Ubah Doktrin Perang Udara! Drone Akıncı Sukses Hancurkan Sasaran dengan Rudal Eren di Langit Sudan

Rekaman taktis penembakan jatuh drone penyusup oleh drone tempur (UCAV) Bayraktar Akıncı milik Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) di wilayah Ed Damazin tidak hanya mengguncang peta konflik geopolitik Afrika, melainkan juga mendobrak doktrin pertahanan udara global.
Selama puluhan tahun, misi intersepsi udara terhadap ancaman asimetris selalu dibebankan pada sistem pertahanan udara berbasis darat (surface-to-air missile) yang mahal atau jet tempur berawak yang berisiko tinggi. Namun, keberhasilan drone kelas High-Altitude Long-Endurance (HALE) seperti Akıncı dalam mengemban peran hunter-killer otonom ini membuktikan lahirnya taktik baru, yakni pembentukan kubah pertahanan udara bergerak (mobile counter-UAS bubble).
Kunci utama dari kesuksesan duel udara-ke-udara mandiri ini terletak pada jenis amunisi taktis unik yang dilepaskan Akinci, yaitu Roketsan Eren, yang menjembatani batasan teknologi antara amunisi pendarat (loitering munition) dan rudal udara-ke-udara konvensional.
Keberhasilan operasional di Sudan ini sebenarnya merupakan pembuktian instan dari serangkaian uji coba komparatif yang belum lama berselang. Pada 21 Februari 2026, pabrikan Baykar bersama perusahaan rudal Roketsan melakukan uji coba penembakan perdana Eren dari pylon senjata Bayraktar Akıncı di atas kawasan Sinop, Laut Hitam.

Dalam pengujian berskala strategis tersebut, Eren yang dilepaskan dari ketinggian operasional Akıncı sukses meluncur cepat dan mencatatkan air-to-air kill pertamanya di dunia dengan menghantam langsung drone target tiruan yang merepresentasikan karakteristik target berkecepatan rendah layaknya drone kamikaze seri Shahed-136/Geran-2.
Keberhasilan uji coba integrasi radar Active Electronically Scanned Array (AESA) MURAD buatan Aselsan dengan hulu ledak Eren di Laut Hitam tersebut kini direplikasi secara sempurna di medan perang riil Sudan untuk merontokkan infiltrasi proksi udara asing tanpa perlu menguras stok rudal pertahanan udara reguler milik pemerintah Khartoum.
EXCLUSIVE: Sudan’s Army shot down an enemy combat drone using a Bayraktar Akıncı UCAV earlier today.
The SAF Bayraktar Akıncı drone fired an air-to-air missile, destroying the target. pic.twitter.com/HPti7fUGJU
— Clash Report (@clashreport) May 23, 2026
Ditinjau dari spesifikasi teknis dan desain arsitekturnya, Roketsan Eren memiliki bobot yang relatif ringan di angka 35 kilogram dengan panjang sekitar 2 meter, Eren ditenagai oleh mesin mikro-turbojet TEI TJ90U yang mampu menyemburkan gaya dorong hingga 400 Newton. Penggunaan mesin turbojet, alih-alih baling-baling konvensional yang jamak ditemukan pada drone bunuh diri biasa, sengaja dipilih oleh Roketsan untuk memprioritaskan kecepatan respons tinggi, akselerasi vertikal, serta memangkas lini waktu rantai bunuh (kill chain timeline).
🔺BIG BREAKING:
A Sudanese Akinci UCAV shot down a Rafale, most likely a UAE’s Rafale.Last year, Pakistan also shot down 4 Indian Rafales. pic.twitter.com/0AUOEiMXtR
— Tactical Tribune (@TacticalTribun) May 23, 2026
If the aircraft with the two massive engine heat signatures that the Akıncı shot down with a Turkish missile turn out to be the UAE’s Rafale, it will be a massive shockwaves around the world https://t.co/qICwKJBrYB pic.twitter.com/bgQVIWEOPT
— TR_tech (@T_Nblty) May 23, 2026
Dengan konfigurasi ini, Eren mampu menjangkau radius operasi melampaui 100 kilometer dengan kemampuan mengorbit taktis (endurance) selama lebih dari 15 menit di area sasaran. Berkat dimensi fisiknya yang ringkas, satu unit Bayraktar Akıncı yang memiliki delapan titik gantungan senjata (hardpoint) luar dapat mengusung beberapa unit Eren sekaligus, memberikan kapasitas magasin pertahanan udara yang sangat tebal dalam sekali terbang patroli.
Aspek paling mutakhir dari Eren terletak pada fleksibilitas sistem pemanduannya yang berbasis kecerdasan buatan (AI-supported target recognition). Jantung penginderaannya mengombinasikan sistem navigasi inersia satelit (GNSS/INS) untuk fase jelajah tengah, dengan pencari sensor inframerah pencitraan (Imaging Infrared / IIR) pada fase terminal guna mengunci jejak emisi panas target secara absolut.
Ah yes, Chinese drones famously using Pratt and Whitney engines.
Nice one Clash Report.
Usually they do pretty good coverage but they often sneak in little disses like these, letting you know their political alignments and who they’re backed by. https://t.co/ddTKcCtNSO pic.twitter.com/nk2hD0XmLv
— Brutal Truth Bombs (@FORTRESSMAXXING) May 23, 2026
Karakteristik sensor IIR inilah yang memungkinkannya mengabaikan sistem pengelabu (flare) musuh dan tetap mempertahankan lintasan tabrakan langsung (direct hit) pada target bergerak di udara. Hebatnya lagi, Eren mengadopsi mekanisme kendali human-in-the-loop, yang berarti operator manusia di stasiun darat memegang kendali penuh untuk membatalkan misi (abort mission), mengalihkan rute terbang, hingga memerintahkan serangan ulang (re-attack) secara dinamis apabila situasi taktis di ruang udara berubah secara mendadak, menjadikannya senjata pemburu multiperan yang super efisien dengan biaya per rontokan (cost-per-kill) yang jauh di bawah rudal jet konvensional. (Gilang Perdana)
Drone Tempur Stealth Anka-3 Luncurkan “Tolun”, Bom Berpemandu GPS/INS


