Tempuh Jarak 6.000 Km, Jet Tempur Shenyang J-16 Cina untuk Pertama Kalinya Sambangi Afrika

Angkatan Udara Cina (PLAAF) menjajal manuver taktis berskala transkontinental dengan menggelar armada jet tempur Shenyang J-16 ke benua Afrika untuk pertama kalinya. Dalam ajang latihan militer gabungan bertajuk Eagles of Civilisation 2026 di Mesir (19 – 28 Agustus 2026), flight jet tempur J-16 menempuh rute penerbangan jarak jauh sejauh 3.700 mil (sekitar 5.954 kilometer) dari pangkalan utamanya di Cina menuju Mesir.

Baca juga: Daratkan KJ-500 dan Jet Tempur J-16 di Karachi, Pergerakan Militer Cina-Turki di Pakistan Bikin India Waswas

Penerbangan dengan total durasi sekitar sembilan jam tersebut disokong oleh transit teknis logistik serta pengisian bahan bakar di udara (mid-air refuelling) secara presisi, menegaskan peningkatan dramatis kemampuan power projection armada udara Beijing.

Penyebaran kekuatan ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan partisipasi Cina pada latihan gabungan tahun lalu di Mesir yang hanya melibatkan jet tempur mesin tunggal yang lebih ringan, Chengdu J-10C. Pada skenario Eagles of Civilisation 2026, PLAAF tidak hanya mengirimkan J-16, tetapi juga menerjunkan paket kekuatan udara yang komprehensif, mencakup pesawat pengisi bahan bakar udara YY-20A, platform penerbangan misi khusus, hingga helikopter tempur.

Rekaman video resmi memperlihatkan jet tanker YY-20A secara simultan melakukan in-flight refuelling kepada dua jet tempur J-16 sekaligus di tengah penggelaran kekuatan lintas benua tersebut. Penggelaran latihan yang berfokus pada taktik pertempuran udara dan perebutan superioritas udara (air superiority) ini menguji kemampuan doktrin operasi gabungan jarak jauh dari basis utama.

Deployment ke Afrika ini menjadi kelanjutan logis dari tren ekspansi operasional PLAAF di luar negeri. Seperti halnya pergerakan militer Cina saat mendaratkan pesawat AEW&C KJ-500 dan jet tempur J-16 di Karachi, Pakistan, manuver menuju Mesir ini membuktikan bahwa J-16 — yang biasanya diandalkan untuk patroli strategis di Selat Taiwan dan Laut Cina Selatan — kini dipersiapkan secara sistematis untuk operasi jarak jauh (out-of-area operations) dengan dukungan jaringan pangkalan ramah di sepanjang rute penerbangan.

Menurut pakar militer Song Zhongping, transisi ini menguji secara nyata kesiapan fisik pilot, keandalan teknis airframe, serta logistik tempur saat beroperasi di ruang udara asing yang jauh dari dukungan infrastruktur domestik.

Keberhasilan penerbangan transkontinental sejauh 6.000 km ini menggarisbawahi fokus strategis Cina dalam membangun infrastruktur logistik dan pengisian bahan bakar udara yang solid. Seiring berkembangnya kepentingan ekonomi dan diplomatik Beijing di kancah global, kehadiran alutsista utama seperti J-16 dan YY-20A di wilayah Timur Tengah dan Afrika memberikan sinyal kuat bahwa kapasitas militer Cina kini mampu menjangkau dan mengamankan jalur kepentingan nasionalnya di mana pun di dunia. (Bayu Pamungkas)

Dominasi Mutlak di Udara: Shenyang J-16 Tumbangkan 51 Jet Tempur dalam Latihan Bersama Shaheen-VIII 2019

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *