Lembaga riset pertahanan nasional Taiwan, National Chung-Shan Institute of Science and Technology (NCSIST), secara resmi mengungkap generasi terbaru dari sistem senjata anti tank genggam yang diberi nama Kestrel II. Peluncuran sistem senjata mutakhir ini dirancang sebagai lompatan besar untuk mendongkrak kemampuan pasukan infanteri darat dalam menghadapi armada lapis baja modern. (more…)
Angkatan Darat Vietnam baru saja memperkenalkan inovasi maritim asimetris yang langsung memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat pertahanan. Platform eksperimental tersebut resmi dinamakan Water Spider, sebuah drone maritim mikro (Micro Unmanned Surface Vessel / Micro-USV) yang dirancang secara mandiri. (more…)
Senjata Lawan Tank (SLT) kembali diperkenalkan dalam pameran pertahanan Indo Defence 2024 (11-14 Juni 2025), kali ini jenis SLT terbaru adalah hasil rancangan dari BUMN PT Dahana dan perusahaan swasta nasional, PT Hariff Dipa Persada (Hariff Defense). Proyek ini merupakan pengembangan utama dalam upaya Indonesia untuk membangun produksi persenjataan ringan dalam negeri, yang bertujuan untuk memenuhi persyaratan pelatihan dan operasional. (more…)
Instalaza, manufaktur senjata anti tank yang berbasis di Zaragoza, Spanyol, pada pameran pertahanan FEINDEF 2025 di Madrid (12 – 14 Mei 2025) memperkenalkan jenis roket anti tank dan perkubuan (bunker) terbaru dengan tabung peluncur yang dapat digunakan kembali (reusable rocket launcher). (more…)
Meski jumlahnya tidak diketahui, ada kabar Korps Marinir dalam waktu tak lama lagi bakal mengoperasikan senjata lawan tank atau roket anti tank disposable (peluncur sekali buang), menjadikan Korps Marinir sejajar dengan infanteri TNI AD dan Kopasgat TNI AU yang lebih dulu mengoperasikan roket anti tank disposable, meski dari merek yang berbeda. (more…)
Semestinya pengembangan drone copter bersenjata di Indonesia dapat bercermin dari apa yang dilakukan oleh Rusia dan Ukraina dalam konflinya yang masih berkobar. Dari kubu Rusia, drone quadcopter FPV (First Person View) yang dipersenjatai dengan roket anti tank RPG-26 Aglen nampak dominan digunakan, pasalnya senjata anti tank disposable ini punya bobot relatif ringan dan tersedia dalam jumlah besar. (more…)
Pada tanggal 29 Juli 2024, Angkatan Darat Malaysia mengumumkan penandatanganan kontrak dengan perusahaan patungan Norwegia-Finlandia, Nammo, untuk memasok 800 unit M72 LAW-EC (Light Anti-Tank Weapon – Enhanced Capacity) untuk menggantikan sistem RPG-7 buatan Rusia yang sudah tua. (more…)
Sekali lagi Indonesia harus belajar dari India untuk bisa menarik masuk investasi asing, khususnya di segmen industri pertahanan. Selama ini sudah banyak manufaktur asing yang berstatus OEM (Original Equipment Manufacture) membuka basis produksi dan perakitan di India. Namun, pola kerja sama yang diusung adalah dengan pembukaan perusahaan patungan, alias joint venture dengan perusahaan lokal di India. Tapi ada yang baru dalam pembangunan basis produksi senjata anti tank Carl Gustaf M4 oleh perusahaan Swedia, Saab. (more…)
Roket anti tank dengan peluncur disposable (sekali buang), bukan lagi jenis senjata bantu infanteri di lingkup TNI. Sejauh ini produk dari Instalaza (Spanyol) mendominasi pasar di Indonesia lewat C90 series yang saat ini digunakan TNI AD dan TNI AU. Lantas bagaimana dengan TNI AL? Sejauh ini infanteri Korps Marinir masih mengandalkan RPG-7, namun kedepan bisa jadi Korps Baret Ungu akan menggunakan jenis roket anti tank disposable. (more…)
Untuk urusan alih teknologi hingga produksi senjata, India bisa menjadi rujukan bagi banyak negara berkembang. Berkat dukungan serta komitmen dari pemerintah, India dalam waktu dekat akan meresmikan kemitraan dengan Saab Bofors Dyanamis. Persisnya Negeri Anak Benua itu akan ‘ketempatan’ fasilitas produksi pertama di luar Swedia untuk memproduksi roket anti tank yang kini laris di pasaran, Carl Gustaf M4. (more…)