TNI AL dan galangan kapal swasta nasional, PT Caputra Mitra Sejati (CMS) di Banten telah meluncurkan kapal patroli PC-40 terbaru, KRI Albakora 867 pada 26 Maret 2018. Kapal perang yang nantinya akan memperkuat unsur Lantamal di Komando Armada Timur (Koarmatim) ini tak sekedar meluncur, melainkan KRI Albakora 867 telah dipasangi kanon Marlin WS kaliber 30 mm pada haluan. (more…)
Menyebut nama “Pantsir” serasa sakral, maklum bagi para pecinta alutsista, khususnya Russian Fans Boy, nama Pantsir menjadi salah satu senjata dari Rusia yang begitu didambakan kehadirannya di Indonesia, tentunya selain Sukhoi Su-35 Super Flanker, rudal hanud S-300 dan kapal selam Kilo Class. (more…)
Dalam pola operasi yang mengandalkan mobilitas tinggi, setiap meriam atau kanon di kapal perang dan ranpur (kendaraan tempur) membutuhkan perangkat untuk menstabilkan posisi laras ke arah sasaran. Maklum saja, di tengah laut yang bergelombang, kapal perang dituntut suatu waktu untuk melakukan tembakan ke sasaran secara presisi, begitu pun dengan tank dan panser, upaya penembakan sembari kendaraan melaju mutlak dilakukan dalam situasi tertentu. Dan tanpa dukungan perangkat yang disebut giroskop semua itu rasanya amat sulit dilakukan. (more…)
Bila tak ada aral melintang, KRI Sampari 628 kemungkinan bakal menjadi kapal perang TNI AL pertama yang menggunakan kanon Bofors 57 mm MK.3. Ini berbeda dengan dua saudaranya, KRI Tombak 629 dan KRI Halasan 630 yang justru dipasangi kanon kaliber serupa, namun buatan Rusia, Burevestnik A-220M. Adopsi Bofors 57 mm MK.3 dipandang paling pas untuk Sampari Class, mengingat rancangan desain grafis KCR ini begitu match dengan bentuk kubah Bofors 57 MK.3.
Hampir lima tahun setelah diluncurkan pada 2014, KCR (Kapal Cepat Rudal) Sampari Class produksi PT PAL masih mengandalkan meriam Bofors 40 mm L/70, bekas pakai KRI Teluk Semangka 512. Adopsi meriam tersebut tentu tak kontras dengan sosok kapal perang modern berdesain modern ini. Tentu saja itu cuma sementara, kemudian pernah diwartakan bahwa senjata utama pada haluan Sampari Class akan menggunakan meriam reaksi cepat Type 730 buatan Norinco, Cina. (more…)
Dua unit KCR 60 (aka – Sampari Class) produksi PT PAL, yakni KRI Sampari 628 dan KRI Tombak 629, belum lama ini dikabarkan telah merampungkan sesi modernisasi sistem persenjataan di fasilitas galangan PT PAL, Surabaya. Setelah beberapa foto yang memperlihatkan kedua kapal keluar dari bengkel Asembly Divisi Kapal Perang PT PAL, nampak ada pemasangan sistem senjata baru berupa kanon reaksi cepat, atau Close In Weapon System (CIWS) kaliber 30 mm dengan enam laras. (more…)
Kodrat BVP-2 adalah sebagai IFV (Infantry Fighting Vehicle) yang merupakan generasi pendahulu dari ranpur IFV BMP-3F yang dioperasikan Batalyon Tank Amfibi (Yon Tankfib) Korps Marinir. Meski disebut satu marga dengan BMP-3F, namun uniknya di arsenal alutsista Korps Marinir justru BVP-2 bukan berada di Resimen Kavaleri, melainkan masuk di Resimen Artileri, yakni pada Batalyon Arhanud Marinir. Dan sejak didatangkan pada tahun 1998, sampai saat ini 40 unit BVP-2 masih terpelihara dengan baik dan dalam kondisi siap tempur. (more…)
Di negara asalnya, truk merek Howo Sinotruk bukan kendaraan yang istimewa, truk produksi China National Heavy Duty Truck Group Co Ltd. (SINOTRUK) ini sudah mengular di jalanan dalam berbagai varian, baik untuk kebutuhan sipil dan militer. Namun di Indonesia lain cerita, ada Howo Sinotruk disini bisa disebut sebagai barang ‘langka.’ Dan memang salah satu penggunanya adalah Batalyon Artileri Pertahanan Udara 2/Marinir. (more…)
Dalam suatu presentasi di Jakarta belum lama ini, Kolonel Stefan Schädler, Vice President Sales Asia Rheinmetall Air Defence memaparkan konsep pertahanan udara (hanud) komposit untuk melindungi ruang udara di Pulau Natuna. Seperti telah diulas dalam artikel berjudul “Inilah Solusi Rheinmetall Air Defence Untuk Pertahanan Udara Di Natuna,” sistem hanud komposit terdiri dari rudal hanud jarak sedang, rudal hanud SHORAD MANPADS, FCU (Fire Control Unit) kanon Oerlikon Skyshield 35 mm dan Skyranger. (more…)
Sukses dalam beberapa kali uji penembakkan membuat Detasemen Pertahanan Udara (Denhanud) Paskhas cukup puas dengan kinerja kanon Oerlikon Skyshield 35 mm. Bahkan di HUT RI Ke-71 tahun 2016, Fire Control Unit (FCU) yang terdiri dari dua pucuk Skyshield dipercaya untuk mengamankan wilayah obyek vital Istana Negara dan Lapangan Monumen Nasional. Berita terakhir terkait kanon buatan Swiss ini tentu sangat menyenangkan bagi pihak manufaktur, pasalnya KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dalam pernyataannya di beberapa media telah mengungkapkan rencana untuk menambah pengadaan kanon Skyshield untuk memperkuat hanud di Lanud-Lanud strategis. (more…)