Inilah Dilema Pengadaan Jet Tempur: Acquisition Cost Vs Life Cycle Cost
Proses pembelian jet tempur memang kerap menimbulkan efek tarik ulur yang panjang, terlebih jika yang jadi pembeli adalah negara dengan budget pertahanan serba ngepas dengan seabreg permintaan. Sekalipun punya budget cukup, mengingat banyak faktor yang saling terkait, pengadaan jet tempur kerap memakan waktu lama. Indonesia membutuhkan waktu hampir dua tahunan untuk akhirnya memutuskan memilih Sukhoi Su-35 Super Flanker sebagai pengganti jet tempur F-5 E/F Tiger II. Pun sudah diputuskan, menuju proses deal hingga penandatanganan kontrak pembelian juga butuh waktu.
Baca juga: Menerawang Plus Minus Sukhoi Su-35 Super Flanker Untuk TNI AU
Potret pengadaan Sukhoi Su-35 Super Flanker Indonesia masih belum seberapa, sebagai perbandingan Saab butuh waktu hingga 15 tahun sampai akhirnya berhasil menjual JAS-39 E/F Gripen ke Brazil. Nah dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi dalam proses pembelian jet tempur, faktor acquisition cost dan life cycle cost menjadi yang paling dominan, tentunya masih ada faktor lain seperti politik dan pertimbangan daya deteren dari si pesawat tersebut. Acquisition cost adalah biaya akuisisi untuk pembelian awal dari unit pesawat yang dimaksud. Sementara life cycle cost merupakan biaya yang digunakan selama siklus operasi pesawat.
Baca juga: Thrust Vectoring – Teknologi Dibalik Kelincahan Manuver Sukhoi Su-35 Super Flanker
Perbandingan antara acquisition cost dan life cycle cost yang ditawarkan pabrikan jelas beda-beda, tentu bergantung pada kandungan teknologi, komposisi material, dan elemen komponen yang digunakan. Kebanyakan kasus yang tejadi di dunia, negara dengan kocek ngepas lebih mengedepankan acquisition cost yang rendah, dan tidak terlalu fokus pada life cycle cost. Alhasil banyak operator jet tempur yang memang bisa mendatangkan jet tempur baru, tapi tak sanggup untuk menerbangkan jet tempur secara maksimal. Hal ini terjadi lantaran biaya operasional pesawat yang besar, sehingga menjadi beban dalam biaya operasional.
Terkait life cycle cost diantaranya ada A/C investment, initial provision package, maintenance dan petrol, oil & lubricants. Jika disarikan lagi, kemudian muncul istilah operational cost per hour (biaya operasi per jam). Elemen operational cost per hour inilah yang jadi pertimbangan penting dalam pengadaan je tempur. Secara teori, jet tempur dengan mesin tunggal lebih irit dan ekonomis ketimbang jet tempur mesin ganda.
Baca juga: Radar AESA – Absen di Sukhoi Su-35, Hadir di Eurofighter Typhoon dan F-16 Viper


Berikut ilustrasi harga jual jet tempur yang dirilis defense-aerospace.com dan operational cost per hour dari ketiga jet tempur yang berusaha mendapat tempat di langit Indonesia.
1. Sukhoi Su-35 Super Flanker
Estimasi harga per unit: US$45 – US$80 juta
Operational cost per hour: US$36.000 – US$40.000
2. Eurofighter Typhoon
Estimasi harga per unit: US$118,6 juta
Operational cost per hour: US$14.000
3. Saab Gripen
Estimasi harga per unit: US$68,9 juta
Operational cost per hour: US$3.000 – US$4.000
Dari paparan diatas, menarik dicermati Sukhoi Su-35 punya acquisition cost lebih rendah, namun sangat tinggi dalam biaya operasional per jam. Disamping itu, usia mesin Sukhoi juga kabarnya relatif lebih pendek. Namun, dilihat dari aspek daya deteren, Sukhoi Su-35 adalah yang paling superior, melengkapi keberadaan Sukhoi Su-27/Su-30MK2 yang sudah dimiliki TNI AU. Agak lamanya perjanjian kontrak pembelian pesawat ini diperkirakan terkait skema ToT (transfer of technology) yang belum disepakati kedua belah pihah, terlebih bila Indonesia membeli dengan sistem ngeteng.
Baca juga: PIRATE – Penjejak Target Berbasis Elektro Optik di Eurofighter Typhoon dan JAS 39 Gripen
Untuk Eurofighter Typhoon sebenarnya punya peluang besar, mengingat jet tempur ini mendapat dukungan dari PT Dirgantara Indonesia, lebih lagi skema ToT yang ditawarkan sangat jelas dan menguntungkan bagi Indonesia. Biaya operasi per jamnya juga tak setinggi Su-35, namun sayang harga jual per unit Typhoon terbilang sangat tinggi.
Sementara untuk Saab Gripen, jet tempur ini ditawarkan dengan harga yang affordable plus biaya operasional per jam juga ramah bagi negara dengan kocek ngepas seperti Indonesia. Skema ToT pun juga telah dipaparkan untuk industri dalam negeri. Tapi sayang jarak jangkau jet tempur bermesin tunggal ini kalah jauh dibanding Su-35 dan Typhoon. Dari sisi harga, Gripen sejatinya masih mampu mengambil hati pemerintah Indonesia, maka itu Saab terlihat masih bersemangat menjajakan Gripen di Indonesia, setelah sukses menjual jet ini di Thailand. (Haryo Adjie Nogo Seno)








kurasa pembelian SU 35 kurang tepat ….itu mungkin kurang cocok blm lagi jika untuk program poros maritim dimana TNI AU terlibat didalam nya ..make jet boros buat ngawasi laut ?
saya lebih usually untuk membeli pesawat gripen baik versi c/d atau yg updatenya NG. karena lebih irit bahan bakar, biar saja mesin satu, namun TOT nya lebih menjanjikan, serta belinya langsung ke perusahaannya. mudahan pesawat gripenlah yg dibeli oleh TNI AU. aminnn
Mungkin saat ini Pak Menhan lagi pusing tujuh keliling. Russian Fans Boy udah kasih “tekanan” untuk proses pengadaan Su-35, tapi disisi lain, skema ToT dengan Rusia masih belum jelas. Padahal ToT adalah amanah Undang2.
Di luar itu, kubu Lockeed Martin kabarnya juga gencar melobi Istana utk menggolkan F-16 Viper, meski untuk soal ToT yang ini juga belum jelas.
Kalau saran saya buat Pak Menhan, pilih yang jelas dan transparan saja, selain bangsa ini dapat manfaat ilmu dr ToT, juga harga yang kita beli memang harga sebenarnya dengan nilai yang pantas, tidak memicu polemik di kemudian hari. Sekian dan terima kasih.
Su35 atau yang lain tidak masalah. Yang penting konsisten teknologinya. Jangan terlalu banyak variasi pesawat…
Kabar Terakhir :
Akhirnya Pembelian Su-35 terganjal ToT 35%
Rusia baru mau kalau ada pembelian 32 unit
Dulu Brazil juga diiming imingi ToT Su-35 kalau beli 32 unit
namun Akhirnya batal, dan Gripen Pemenangnya
Ternyata belum ada deal sama sekali antar Indonesia dg Rusia
Selama ini hanya Koar Koar saja
Kemungkinan Su-35 Gugur masih sangat besar
Beli 6 aja susah apalagi disuruh beli 32 unit ???
Pukulan telak buat Sukhoi Fans Boy…hahahaha
Klo saya sih lebih prefer ke Sukhoi, mengenai operational cost yang mahal, saya yakin negara kita mampu, yang bikin mahal itu karena di mark-up, belinya via broker bukan G-to-G itu yang jadi penyakit yang gak ilang-ilang sampe skarang…
mengingat luasnya wilayah Indonesia dan skadron tempur yang terbatas,belum lagi peswat Tanker cuma tinggal 1 biji, maka pilihan mengakuisisi SU-35 adalah pilihan cerdas. Coba di lihat Indonesia timur cuma ada 1 skadron Flanker stanbay di makasar,kalo ada Hornet masuk wilayah udara merauke terus take off pesawat dari makasar emang cukup tuh bensin’nya….
Belum lagi dalam waktu dekat kita di kepung F-35 dari depan belakang…
Seandainya benar Su-35 itu cuma pesawat Rongsokan gak sehebat anggapan kita pastinya Rusia sudah jadi negara Bagian dari Uncle Sam…..
Hebat tidaknya pesawat adalah yang sudah battle proven dan sudah banyak dipakai orang lain
Sama dengan kita, kalau mau beli sesuatu pasti akan tanya dulu yang sudah pakai.
Su-35 belum pernah terjual ke negara lain
sejak tahun 2007 sampai sekarang tidak ada yang mau beli
Su-27/Su-30 masih terus diproduksi, padahal sudah ada Su-35
Justru karena Indonesia negara besar, seharusnya tiap perbatasan harus dijaga pesawat tempur yang hemat BBM, agar bisa terus berpatroli
Lebih luas Brazil daripada Luas Indonesia, Brazil memilih Gripen-NG, menyingkirkan Su-35
padahal Su-35 yang ditawarkan ke Brazil sudah full ToT
F-35 bukan lawan Su-35, tapi lawannya PAK-FA dan J-20
Indonesia sebentarlagi akan beli pesawat tanker baru, menggantikan KC-130B yang sudah berumur 50 tahun
mamasexy…o on…samakan kasus kilo pada CBG..dulu indonesia tidak jadi beli kilo bukan sebab CBG..tapi ingin mendapatkan kilo terbaik…dulu kilo project 877 yg ditawarkan rusia sperti milik vietnam…indonesia ingin improped kilo pd project 636…sambil menunggu kan lebih baik ToT dulu dng CBG…nah kitunggu hasil karya anak negeri pd Thn 2024 nanti dng kapal selam indonesia hasil kolaborasi Kilo dng CBG….
sebelum komentar, belajar dulu nak biar cerdas,
https://en.wikipedia.org/wiki/Kilo-class_submarine
coba dibaca, disitu Vietnam pakai Kilo versi apa ?
Yang pada meragukan sukhoi 35BM..itu semua otak udang…. Juga yg membanggakan BVR meteor jg goblok…indonesia ada yakhon untuk efek getar lebih mematikan ya di pasang saja di sukhoi nya…su 30 mk2 jg dapat di pasang klow blum ada su35BM..beli ke india yg sudah upgrate Brahmos/yakhon di su30MKI..tapi malaysia udh kepingin blum juga dikasih sama India..
Selanjut nya singapura atau australi pasti enggak jadi beli F35…langsung ke F22 ..tapi apa di kasih sa amrik..gw yakin tidak…israel saja tidak dikasih….
@raynara1407: anda yang lebih goblok lagi membandingkan BVR meteor Kok dengan Yakhont ya jelas beda fungsinya… sana belajar dulu ke TK… wkwkwk….
wkwkwkwkwk hadeuh
Ribut aja pade…udah Jelas SU 35 yg diambil…sementara F16 Viper menyusul…SU 35 sebagai AIR SUPERIORITY, F16 V sebagai Multirole Fighter (patroli)…bisa saling melengkapi..solusi kalau cost operasional mahal ya pake F16 V buat patroli, kalau kalah tinggal minta support SU 35..
buat apa beli pesawat yang banyak nganggurnya ?
kasihan pilotnya, terlalu banyak minum kopi di warung
padahal umur Su-35 hanya 25 tahun atau 4.000 jam terbang
masih kalah dengan Hawk-53 dan F-5 yang baru pensiun setelah 35 tahun
Sales gripen memang ulet, udah gak dipilih tapi tetap cemungud..wkwkwk!!
Selama kontrak belum ditandatangani
kemungkinan Su-35 terdepak masih cukup besar
Lihat saja kasusnya KILO, yang tiba tiba terdepak oleh Changbogo + ToT
Yang jelas efek deteren antara SU 35 dan Jas Gripen jelas bedalah…dlm promo video yg katanya Jas Gripen pembunuh Sukhoi kan cuma propaganda penjualan secara fakta tdk ada buktinya, sekarang aja dengar RI mau beli SU 35 aja ausie dan Singapore udah ketar ketir, apalagi konflik Laut China Selatan mulai memanas…vote SU 35 dah….!!! 🙂
ngak pernah denger beritanya bung,
malah Sukhoi sering dilecehkan, meski kita punya sukhoi, tapi black flight masih banyak marak, contohnya di riau dan natuna kemarin
kita aja yang TAKABUR, padahal singapura dan autralia biasa biasa saja
laporan picth black 2012 versi Australia : Sukhoi kita ternyata tidak ada apa apanya bila dibanding hornet
wkwkwk….
paling lucu pas sukhoi di lock di makasar bingung… gak tau siapa yg melakukannya…
Flight black itu permasalahan lain dekbro…itu permasalahan kemampuan radar kita yg terlalu luas sehingga banyak wilayah yg tdk tercover…picth black 2012 ente jgn nukil versi ausie, ya jelas ga mau kalah mereka…super hornet beda kelas sama Sukhoi, makanya untk menandingi sukhoi RI mereka jor joran mau beli F 35, apalagi sdh ada kabar positif RI mau beli SU 35 (mudah mudahan yg BM)…pesawat generasi 4+++ tapi sdh adopsi tekhnologi generasi 5, kemampuannya setara dgn F 22.
Salah bung, seperti di natuna radar kita sudah mendeteksi, sukhoi saja yang datangnya sangat terlambat
seharusnya tiap perbatasan ada pesawat tempurnya, beli banyak tapi hemat bbm.
Pitch Black : makanya jangan sombong bin takabur dulu, karena akan ditertawakan oleh negara lain.
F-35 : TERBALIK, Australia sejak dulu termasuk anggota join produksi, justru kitalah yang ketakutan akan F-35, sehingga memilih pesawat NGAK JELAS Su-35, pesawat tak laku kok dibeli ??? ngawur
Gripen dan su35 dari awalnya agak sukar dibandingkan, keduanya berada penugasan yg berbeda walau bukan tak mungkin berhadapansatu sama lain.
Gripen merupakan pespur taktis dg harga ops murah, katanya paling murah diantara generasi 4,5, diarahkan utk operasi taktis. Sedangkan su35 adalah pespus strategis dg 2 mesin powerful shg jarak dan senjata yg bisa dibawa jauh melampaui gripen. Ini spt membandingkan f15 dan f16 amrik.
Keuntungan membeli gripen salah satunya harga yg murah shg bisa sekalian beli sepaket dg senjatanya dan senjata yg bisa dibawa gripen bisa berasal dr senjata buatan amrik, israel, perancis, dan rusia. Thailand beli gripen lengkap dengan erieye dan terintegrasi dg kapal perang mereka shg menghasilkan suatu sistem yg lengkap. hanya saja mesin gripen adalah lisensi mesin f404 amrik, rawan embargo.
Pemerintah sendiri sudah memberi indikasi pembelian su35 hanya setengah skuadron alias tak tembus 8 unit itu pun belum bicara soal senjata. Senjata utk Su27/30 dibeli dg jumlah terbatas, walau lumayan lengkap jenisnya, tp memang urusan suku cadang produk rusia memang agak susah.
Idealnya beli 2 jenis pespur, yg taktis pilihannya gripen, f16, mig35, fc1, dan jenis strategis spt su35, rafale, typhoon, f15. Itu juga kalo niat dianggarkan.
Ke depan Gripen silahkan ambil ancang² untuk menggantikan skuadron Hawk 100/200.
Biarlah untuk pengganti pesawat tipe pencegat dan pemukul saat ini diserahkan pada SU 35 yg sejenis fungsinya sama F-5
Mas, F-5 adalah Pesawat Tempur Ringan dan Pencegat Ringan, dengan biaya operasional rendah
https://en.wikipedia.org/wiki/Northrop_F-5
yang cocok seharusnya adalah Gripen
mas tapi jangan lupa untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi.
Secara teknologi, Gripen jauh diatas Su-35
Gripen sudah sistem Networking, layar lebar Touchscreen
hanya kalah di akrobatik dan tangki BBM yang kalah banyak
mungkin kalau kita ambil Gripen kita dapat teknologinya, tapi Teknologi Gripen dan Su35, sangat jauh berbeda.Maka dari itu sekarang Tim dari Kemenhan sedang negosiasi mengenai ToT yang akan diberikan oleh pihak Sukhoi untuk Su35..
[my Opinion] Sukhoi series lebih bisa diandalkan oleh TNI, bisa dibuktikan oleh Misi yang lebih banyak dilakukan sukhoi series. contoh pada saat Intercept black flight lebih banyak dilakukan oleh sukhoi, padahal kita tahu biaya terbang sukhoi sangat mahal, bila dibandingkan F-16, dan pada saat pengamanan perbatasan Sukhoi masih menjadi yang terdepan, Ini membuktikan SUKHOI DAPAT DIANDALKAN… dan dengan pertimbangan keadaan Geo-politic Kawasan, saya vote SUKHOI 35
Terbalik bung, Teknologi Sensor dan Avionic Gripen-NG diatas Su-35, Gripen hanya kalah di TVS (knalpot) dan Jangkauan
Radar Irbis-E Jangkauannya akan melemah drastis ketika berhadadapan dengan Pesawat Siluman seperti F-35 bila dibandingkan dengan radar AESA
dan kelemahan Gripen yang terbesar adalah UANG PELICIN-NYA jauh lebih sedikit daripada Su-35
XMemang dari Gripen uang pelicin same sekali tidak ada. Sudah jelas bahwa uang pelicin selalu merugikan rakyat. Saab tidak punya toleransi untuk merugikan rakyat apalagi perekonomian rakyat Indonesia yang sudah punya masalah ekonomi yang lain.
Komentar yang dikutip seusai latihan pitch Black 2012: ” tidak ada peserta yang merasa terintimidasi oleh su-27…”
Ternyata kegaharan sebuah alutsista aja tidak cukup !!!
Stuju sama mas Deano…. Gripen sendiri sudah cukup canggih , dan mudah perawatannya , apalagi Swedia menjamin transparasi dalam hal-hal yang signifikan pentingnya……. Seharusnya , pemerintah (kemenhan) kita lebih cerdas dan bijak… jangan sampai mangkrak dan cuman jadi alat gertak doank , toh pertempuran udara itu bergantung pada kualitas pilotnya …. Ya gak ? ya gak? 😀
Saya yakin, apabila kita sudah beli SU35, ada masalah di perbatasan dengan singapura, pilot F35 singapura tidak ada yang berani terbang.
yang tidak bisa terbang adalah kita
karena BBM dan Uang kita habis buat nerbangin Su-35
500 juta per jam, bisa bisa 1 tahun habis 1 TRILIUN hanya untuk nerbangin Su-35 saja
Data darimana tu kalo 500jt/jam.
ane sebagai orang awam terserah pemerintah aja ,yang pasti beli pesawat pasti udah hitung-hitung semua biaya dan efeknya dan gak mungkin cuma alasen senang terus beli
…memang pengadaan sukhoi diindonesia tidak gampang…lihat sejarahnya…Malah Ada teknisi dari rusia yang mati Dan masih misteri..pas pembelian sukhoi…pasti dihantam ekonominya…untuk mendapatkan yang baik butuh perjuangan…mungkin itu kata2 yang pas..selamat siang semua…semoga sehat selalu
Agak tidak berimbang klo disamakan antara Grippen Typhoon dan SU-35 karena masing2 beda mesin, beda jarak jangkaunya dan beda type/fungsi nya. misalnya untuk bahan bakar logika sederhana sekali isi full tank antara 3 pesawat diatas yg paling banyak SU-35 karena jarak jangkaunya yg lebih luas maka itu dibilang boros bila dibandingkan dgn grippen. padahal SU-35 dan grippen gak bisa dibandingkan. grippen sebaiknya dibandingkan dengan F-16/viper.
@Ant, betul kalau dr spesifikasi memang tidak berimbang, namum ya kembali lagi, tulisan ini sudut pandangnya dari jet2 tempur yang istilahnya masuk ring 1 dalam pengadaan pengganti F-5 Tiger TNI AU.
Iya bung mimin siap 😀 klo ada budgetnya sih beli SU-35 + Typhoon atau SU-35 + viper hehehehehe
salah besar
Gripen NG didisain untuk pembunuh Su-35
ini iklan dari SAAB
https://www.youtube.com/watch?v=oKlQyPOiRuE
F-35 juga satu mesin kok
meskipun Gripen-NG kecil, namun persenjataannya sama kelas beratnya seperti BVR Meteor dan AMRAAM
Jangan bandingkan dengan Tank MBT dan Tank Ringan macam Scorpion
sekarang kita kembalikan ke kebutuhan TNI AU butuhnya pesawat apa?
klo butuhnya irit, dan murah biaya operasinal mungkin viper bisa masuk atau grippen, (Gripen-NG sudah masuk lini produksi atau masih dlm bentuk konsep saya kurang tau), Jika Indonesia akuisisi Grippen-NG, dikasih gak missile BVR meteor atau AMRAAM nya?,
JIka TNI AU butuh nya pesawat multirole, daya jangkau luas dan pembelian persenjataannya tidak banyak syarat serta pas di kantong ya SU-35 masuk hitungan . imho
anda salah lagi,
Gripen itu adalah pesawat MULTIROLE bisa anda baca disini :
https://en.wikipedia.org/wiki/Saab_JAS_39_Gripen
versi Gripen-NG bahkan sudah OMNIROLE (diatasnya multirole)
didaftar belanja TNI-AU (silahkan cari di ARC.WEB.ID) disebutkan kalau sudah memesan AIM-9X2 (versi paling canggih) dan AMRAAM menyusul, diharapkan rudal ini datang pada tahun 2017-2018
hal ini tergolong cepat bila dibandingkan dengan R77 dan R73 yang baru datang Th. 2012 setelah 9 tahun pakai sukhoi
Kalau rudal Meteor malah lebih mudah, karena SAAB maunya kemitraan jangka panjang, bukan hanya sebagai penjual dan pembeli saja seperti Rusia, apalagi MBDA adalah mitra PT. DI
Dassault rafale mana ya kok sepi
Lho, Brazil yg negaranya luas banget, isinya hutan lebat, & anggarannya jauh di atas Indonesia aja milih Gripen. SU-35 yg ditawarkan lengkap dgn lini produksi & ajakan pengembangan Pak-FA ditolak. Padahal negara2 tetangganya ada yg punya jet2 canggih. Venezuela punya SU-30.
Saya sih dukung Gripen karena pengajuannya juga lebih transparan & konkrit dibanding pihak Rusia & rekam jejak Swedia dalam dukung kemajuan industri kita cukup jelas & baik (tengok soal Trimaran, Bonefish, Tankboat, job ngembangin RBS-70 NG, & potensi lisensi RBS-15).
Nah, kalo Rusia, selain puji2an fans beratnya di sini, ketemunya beginian –>
“…diduga harga per unit Sukhoi melambung dari US$55 juta pada 2010 menjadi US$83 juta pada 2011. Diduga fee yang diambil oleh para broker adalah 15%-20% dengan nilai lebih dari Rp1 trilliun.”
http://www.beritasatu.com/politik/49420-jejak-trimarga-rekatama-makelar-sukhoi-superjet-100.html
http://www.beritasatu.com/nasional/49426-sebelum-sukhoi-trimarga-rekatama-selalu-sukses.html
http://www.kontras.org/home/index.php?module=pers&id=1516
http://www.antikorupsi.org/en/content/kementerian-pertahanan-didesak-jelaskan-pembelian-sukhoi
http://komisikepolisianindonesia.com/ragam/read/6273/sukhoi-bpk-harus-audit-keterlibatan-pt-trimarga-rekatama.html
http://www.merdeka.com/peristiwa/lsm-tuding-pt-trimarga-rekatama-jadi-broker-sukhoi.html
http://news.okezone.com/read/2012/05/24/435/635095/siapa-sebenarnya-pemilik-trimarga-rekatama
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/313020-agen-sukhoi-indonesia-berkantor-di-ruko
Menangnya Gripen dibanding semua pesaing, selain operasionalnya yg sangat murah untuk jet generasi 4+++++, adalah mudah ditempatkan di mana aja yg fasilitas pendukungnya minim.
Misal sekarang di Natuna, Sukhoi series blum bisa mangkal di sana meski udah ada landasan. Tp Gripen saat ini juga bisa langsung mangkal di sana. Gripen itu kayak Hercules, bandel & cocok buat kondisi2 serba tidak siap.
Tapi SU-35 memang menang jauh soal efek gentarnya, jauuuh melebihi Gripen & kompetitor lain. Artinya SU-35 nggak bisa terbang pun jet2 tetangga udah ketakutan mau tinggal landas. Jadi kalo suku cadang seret, dana operasional nggak ada, ato Rusia tiba2 nggak respon2 permintaan kita gara2 kita berseberangan pandangan politik isu internasional (nggak embargo. Cuma mereka nggak nanggepin. Pura2 sibuk urus Suriah & Ukraina), keliatannya itu nggak jadi soal. Musuh tetap takut.
Liat aja, blum nyentuh simulator (apalagi) SU-35-nya aja pejabat2 & petinggi2 kita udah amat yakin kehebatan & kecocokan jet ini buat TNI-AU. kompetitor lain aja ada yg sampe bawa jetnya & ngasih kesempatan pilot kita terbang tapi nggak dipilih.
Kalo gitu beli su-35 satu biji aja buat dijejerin sama tu-16….udah gemeteran tuh negara tetangga
Jelas pilot TNI-AU pilih SU35 lah, Daripada beli gripen,murah tapi diketawain sama pilot F35 singapore..wekwekweek..!!
Bangga & semangat kata RR itu penting..!
Kok viper gak di sebut bung admin? Bukan nya ngebet juga itu di tawarkan. Lebih baik gripen dari typhoon, mulai dari harga, biaya, Ote-ote lebih jelas, belum lagi masalah dari negara produsen pastinya swedia tidak se sensitif inggris cs.
@Lanang, F-16 Viper sengaja tidak masuk, lantaran belum keluar estimasi harga jualnya, dan pertimbangan jet ini paling kecil kemungkinan dibeli Indonesia, tapi entah jika nanti ada hasil yang mengejutkan dari kunjungan Presiden Jokowi ke AS.
thanks penjelasan nya bung admin. jadi nambah pengetahuan sering2 baca indomiliter.
tanya lagi bung admin,kok Rafale & Mig 35 seakan sepi dari persaingan kenapa ya ?padahal kalo di bandingkan Viper kayak nya jauh lebih unggul
Su 35 buat ganti F5, ambil gripen buat patroli !!!
@ Deano : saya setuju dengan pandangan anda, jangan sampai kita mampu beli pesawat tapi tidak mampu operasionalkan dengan optimal, cuman di pake kalo Fly Pass HUT TNI doang
Saya pribadi dukung Gripen, memang jarak jelajahnya kalah dr Su35 dan Typhoon, tapi toh masih lebih baik dr F5, ditambah Gripen juga bisa isi bahan bakar di udara. Yang terpenting pesawat bisa terbang full, ga kaya Sukhoi yang sebagian mangkrak.
Beda kelas bung. Jgn samakan SU35 dgn gripen dan typhoon. Lagi pula jarak jangkau ny jg beda. Gripen sma typhoon lbh pendek jarakny ketibang SU. Indonesia ini luas dan gk seperri thailand wilayahny. Klo bilang pespur bs isi bahan bakar di udara boleh aj tp inget gk ad pom bensin di udara yg ad pesawat tangker. Nah klo gt kan hrs beli lg pesawat tangkerny dan gk mungkin jg beli cma 1 unit pesawat tangker. Atau mw ngisi bhn bakar d airport terdekat bs jg tp butuh wkt buat pesawat landing, isi bhn bakar dan take off lg. Nah klo urgent atau dlm kondisi perang gmn?? Jd pembelian pespur bkn sekedar biaya ini dan itu tp jg hrs d ukur sama besar wilayah yg di cover.
Ea tuh begok banget si deano on
lihat dulu iklan dari saab ini
https://www.youtube.com/watch?v=oKlQyPOiRuE
Kalau hanya beranggapan gripen lebih baik dr f5, berarti anda adl org yg cukup bego, bung deano.
Kita yg udh punya su27/30 aj msh bisa d remehkan tetangga yg sama2 punya. Tahukah anda apa sebab bisa begitu? Itu disebabkan karena kita tidak punya alutsista yg memiliki efek deteren..
Bego d pelihara..
Sadis banget dibilang bego…hehehe
Gini mas2 yang pinter, intinya ga ada argumen yg sempurna. Kalau bicara daya getar (deteren), ya benar Sukhoi cs lebih punya daya getar, itu lantaran jet ini belum battle proven, semi misteri gitu.
Lalu apalah arti daya deteren, kalau tuh pesawat ga bisa dioperasikan maksimal, ujung2nya cuma jadi bahan ketawaan lawan. Cadangan avtur utk jet tempur kita hanya disiapkan utk operasi dua hari ber turut2.
Kenapa saya dukung Gripen, itu juga karena soal transparasi keuangan, Swedia bisa jamin soal itu karena indeks korupsi yang minimal. Beda dengan Rusia dan Cina yang terkenal fleksibel soal gituan, makanya pengadaan dr Rusia/Cina kerap memicu markup, dll.
@ Dogol : gimana SU 27/30 mau memberikan efek gentar lha wong SU 27 SK/ 30 MK yang dibeli tahun 2003 aja udah gak bisa terbang hehehe…
yang bisa terbang cuman SU 30 MK2 yg baru bentar lagi juga udah gak layak terbang spare part nya gak ada… wkwkwk…