Kapal Selam Korea Selatan KSS-III ‘Dosan Ahn Chang-ho’ Arungi Pasifik 14.000 Km Demi Amankan Mega Proyek Kanada

Manuver diplomasi pertahanan dan pemasaran alutsista yang dilakukan oleh Korea Selatan kembali mencatatkan sejarah baru yang sangat mengesankan di kancah global. Melansir laporan media Kanada Ottawa Citizen, sebuah kapal selam serang diesel-elektrik KSS-III class (Dosan Ahn Chang-ho class) milik Angkatan Laut Korea Selatan (ROKN) dilaporkan telah merapat di Pangkalan Angkatan Laut Kanada (CFB) Esquimalt di Victoria, British Columbia.

Baca juga: KRI Cakra : “Siluman Bawah Laut” TNI-AL

Kehadiran kapal selam berspesifikasi tinggi ini mengemban misi ganda, yakni mempererat hubungan pertahanan bilateral melalui latihan bersama dengan Angkatan Laut Kanada (Royal Canadian Navy/RCN), sekaligus melakukan pemasaran langsung secara agresif dalam kompetition pengadaan kapal selam baru bernilai multi-miliar dolar Kanada, Canadian Patrol Submarine Project (CPSP).

Demi meyakinkan pemerintah Kanada, armada ROKN nekat melayarkan ROKS Dosan Ahn Chang-ho langsung dari pangkalannya mengarungi ganasnya Samudra Pasifik sejauh 14.000 kilometer, menjadikannya rekor pelayaran jarak jauh paling lama dan paling melelahkan yang pernah ditempuh oleh sejarah kapal selam Korea Selatan.

Langkah berani Korea Selatan ini menaikkan nilai berita (news value) karena membuktikan komitmen operasional di atas kertas menjadi realitas fisik di lapangan. Pemerintah Korea Selatan dan galangan kapal Hanwha Ocean tidak hanya mengumbar paket kerja sama industri yang manis, tetapi juga langsung membuktikan keandalan teknis (combat proven) dari platform Dosan Ahn Chang-ho class ini di halaman rumah calon pembeli.

Di sepanjang pelayaran epik tersebut, keandalan operasional kapal selam ini dibuktikan secara sahih. Pada 18 Mei lalu, pihak ROKN mengumumkan bahwa ROKS Dosan Ahn Chang-ho sukses membangun komunikasi radio taktis terintegrasi dengan Armada Pasifik RCN menggunakan sistem komunikasi onboard di bawah simulasi kondisi masa perang nyata.

Keberhasilan pengujian komunikasi ini memverifikasi secara langsung tingkat interoperabilitas yang mulus antara kedua angkatan laut di lingkungan operasional yang menantang. Bahkan, kehebatan kapal selam ini dirasakan langsung oleh dua personel perwira RCN, Letnan Komandan Britany Bourgeois dan Petty Officer Second Class Jake Dixon, yang ikut onboard di dalam kapal selam untuk berpartisipasi dalam aktivitas latihan di laut lepas sekaligus mengamati operasional kru dan peralatan canggih Korea Selatan. Komandan Bourgeois memuji interior kapal selam Korea yang dirancang sangat luas, bersih, modern, dan sangat kontras dengan armada tua Kanada.

Kegigihan luar biasa dari Negeri Gingseng ini dipicu oleh semakin ketatnya persaingan di dalam proyek CPSP Kanada yang berencana mengakuisisi hingga 12 unit kapal selam konvensional baru demi menggantikan armada Victoria class yang sudah uzur, di mana saat ini dilaporkan hanya satu dari empat unit kapal selam Victoria class milik Kanada yang berada dalam status operasional siap tempur. Krisis armada bawah air ini membuat Komandan Angkatan Laut Pasifik Kanada, Laksamana Muda David Patchell, menegaskan urgensi pengadaan yang sangat mendesak demi mengirimkan sinyal kepada sekutu bahwa Kanada serius dalam hal pertahanan laut dan mengukuhkan diri sebagai “bangsa kapal selam”.

Saat ini, persaingan ketat dalam proyek bernilai 60 hingga 80 miliar dolar Kanada tersebut telah mengerucut drastis. Pemerintah Kanada dikabarkan telah mempersempit pilihan (shortlist) pada dua kandidat terkuat, yakni kapal selam kelas Dosan Ahn Chang-ho dari Hanwha Ocean Korea Selatan dan kapal selam Type 212CD yang diajukan oleh pabrikan ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS) kolaborasi Jerman-Norwegia.

Sementara itu, para kompetitor kelas berat Eropa lainnya seperti galangan kapal Naval Group asal Perancis dengan Orka class, serta Navantia dari Spanyol yang mengusung varian S-80 Plus, dipaksa gigit jari dan telah tertinggal di belakang karena kriteria ketat Kanada yang menuntut kepastian lini masa pengiriman dan kesiapan produksi massal yang sudah matang.

Pihak Hanwha Defence Canada yang dipimpin oleh CEO Glenn Copeland, memanfaatkan momentum kedatangan kapal selam ini untuk memperkuat posisi tawarnya, mengingat pemerintah Liberal Kanada menargetkan untuk mengumumkan pemenang tender resmi ini pada musim panas ini.

Dalam aspek peta persaingan ini, pihak Korea Selatan berada di atas angin dibanding paket Jerman. Dosan Ahn Chang-ho class adalah platform orisinal yang sudah operasional, aktif bertugas, dan terus meluncur keluar dari lini produksi massal saat ini, sementara Type 212CD milik Jerman masih terikat dalam antrean rantai pasok Eropa yang padat dengan estimasi pengiriman perdana ke Kanada yang baru bisa terealisasi pada akhir dekade 2030-an.

Sebaliknya, Hanwha Ocean dengan percaya diri memproyeksikan bahwa jika kontrak disepakati, mereka mampu mengirimkan unit kapal selam pertama untuk Kanada pada tahun 2032, dengan target empat unit kapal selam sudah siap operasional penuh di tangan RCN sebelum tahun 2035. Ditinjau dari spesifikasi teknis dan keunggulan tempurnya, kapal selam kelas KSS-III Batch-II merupakan salah satu kapal selam diesel-elektrik terbesar dan paling mematikan di dunia saat ini dengan bobot benaman saat menyelam mencapai lebih dari 3.600 ton dan panjang lambung sekitar 89 meter.

Salah satu keunggulan mutlak Dosan Ahn Chang-ho class yang tidak dimiliki oleh mayoritas kapal selam konvensional Eropa adalah keberadaan sistem sel peluncuran vertikal (Vertical Launch System / VLS). Kapal selam ini dilengkapi dengan tabung VLS yang mampu memuntahkan rudal balistik kapal selam (SLBM) taktis maupun rudal jelajah serang darat jarak jauh.

Keunggulan ini dipadukan dengan sistem propulsi otonom Air-Independent Propulsion (AIP) berbasis sel bahan bakar (fuel cell) generasi baru yang digabungkan dengan teknologi baterai Litium-ion (Lithium-ion batteries). Kombinasi teknologi baterai canggih ini membuat Dosan Ahn Chang-ho class mampu menyelam lebih lama di dalam air, bergerak dengan senyap tanpa terdeteksi, memiliki kecepatan jelajah tinggi, serta memiliki daya tahan operasional di bawah air dua kali lipat lebih lama dibandingkan kapal selam berteknologi baterai timbal-asam konvensional.

Kemampuan jelajah super jauh inilah yang sukses dibuktikan oleh AL Korea Selatan lewat pelayaran jarak jauh menyeberangi Samudra Pasifik langsung menuju British Columbia. Dengan struktur lambung kokoh yang dirancang adaptif untuk bertahan di perairan dingin ekstrem dan mampu menembus lapisan es tipis di kawasan kutub utara, Dosan Ahn Chang-ho class dinilai sangat klop dengan cetak biru kebutuhan pertahanan masa depan Kanada di tiga samudra penting mereka, yaitu Atlantik, Pasifik, dan wilayah Arktik.

Melalui unjuk kegigihan ekstrem dengan mengirimkan langsung kapal selam aslinya ke pangkalan militer Kanada, Korea Selatan tidak hanya mengirimkan sinyal kedekatan geopolitik yang kuat kepada Ottawa, tetapi juga sekaligus menegaskan kepada para pesaingnya di Eropa bahwa industri pertahanan Asia saat ini sudah memiliki kedewasaan teknologi, skala finansial yang masif, serta kedisiplinan rantai produksi yang jauh lebih siap untuk memenangkan persaingan pasar global. (Gilang Perdana)

Setelah dari Malaysia, Kapal Selam Baru Pakistan PNS Hangor Sambangi Jakarta

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *