Ilusi Keamanan Intelijen: Mengapa Pengguna Pegasus Sebenarnya Berada di Bawah Kendali Israel

Di tengah pusaran isu penyadapan telepon seluler pejabat tinggi yang mencuat di ruang publik, nama perangkat lunak spionase siber (spyware) Pegasus kembali menjadi sorotan tajam para pengamat keamanan. Dikembangkan oleh perusahaan teknologi asal Israel, NSO Group, Pegasus dipuja sebagai mahakarya intelijen digital modern yang menawarkan kapabilitas mengerikan.

Baca juga: Meledak Massal, Ini Kemungkinan Modus ‘Sabotase’ pada Ribuan Pager di Lebanon

Kehebatan utamanya bertumpu pada eksploitasi celah keamanan zero-day—yakni kelemahan sistem operasi ponsel (baik iOS maupun Android) yang belum diketahui oleh pembuat perangkat lunak sehingga belum memiliki tambalan keamanan (patch). Celah ini kemudian disusupi menggunakan metode infeksi zero-click, di mana peretasan terjadi secara otomatis dan senyap tanpa memerlukan interaksi atau tindakan mengklik tautan apa pun dari korban.

Memanfaatkan perpaduan celah dan metode canggih ini, Pegasus mampu mengekstrak data secara total—mulai dari penyadapan komunikasi terenkripsi, perekaman suara, hingga pelacakan lokasi secara real-time—yang membuat lembaga penegak hukum dan intelijen negara-negara di dunia berlomba-lomba membelinya demi kepentingan penanggulangan terorisme dan kejahatan transnasional.

Namun, di balik kehebatan teknologi spionase yang luar biasa tersebut, tersimpan sebuah kerentanan struktural yang jarang disorot, yakni fenomena ketergantungan intelijen mutlak kepada pihak pengembang. Sebagai perangkat lunak komersial, Pegasus bukanlah aplikasi mandiri (standalone application) yang kendali servernya dipegang penuh oleh pembeli.

Cina Bangun Pangkalan Mata-mata (SIGINT) di Kuba, Hanya Berjarak 160 Km dari Florida

Server pengendali utama (Command and Control Servers) serta kunci enkripsi inti (master key) dari sistem spionase tersebut ternyata tetap berada dalam kendali ekosistem yang terafiliasi dengan NSO Group, bahkan terikat ketat dengan regulasi geopolitik Kementerian Pertahanan Israel. Akibatnya, negara atau lembaga pengguna yang menggelontorkan dana jutaan dolar sebenarnya tidak memiliki kedaulatan data penuh atas sistem yang mereka operasikan.

Kenyataan pahit ini menempatkan pengguna dalam posisi yang sangat rentan. Serapat apa pun suatu negara atau instansi menjaga kerahasiaan operasi penyadapannya, pada akhirnya “kunci Inggris” atau kendali administratif tertinggi atas seluruh informasi dan data intelijen tersebut tetap berada di tangan pembuatnya di luar negeri.

Proyek Larkswood: Tanpa Komunikasi Mandiri, Kedaulatan Negara Jadi Taruhan

Dalam skenario terburuk, risiko adanya tombol pemutus jarak jauh (remote kill switch) atau potensi pembocoran balik arus data oleh pihak pengembang sewaktu-waktu dapat diaktifkan apabila terjadi pergeseran kepentingan geopolitik. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan senjata siber komersial buatan asing merupakan pisau bermata dua yang perlahan-lahan mengikis kemandirian dan kedaulatan siber sebuah negara. (Gilang Perdana)

Jaga Hubungan dengan Rusia, Israel Embargo Penjualan Pegasus Spyware ke Ukraina dan Estonia

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *