FCAS Kolaps: Dassault Buka Peluang Perancis Gandeng Mitra Luar Eropa Demi Jet Tempur Masa Depan

Kabar mengejutkan datang dari industri pertahanan Eropa setelah proyek jet tempur generasi keenam Future Combat Air System (FCAS) resmi dibubarkan oleh Jerman dan Perancis. Kolapsnya megaproyek ini dipicu oleh perselisihan industri yang tak dapat ditahan antara Dassault Aviation selaku motor utama Perancis dan Airbus Defence and Space yang mewakili kepentingan Jerman dan Spanyol.
CEO Dassault Aviation, Eric Trappier, dalam kesaksian resminya di hadapan komite Senat Perancis mengungkapkan bahwa pecah kongsi ini terjadi akibat perbedaan visi yang tidak dapat didamaikan mengenai pembagian kerja operasional. Ketegangan ini bahkan melebar ke proyek Eurodrone, di mana Dassault menuduh Airbus mencoba mendepak mereka dari porsi pengerjaan industri dan kini tengah menuntut kompensasi finansial.
Meski mengalami kegagalan kerja sama yang pahit, Dassault menegaskan bahwa Perancis tidak menutup diri untuk bersinergi kembali, namun dengan syarat aturan main harus disepakati secara mutlak sejak awal.
Di balik keterbukaan Perancis untuk menggandeng mitra baru, terdapat alasan finansial dan teknis yang sangat krusial. Secara teknologi dan kapabilitas teknik, Dassault bersama konsorsium domestiknya sangat mampu merancang dan membangun jet tempur masa depan secara mandiri. Namun, Trappier mengakui secara jujur bahwa Perancis tidak serta-merta memiliki kapasitas anggaran yang tak terbatas untuk menanggung seluruh biaya riset dan pengembangan (Research and Development) jet tempur masa depan sendirian.
Perancis dan Jerman Beda Pandangan Tentang Proyek Jet Tempur Masa Depan – FCAS/SCAF
Mengembangkan jet tempur siluman generasi terbaru membutuhkan dana raksasa. Oleh karena itu, bersinergi dengan mitra dari negara lain menjadi solusi logis guna berbagi beban finansial (cost-sharing), sekaligus mengamankan komitmen pasar ekspor sejak awal agar skala produksi pesawat menjadi ekonomis dan menguntungkan.
Selain faktor anggaran, kebutuhan spesifik militer Perancis kerap menjadi ganjalan utama yang memaksa mereka harus selektif namun adaptif dalam mencari rekanan. Angkatan Laut Perancis memiliki kebutuhan mutlak akan jet tempur berukuran lebih kecil, lincah, dan yang terpenting: mampu beroperasi dari dek kapal induk (carrier-capable). Kebutuhan spesifik inilah yang dahulu membuat Perancis keluar dari proyek Eurofighter pada dekade 1980-an demi melahirkan Rafale secara mandiri, dan menjadi salah satu pemicu runtuhnya FCAS baru-baru ini karena Jerman tidak memiliki kebutuhan kapal induk.
Selamat dari Krisis Finansial, Proyek Jet Tempur Generasi Keenam GCAP Resmi Diperpanjang!
Dassault juga mengkritik bahwa terlalu banyak kompromi dengan banyak negara Eropa justru sering kali menghasilkan desain pesawat yang terlalu besar, berbiaya bengkak, dan sulit diekspor karena terbentur regulasi politik masing-masing negara mitra.
Menariknya, pencarian mitra baru kali ini memunculkan opsi di luar batasan tradisional Eropa. Muncul spekulasi kuat bahwa Perancis tengah menjajaki kerja sama dengan pabrikan dirgantara Swedia, Saab, atau melirik negara importir kaya di kawasan Timur Tengah yang memiliki likuiditas finansial tinggi. Trappier secara khusus menyebut Uni Emirat Arab (UEA)—yang sudah lama menjadi pengguna setia jet tempur Perancis—sangat tertarik untuk mengetahui langkah Paris selanjutnya terkait program pesawat tempur masa depan ini.
Sembari menanti mitra yang tepat, Dassault menyiapkan “Plan B” berupa pengembangan varian Rafale F5 “Super Rafale”. Langkah transisi ini dinilai jauh lebih realistis dan memakan biaya yang jauh lebih murah ketimbang memaksakan proyek pesawat raksasa Eropa sebelumnya, sekaligus memastikan kedaulatan udara Perancis tetap terjaga di masa depan. (Gilang Perdana)


