
Selain FGM-148 Javelin, ada nama rudal anti tank yang belakangan ikut naik pamornya dalam ketegangan antara Ukraina dan Rusia. Bila sejumlah Javelin telah dipasok AS untuk muliter Ukraina, maka masih dalam konteks menghadapi potensi serangan dari Main Battle Tank (MBT) Rusia, maka Inggris diketahui juga mengirimkan bantuan rudal anti tank dalam jumlah besar ke Ukraina. (more…)

Amerika Serikat rupanya menyadari ada peluang untuk memanfaatkan hubungan “mesra tapi membara” antara Turki dan Rusia. Seperti diketahui, hubungan Turki – Rusia terlihat mesra dalam program pengadaan senjata, salah satunya tercermin dari penjualan sistem hanud S-400, bahkan Rusia ada potensi untuk menawarkan produksi S-400 di Turki. Namun, disisi lain, hubungan Turki – Rusia membara dalam konflik bersenjata di Suriah. Bahkan, drone-drone asal Turki, secara terang-terangan mempermalukan Moskow atas serangan sistem hanud Pantsir-S1 di Suriah. (more…)

Pecahnya konflik bersenjata antara India dan Cina di wilayah perbatasan, rupanya turut mempercepat adopsi jenis persenjatan baru, salah satunya adalah rudal jelajah BrahMos (Brahmaputra Moskva) ALCM (Air Launched Cruise Missile) yang digadang untuk diluncurkan dari jet tempur Sukhoi Su-30MKI. Belum lama ini, Brahmos ALCM telah mendapatkan Fleet Release Clearance (FRC), yaitu sertifikasi yang dikeluarkan oleh Pusat Kelaikan Udara dan Sertifikasi Militer (CEMILAC/Centre for Military Airworthiness and Certification). (more…)

Rupanya Rusia mulai jengah, tatkala alutsista canggih yang diandalkan, harus rontok akibat serangan dari jenis senjata yang sebetulnya tergolong standar dan bukan ‘lawan’ utamanya. Inilah yang menimpa sistem hanud Pantsir S-1, yang dalam beberapa kesempatan pamornya seolah jatuh ke titik nadir, lantaran Pantsir S-1 banyak dihancurkan oleh serangan drone di palagan Suriah dan Libya. Dalam pola serangan drone yang masif, bukan semata-mata sistem hanud yang mungkin tak siap, operator senjata mungkin juga gamang untuk melepaskan rudal yang harganya tak sepadan dengan sasaran yang akan menyerangnya. (more…)

Melihat pencapaian Rusia dan Cina dalam adopsi rudal hipersonik, rupanya memicu gengsi Prediden AS Doland Trump untuk menggeber pengembangan rudal dengan kecepatan di atas Mach 5 tersebut. Alhasil dalam berbagai orasinya, ambisi rudal hipersonik terus didengungkan Trump. Dan terkait rudal hipersonik, belum lama ini ada kabar bahwa sebuah pembom stragegis B-52 AU AS, dilaporkan mengalami insiden, dimana rudal hipersonik yang ‘digendongnya,’ terlepas dari cantelan (hardpoint) secara tak sengaja. (more…)

Lantaran beberapa kali dihancurkan dalam laga serangan udara di Suriah dan Libya, debut sistem hanud Pantsir S-1 sontak ikut melorot di mata publik. Meski begitu, pihak Rusia masih menaruh optimisme tinggi pada sistem senjata hybrid kombinasi kanon reaksi cepat dan rudal hanud ini. Sebagai buktinya, varian laut (naval version) dari Pantsir, yaitu Pantsir-M mulai dipasang pada kapal perang AL Rusia. (more…)

Rudal battle proven yang satu ini layak disebut sebagai “ground radar killer,” lantaran kerap diandalkan sebagai pembuka serangan udara Amerika Serikat/NATO dalam misi penghancuran stasiun radar permukaan lawan. Lantaran punya kemampuan khusus, hanya negara-negara terpilih yang mendapat restu dari Washington untuk bisa memikiki AGM-88B HARM (High speed Anti Radiation Missile). Dan seputar AGM-88 yang fenomenal dalam konflik di Teluk, Kosovo dan Libya, kini ada kabar anyar tentang varian terbaru AGM-88, yaitu AGM-88G AARGM-ER (Advanced Anti-Radiation Guided Missile-Extended Range). (more…)

Bahwa rudal udara ke udara jarak dekat besutan Raytheon AIM-9 Sidewinder punya kemampuan ‘plus’ sebagai rudal udara ke permukaan sudah pernah dikupas di artikel terdahulu. Kebisaan tersebut bukan hanya pada varian anyar AIM-9X Block II, melainkan varian lawas AIM-9P2 pun terbukti sukses diuji tembak ke sasaran di permukaan, seperti yang telah dilakukan penerbang jet tempur F-5E Tiger II TNI AU pada sasaran eks KRI Hiu. Namun, ada fakta baru seputar kebisaan Sidewinder sebagai rudal udara ke permukaan. (more…)

Meski tak terpilih sebagai pengganti rudal Rapier, namun nama rudal TY-90 pernah menjadi alternatif yang dipertimbangkan untuk memperkuat arsenal SHORAD (Short Range Air Defence) Arhanud TNI AD. Walau terbiang rudal jarak pendek, namun uniknya TY-90 tidak dibangun dari platform MANPADS (Man Portable Air Defence Systems), lantaran rudal ini awalnya dirancang sebagai rudal udara ke udara, baru kemudian dilakukan pengembangan sebagai usungan rudal hanud darat ke udara, yang kemudian varian hanud tersebut diberi label LA ADS. (more…)

Ambisi Soekarno untuk menyatukan Nusantara pada kenyataan membuat Indonesia bersitegang langsung dengan Inggris, Belanda, dan kemudian menyeret Australia. Menyadari menghadapi ‘lawan’ negara-negara besar, jauh-jauh hari pun sudah terpikirkan untuk melindungi kawasan obyek vital nasional, terutama Ibukota Jakarta bila suatu waktu menjadi target serangan udara. Maka tak heran kemudian bila Jakarta sempat dilindungi oleh tiga skadron peluncur rudal hanud (SAM) jarak jauh SA-2. (more…)