Eksperimen Unik LVTEX-3: Ketika Lambung Amfibi LVTP-7 (AAV) Dikawinkan dengan Meriam Tank 105mm

Di tengah keberadaan kendaraan tempur (ranpur) amfibi AAV7-A1 (LVTP-7) yang baru saja bertambah di arsenal kavaleri Korps Marinir TNI AL, dunia alutsista ternyata menyimpan kisah unik tentang versi eksperimental dari ranpur legendaris ini. Pada akhir era 1960-an hingga awal 1970-an, Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) pernah merancang sebuah prototipe yang sangat tidak biasa bernama LVTEX-3.

Baca juga: Perkuat Operasi Amfibi, 12 Unit Ranpur AAV Gelombang Pertama Eks USMC Resmi Tiba di Tanah Air

Kendaraan hibrida ini mengawinkan lambung dasar pengangkut personel amfibi LVTP-7 dengan kubah meriam (turret) milik tank ringan M551 Sheridan, melahirkan sebuah “tank amfibi” raksasa yang belum pernah ada sebelumnya.

Sebagai proyek pendukung bantuan tembakan amfibi (amphibious support vehicle), LVTEX-3 tercatat hanya pernah dibuat sebanyak satu unit saja di dunia. Konsepnya terbilang sangat radikal pada zamannya, alih-alih hanya berfungsi sebagai pengangkut pasukan yang mengandalkan senapan mesin berat, LVTEX-3 disuntikkan daya gempur kelas berat berupa meriam utama berkaliber 105mm M68 berlaras rifled.

M68 merupakan meriam tank standar yang sangat sukses pada eranya—turunan dari meriam legendaris Royal Ordnance L7 buatan Inggris—yang juga menjadi senjata utama tank-tank tempur utama (Main Battle Tank) ternama seperti M60 Patton dan generasi awal M1 Abrams. Memiliki panjang laras hingga 5,5 meter dan bobot mekanisme senjata mencapai 1,1 hingga 1,2 ton, meriam ini sanggup memuntahkan berbagai amunisi mematikan seperti APFSDS, HEAT, hingga HESH dengan jangkauan tembak efektif hingga ribuan meter.

Pemasangan kubah M551 Sheridan beserta sistem persenjataan meriam 105mm M68 ini secara drastis mengubah profil dan bobot ranpur. Pemasangan kubah baja beserta meriam kaliber besar M68—ditambah mekanisme tolak balik (recoil system), sistem pemandu tembak, serta amunisi berat 105mm di dalam kompartemen—menambah beban tambahan sekitar 2 hingga 3 ton di atas lambung LVTP-7.

Meskipun penambahan beban ini menaikkan total bobot tempur kendaraan dari standar awal sekitar 22,8 ton, platform LVTP-7 yang bongsor dan bermesin tangguh dinilai masih sanggup menopang beban ekstra tersebut tanpa kehilangan kemampuan mengapung dan berenang di laut secara signifikan.

Integrasi meriam kaliber besar ini awalnya dirancang khusus untuk menghantam posisi pertahanan pantai musuh serta memberikan bantuan tembakan langsung secara masif saat gelombang pendaratan marinir berlangsung. Meski proyek LVTEX-3 akhirnya dihentikan pada tingkat purwarupa akibat pertimbangan teknis dan pergeseran doktrin tempur USMC, keberadaannya tetap menjadi catatan sejarah yang sangat menarik.

Bagi publik pertahanan di Tanah Air, melihat bagaimana platform LVTP-7 yang familier di lingkungan Korps Marinir pernah disulap menjadi kendaraan pemukul berkekuatan meriam 105mm menyajikan sebuah wawasan historis yang unik—menjelaskan bagaimana inovasi alutsista amfibi terus berkembang melalui berbagai eksperimen berani di masa lalu. (Haryo Adjie)

Kans Marinir Tambah Armada AAV7-A1 Eks USMC: Bagaimana Komparasi Spesifikasi dengan LVTP-7?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *