
Sebagai satuan pemukul terbesar dengan kekuatan 30.000 prajurit, Kostrad TNI AD terbilang lengkap dalam urusan persenjataan. Di segmen pertahanan udara, Kostrad memiliki dua Batalyon Pertahanan Udara Ringan (Yon Arhanudri) yang dilengkapi sistem senjata rudal SAAB RBS-70 dan kanon twin gun Type 80 Giant Bow kaliber 23 mm. Bila rudal VSHORAD (Very Short Air Defence System) RBS-70 mengandalkan radar Giraffe sebagai penjejak sasaran, maka kanon Giant Bow 23 mm juga punya pasangan radar penjejak sasaran tersendiri, yakni jenis mobile radar AS901A 3D. (more…)

Seperti halnya penumpang sipil, prajurit juga butuh rasa nyaman selama operasi pergeseran, apalagi jika sasaran operasi berada nuh jauh di seberang lautan, yang artinya jika ditempuh menggunakan kapal laut akan makan waktu panjang. Sebagai ilustrasi, Inggris di tahun 1982 menggeser ribuan pasukannya dalam Perang Falkland (Malvinas) dengan menggunakan kapal pesiar jarak jauh legendaris Queen Elizabeth II. (more…)

Instruktur dari Norinco, manufaktur persenjataan dari Cina, mulai hari ini melangsungkan program pelatihan pada 16 prajurit pengawak kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) Type 90/35 mm Twin Gun dan operator radar pengendali tembakan AF902 FCS (Fire ControlSystem). Seperti telah disebutkan dalam berita terdahulu, satuan Artileri Pertahanan Udara Korps Marinir TNI AL telah mendapat pengadaan kanon PSU dual laras Type 90/35 mm, yang tak lain adalah lisensi dari kanon Oerlikon GDF buatan Rheinmetall Air Defence AG (d/h Oerlikon Contraves). (more…)

Bila mengacu ke eksistensi meriam Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) di Indonesia, tak bisa dilepaskan dari persiapan Operasi Trikora di awal dekade 60-an. Hingga kini publik di Tanah Air masih sangat familier dengan meriam sepuh S-60 kaliber 57 mm Arhanud TNI AD. Di periode yang sama Korps Marinir (d/h KKO AL) juga menerima meriam PSU (Penangkis Serangan Udara) tipe M1939 K-61 kaliber 37 mm dan M1939 52-K kaliber 58 mm. Ketiganya adalah alutsista buatan Uni Soviet yang sampai kini masih beroperasi melalui program retrofit. (more…)

Banyak pemerhati alutsista yang bertanya-tanya, setelah KRI Sultan Thaha Syaifuddin 376, siapa lagi diantara armada korvet Parchim Class TNI AL yang akan dipasangi kanon CIWS (Close In Weapon System) Type 730 kaliber 30 mm? Maklum saja, jumlah Parchim Class total ada 16 unit dan sejak akhir tahun 2014 sampai saat ini, baru satu unit yang telah menggunakan kanon Type 730. Mengingat keuangan negara yang terbatas dan antrian jadwal docking kapal perang, proses instalasi pun nyatanya tetap berjalan secara bertahap.
(more…)

Jika tiada aral melintang, tak lama lagi etalase Batalyon Armed GS (Gerak Sendiri) TNI AD bakal bertambah, yakni dengan hadirnya 20 unit Self Tracked Propelled Howitzer M109A4 Paladin dari Belgia. Ini tentu angin segar, mengingat kekuatan Batalyon Armed (Yon Armed) GS, khususnya yang berbasis self tracked (tank) sejak tiga dekade lebih belum mendapat peremajaan alutsista. (more…)

Tak hanya lini Artileri Medan Marinir yang mendapat peningkatan kekuatan alutsista, setelah belum lama ini kedatangan MLRS (Multiple Launch Rocket System) RM70 Vampire, kini Resimen Artileri Marinir TNI AL dilengkapi alutsista terbaru jenis kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) Type 90/35 mm buatan Norinco, Cina. Dalam satu sistem senjata, juga termasuk AF902 FCS (Fire Control System). (more…)

Kanon reaksi cepat dengan kendali otomatis digadang sebagai senjata andalan pada kapal kombatan TNI AL. Dibalik kemampuan reaksi cepat pada multi target, tentu ada perangkat sensor yang mendukung, dan ini disebut radar pengendali tembakan (fire control radar). Dimana kendali tembakan dilakukan dari ruang PIT (Pusat Informasi Tempur). Namun, bagaimana bila suatu waktu fire control radar tidak berfungsi, semisal terkena jamming, atau karena alasan tertentu kapal harus radar silence. Apakah kanon reaksi cepat jadi lumpuh? (more…)

Dalam dua bulan belakangan, nama KRI Diponegoro 365 lumayan banyak disebut, pasalnya korvet dari Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmatim ini dipercaya mewakili kekuatan TNI AL di ajang latma RIMPAC (Rim of the Pacific) 2016. Sebagai kapal kombatan, KRI Diponegoro 365 yang masuk ke SIGMA Class 9113 punya bekal beberapa andalan, diantaranya berupa kanon reaksi cepat Oto Melara 76 mm dan rudal anti serangan udara berbasis SHORADS (Short Range Air Defence System) MBDA Mistral dengan peluncur Tetral. (more…)

Sebagai kapal perang andalan (flagship) TNI AL, KRI Diponegoro 365 memang pantas mewakili kekuatan maritim Indonesia di ajang latihan bersama (latma)multilateral terbesar di dunia, RIMPAC (Rim of Pacific) 2016. Bekal sensor dan radar sudah cukup modern di kelasnya, adopsi senjata juga relatif mumpuni di kelas korvet. Namun sayangnya korvet buatan Belanda ini tidak dibekali kanon reaksi cepat CIWS (Close In Weapon System). (more…)