Ternyata! Italia Pernah Rancang Kapal Induk ITS Garibaldi Jadi Peluncur Satelit Terapung

Keputusan Angkatan Laut Italia untuk memensiunkan kapal induk pengangkut STOVL ITS Giuseppe Garibaldi (551) sempat melahirkan gagasan antariksa-militer yang sangat ambisius. Melalui proyek bernama SIMONA (Sistema Italiano di Messa in Orbita da Nave da Difesa), Badan Antariksa Italia (ASI) berkolaborasi dengan militer untuk mengkaji alih fungsi ITS Garibaldi menjadi platform peluncuran roket satelit lepas pantai (offshore space launch platform).
Langkah strategis ini dirancang demi memberikan akses mandiri bagi Italia ke orbit Bumi rendah (Low Earth Orbit / LEO) tanpa harus bergantung pada pangkalan antariksa milik negara asing.
Penggunaan platform maritim bergerak berbasis kapal perang menawarkan fleksibilitas yang sangat tinggi. Dengan memanfaatkan daya jelajah ITS Garibaldi yang disokong mesin turbin gas COGAG Fiat/GE LM2500, kapal dapat berlayar menuju wilayah perairan dekat garis khatulistiwa.
Peluncuran roket dari kawasan ekuator secara teknis memberikan keuntungan dorongan kecepatan rotasi Bumi maksimum, yang secara signifikan menghemat penggunaan bahan bakar roket sekaligus mengoptimalkan daya angkut muatan satelit ke orbit.

Secara rekayasa struktur, mengonversi kapal induk seberat 14.000 ton ini menyajikan tantangan teknis yang unik. Berbeda dengan lepas landasnya jet tempur AV-8B Harrier II+, pelepasan roket antariksa menghasilkan daya dorong vertikal masif dan suhu buang (thermal exhaust) yang sangat tinggi.
Untuk mengatasinya, tim teknis mengonsepkan modifikasi pada area geladak penerbangan (flight deck) melalui penambahan sistem Flame Deflector khusus berpendingin air serta penguatan struktur pelat baja decking guna menahan getaran frekuensi tinggi. Sementara itu, ruang hanggar bawah geladak diproyeksikan beralih fungsi menjadi fasilitas steril (cleanroom environment) untuk integrasi dan pengujian satelit.
Pertama di Dunia, Cina Luncurkan Roket Pembawa Satelit dari Tengah Laut
Konsep peluncuran satelit berbasis platform laut ini sebenarnya memiliki kemiripan dengan metode operasional yang telah sukses dipraktikkan oleh Cina. Negeri Tirai Bambu tercatat secara rutin meluncurkan roket bahan bakar padat seperti seri Long March 11 dari platform kapal di lautan terbuka demi mengamankan fleksibilitas orbit sekaligus menghindari risiko jatuhnya sisa pendorong roket di pemukiman darat.
Bedanya, jika Cina mengoperasikan kapal tongkang khusus bergeladak datar, Italia mencoba terobosan yang lebih efisien dengan memanfaatkan masa pensiun armada kapal induk militer yang sudah ada.
Melihat kalkulasi teknis dan geografis tersebut, potensi penerapan peluncuran antariksa maritim di Indonesia sebenarnya sangat terbuka lebar. Sebagai negara kepulauan yang dilintasi garis khatulistiwa, Indonesia memiliki posisi paling ideal di dunia untuk penempatan Bandar Antariksa, seperti rencana lokasi di Biak, Papua.
Cina Luncurkan Roket Pembawa Tiga Satelit dari Platfom Kapal Kontainer di Tengah Laut
Namun, alih-alih membangun instalasi stasioner di darat yang memakan investasi besar serta menyedot lahan, penggunaan platform kapal laut—baik berupa kapal komersial bergeladak lapang yang dimodifikasi maupun kapal pendukung TNI AL—bisa menjadi opsi taktis.
Selain memangkas waktu dan infrastruktur darat, peluncuran dari lautan lepas perairan Indonesia dapat meminimalkan risiko bahaya puing roket terhadap zona pemukiman serta memberi fleksibilitas tinggi bagi pemutakhiran satelit pengintai (reconnaissance) TNI dalam mendukung ketahanan nasional. (Gilang Perdana)
Bukan Cuma AS yang Bisa, Cina Sukses Luncurkan Roket Reusable Long March-10B Besutan CALT


