Drone Tanker Boeing MQ-25A Stingray Sukses Rampungkan Uji Roda Pendaratan di Udara

Program pengembangan drone tanker berbasis kapal induk pertama milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy), Boeing MQ-25A Stingray, kembali mencatatkan momentum penting. Pesawat tanpa awak ini sukses menyelesaikan uji terbang krusial keduanya yang difokuskan pada pengujian sistem roda pendaratan di udara (airborne landing gear test).
Uji coba yang dilangsungkan di Mascoutah, Illinois, ini dirancang untuk memvalidasi fungsi kontrol otonom serta performa aerodinamis pesawat guna mempersiapkan perannya di masa depan sebagai pengisi bahan bakar di udara (aerial refueling).
Kehadiran MQ-25A Stingray diproyeksikan untuk merevolusi doktrin operasi udara di atas kapal induk. Dirancang dengan kemampuan mengangkut hingga 15.000 pon (sekitar 6,8 ton) bahan bakar, fungsi utama drone ini adalah mengambil alih tugas pengisian bahan bakar di udara (buddy-refueling) yang selama ini dibebankan kepada jet tempur berawak F/A-18E/F Super Hornet. Dengan menyerahkan tugas tangki terbang kepada Stingray, US Navy dapat menghemat masa pakai airframe serta membebaskan armada Super Hornet agar dapat fokus sepenuhnya pada pemenuhan misi tempur serang taktis utama mereka.
Uji coba terbaru ini melengkapi catatan keberhasilan penerbangan perdana varian produksi yang sempat dilakukan pada akhir April lalu. Jauh sebelum varian produksi ini mengangkasa, prototipe awal MQ-25 sebenarnya telah sukses mendemonstrasikan kemampuan pengisian bahan bakar ke berbagai jet tempur mutakhir, termasuk jet tempur siluman F-35C Lightning II, E-2D Advanced Hawkeye, dan F/A-18 Super Hornet.
The first @USNavy MQ-25A Stingray™ completed its second test flight, featuring the aircraft’s first airborne landing gear cycles. The milestone further validates the autonomous flight controls and performance capabilities, moving it closer to carrier operations. pic.twitter.com/UmqXk6Wufl
— Boeing Defense (@BoeingDefense) July 10, 2026
Melalui serangkaian pengujian roda pendaratan dan manuver otonom yang makin matang, Boeing kian dekat untuk membuktikan bahwa integrasi penuh sistem tanpa awak di lingkungan geladak kapal induk yang super sibuk dapat berjalan dengan aman.
Kendati pencapaian teknis ini disambut meriah oleh para pencinta dunia kedirgantaraan global, program MQ-25A Stingray bukan tanpa hambatan. Adanya beberapa kendala teknis dan birokrasi dalam rantai pasok sempat memaksa US Navy untuk menggeser target operasional awal (initial operational capability) drone ini ke awal tahun 2029.
Selain masalah penundaan jadwal, transisi teknologi ini juga memicu riak perdebatan internal di kalangan militer, di mana sejumlah penerbang tempur berawak secara terbuka menyatakan kekhawatiran mereka terkait kesiapan mentalitas taktis serta aspek keselamatan ruang udara saat harus berbagi jalur penerbangan dengan drone otonom di atas lautan lepas. (Bayu Pamungkas)
Boeing Alami Penundaan Produksi, Jadwal Pengiriman Drone Tanker MQ-25A Stingray Molor Setahun


