Karena performa yang dianggap kurang memuaskan dari meriam Howitzer KH-178 105 mm, Artileri Medan TNI AD sejak 2015 silam mengidamkan sosok Howitzer lain, yakni LG-1 MKIII 105 mm buatan Nexter System, Perancis, mengikuti jejak Resimen Artileri Korps Marinir TNI AL yang sukses menggunakan LG-1 MKII. Dan lama tak terdengar kabar tentang Howitzer idaman TNI AD tersebut, belum lama situs kostrad.mil (27/3/2018) menyebut bahwa akan didatangkan alutsista baru berupa Howitzer LG-1 untuk mem-backup satuan Batalyon Para Raider. (more…)
Self Propelled Howitzer (SPH) alias Howitzer Swagerak sudah bukan barang baru buat TNI, tapi lain cerita dengan SPH berkemampuan amfibi, karena faktanya belum ada di lini persenjataan TNI AD dan TNI AL. Korps Marinir beberapa waktu lalu pernah dikabarkan tertarik dengan 2S31 Vena Self Propelled Mortar buatan Rusia, tapi toh sampai saat ini belum ada kejelasannya lebih lanjut. (more…)
Mungkin penyedia solusi pertahanan ini paham bahwa masih banyak alutsista tua yang digunakan di banyak negara berkembang. Salah satunya di lini artileri pertahanan udara, dimana meriam jenis S-60 kaliber 57 mm dan Bofors L/70 kaliber 40 mm masih banyak populasinya, bahkan terus di upgrade dengan integrasi pada firing control dan sistem radar. Dan seperti diperlihatkan IMI Systems dari Israel, Bofors L/70 dapat ditingkatkan kemampuannya, tak hanya dengan integrasi radar dan firing control, melainkan sistem pembidiknya diganti dengan electro optic sight. (more…)
Di salah satu babak film “Black Hawk Down (2001),” Norm “Hoot” Gibson anggota Delta Soldier yang diperankan aktor Eric Bana berhasil merampas senjata tanpa tolak balik (STTB) SPG-9 dari tangan milisi Somalia. Tanpa membuang kesempatan Hoot langsung mengarahkan tembakan dari SPG-9 yang terpasang pada pick-up. Adegan tersebut tentu amat lekat bagi penggemar genre film perang. Dan tahukah Anda, bahwa TNI kini juga mengoperasikan senjata recoilless rifle ini, namun dengan varian yang lebih modern. (more…)
Dalam pola operasi yang mengandalkan mobilitas tinggi, setiap meriam atau kanon di kapal perang dan ranpur (kendaraan tempur) membutuhkan perangkat untuk menstabilkan posisi laras ke arah sasaran. Maklum saja, di tengah laut yang bergelombang, kapal perang dituntut suatu waktu untuk melakukan tembakan ke sasaran secara presisi, begitu pun dengan tank dan panser, upaya penembakan sembari kendaraan melaju mutlak dilakukan dalam situasi tertentu. Dan tanpa dukungan perangkat yang disebut giroskop semua itu rasanya amat sulit dilakukan. (more…)
Bila tak ada aral melintang, KRI Sampari 628 kemungkinan bakal menjadi kapal perang TNI AL pertama yang menggunakan kanon Bofors 57 mm MK.3. Ini berbeda dengan dua saudaranya, KRI Tombak 629 dan KRI Halasan 630 yang justru dipasangi kanon kaliber serupa, namun buatan Rusia, Burevestnik A-220M. Adopsi Bofors 57 mm MK.3 dipandang paling pas untuk Sampari Class, mengingat rancangan desain grafis KCR ini begitu match dengan bentuk kubah Bofors 57 MK.3.
Batalyon Artileri Medan (YonArmed) 12 Kostrad, unsur kekuatan di bawah Resimen Artileri Divisi Infanteri 2 Kostrad pada Sabtu lalu (9/12/2017) telah melaksanakan uji fungsi penembakan meriam swa gerak atau SPH (Self Propelled Howitzer) TRF-1 CAESAR (Camion Equipe’ d’un Syste’me d’ ARtillerie) kaliber 155 mm produksi Nexter, Perancis. (more…)
Usia alutsista yang satu ini jelas tak muda lagi, M2A2 Howitzer 105 mm diterima Indonesia dari bekas pakai Amerika Serikat pada tahun 1982/1983. Namun sejatinya Howitzer ini sudah berumur lebih tua, maklum meriam yang aktif dalam era Perang Vietnam dan Perang Korea ini versi awalnya (M101) memang sudah malang melintang di awal Perang Dunia II. (more…)
Meski beda kelas, namun ada beberapa persamaan antara KCR (Kapal Cepat Rudal) Mandau Class dan korvet KRI Ki Hajar Dewantara 364. Terkhusus pada aspek persenjataan, kedua kapal perang TNI AL era 80-an ini sama-sama mengusung rudal anti kapal MM38 Exocet dan senjata utama di haluan berupa meriam Bofors 57/70 (MK1) kaliber 57 mm. (more…)
Sejak tiba di Indonesia pada 11 September lalu, empat unit panser Pandur II 8×8 dari Ceko, dibawa ke fasilitas PT Pindad di Bandung. Keempat ranpur besutan Excalibur Army ini menjalani proses instalasi kubah senjata dan pengecetan, maklum saat tiba Pandur II 8×8 masih berwarna hijau polos, dan karena akan diikutkan dalam defile HUT TNI Ke-72 di Cilegon, Pandur II 8×8 kini sudah di cat dengan loreng hijau ranpur TNI AD. Dan hari ini (18/9), dalam kunjungan singkatnya ke PT Pindad, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu turut melihat dari dekat calon alutsista untuk Kavaleri dan Infanteri Mekanis tersebut.