Gantikan SM-2 AS, Korea Selatan Pasang Rudal Hanud Buatan Dalam Negeri KSAM-II di Kapal Perang

Angkatan Laut Korea Selatan (ROK Navy) bersiap melakukan lompatan besar dalam kemandirian teknologi pertahanan maritimnya. Persisnya, Seoul akan memensiunkan secara bertahap rudal pencegat pertahanan udara (hanud) buatan Amerika Serikat, Standard Missile-2 (SM-2), dan menggantikannya dengan rudal pertahanan udara buatan dalam negeri yang diklaim lebih superior, yakni Korean Ship-to-Air Missile-II (KSAM-II).
Baca juga: Indonesia Resmi Terbitkan LOI Beli Rudal Hanud Cheongung II (MSAM-II) Korea Selatan
Rudal yang juga dikenal sebagai varian maritim dari sistem Cheongung-II (KM-SAM II) ini dikembangkan oleh raksasa manufaktur pertahanan Korea Selatan, LIG Nex1, dan diproyeksikan menjadi perisai udara utama pada armada perusak generasi baru KDDX class sebelum nantinya diintegrasikan ke kelas perusak lainnya seperti kapal perusak Sejong the Great class.
Langkah pengantian ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang industri pertahanan Korea Selatan untuk membebas-tugaskan alutsista impor dan menggantikannya dengan platform buatan lokal yang secara kapabilitas jauh lebih modern.
Selama berdekade-dekade, SM-2 telah menjadi tumpuan pertahanan udara jarak menengah Angkatan Laut Korea Selatan. Namun, munculnya ancaman modern berupa rudal jelajah canggih, kawanan drone (drone swarms), dan potensi serangan jenuh (saturation attack) menuntut hadirnya sistem pencegat generasi baru.
Pengalaman sukses Korea Selatan mengembangkan rudal jelajah serial Hyunmoo—yang membuat mereka tak lagi bergantung pada rudal Tomahawk AS—menjadi bukti sahih bahwa kemandirian sistem persenjataan maritim mampu diwujudkan dengan sangat matang.
#NEWS | 🇰🇷 — South Korea Begins Prototype Assembly of KSAM-II Naval Missile
South Korea has started assembling the first prototype KSAM-II naval surface-to-air missiles, a domestically developed long-range interceptor intended to replace the U.S.-made SM-2.
Developed by LIG… pic.twitter.com/AVjmvHzPF0
— The Global Eye (@TGEThGlobalEye) July 29, 2026
Prestasi pertahanan udara Korea Selatan ini makin berkibar berkat predikat battle-proven yang diraih oleh versi darat dari sistem Cheongung-II (KM-SAM II). Sistem hanud ini telah mencatatkan kesuksesan operasional nyata di kawasan Timur Tengah setelah dioperasikan oleh Uni Emirat Arab (UEA) untuk memIntercept berbagai ancaman udara secara presisi. Keberhasilan di medan tempur nyata inilah yang memperkuat kepercayaan diri Angkatan Laut Korea Selatan untuk mempercayakan keselamatan kapal tempur permukaan mereka pada varian maritim KSAM-II.
Keberhasilan pengadaan ekspor dan performa luar biasa di ruang udara luar negeri membuktikan bahwa LIG Nex1 telah mampu memproduksi salah satu sistem pencegat paling kompleks di dunia secara mandiri.
Rudal KSAM-II mengusung lompatan teknologi yang sangat signifikan dibandingkan SM-2 generasi lama. Rudal ini dibekali pencari (seeker) berbasis semikonduktor Gallium Nitride (GaN) yang memberikan daya pancar radar lebih tinggi, efisiensi termal superior, serta ketahanan tinggi terhadap paparan panas ekstrem. Komponen GaN memungkinkan pencari berukuran ringkas pada moncong rudal memiliki jangkauan deteksi mendalam untuk mengunci sasaran yang sulit seperti rudal jelajah terbang rendah (sea-skimming) dan ancaman bermanuver ekstrem.
Rudal ini sanggup meluncur hingga kecepatan hipersonik melebihi Mach 4,5, dengan daya jangkau operasional diperkirakan mencapai 40 hingga 50 kilometer serta mampu mencegat target pada ketinggian hingga 15–20 kilometer mengandalkan teknologi hit-to-kill dan hulu ledak directional blast-fragmentation.
Pengintegrasian rudal pertahanan udara berbasis darat ke dalam platform kapal perang menyajikan tantangan teknis yang sangat kompleks, terutama terkait modul peluncuran. Untuk mengakomodasi peluncuran dari geladak kapal, rudal KSAM-II telah disesuaikan agar kompatibel dengan sistem peluncur tegak buatan lokal, yakni K-VLS (Korean Vertical Launching System), khususnya varian K-VLS II yang memiliki sel peluncur berukuran lebih besar dan mampu menahan dorongan gas buang (exhaust plume) bertekanan tinggi.
Penyesuaian modul VLS ini mencakup integrasi sistem peluncuran dingin (cold launch) atau penyesuaian canister hot launch yang kedap korosi lingkungan laut, serta sinkronisasi penuh dengan perangkat lunak Combat Management System (CMS) dan radar AESA multifungsi pada kapal perang untuk menjamin operasional pertahanan udara yang instan dan handal di laut lepas. (Bayu Pamungkas)
Korea Selatan Luncurkan Rudal Anti Kapal Supersonik, Desainnya Mirip Yakhont


