Fokus Efisiensi Biaya Operasional, Rusia Mulai Rakit Prototipe Perdana Jet Tempur Siluman Su-75 Checkmate

United Aircraft Corporation (UAC), resmi mengumumkan lompatan krusial dalam program pengembangan jet tempur siluman generasi kelima, Sukhoi Su-75 Checkmate. CEO UAC, Vadim Badekha, pada tanggal 2 Juni 2026 mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memulai pengerjaan fisik untuk merakit prototipe penerbangan pertama dari jet tempur yang juga dikenal sebagai program Light Tactical Aircraft tersebut.

Baca juga: Doktrin Non Contact Warfare: Su-57 Felon Luncurkan Rudal Jelajah Stealth Kh-59/69 dari Jarak 400 Km

Berdasarkan laporan dari sumber-sumber lokal di Rusia, jadwal penerbangan perdana (first flight) jet siluman bermesin tunggal ini kini ditargetkan bakal terlaksana pada tahun 2027 mendatang. Jadwal ini terhitung mengalami keterlambatan yang cukup signifikan dari rencana awal yang dicanangkan pada saat peluncuran perdana di tahun 2021 silam, di mana prototipe Checkmate semula dijadwalkan terbang pada 2023 demi mengejar target masuk kedinasan operasional pada tahun 2026 ini.

Kendati didera penundaan akibat dinamika geopolitik, dimulainya fase pabrikasi komponen purwacipta ini menegaskan komitmen Moskow untuk menuntaskan proyek strategis tersebut.

Vadim Badekha menjelaskan bahwa Su-75 Checkmate sengaja dirancang untuk memenuhi dua pangsa pasar sekaligus, yakni kebutuhan domestik Kementerian Pertahanan Rusia serta pasar ekspor bagi negara-negara sahabat. Menariknya, Badekha menggarisbawahi bahwa Kementerian Pertahanan Rusia telah menetapkan syarat ketat berupa pemangkasan biaya produksi akhir pada produk jadi taktis ini.

Langkah tersebut disambut baik oleh UAC karena keunggulan kompetitif utama dari Checkmate terletak pada biaya pengadaan (procurement cost) yang jauh lebih murah serta biaya operasional (operational cost) yang jauh lebih rendah sepanjang siklus hidupnya jika dibandingkan dengan jet tempur berat bermesin ganda.

Karakteristik ini menjadi angin segar bagi postur pertahanan udara Rusia. Sejak era Perang Dingin hingga saat ini, armada jet tempur produksi Rusia rata-rata merupakan yang paling berat di dunia. Dominasi lini pesawat kelas berat seperti Su-27 Flanker beserta turunannya—Su-30, Su-34, dan Su-35—memang memberikan keuntungan masif dalam hal radius tempur, kapasitas gotong senjata, serta ukuran dan daya jangkau radar. Namun, konsekuensi logisnya, armada tersebut menuntut perawatan yang sangat kompleks dan mahal untuk dioperasikan dalam skala besar.

Dalam konseptual taktisnya, kehadiran Su-75 Checkmate diproyeksikan untuk menghidupkan kembali doktrin kombinasi jet tempur berat dan ringan (high-low combination) yang sempat ditinggalkan Rusia pasca-runtuhnya Uni Soviet. Pada masa lalu, Uni Soviet sukses menduetkan jet tempur berat Su-27 dengan jet tempur kelas medium MiG-29. Ketika Uni Soviet bubar pada tahun 1991, MiG-29 dialihkan fokusnya untuk pasar ekspor dan sempat meraih sukses besar di Aljazair, Mesir, hingga India berkat biaya perawatan yang bersahabat.

Namun, varian lanjutannya seperti MiG-35 gagal total di pasar internasional dan hanya diproduksi sebanyak enam unit untuk kebutuhan dalam negeri. Melalui program Checkmate, Rusia kini berniat menghadirkan suksesor generasi kelima di kelas bobot MiG-29, mendampingi jet tempur berat siluman Su-57 yang bertugas menggantikan peran Su-27.

Dengan fokus ekstrem pada efisiensi biaya operasional, Su-75 diprediksi akan menjadi jet tempur dengan biaya operasional terendah di generasinya. Hal ini diyakini mampu mendongkrak jumlah kesiapan armada udara Rusia, meningkatkan jam terbang latihan para pilot, sekaligus menjadikannya komoditas yang sangat atraktif bagi negara-negara dunia ketiga (third world).

Sejumlah analis militer menilai Su-75 Checkmate mengusung filosofi yang sama dengan jet tempur legendaris era Soviet, MiG-21 Fishbed, yakni menjadi jet tempur siluman yang murah, massal, namun tetap mematikan di era modern. Salah satu strategi cerdas UAC untuk memangkas biaya riset dan harga jual Checkmate adalah dengan memanfaatkan arsitektur teknologi dan subsistem yang telah matang dari jet tempur Su-57.

Checkmate dirancang sebagai jet tempur berkarakteristik siluman (stealth) berkat adopsi konfigurasi sayap delta tanpa ekor horizontal konvensional serta bentuk saluran udara mesin (air intake) berbentuk V di bawah hidung yang mampu mereduksi pantulan radar (Radar Cross Section – RCS) secara signifikan. Untuk urusan dapur pacu, Su-75 akan mengadopsi mesin turbofan tunggal canggih Izdeliye 30 (Al-51F1) yang sama dengan mesin tahap kedua milik Su-57. Mesin bertenaga masif ini dibekali dengan fitur thrust vectoring control (TVC) yang memungkinkannya melesat hingga kecepatan Mach 1.8 serta melakukan kemampuan jelajah supersonik tanpa afterburner (supercruise).

Keunggulan taktis lain dari jet tempur dengan bobot tinggal landas maksimum sekitar 18 ton ini terletak pada integrasi sistem avionik modern dan kapasitas persenjataannya. Hidung Su-75 dirancang untuk mengusung radar Active Electronically Scanned Array (AESA) modern yang mampu melacak hingga 30 target udara dan mengunci 6 target secara simultan, bahkan di tengah kepungan perang elektronika (electronic warfare) yang pekat.

Meskipun berdesain ringkas, Checkmate memiliki ruang penyimpanan senjata internal (internal weapons bay) yang cukup luas untuk menjaga profil silumannya. Jet tempur ini mampu menggotong berbagai persenjataan mutakhir Rusia, mulai dari rudal udara-ke-udara jarak jauh RVV-BD (R-37M), rudal jarak menengah RVV-SD (R-77M), hingga bom pintar berpemandu presisi untuk misi serangan darat.

Dikombinasikan dengan radius tempur operasional yang diklaim mencapai 3.000 kilometer tanpa tangki eksternal, Su-75 Checkmate siap menjadi penantang serius bagi dominasi jet tempur generasi kelima Barat seperti F-35 Lightning II di pasar ekspor global. (Bayu Pamungkas)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *