Gripen NG dan Transfer Teknologi: Multirole Fighter Yang Layak Jadi Pengganti F-5E Tiger II TNI AU
Diterimanya batch kedua JAS-39 Gripen oleh RTAF (AU Thailand) merupakan berita menarik di bulan Oktober ini. Namun yang hendak saya tekankan disini bukan pesawatnya, namun paket yang diikutsertakan dalam pembelian tersebut.
Thailand mengeluarkan dana USD 1,1 miliar dollar untuk membeli 12 unit JAS-39 Gripen beserta system AEW (Airborne Early Warning) Erieye. Namun imbal beli yang diperoleh Thailand sangat menarik. SAAB membuat joint venture dengan Thai Avia Satcom yang akan bergerak di bidang pengembangan alat canggih dan bahkan tidak menutup kemungkinan jika ke depannya Thailand menjadi sub kontraktor SAAB dalam produksi JAS-39 Gripen E/F seperti yang sudah dialami oleh Afrika Selatan yang menjadi sub kontraktor untuk komponen fuselage (badan pesawat) dan system senjata Gripen E/F (Next Generation). Afrika Selatan adalah pembeli pertama Gripen C/D di awal tahun 2000-an dengan jumlah 26 pesawat.
Ini merupakan kemenangan bagi SAAB setelah memenangkan tender pengadaan di Swiss untuk menggantikan armada F-5E Tiger II mereka. Bedanya Swiss memperoleh kompensasi 100% offset yang diberikan kepada industri dirgantara Swiss , yaitu Pilatus dan RUAG (Rüstungs Unternehmen Aktiengesellschaft; Joint Stock Defense Company) . Tujuan Offset 100% ini adalah untuk kemandirian perawatan 22 unit Gripen yang akan dimiliki Swiss secara jangka panjang , plus Swiss juga bisa menjual komponen suku cadang Gripen NG ke berbagai negara yang akan memakainya.
Penawaran Gripen ke Brazil untuk menggantikan armada F-5E mereka juga tak kalah menariknya. SAAB menawarkan varian Sea Gripen untuk Kapal indk Brazil yang saat ini menjadi sarang A-4 Skyhawk. Penawaran Transfer technology yang ditawarkan ke Brazil adalah seperti pada gambar di bawah ini.
Gripen Next Generation
Gripen Next generation yang ditawarkan Swedia sebenarnya termasuk pesawat generasi 4.5 ++. Diamana pesawat sudah dilengkapi radar AESA SELEX Galielo, salah satu kelebihan radar AESA adalah sulit di-jamming dan memiliki pancaran radar yang lebih luas untuk menangkap obyek baik di permukaan maupun di udara.
Salah satu kelebihan lain Gripen adalah bisa membagi deteksi radar mereka . Jadi 4 pesawat bisa saling membagi data, melalui datalink mereka dalam patroli sehingga menjadi seperti mini AWACS dalam suatu patroli rutin. Tentu saja ini suatu keuntungan besar bagi Negara yang luas seperti Indonesia.
Selain memiliki kemampuan di atas , adalah daya angkut senjata Gripen NG yang mampu menggotong sebesar 6 ton seperti list di foto bawah ini

Keunggulan dalam membawa senjata selain mampu membawa rudal AAM jarak pendek dan jarak jauh pesawat ini mampu berperan sebagai pesawat serang maritim dengan membawa 2 RBS-15 yang berjarak jangkau 250 km. Seperti yang kita ketahui sekalipun kita adalah negara maritim namun selama 45 tahun sejak Orde Baru TNI AU tidak memiliki pesawat berkemampuan serang maritim seperti Tu-16KS dan Il-28T yang pernah dimiliki TNI di tahun 60-an. Saat ini baru Su-30MK saja yang dilengkapi dengan kemampuan secara terbatas.
Dan yang paling menarik dari Gripen NG adalah biaya perawatannya yang diklaim paling murah dibanding pesawat sekelasnya, setelah 4 tahun mengoperasikan Gripen C/D , Thailand mengaku sangat puas akan kinerja pesawat ini, karena biaya operasional yang sangat murah diklaim separuh dari F-16A/B milik Thailand.

Cost per Flying Hour atau biaya terbang per jam adalah patokan untuk urusan perawatan pesawat , komponen yang dihitung biasanya adalah suku cadang, BBM dan gaji operator yang meliputi pilot dan kru darat. Biaya perawatan yang murah ini mendorong India dan Brazil untuk mempertimbangkan Gripen kembali, sekalipun di awalnya keduanya tertartik kepada Rafale dan Super Hornet , apalagi saat ini semakin banyak komponennya yang bisa diproduksi sendiri seperti yang diinginkan Brazil dan India.
Selain keunggulan di atas, Gripen NG juga memiliki jarak tempuh sejauh1.300 km dan bisa didukung dengan KC-130B Hercules TNI-AU karena memiliki system IFR probe seperti yang dimilki Sukhoi Su-30 Flanker dan Hawk 200. Dan paling terakhir adalah kemampuan STOL (short take off landing)-nya, yakni dapat mendarat di landasan pendek, sehingga ia bisa dioperasikan dari seluruh landasan udara di Indonesia.
Keunggulan Gripen NG dan Transfer Teknologinya Bagi Indonesia
Melihat keunggulan yang ditawarkan ke Swiss, Thailand dan Brazil, maka tak ragu mengenai keunggulan offset dan kerjasama yang ditawarkan Gripen NG nantinya akan memiliki dampak signifikan bagi BUMNIS Indonesia, terutama bagi PT DI dan PT LEN yang tentunya akan memperoleh teknologi yang akan dikembangkan tidak sedikit, melainkan akan menjadi suatu loncatan besar ke depan bagi industri kita. Bisa menyediakan perawatan dan memiliki kemampuan ekspor komponen pesawat tempur tentulah banyak dicita-citakan oleh teknokrat kita. Selain itu jika kita membeli system Erieye seperti yang dimiliki Thailand, maka system ini bias dipasang di CN-235 yang diproduksi PT DI.


Dan yang kedua tentunyalah kita tidak rugi mengoperasikan alutsista yang serba bisa ini untuk saling mengisi dengan armada Flanker kita karena kemampuanya yang besar seperti yang disebutkan di atas mampu berperan sebagai mini AWACS, misi serang maritim, serang darat dan patroli udara. Tentunya ini suatu kemajuanbesar bagi pertahana negeri ini. Ibaratnya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui karena kita memiliki alutsista canggih, memiliki kemampuan bekerjasa di bidang AEW yang dipasang di CN-235 dan bisa ditawarkan di pasaran ekspor dengan menggandeng SAAB, kemampuan merawat Gripen dan menjadi partner SAAB, serta menjadi produsesn komponen Gripen NG untuk diekspor bagi negara calon pemakainya.
Pengganti F-5 E/F Tiger II TNI AU
Seiring menuanya usia pakai jet tempur TNI AU, modernisasi menjadi program yang wajib dilakukan. Bila A-4E Skyhawk telah digantikan oleh Hawk 200, kemudian jet latih lanjut Hawk MK53 digantikan oleh T-50i Golden Eagle, lantas bagaimana dengan nasib F-5E/F Tiger II yang ada di skadron 14? Dari segi usia pakai, jet tempur bermesin ganda ini memang masih bisa digunakan hingga tahun 2020. Tapi disisi lain, teknologi dan update sistem senjatanya sudah ketinggalan. Shelter F-5 pun tengah disiapkan di museum Dirgantara – Yogyakarta, menyiratkan bahwa sang Macam tak lama lagi memang akan masuk masa pensiun.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=ivC8YgUGDV8]
Melihat kehandalan yang ditawarkan Gripen, terutama pada contoh kasus di Thailand, maka akan sangat ideal bila jet asal Swedia ini dapat dicanangkan sebagai pengganti F-5E/F Tiger II. Dengan segala keunggulannya yang telah diulas, rasanya Gripen layak menjadi jet tempur garis depan untuk TNI AU. (Robert Tanoni)







kalo beli pesawat su 35 sama T 50 pakfa sudah pasti uang TNI AU Akan langsung habis karena harganya mahal dan biaya operasionalnya super tinggi. TNI AU sebaiknya jangan beli su 35 daripada uang habis tak berguna. biaya operasional su 35 TNI AU 12 Biji : 100 biji pesawat Gripen NG. tni au lebih baik beli gripen ng saja.kemampuannya unggul, biaya rendah . dan memberikan banyak manfaat bagi proyek ifx, pemerintah indonesia, dan PTDI. mudah mudahan Pesawat gripen NG akan dibeli TNI sebanyak 30 unit lengkap TOT . Aminnn ya rabbal alaminn
ku harap Pemerintah ngambil Gripen NG + ToT semua yg ditawarkan Saab Gripen untuk tujuan jangka panjang kita membangun sistem pertahanan terintegrasi dan gripen dah ajukan untuk itu ke Kemhan ….Gripen..Gripen..Gripen harga mati gan
lu harap Pemerintah ngambil Gripen NG + ToT semua yg ditawarkan Saab Gripen untuk tujuan jangka panjang kita membangun sistem pertahanan terintegrasi dan gripen dah ajukan untuk itu ke Kemhan ….Gripen..Gripen..Gripen harga mati gan
harusnya dari awal kerjasama pengembangan IFX itu bukan dengan korea, tapi swedia lebih terbuka & pengalaman..
setuju ga min?
Setuju sekali F5 tiger TNI AU di ganti saab gripen,sekalian coba produk eropa jadi alutsista TNI DI isi semua blok amerika,eropa dan rusia..
Typhoon sepertinya lebih menjanjikan dari segi kecepatan pada ketinggian tidak berubah powernya kalahkan rafale jangkauan mendekati sukhoi,jenis senjata yg di usung lebih banyak jumlah dan jenisnya drpd grifen,utk tot nya pt di lebih percaya akan lebih lancar karna sudah banyak kerja samanya.
su 35 lbh superior dibandingkan grippen dan euro fighter,krn dgn kita sdh memiliki su 27 su 30 dan su 35 kita bisa lbh melanjutkan ke pesawat tempur stealht f 50 pakfax yg lbh canggihgenerasi 5….sekelas raftor.. itu untuk pengganti F 5 tiger…? boleh ambil grippen untuk pendamping hawk 100 hawk 200, .. tp untuk heavy fighter tetap sukhoi…krn ausie sdh membeli F35.. lawan seimbang su 35……
Kalau saya pribadi sih lebih baik beli Sukhoi SU-35 atau T-50 terlebih dahulu daripada beli Grippen NG karena kemampuan Sukhoi masih diatas Grippen dan dalam jangka panjang akan memberikan banyak keuntungan selain efek detterent bagi tetangga kita, selain itu kita juga harus membeli atau membuat pesawat AWACS kita sendiri seperti India dan Cina belum ditambah lagi penambahan long range radar untuk memonitor wilayah udara kita . Kalau Grippen saya setuju asal mereka benar-benar transfer teknologi 100% ke kita sedangkan F-16 dan F-15 lebih baik tak usah dipilih karena akan kena imbas embargo dari Amrik
Sebetulnya hal ini sangat menarik karena urusan study kelayakan piranti militer adalah hal baru dinegara kita. Jaman orba semua serba didikte, tak peduli nantinya alutsista yg kita beli tidak sesuai dengan peruntukan & alam indonesia. Bravo TNI! Apapun hasilnya, pengadaan alutsista sudah melalui pertimbangan matang & objektif!
Negara jiran makin ketar ketir bukan hanya karena alutsista canggih kita, tapi juga karena para petinggi militer kita terlihat semakin maju & jenius dalam strategi jangka panjang
Saya lihat bahwa jika dibandingkan dg f-18, grippen lebih cepat dan rangenya lebih jauh. Juga lebih efisien krn grippen bisa supercruise. Serta thrust to weight ratio yang lebih besar
beli Su-35 BM aja. Pilot TNI-AU lebih bangga mengendarainya. Juga lebih ditakuti musuh.
Tapi masalahnya…. TOT yang ditawarkan SAAB hanya TOT Karoseri rek….. iki yok opo iki…. kalau cuma karoseri Indonesia juga punya…. ADI PUTRO, NEW ARMADA, LAKSANA, DLL…
ane satu opini ame bang djaja…masing-masing 2 skuadron trus tetep harus beli ss300/400 – sekalian Altros tambah lagi yaa….ohh trus OERLIKON skyshield …..pesen KILO sekalian….belanja – belaanjaa…( uppss semuanya di sebut )
Ya gripen memang paling efisien diantara satu klas nya ( Thypoon, Rafale, Mirage, F 16 ), cuma yang paling kita perlukan beli gripen adalah ToT nya karena KFX ora jelas tenan rek?ojo gelem dikibuli terus sampean, saranku ambil 2skdrn jass Gripen 39 NG Type E/F dan untuk fighter jarak jauh nya ambil juga 2 skdrn SU35BM, tapi jangan lupa Pantsir-s1 dan ss300,ss400 sebagai payung nya.
Pemerintah harus bijak mengambil keputusan dan kebutuhan Angkatan udara, TNI AU Butuh heavy fighter multi role seperti SU35BM, tapi kita butuh Jass Gripen NG untuk ToT dan off set 100% selain biaya operasi terbang perjam nya termurah diantara satu level kemampuan ( Thypoon, Rafale, Mirage, F 16 ) yang terpenting untuk kepastian Indonesia dapat mandiri membuat Pesawat Tempur diluar project KFX, pintar2 lah negosiasi GtoG, gunakan kelebihan potensi yang ada dan dimiliki Indonesia.
Harusnya yang menggantikan F-5 tiger itu pesawat F-18 hornet, tapi gak apa-apa kalo JAS-39 gripen yang menggantikanya, JAS-39 gripen itu kan harganya murah, daripada F-18 hornet itu mahal, gue sih setuju aja sama JAS-39 gripen
Mantap tuh ?
with all respect, gimana klao rudal hanudnya yang dibanyakin dulu, sambil nunggu KFX / IFX opersional , minimal di tiap pulau besar punya bateray2 S300…
Yang bagus ganti maka SU 30MKI plus tambah 2 skud SU 35BM untuk di lampung má biak , baru para tetangga mikir kalo kita punya 4 Skud SU,
Masalahnya sehabis ganti presiden 2014 indo ganti kebijakan gak? Jgn2 jd banci lg seperti zaman orba
Sementara ini kan kandidat tekuat menurut lembaga survey (selain LSI) hanya 2 yaitu dari kepala Banteng dan dari Burung Garuda, sejauh yang saya tau dua-duanya punya faham Marhenis Nasionalis. Semoga saja mereka masih memegang kuat-kuat cita-cita para founding father kita.hehehehe…
Untuk kepala banteng msh blm pnya figur yg pas, jd sang elang/garudalah yg saya rasa pantas mengambil alih negri ini krn pny figur yg mantap. Utk koruptor dr kadernya tuh elang/garuda dah menyiapkan pulau pengasingannya sendiri. Mkanya kader2nya pada keder…. wkwkwk…
tidak ada salahnya TNI AU jika harus membeli Grippen meskipun ada alih teknologi, sekedar tahu saja alih teknologi sifatnya mirip franchise, ketika kuasa dagang yang punya produk sudah tidak cocok sewaktu waktu masih juga bisa di stop, kita akan stop juga, cuma bagaimana mengakalinya, ambil semua laih teknologinya secepat mungkin dan kedepan kita membangun pesawat tempur sendiri secepat mungkin dengan kwalitas gabungan russi dan eropa
lebih baik beli JAS Gripen NG sebagai pengganti F-5 Tiger beserta system AEW (Airborne Early Warning) Erieye.
penggambarannya menarik –> http://www.youtube.com/watch?v=oKlQyPOiRuE
Saya kok berharap agar TNI -AU menjatuhkan pilihan pada Su-35 BM yaak, sebagai pesawat multirole Su-35 BM ini sangat sesuai sebagai pengganti F-5 Tiger, dari combat range yang jauh, radar yang cukup jauh, dan mempunyai kemampuan BVR yang berefek gentar pada musuh. Dari segi air superiority dan commonty pun sangat mendukung pekerjaan Su-27/30 MKII yang telah kita miliki… semoga saja yaa
Tapi SU-35BM harganya mahal sedang gripen lebih murah
laen kelas om kalo flanker family tuh udah heavy/multi role fighter kl gripen NG utk workhorse karena paling irit
Betull…. tapi dalam pembelian pesawat tempur, pertimbangannya tidak hanya asal murah,tapi faktor logistic dan commonty juga sangat menentukan. Sebaiknya dilihat juga fungsi pesawat ini didalam kesatuan tempurnya, sehingga saat terjadi peperangan bisa benar-benar bekerja efektif dan efesien bersama pesawat tempur jenis lain lainya…..
Say what gitoe lhoo-bravo buat om jendral- komposisi operasional JAS39 dan SU27/30 untuk RI kelak cukup efektip n proporsionale- GRIPEN dg multi kehandalan BVR- PROBE-HMD-konektor sistem- plus cost operasional/ jam lebih murah dari F16AB lagi jika dibandingkan dg SU27/30 yg 500 juta/ jam-karena begitu ekonomis nya..Maka peran GRIPEN akan mirip+ dg F16 sekarang- jadi front line hiperaktip( sering di utus ke langit)patrol sambil trus 2 an koneksi bila swktu2 kepegok F35- trus minta ditolongin ke om heavy fighterSU 27/30 yg stanby di AFB-
Pertimbangan lain yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman sekalian adalah beberapa tahun kedepan kepemilikan jet fighter dari negara-negara tetangga kebanyakan sudah memiliki fitur stealth (F-35 A atau B), jadi saya pikir untuk menggantikan peran F-5 sebagai interseptor diperlukan keunggulan teknologi dari F-35 selain dari fitur stealth (karena dari semua jet tempur generasi 4++ tidak ada yang mempunyai fitur stealth).
F35 Su-35 Grippen
Berat Kosong 31,8 Ton 34,5 Ton I4 Ton
Max. Speed 1,6 March 2,25 March 2 March
Max Loaded 5,8 Ton 8 Ton 2,6 Ton
Combat Range 2.220 Km 3600 Km 1600 Km
Ferry Range 3212 Km 4500 Km 3200 Km
Max Ceiling 18.188 m 18000 m 15240 m
Radar AN/APG 81 AESA IRBIS E PESA PS-05 A
Radar Range 160 Km 260-300 Km 48-56 Km
Harga $ 107 Juta $ 80 Juta $ 60 Juta
Jadi mari kita diskusikan lagi prediksi pengganti F-5 Tiger kita, pertimbangannya tidak hanya murah, tapi bagaimana bisa menjawab tantangan dan permasalahan yang akan terjadi dimasa depan. Dan mari kita do`akan agar para pemimpin kita bisa membawa bangsa Indonesia menjadi macan asia…semoga saja.
with all due respect ya masbrau euro hari gini dah enggk ada lagi yg namanya INTERCEPTOR 😉 semua masuk multi role/all weather/fighter/bomber kecuali yg berfungsi LIFT kek HAWK-100/200,yak-130,L-15 atauT-50i(?) contoh klasik adalah armada MIG-29 yg awalnya merupakan interceptor murni utk menggantikan MIG-25 skarang dah didesain ulang jd multi role combat fighter (MIG-29 SMT dan MIG-35) nah F-5 ini khan emang didesain sebagai pencegat bomber2x soviet era perang dingin kek TU-22M3 backfire,TU-95 bear atau TU-22 blinder (mirip peran MIG-21)….jd mmg F-5 ini lebih baik dipensiunin cepet2x deh jangan sampe jadi “the widow maker” 😛
Sayang banget ya euro menjadikan gripen,rafale n typhoon attack/bomber.mungkin karena konsep mereka silent attack dengan rudal atau bom nuklir ke center of gravity lawan yg membutuhkan pespur stealth sedangkan mereka gak punya bomber stealth seperti rusia.nah,kalau kita gak perlu stealth2an kale he he…lha wong kita nunggu di serang baru bales qiqiqiqi…
Betul sekali Om Jendral, saat sekarang memang tidak ada lagi jet tempur yang murni berfungsi sebagai interseptor dan kebanyakan semuanya sudah sebagai multirole, tetapi peran F-5 Tiger kita adalah sebagai interseptor, yang menarik dan menjadi catatan kita adalah diperlukan air superority dan combat range yang panjang untuk bisa mengcounter keamamanan negara kita yang luas, disamping fungsi lain sebagai serangan permukaan dan anti kapal permukaan, artinya untuk menjawab tantangan dimasa depan (dengan prediksi kepemilikan F35 dari negara tetangga) maka sebenarnya yang kita butuhkan adalah jenis long range fighter dan bukan medium range finghter apalagi yang short range fighter, dan saya pikir semua aspek itu ada pada Su-35 BM dengan combat range-nya 3000 km dibandingan Grippen NG yang hanya 1600 km, sedangkan F-35 mempunyai combat range 2220 km,saya tidak bisa membayangkan jika nanti ada F35 yang menyusup lalu kita hadang dengan Grippen NG, rasanya kok kita mengulang kejadian dimana F18 Super Hornet Amerika, kita hadang dengan F-5 Tiger. Belum lagi aspek radar yang mereka bawa, kita semua tau dalam memenagkan pertempuran radar dan rudal merupakan aspek utama ( selain skill pilot). Jangkauan radar yang dimilki F35 A adalah 160 km, Grippen NG hanya sejauh 48-56 km, dan Su35 260-300 km. saya lagi-lagi tidak bisa membayangkan jika jet fighter F-18, F-16, atau F35 negara tetangga menyusup dan dihadang oleh Grippen NG, bisa di-bully habis-habisan Om. Saya berharap TNI kita bisa jatuh hati pada Su 35 BM… Semoga saja.
Jujur saya juga setuju utk pembungkusan su35 bm 1 skuadron sbg siaga tempur bkn utk keliling2 patroli cz perawatannya super mahal, dan utk patroli saya lbh condong raffale atw grippen min 2 skuadron utk ditempakan wilayah barat dan timur indonesia cz harga dan perawatannya jg sgt murah, plus tot lg, dan tot itu berguna utk kelanjutan ifx apabila korsel mbalelo cz bgmnpun korsel ank kesayangan ASu.
Tahun 1985 aku masih SMP kelas 2
Dulu waktu sy masih kelas2 SD- th 85 dimajalah HAI- pernah ada kabar gembira ( meski batal)RI mau beli F20 TIGERSHARK’ bahkan ksau sukardi sempat testing tuh F20 di halim AFB-tapi setelah itu apes jarang ada kabar ceria lagi- baru sekarang2 ini dech Terus2 an datang kabar yg menggembirakan- bravo tuk RI-sebelumnya udah pada datang rombonganTUCANO- TA50- FLANKER familily dan aneka sista matra darat laut-dan kini giliran jet yg punya tampang kece mirip personil duran- duran-yakni jet JAS39 EF superGRIPEN menyusul ( mudah2an )ikutan eksodus ke RI- ayo donk tunggu apa lagi- cepetan bungkus- mrJAS39 GRIPEN ini-
Kira-kira apakah kita akan meminangnya? bagaimana kelasnya dengan pesawat sukhoi yang sudah kita punyai?
BEDA KELAS BANGET!! keknye agak mustahil deh…karena AURI dah punya falcon family (taon depan dateng 14 biji) dan T-50i…tp mmg sejak pertama gonjang ganjing pengganti F-5 dulu gw dah kesengsem ama neeh si cantik 😛 selain doi gw juga punya kandidat laen yaitu JF-17,MIG-35 atau rafale
Tul tuh kamerad jenderal.beda kelas.falcon family kayaknya yg akan menggantikan F5 karena gripen itu setara rafale atau typhoon.kita hanya akan punya dua lapis fighter jet yaitu flanker family di lapis pertama dan falcon/T50 di lapis kedua.mungkin kalau kepepet dana lapis pertama baru akan diisi gripen/typhoon/rafale.pemerintahsangat berharap proyek KFX/IFX selesai untuk menggantikan flanker family thn 2024 padahal skrg aja dah macet…
Rekam jejak alutsista dari Swedia juga sudah ada di TNI, lagian konflik kepentingan minim dengan negara Skandinavia tersebut. Dibanding beli Typhoon atau Rafale, sudah mahal tapi risiko kena embargo sangat besar.
Utk rafalle prancis sepertinya ada perjanjian anti embargo deh, cuma, sistim avioniknya canggih mna sih sama grippen?
Bagus sekali pembahasannya, tapi sepertinya yang harus dipertimbangkan lagi adalah peran interseptor dari F-5 Tiger Indonesia, Gripen NG harus bisa menggantikannya, selain itu Logistic juga adalah pertimbangan yang sangat, dimana commonity yang kita punya adalah Su-27/30MK2, dan gripen NG harus bisa mendukung heavy fighter kita ini. selain itu air superiority dan long combat range juga menjadi pertimbangan tersendiri dimana daya jelajah dan kemampuan membawa rudal memiliki efek yang mengetarkan….semoga saja para pemimpin kita diberikan keberanian dalam mengambil keputusan…!!