
Meski tank punya kemampuan melintasi beragam medan berat yang pastinya ‘kotor,’ tapi ada satu bagian yang harus dipastikan kebersihannya, dan ini langsung berkaitan pada fungsi utama dari tank itu sendiri. Yang dimaksud adalah kebersihan pada lubang laras. Tentu kelancaran pada proses penembakan meriam dapat tercipta bila komponen pada laras bersih dan terawat baik. (more…)

Anda masih ingat dengan teknologi radar fire finder yang dikembangkan oleh Armed TNI AD? Meski masih dalam tahap prototipe, namun rintisan teknologi pelacakan asal arah dan posisi tembakan terus dikembangkan lebih lanjut, meski bukan berbasis radar, Dislitbangad dan ITB mengembangkan apa yang disebut Sapta Pangrungu, kemudian TNI AL lewat Dislitbangal juga menelurkan apa yang disebut Gun Fire Locator. (more…)

Serangkaian uji pada prototipe medium tank “Harimau Hitam” PT Pindad untuk meraih sertifikasi dari Dislitbangad terus dilalukan. Setelah merampungkan ‘mine blast test’ dan uji dinamis yang meliputi jelajah on road, off road, lintas pasir, dan ketahanan bergerak 3 x 24 jam, kini medium tank dengan bobot 30 ton ini telah menyelesaikan tahapan akhir uji coba, yaitu uji daya gempur (firing test) yang telah dilangsungkan di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) TNI AD Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. (more…)

Dalam jagad alutsista, boleh jadi Howitzer Tarik (Towed Howitzer) LG-1 MKII dari Resimen Artileri Korps Marinir TNI AL layak menyandang predikat ‘duta artileri,’ pasalnya Howitzer buatan Perancis ini beberapa kali telah dibawa dalam operasi di luar negeri. Selain kini dua pucuk LG-1 MKII ikut disertakan dalam RIMPAC (Rim of Pacific) 2018, sebelumnya di RIMPAC 2014, tiga pucuk Howitzer juga pernah diboyong ke Hawaii. Bahkan dalam operasi pembebasan sandera MV Sinar Kudus dari tangan perompak Somalia (2011), empat unit LG-1 MKII turut bersama tank BMP-3F dipersiapkan di lambung LPD KRI Banjarmasin 592, takkala suatu waktu ada perintah untuk melakukan operasi amfibi ke pesisir Somalia. (more…)

Setelah pengiriman sebelumnya pada 25 Juli 2017, tepat setahun sesudahnya, yakni pada 9 Juli 2018, gelombang kedua Self Tracked Propelled Howitzer alias Artileri Swagerak jenis M109A4 BE 155 mm untuk Satuan Artileri Medan (Armed) TNI AD telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Serupa dengan gelombang pertama, pada gelombang M109A4 terdiri dari 18 unit tank. (more…)

Salah satu agenda dalam Multilateral Rim Of The Pacific (RIMPAC) 2018 adalah pelaksanaan materi latihan artileri medan, yang di dalamnya mencakup pendalaman sistem senjata Howitzer. Untuk itu, kompi Korps Marinir yang diterjunkan di RIMPAC 2018 juga menyertakan dua pucuk Howitzer LG-1 MKII 105 mm yang dibawa bersama KRI Makassar 590. Dalam kolaborasi latihan dengan pihak Marinir AS (USMC), prajurit Artileri Marinir TNI AL mendapat pengenalan Howitzer kaliber besar dari tipe M777 A2. (more…)

Dilihat dari nomer lambung yang tertera, sekilas sosok kapal dalam foto di atas adalah milik TNI AL. Maklum 9xx adalah label yang disematkan pada armada Satuan Kapal Bantu (Satban). Tapi jangan keliru, kapal di atas adalah landing ship Type 072III, persisnya adalah Haiyang Shan 936 milik AL Cina. Dibalik desain landing ship yang biasa, Haiyang Shan dalam beberapa waktu ini sempat membetot perhatian para pengamat alutsista dari manca negara. (more…)

Kecepatan untuk mengetahui posisi asal tembakan lawan menjadi poin penting dalam gelar tempur Artileri Medan (Armed). Pasalnya dengan diketahuinya posisi asal tembakan, maka akan memudahkan untuk dilakukannya tembakan artileri balasan. (more…)

Bicara tentang Howitzer, maka nama Nexter dari Perancis tak bisa dikesampingkan, maklum manufaktur meriam papan atas ini menjadi pemasok utama sistem Howitzer Tarik (Towed Howitzer) dan Howitzer Swa Gerak (Self Propelled Howitzer) di arsenal Artileri Medan TNI. Terkhusus di kaliber besar (155 mm), produk Nexter yang cukup kondang adalah TRF-1 CAESAR (Camion Equipe’ d’un Syste’me d’ ARtillerie), yang kini jadi andalan Batalyon Artileri Medan (YonArmed) Kostrad. (more…)

Bila Satuan Artileri Medan (Armed) TNI AD masih dalam tahap rencana untuk mendatangkan Howitzer LG-1 MKIII kaliber 105 mm, maka masih dalam jenis alutsista yang sama, diwartakan bahwa negara tetangga Malaysia malah sudah melakukan penandatanganan pembelian LG-1 MKIII untuk kebutuhan angkatan darat, lebih tepatnya untuk mengisi arsenal di 1st Royal Artillery Regiment (Para) of the 10th Parachute Brigade, unit tempur reaksi cepat yang mengandalkan operasi lintas udara (linud). (more…)