Raksasa pertahanan Jerman, Rheinmetall Air Defence, baru saja menuntaskan rangkaian uji coba penembakan langsung (live firing) yang krusial untuk sistem pertahanan udara jarak pendek (SHORAD) terbaru mereka. Uji coba yang dilakukan di Lohja Test Range, Finlandia, berhasil mendemonstrasikan integrasi sempurna antara sensor elektro-optik pasif Skyspotter dengan sistem kanon otomatis Skyshield MK3. (more…)
Kesuksesan Rheinmetall Defence dengan sistem hanud titik SHORAD Oerlikion Skyshield rupanya ikut menginspirasi Turki (Turkiye) untuk merancang dan memproduksi sistem hanud berbasis kanon laras tunggal di kaliber yang sama, 35 mm. Sistem hanud dengan kemampuan Close In Weapon System (CIWS) ini adalah Göker yang dibuat oleh Aselsan. (more…)
Oerlikon Skyranger dari Rheinmetall Air Defence bukanlah produk asing dalam jagad alutusista hanud (pertahanan udara). Kilas balik ke akhir 2017, Skyranger pernah ditawarkan sebagai unsur tactical response dalam sistem hanud di Pulau Natuna. Skyranger pada prinsipnya mengintegrasikan keunggulan mobilitas dan lapis baja dalam gelar operasi hanud, lantaran unit hanud taktis ini mengusung platform kendaraan tempur (ranpur) lapis baja. (more…)
Kecepatan dalam merespon pada potensi serangan udara adalah kunci dari suksesnya penggelaran sistem hanud titik. Dan bicara tentang kecepatan respon pada satuan tembak (satbak) rudal atau kanon hanud, maka yang menjadi tumpuan adalah kemampuan deteksi dini dari elemen radar. Saat bicara soal kinerja dan akurasi, kanon Oerlikon Skyhield milik Detasemen Pertahanan Udara (Denhanud) Paskhas TNI AU memang dapat diandalkan. Meski begitu, sistem radar ‘organik’ pada satbak Skyshield punya keterbatasan. (more…)
Karena menyangkut alasan kerahasiaan dari kustomer, Rheinmetall Defence kerap merahasiakan informasi penjualan produknya, seperti pada November 2018, pabrikan asal Jerman ini menjelaskan bawah Indonesia akan menerika second batch sistem hanud kanon Oerlikon Skyshield pada akhir 2019. Namun ada yang khusus dari kontrak Skyshield jilid kedua, yakni pihak Rheinmetall menutup rapat informasi jumlah unit kanon berikut sistem pendukungnya (radar), dengan alasan kerahasiaan. (more…)
Jika tak ada halangan, di tahun 2016 TNI AL akan kedatangan kapal perang tercanggihnya, Perusak Kawal Rudal (PKR) SIGMA Class 10514. Kini kapal sedang dalam tahap pembangunan dan perakitan di galangan Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda dan PT PAL, Surabaya, dan kita berharap semua proses dapat berjalan lancar sesuai rencana, dan kemudian berlanjut ke pembangunan kapal kedua. Sebagai kapal perang tercanggih, SIGMA Class 10514 (aka – Martadinata Class) yang masuk golongan light fregate disokong aneka persenjataan terbaru di kelasnya. (more…)