Profil JS Kunisaki (LST-4003): Kapal Angkut Amfibi Jepang yang Dikirim Bantu Penanggulangan Kebakaran Hutan Kalimantan

Pemerintah Jepang resmi mengerahkan armada Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) dalam misi bantuan kemanusiaan menuju Indonesia untuk menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat di Kalimantan. Atas permintaan resmi Pemerintah Republik Indonesia, Kementerian Pertahanan Jepang mengerahkan kapal angkut amfibi JS Kunisaki (LST-4003) milik Angkatan Laut Jepang (JMSDF).
Baca juga: JS Osumi: ‘Pesaing’ Mistral Class dalam Multilateral Naval Exercise Komodo 2018
Kapal perang ini berlayar membawa tiga unit helikopter angkut berat CH-47 Chinook milik Angkatan Darat Jepang (JGSDF) yang diproyeksikan untuk mendukung operasi pemadaman udara (water bombing) serta distribusi logistik darurat ke area-area terisolasi.
JS Kunisaki merupakan kapal ketiga dari Osumi class Landing Ship Tank (LST), sebuah kelas kapal amfibi bermodel dek penerbangan lurus (flat-deck) yang menandai transformasi doktrin proyeksi kekuatan logistik JMSDF. Dibangun oleh galangan kapal Hitachi Zosen Corporation di Maizuru, JS Kunisaki diluncurkan pada Desember 2001 dan resmi masuk dinas aktif JMSDF pada Februari 2003.
Memiliki bobot standar 8.900 ton serta bobot muatan penuh (full displacement) menembus 14.000 ton, JS Kunisaki memiliki panjang 178 meter dan lebar 25,8 meter. Ditenagai dua mesin diesel Mitsui 16V42M-A dengan total daya 26.000 tenaga kuda, JS Kunisaki mampu dipacu hingga kecepatan maksimum 22 knot.
In response to the severe forest fire damage in Indonesia’s Kalimantan, at the request of the Government of the Republic of Indonesia, Japan has decided to support firefighting operations with JSDF helicopters as part of international disaster relief activities. pic.twitter.com/oFmcnorBCm
— Japan Ministry of Defense/Self-Defense Forces (@ModJapan_en) August 28, 2026
Desain JS Kunisaki dirancang unik karena menggabungkan fitur kapal angkut Landing Ship Tank (LST) konvensional dengan konsep Landing Platform Dock (LPD) modern. Kapal ini dibekali dek kendaraan (vehicle deck) yang sangat luas serta well deck di bagian buritan yang mampu menampung dua unit wahana pendarat berban udara LCAC (Landing Craft Air Cushion).
Keberadaan LCAC memungkinkan JS Kunisaki mendaratkan kendaraan tempur, truk logistik, maupun alat berat langsung ke bibir pantai. Selain itu, dek penerbangan utamanya yang lapang mampu memfasilitasi lepas landas dan pendaratan simultan helikopter angkut berat kelas CH-47 Chinook maupun helikopter sedang angkut personel.
Dalam sejarah penggelarannya, JS Kunisaki memiliki rekam jejak yang aktif dalam berbagai operasi militer selain perang (Military Operations Other Than War/MOOTW), khususnya misi tanggap bencana internasional (International Disaster Relief). Kapal ini pernah diterjunkan dalam operasi bantuan kemanusiaan pascabencana tsunami Aceh pada tahun 2005, misi penanggulangan Badai Haiyan di Filipina pada tahun 2013, serta operasi penanganan gempa bumi dan tsunami Great East Japan pada tahun 2011. Kemampuan medisnya juga tergolong tangguh karena dilengkapi fasilitas rumah sakit darurat di dalam pukat kapal yang mencakup ruang operasi, ruang perawatan intensif, dan fasilitas sterilisasi.
Pengiriman JS Kunisaki yang mengangkut tiga helikopter CH-47 Chinook ke Kalimantan menegaskan fleksibilitas strategi kapal perang amfibi Osumi class. Karakteristik CH-47 Chinook yang sanggup membawa kantong air (bambi bucket) berkapasitas ribuan liter menjadikannya aset vital untuk menjangkau titik api (hotspot) di tengah pedalaman hutan Kalimantan yang tak terakses jalur darat.
Bagi Indonesia dan JMSDF, penugasan ini tak hanya memperkuat ikatan diplomasi pertahanan kedua negara, tetapi juga membuktikan efektivitas JS Kunisaki sebagai platform pangkalan terapung (floating base) yang andal dalam merespons krisis bencana alam global. (Gilang Perdana)
Kapal Induk Helikopter JS kaga, Lego Jangkar di Perairan Teluk Jakarta


