Beli Lisensi Rudal SCALP dan Aster 30, Ukraina Resmi Borong 16 Jet Tempur Rafale dari Perancis

Hubungan militer antara Paris dan Kiev memasuki babak baru, pada Senin, 13 Juli 2026, Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky resmi menandatangani dokumen peta jalan (road map) pengadaan alutsista strategis di Paris.

Baca juga: Demi Ukraina, Perancis Rela Dongkrak Produksi CAESAR 6×6 Hingga Enam Kali Lipat per Bulan

Dalam kesepakatan besar tersebut, Ukraina dipastikan akan mengakuisisi 16 jet tempur Dassault Rafale beserta paket persenjataannya, dengan target pengiriman perdana untuk mengangkasa di langit Ukraina mulai tahun 2028 hingga 2029 mendatang.

Langkah konkret ini merupakan kelanjutan dari “pernyataan kehendak” (declaration of intention) yang sebelumnya telah ditandatangani kedua pemimpin pada November tahun lalu, yang memproyeksikan rencana jangka panjang Ukraina untuk memboyong hingga 100 unit jet tempur Rafale guna merombak total armada udara mereka dari bayang-bayang doktrin Soviet.

Selain armada jet tempur generasi 4.5 tersebut, kesepakatan tak kalah krusial juga dicapai di sektor pertahanan udara (air defense) untuk membentengi wilayah Ukraina dari serangan udara Rusia yang tiada henti. Macron mengumumkan bahwa Ukraina akan dilengkapi dengan gelombang pertama sistem baterai pertahanan udara SAMP/T generasi terbaru (SAMP/T NG), melengkapi sistem hanud yang dijadwalkan tiba beserta rudal-rudalnya dalam beberapa pekan ke depan.

Pengadaan pertahanan udara ini tidak hanya mencakup unit peluncur, melainkan juga pasokan sistem radar modern serta poin penting berupa transfer teknologi. Berdasarkan perjanjian tersebut, Ukraina diberikan izin untuk melakukan produksi lokal di dalam negeri di bawah lisensi Perancis untuk beberapa senjata presisi tinggi, termasuk bom pintar AASM Hammer, rudal pertahanan udara (hanu) Aster 30, serta rudal jelajah taktis SCALP-EG.

Keputusan Ukraina untuk memproduksi rudal jelajah SCALP di dalam negeri di bawah lisensi Perancis dinilai sebagai langkah yang sangat strategis karena faktor kesiapan operasional. SCALP sendiri pada dasarnya merupakan varian Perancis dari rudal jelajah legendaris Storm Shadow yang dikembangkan bersama Inggris.

Pertama Kali, Ukraina Konfirmasi Keberadaan Rudal Jelajah SCALP-EG dari Perancis

Selama jalannya konflik dengan Rusia, Angkatan Udara Ukraina telah memiliki rekam jejak operasional yang sangat kaya dan berpengalaman dalam menggunakan rudal jelajah siluman berdaya jangkau jauh ini. Ukraina sukses memodifikasi armada pengebom taktis era Soviet, Sukhoi Su-24 Fencer, agar mampu menggotong dan meluncurkan SCALP maupun Storm Shadow untuk menghancurkan berbagai target bernilai tinggi milik Rusia, seperti pusat komando, jembatan strategis, hingga kapal perang di Laut Hitam.

Penguasaan taktis tersebut membuat proses adaptasi Ukraina saat nantinya mengoperasikan Rafale—yang merupakan platform asli pembawa rudal SCALP—akan berjalan jauh lebih cepat dan mematikan tanpa perlu melewati kurva pembelajaran yang panjang dari nol.

Di luar urusan pasokan perangkat keras militer dan lisensi senjata, KTT koalisi pertahanan di Paris ini juga menelurkan keputusan strategis terkait pengerahan pasukan multinasional pasca konflik. Presiden Macron menegaskan bahwa pasukan multinasional yang disiapkan untuk dikirim ke Ukraina setelah gencatan senjata atau perang mereda akan mulai menggelar latihan bersama di negara-negara tetangga dalam beberapa bulan mendatang. (Bayu Pamungkas)

Singapura Umumkan Status Kesiapan Operasional Penuh Sistem Hanud Aster 30 SAMP/T

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *