Valhalla Turrets Rilis Skythunder Varian Ekonomis: Kombinasi Kanon M197 20mm dan Roket APKWS

Perusahaan pertahanan asal Slovenia, Valhalla Turrets, memperluas portofolio lini sistem pertahanan udara (hanud) modular anti-drone (Counter-Unmanned Aerial Systems/C-UAS) dengan memperkenalkan varian alternatif dari Skythunder yang dirancang dengan konfigurasi lebih sederhana dan berbiaya lebih rendah (lower-cost variant).
Baca juga: Hancurkan Drone Kamikaze, Beretta Luncurkan LIVET: Sistem Kubah Otomatis Berbasis Shotgun
Kehadiran varian baru ini melengkapi prototipe awal Skythunder yang sebelumnya diuji dalam konfigurasi muatan penuh yang jauh lebih kompleks, sekaligus menegaskan fleksibilitas modular dari desain menara senjata buatan pabrikan Slovenia tersebut.
Sebagai perbandingan, prototipe awal Skythunder sebelumnya tampil dengan persenjataan yang sangat berat dan kompleks—mengusung kanon rantai 30×173 mm yang mampu menembakkan amunisi airburst, roket kendali APKWS, menara tambahan RCWS MIDGARD 134 dengan senapan mesin gatling di bagian atas, serta empat unit radar kecil yang terpasang di dasar turet untuk deteksi jarak jauh.
Namun, menyadari bahwa komponen pelengkap seperti senjata beramunisi airburst dan stasiun senjata kendali jarak jauh (RCWS) tambahan menyumbang persentase besar pada total biaya satuan, Valhalla Turrets merancang opsi alternatif yang lebih ringan ini bagi para pelanggan yang mencari sistem pertahanan udara dengan anggaran lebih efisien.
𝗦𝗞𝗬𝗧𝗛𝗨𝗡𝗗𝗘𝗥 𝟯𝟬𝟬.
One of the 17 Valhalla Turrets systems showcased across Eurosatory 2026. https://t.co/tkpKwYh2Rz— VALHALLA TURRETS (@ValhallaTurrets) June 16, 2026
Dalam konfigurasi baru yang lebih ekonomis, Skythunder dipersenjatai dengan kanon rotari M197 20 mm—senjata organik tiga laras yang sangat populer dan umum digunakan pada helikopter serang serta jet tempur ringan—yang dipadualkan dengan empat peluncur roket berpemandu laser APKWS (Advanced Precision Kill Weapon System).
Dari spesifikasi teknis, kanon M197 berkaliber 20×102 mm buatan General Dynamics ini memiliki bobot yang relatif ringan sekitar 60 kg dengan bobot pengoperasian penuh sekitar 66 kg. Kanon rotari ini sanggup memuntahkan amunisi dengan rate of fire fleksibel hingga 1.500 peluru per menit (atau dapat disesuaikan pada opsi 730 peluru per menit) serta kecepatan luncur proyektil awal (muzzle velocity) mencapai 1.030 meter per detik.
Vulcan M197 – Kanon Internal FA-50 Fighting Eagle, Afdol Buat Dogfight dan Close Air Support
Untuk jarak tembak efektifnya terhadap target udara maupun darat berada pada kisaran 1.500 hingga 2.000 meter (dengan jangkauan maksimum mencapai sekitar 3.000–4.000 meter tergantung kondisi geometris penembakan), serta mampu menggunakan beragam jenis amunisi standar NATO seperti amunisi penembus lapis baja (Armor-Piercing Incendiary/API), amunisi hulu ledak tinggi (High-Explosive Incendiary/HEI), hingga amunisi latihan (TP).
Meskipun menawarkan keunggulan pemangkasan biaya operasional dan fleksibilitas integrasi senjata yang akomodatif terhadap preferensi logistik pengguna, pilihan kanon rotari 20 mm ini turut memunculkan catatan tersendiri di kalangan analis militer. Kritikus mencatat bahwa kanon rotari berkaliber 20 mm yang mengandalkan perkenaan langsung (direct hits) memiliki batasan amplop operasional dan efektivitas praktis yang patut dipertanyakan dalam misi C-UAS murni, terutama bila dibandingkan dengan amunisi berdaya ledak pintar.
Selain itu, sistem kanon rotari umumnya memiliki kapasitas pasokan amunisi yang jauh lebih terbatas jika disandingkan dengan senapan mesin berkaliber 12,7 mm atau gatling gun ringan.
Kendati demikian, tantangan efektivitas tersebut dapat diatasi melalui beberapa pendekatan taktis, seperti penggunaan amunisi fragmentasi berwaktu tetap (fixed-time fragmentation ammunition)—serupa yang diaplikasikan MKE pada sistem TOLGA—tanpa memerlukan modifikasi mekanis pada senjatanya, atau bahkan membuka peluang adopsi jenis senjata lain di masa depan seperti yang pernah dialami oleh sistem pertahanan udara BURC buatan Roketsan.
Terlepas dari perdebatan mengenai efektivitas balistiknya terhadap ancaman drone mikro, peluncuran varian ekonomis Skythunder berkanon M197 ini tetap memperlihatkan keunggulan modularitas yang tinggi dari Valhalla Turrets. Kemampuan sistem ini dalam mengakomodasi berbagai konfigurasi senjata yang berbeda memberikan keleluasaan bagi militer global untuk menyesuaikan kapabilitas pertahanan udara mereka berdasarkan skala prioritas anggaran, doktrin tempur, serta kesiapan logistik di lapangan. (Gilang Perdana)


