatkan.
Akhir kata, selamat datang Leopard dan Apache, semoga bisa menjadi alutsista yang membawa berkah dan kejayaan bagi NKRI. Kita tahu produk-produk tersebut memang battle proven, dan mudah-mudahan bisa optimal digunakan oleh militer Indonesia. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Meski dikenal sebagai surganya koruptor Indonesia, dan kerap bersinggungan dengan wilayah perbatasan NKRI, namun nyatanya hubungan kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Singapura cukup harmonis. Salah satu indikasinya bisa dilihat dari adopsi alutsista kelas berat milik TNI AD yang diimpor dari Singapura, yakni meriam FH-2000. Meski didatangkan dari Singapura, FH-2000 cukup monumental bagi satuan artileri medan (Armed), pasalnya inilah meriam dengan kaliber terbesar (155 mm) yang saat ini dan satu-satunya jenis yang digunakan TNI AD.
FH-2000 mulai diluncurkan pada tahun 1993 dan pertama dioperasikan oleh Batalion Artileri Singapura ke-23 pada tahun 1995. Tidak banyak FH-2000 yang dimiliki TNI AD, jumlahnya hanya 6 unit meriam, dan saat ini ditempatkan sebagai elemen kekuatan di Resimen II Armed/Sthira Yudha, salah satu satuan komando dibawah Divisi Infantri 1/Kostrad TNI AD yang bermarkas di Sadang, Purwakarta, Jawa Barat.
Dibanding jenis meriam konvensional yang umum digunakan oleh TNI AD, FH-2000 merupakan jenis meriam howitzer yang dapat dijalankan secara mobile dengan dua mekanisme. FH yang artinya Field Howitzer dapat ditarik/digandeng layaknya meriam biasa, ditarik dengan truk angkut berat. Tapi lain dari itu, FH-2000 dapat bergerak sendiri, pasalnya meriam rancangan dan produksi dari Singapore Technologies (ST) Kinetics ini memiliki mesin penggerak berjenis Diesel berdaya 75 hp. Dengan mesin ini memungkinkan meriam bergerak secara mendiri (self propelled) dengan kecepatan 10Km per jam tanpa perlu ditarik kendaraan pengangkut.
FH-2000 merupakan pengembangan dari sistem meriam FH-88 yang pertama kali diproduksi pada tahun 1983 dengan menggunakan komponen yang sama.Pada awalnya sejumlah meriam FH-88 banyak yang menggunakan kaliber laras 52mm dan 39mm, seiring dengan perkembangannya kaliber laras 52mm dirasa cocok diaplikasi ke meriam generasi terbarunya (FH-2000).
Saat Howitzer digunakan platform pendukung penembakan menggunakan struktur tripod mekanis. Beban tembakan di transmit ke permukaan tanah melalui tripod ini, isolasi silinder hidrolik dari platform ini cukup handal untuk digunakan. FH2000 juga dapat mengaplikasi serangkaian sistem pengamatan optik ke elektro-optik. Sistem pengamatan ini bisa dihubungkan kedalam kontrol penembakan di komputeri. Di bagian belakang meriam menggunakan mekanisme semi-otomatis, bagian ini terbuka secara otomatis selama counter recoil digunakan. Kontrol elektronik dan hidrolik power mendorong ceklikan ram proyektil masuk ke ruang barel dengan konsistensi tinggi.
Inovasi pengembangan FH-2000 kini terus berlanjut, ST Kinetics juga membantu Turki dalam perancangan dan manufaktur dari meriam towed howitzer sistem buatan dalam negerinya sendiri (155mm/52calibre) bernama “PANTHER”. Artileri ini dibangun dengan mengambil dasar FH-2000 yang telah ditingkatkan, salah satunya penggunaan Diesel Auxiliary Power Unit (APU) berkekuatan160 hp (aslinya 75 hp), sehingga mampu memberikan kecepatan self-propelled 18km per jam.
FH-2000 juga dapat dimasukkan ke dalam kabin C-130 Hercules
FH-2000 mempunyai jangakaun tembak efektif 19 Km dengan amunisi M107, sedangkan jarak tembak maksimumnya bisa mencapai 40 Km. Kiprah industri pertahanan Singapura memang mengagumkan, negara pulau dengan luas wilayah tak sampai sebesar DKI Jakarta ini nyatanya memiliki artileri medan yang cukup kuat, bahkan dari sisi teknologi justru mampu melangkahi saudara tuanya, Republik Indonesia. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi FH-2000
Tipe : Howitzer
Manufaktur : ST Kinetics
Berat : 13,2 ton
Panjang : 12,9 meter
Lebar : 9,73 meter
Awak : 6 orang
Kaliber : 155 mm
Elevasi : -3°/+70°
Jarak Tembak Efektif : 19 Km
Jarak Tembak Maksimum : 40 Km
Mesin : Air-cooled turbo charged diesel 75 hp (56 kW)
Rudal Grom Arhanud TNI AD dalam platform peluncur Poprad
Setelah rudal Rapier dipensiunkan oleh TNI AD, maka kemudian Arhanud (artileri pertahanan udara) TNI AD memilih rudal Grom, yakni rudal jenis SHORAD (short range air defence), alias rudal pertahanan udara jarak pendek/SAM (surface to air missile). Sebagai rudal SAM ringan, Grom pertama kali diproduksi pada tahun 1995, dirancang oleh Military Institute of Armament Technology, dan diprodkusi oleh Mesko, Skarżysko-Kamienna, manufaktur senjata asal Polandia.
Dengan berakhirnya masa tugas Rapier pada Juni 2007, secara bertahap Grom mulai memperkuat arsenal arhanud TNI AD. Unit Arhanud TNI AD pertama yang dilengkapi Grom adalah Detasemen Rudal 003 Kodam Jaya, dan kini detasemen rudal Arhanud lain dilingkungan TNI AD sudah berbekal Grom, yakni Detasemen Rudal 001 Kodam Iskandar Muda yang mengamankan area kilang Arun, Detasemen Rudal 002 Kodam Tanjungpura yang mengamankan obyek vital di Bontang, dan Detasemen Rudal 004 Kodam Bukit Barisan yang mengamankan obyek vital di Dumai.
Kobra Modular air defence system
Paket pengadaan rudal Grom mencakup Kobra modular air defence system dari yang terdiri dari battery command vehicle, sistem peluncur rudal Poprad, 3D multi-beam search radar, dan meriam 23-mm/ZUR komposit rudal Grom.
Grom
Rudal Grom berasal dari platform rudal panggul yang bisa dioperasikan secara perorangan. Karena berasal dari Polandia yang merupakan eks sekutu Rusia, basis desain Grom juga diambil dari rudal SAM SA-7 yang sudah lebih dulu kondang. Pertama kali Grom digunakan oleh Angkatan Darat Polandia pada tahun 1995. Dan pada tahun 2007, Polandia menjual beberapa Grom ke beberapa negara, termasuk ke Georgia, negara pecahan Uni Soviet. Georgia membeli 30 peluncur dan lebih dari 100 rudal.
Tampilan rudal Grom, tanpa peluncurRudal Grom dalam versi Manpad (panggul)
Pembelian Grom oleh Georgia-lah yang kemudian mengangkat pamor rudal ini, pasalnya Georgia pada tahun 2008 sempat terlibat konflik dengan Rusia dalam perang di wilayah Ossetia Selatan. Dilaporkan selama perang tersebut, 20 helikopter Rusia tertembak oleh Grom. Di medan konflik yang lain, tepatnya pada akhir 2008, pihak Rusia telah menemukan paket rudal Grom yang digunakan oleh pejuang Checknya. Itulah perjalanan tempur rudal Grom yang beberapa kali telah ‘mentas’ di beberapa medan perang di wilayah dingin. Apakah ini yang menjadi dasar pembelian Grom oleh Indonesia?
Secara spesifikasi, Grom mempunyai berat 10,5 Kg, serta berat berikut peluncur mencapai 16,5 Kg. Bobot hulu ledak Grom yakni 1,82 Kg, sedangkan diameter Grom hanya 72 mm dan panjang rudal 1.566 mm. Bagaimana dengan soal jangkauan? Jangkauan tembak Grom horizontal yakni 5.500 meter dan jangkauan tembak vertikal antara 3.000 sampai 4.000 meter, dengan minimal jangakauan tembak 10 meter. Untuk kecepatan, Grom bisa menguber target dengan kecepatan 650 meter per detik. Pihak pabrik menyebutkan, Grom bisa beroperasi pada suhu -35 sampai 50 derajat celcius, jadi secara teori cukup layak digunakan di Indonesia.
Grom berpemandu infrared, sistem penembakan yakni mengusung konsep fire and forget, atau setelah ditembakkan secara otomatis rudal akan mengejar sumber panas sasaran. Secara umum, antara Rapier dan Grom punya kodrat yang sama dalam menguber target, yakni sama-sama mengincar target yang terbang rendah dengan manuver dan kecepatan tinggi.
Peluncur Poprad
Dalam gelar operasinya, Grom milik Arhanud TNI AD dipasang dalam platform peluncur Poprad dan meriam 23-mm/ZUR komposit. Untuk Poprad yang dipakai oleh TNI AD, menggunakan platform jip Defender dari Land Rover. Dalam satu jip tersedia 4 peluncur Grom yang dapat diputar 360 derajat. Dengan adopsi peluncur Grom pada kendaraan berkemampuan off road, diharapkan gelar operasi rudal ini dapat lebih mobile dan fleksibel. Umumnya dalam satu jip peluncur membawa 8 rudal, 4 yang siap tembak, dan sisanya 4 rudal sebagai cadangan.
Peluncur Poprad, dilengkapi beragam sensor canggihPoprad bisa diadopsi ke berbagai plaform kendaraan tempur
Meski dapat ditembakkan secara terpadu dari Battery Command Vehicle, tapi komponen Poprad dapat beroperasi secara mandiri, dengan dua kru (komandan/operator dan supir), Poprad dapat menguntit target lewat atomatic target tracking (videotracker) dalam kondisi siang dan malam hari. Agar akurat membidik target, Poprad juga dilengkapi teknologi FLIR (forward looking infra red) dan electro optical sensor yang berkemampuan thermal camera plus laser range finder. Untuk menghindari friendly fire, atau salah menembak target, Poprad juga sudah dibekali IFF (identification friend or foe) interrogator.
Meriam 23-mm/ZUR komposit rudal Grom
Untuk unsur yang satu ini, keberadaan rudal Grom ditendemkan pada meriam 23-mm/ZUR. Dalam posisi siap tembak, 2 peluncur Grom ditempatkan pada sisi kanan juru tembak, tentu saja proses isi ulang rudal bakal lebih cepat di sistem meriam ini. Secara umum, meriam 23 mm ini memiliki jangkauan tembak maksimum vertikal 2.000 meter, dan jangkauan tembak horizontal 3.000 meter. Meriam ini diawaki oleh 6 awak, 2 bintara dan 4 tamtama. Dengan konsep komposit/hybrid, amumisi meriam dan rudal dapat ditembakkan ke target secara simultan, hingga mencapai daya hancur yang berlipat.
Battery Command Vehicle
Dalam Kobra modular air defence system, terdapat elemen Battery Command Vehicle dan Mobile Multibeam Search Radar, kedua ditempatkan terpisah dalam platform jip Defender Land Rover. Battery Command Vehicle merupakan kendaraan pos pengendali baterai, perangkat ini mampu mengendalikan hingga 6 pucuk meriam secara serentak. Command Vehicle dipandu dengan alat bidik optronik yang memiliki interface dengan rudal/meriam. Kemampuan deteksi Battery Command mencapai 20 Km, dilengkapi dengan laser range finder, TV camera, dan optical direcetor. Sebagai ‘jantung’ sistem pertahanan modular, Battery Command dapat mengusung 3 sumber energi, yakni dari generator, listrik PLN, dan baterai.
Awak pada Battery Command Vehicle
Mobile Multibeam Search Radar (MMSR)
Bila Battery Command Vehicle berperan sebagai elemen pengendali, Multibeam Search Radar berperan sebagai radar penjejak dan pemantau pergerakan target. Perangkat ini mempunyai jangakauan horizontal hingga 40 – 50 Km, sedangkan jangakau vertikal mulai dari 50 meter – 10.000 meter. Mobile Multibeam Search Radar dapat menampilkan obyek 3 dimensi, perangkat ini diawaki oleh 2 orang. Karena menggunakan platform jip Defender, waktu gelar radar ini bisa dilakukan dengan singkat, waktu siap tempur hanya butuh 4 menit.
Mobile Multibeam Search Radar
Uji Coba Grom di Indonesia
Untuk mengetahui seberapa besar kehandalan alutsista yang dimiliki, TNI AD beberapa kali telah menggelar Grom dalam serangkaian uji coba. Boleh saja Grom berjaya di medam tempur Eropa yang bersuhu dingin, tapi apakah jenis rudal ini juga handal saat dioperasikan di wilayah tropis seperti di Indonesia?
Rangkaian kendaraan tempur pengusung rudal Grom
Uji tembak pertama seluruh meriam dilakukan pada 24-25 Oktober 2007 di lapangan tembak Ciampea – Bogor, oleh instruktur dari Polandia. Uji tembak ini disaksikan langsung oleh Direktur Peralatan TNI AD dan hasilnya meriam dapat beroperasi dengan baik, dan tembakan dapat mengenai sasaran seperti yang diharapkan.
Selanjutnya dilakukan uji tembak yang kedua, berlangsung pada 28 Oktober – 3 November 2007 di lapangan uji tembak senjata berat di Bulus Pesanteren, Kebumen – Jawa Tengah. Titik berat pengujian dilakukan pada rudal Grom yang diintegrasikan dengan Battery Command Vehicle dan MMSR. Uji tembak ini disaksikan oleh pucuk pimpina TNI AD, sasaran tembak yang dipakai adalah pesawat model yang dikendalikan dengan remote control. Hasilnya, dari empat kali penembakkan rudal, sasaran tidak dapat dihancurkan.
Mengenai kegagalan Grom, ada tanggapan dari pihak operator. “Menurut perhitungan, akurasi, dan toleransi terhadap sasaran yang sebenarnya (pesawat udara), sesunghunnya sasaran itu dapat dihancurkan sebelum mendekati obyek vital yang dilindungi,” ujar Serka Sutoyo, Bintara Den Arhanud 003 Kodam Jaya, dikutip dari Majalah Defender, edisi September 2008.
Kemudian ada lagi uji coba rudal Grom pada 4 Mei 2010, dikutip dari Tribunenews.com, ujicoba tiga rudal di perairan Sekerat, Bengalon Kabupaten Kutai Timur,lagi-lagi tidak mengenai target.
Sistem senjata tersebut jenis Grom Komposit Meriam 23 MM Zur 23-2KG-1 yang diperagakan oleh 26 pria Polandia. Disaksikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI George Toisutta, pejabat TNI AD, pejabat Kodam VI Tanjungpura, juga Muspida Kutim.
Dandim Kutim Letkol Inf Mukhtar menjelaskan, peragaan beberapa elemen sistem persenjataan itu berfungsi secara integral. Adapun rudal yang meleset sedikit dari target atau sasaran karena pengaruh cuaca panas. Menurutnya, sesaat sebelum misil meluncur, komputer melakukan pengecekan terhadap 3 parameter yaitu sistem elektronik misil, jarak sasaran, dan besar suhu sasaran. Bila salah satu parameter tersebut tidak terpenuhi, maka misil tidak akan meluncur ke sasaran. Dalam uji coba, rudal meledak tanpa mengenai target.
Usai peluncuran, pihak pelaksana uji terima menganalisa bahwa faktor yang mengakibatkan luputnya sasaran adalah cuaca panas. “Karena cuaca di Kutim panas, maka misil yang menggunakan detektor suhu bisa jadi luput dari sasaran. Berbeda saat uji coba di Polandia dan Jawa Tengah yang sukses mengenai target” ujar Letkol Muchtar. KSAD Jenderal TNI George Toisutta mengatakan akan membicarakan kembali rencana pembelian rudal ini di Jakarta. Kemungkinan juga akan ada pengujian ulang di Ambal, Jawa Tengah.
Skema gelar Kobra Defence system, terlihat satu sistem radar dapat memasok informasi ke beberapa peluncur Poprad dan meriam 23 mm
Melihat beberapa kali kegagalan Grom dalam uji coba, pertanyaan lalu muncul, apakah Grom adalah alutsista yang cocok untuk Indonesia? Kalau yang menjadi alasan seputar di hawa yang panas, bagaimana dengan gelar operasi Grom saat digunakan di medan perang sesungguhnya, bukankan sebagian besar wilayah/obyek vital berada di area yang panas menyengat, semisal di daerah kilang minyak. Jangan sampai nantinya target sudah terkunci, jutru rudal malah loyo sebelum ditembakkan. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Rudal Grom
Pabrik : Mesko, Skarżysko-Kamienna – Polandia
Panjang : 1.596 mm
Diameter : 72 mm
Berat rudal : 10,5 Kg
Berat rudal + peluncur : 16,5 Kg
Berat amunisi : 1,82 Kg
Jarak tembak horizontal : 5.500 meter
Jarak tembak vertikal : 4.000 meter
Kecepatan : 650 meter/detik