
Dalam perspektif manufaktur persenjataan, bila alutsista yang mereka jual benar-benar menjadi andalan di negeri pembeli, maka hal tersebut ibarat prestasi luar biasa, artinya ada kepercayaan dari aspek kualitas. Dan jika berkaca di Indonesia, salah satu hotspot yang menjadi konsentrasi pertahanan TNI ada di Pulau Natuna, dimana gelar alutsista tercanggih dari ketiga matra TNI semaksimal mungkin dikerahkan dalam berbagai uji dan latihan tempur di kawasan yang langsung berhadapan dengan Laut Cina Selatan. (more…)

Sebagai satuan lapis baja perisai Ibu Kota, Batalyon Kavaleri 7 Pragosa Satya (d/h YonKav 7 Sersus – Panser Khusus) identik dengan keberadaan panser V-150 produksi Cadilage Cage, Amerika Serikat. Sejarah pengabdian panser 4×4 ini tak perlu disangsingkan lagi dalam beragam operasi di dalam dan luar negeri. Sejak penggelaran V-150 di Bumi Loro Sae (Operasi Seroja), di Kamboja dalam Kontingen Pasukan Garuda, operasi kamdagri di Aceh dan Papua, telah membuktikan kehandalan panser yang dinobatkan sebagai salah satu alutsista favorit di Asia Tenggara. (more…)

Diantara ratusan alutsista TNI yang kini telah terparkir di kawasan Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten, sudah terlihat sosok ranpur Pandur II 8×8 jenis IFV (Infantry Fighting Vehicle) yang dilengkapi kanon RCWS Ares UT30MK2 kaliber 30 mm. Kemunculan ini menjadi babak terbaru dari serial panser Pandur II 8×8 di Indonesia, setelah sebelumnya telah diperlihatkan Pandur II 8×8 FSV (Fire Support Vehicle) yang dilengkapi meriam Cockerill CT-CV 105 mm dan Pandur II 8×8 APC dengan SMB (Senapan Mesin Berat) kaliber 12,7 mm.
(more…)

Terkait musibah yang menimpa operator satuan tembak (satbak) kanon Giant Bow twin gun 23 mm dalam Latihan PPRC (Pasukan Pemukuk Reaksi Cepat) di Pulau Natuna, 18 Mei lalu, kini tengah dilakukan investigasi untuk mengetahui permasalahan yang terjadi pada kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) lansiran Norinco tersebut. Saat musibah, kanon dioperasikan secara manual untuk menembak sasaran berupa drone. Lepas dari musibah, sistem hanud Giant Bow 23 mm sejatinya dapat dikendalikan secara otomatis dari Battery Command and Control Vehicle (BCCV) atau BCV. (more…)

Sebagai senjata regu, kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) Giant Bow twin gun 23 mm tak hanya dapat dikendalikan secara manual. Dalam perannya sebagai hanud (pertahanan udara) titik untuk melindungi obyek vital, baterai (kompi) kanon produksi Norinco ini juga dapat dikendalikan secara otomatis dan terpadu dari rantis (kendaraan taktis) Battery Command and Control Vehicle (BCCV). Mulai dari identifikasi, pemilahan sasaran, kendali laras, sampai perintah penembakkan terpusat dari BCV. Bila BCV sudah beraksi, tinggal peran awak pucuk yang standby untuk reload amunisi pada kanon yang dalam Bahasa Indonesia disebut “Panah Raksasa.” (more…)

Truk Isuzu Elf NPS 4×4 milik Batalyon Arhanud Ringan 1 Kostrad TNI AD kini bisa disebut sebagai rantis (kendaraan taktis) TNI yang paling mematikan. Dari aspek platform, Isuzu Elf NPS 4×4 tak ubahnya truk rantis TNI yang punya kemampuan offroad dan mengemban misi angkutan taktis operasional dalam operasi perang dan non perang. Namun lain dari itu, Isuzu Elf NPS 4×4 Yon Arhanudri 1 menjadi sosok yang lethal tatkala bagian bak-nya ditempati kanon PSU (Penangkis Seragan Udara) Type 80 Giant Bow twin gun kaliber 23 mm. (more…)

KRI Silas Papare 386, satu dari enam belas unit korvet Parchim Class TNI AL, kini telah dibekali sistem senjata kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) Vektor G12 kaliber 20 mm. Dengan bekal kanon ini, maka letalitas korvet besutan Jerman Timur ini bakal tambah mumpuni, terutama untuk menghadapi sasaran di permukaan dan udara jarak pendek. (more…)

Batalyon Infanteri Mekanis TNI AD telah mencanangkan penggunaan RCWS (Remote Control Weapon System) pada ranpur Pindad Anoa 6×6. Dari beberapa unit yang telah, RCWS berstatus melayani satu platform senjata, yakni SMB (Senapan Mesin Berat) Browning M2HD, FN MP3 atau CIS 50MG kaliber 12,7 mm. Itu satu turret (kubah) dipasang satu jenis senjata, lantas bagaimana jika dalam satu turret dipasang langsung dua platform senjata? Bisa dipastikan daya gebuk Yonif Mekanis kian cetar. (more…)

Umumnya setiap satuan tembak (satbak) pada alutsista Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) sudah memiliki unit command and control. Sebut saja pada kanon CIWS (Close In Weapon System) Rheinmetall Oerlikon Skyshield, Kobra Air Defence System pada rudal Grom, rudal QW-3, rudal Mistral, sampai kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) twin gun Giant Bow 23 mm. Namun bagaimana dengan meriam PSU legendaris S-60 kaliber 57 mm? Meski usianya sudah lanjut, sampai saat ini alutsista dari era Uni Soviet ini masih jadi andalan pada elemen hanud titik. Bahkan S-60 sudah mengalami retrofit.
(more…)

Arsenal Arhanud (Artileri Pertahanan Udara) milik TNI banyak ragamnya, tapi tak semua mendapat mandat untuk melindungi area ring satu, yakni wilayah Istana Negara. Seperti pada HUT RI ke-71 bulan Agustus lalu, Detasemen Pertahanan Udara (Denhanud) Paskhas TNI AU mendapat kepercayaan untuk menempatkan baterai kanon CIWS (Close In Weapon System) Oerlikon Skyshield 35 mm di Lapangan Tugu Monas. Baterai Skyshield disiapkan dalam posisi siaga penuh, berikut sistem Skyshield Fire Control Unit yang di dalamnya terdapat unit sensor dan radar. (more…)