
Guna memperkuat elemen fire power di wilayah perbatasan, Satuan Artileri Medan (Armed) TNI AD sejak pertengahan tahun lalu telah mencanangkan deployment alutsista jenis meriam tarik (towed) Howitzer kaliber 155 mm. Persisnya ada 18 pucuk meriam KH-179 155 mm buatan KIA Heavy Industries Corporation yang di datangkan tahun lalu, dan telah digelar di tiga batalyon Armed. Lepas dari karakteristiknya, senjata berletalitas tinggi ini dalam mobilitasnya ditunjang oleh truk yang juga berasal dari Korea Selatan, yakni KIA KM500. (more…)

Bila merujuk ke sejarah, dahulu TNI AL pernah memiliki jenis kapal tender kapal selam (submarine tender). Jenis kapal ini difungsikan untuk melayani segala kebutuhan logistik, perawatan dan perbaikan kapal selam. Saat Republik Indonesia ‘mesra’ dengan Uni Soviet, maka melengkapi hadirnya 12 unit kapal selam Whiskey Class, turut hadir submarine tender. Dan yang namanya tersohor dalam catatan sejarah adalah KRI (d/h RI) Ratulangi (RLI). Kapal yang dalam kondisi muatan penuh berbobot 9.00 ton. (more…)

Diakhir tahun 60-an sudah ada niatan serius untuk memproduksi senapan serbu untuk standar pasukan TNI. Dan sebagai mitra kerjasama saat itu terpilih manufaktur senjata asal Italia, Beretta. Sebagai terobosan pertama maka PT Pindad mulai memproduksi senjata secara lisensi, dimulai dari seri SP-1, SP-2 hingga SP-3. Ketiga senjata tersebut dibangun dari seri Beretta BM59 kaliber 7,62×51 mm NATO. Diantara ketiganya, SP-3 terbilang unik karena dirancang sebagai light squad automatic weapon. (more…)

Meski tak bisa disebut sebagai produk yang berhasil dipasaran, namun senapan laras panjang pertama produksi PT Pindad, SP-1, juga tak bisa disebut produk yang gagal total. Sampai saat ini SP (Senapan Panjang)-1 kaliber 7,62×51 mm NATO masih digunakan oleh lembaga pendidikan di tingkat Secaba (Sekolah Calon Bintara) dan Secata (Sekolah Calon Tamtama). Meski debutnya berlangsung singkat, SP-1 yang sejatinya adalah varian lisensi BM59 dari Berreta, menorehkan jejak sejarah yang tak terlupakan dalam usaha kemandirian alutsista nasional. (more…)

Usia 56 tahun bagi manusia sudah tergolong lanjut, tanpa treatment yang baik, maka kondisi tubuh akan cepat melorot. Begitu pun dengan Lockheed Martin C-130B Hercules, sejak didatangkan pada tahun 1960, faktanya armada C-130B Hercules TNI AU masih terus dioperasikan. Seperti salah satunya pada C-130B Hercues nomer registrasi A-1303 dari Skadron Udara 32 yang belum lama ini telah merampungkan program upgrade dan retrofit tingkat berat. (more…)

Di luar Amerika Serikat, Indonesia adalah negara pengguna pertama pesawat tanker KC-130B Hercules pada awal 1960. Namun faktanya baru dua dekade kemudian, KC-130B Hercules TNI AU menemukan ‘jodoh’, yakni saat TNI AU menerima paket jet tempur taktis A-4 Skyhawk. Dan kemudian resmilah A-4 E/H Skyhawk sebagai pesawat TNI AU pertama yang punya kemampuan air refueling. Meski kini statusnya telah menjadi penghuni museum dan monumen, debut Skyhawk tak akan lekang dalam sejarah perkembangan kekuatan udara nasional. (more…)

Bila kavaleri udara Puspenerbad TNI AD hingga kini masih melestarikan Bell 205 A-1. Maka TNI AU juga mengoperasikan saudara kembarnya yang lebih dulu berlaga di angkasa Indonesia, yakni Bell 204B yang hadir sejak awal tahun 60-an. Beda dengan Bell 205 A-1 TNI AD yang sudah di-‘militerisasi’ dengan kemampuan menggotong senjata, sejatinya Bell 204B TNI AU masih berstatus sebagai helikopter ‘sipil’ tanpa modifikasi usungan senjata. (more…)

Dari segi daya guna, LST (Landing Ship Tank) bisa disejajarkan pentingnya dengan pesawat angkut berat C-130 Hercules TNI AU. Mengemban fungsi utama sebagai penghantar tank amfibi dari tengah lautan, kapal perang dengan kualifikasi LST jelas punya karakteristik, selain adanya tank deck dan pintu rampa, LST juga dicirikan dengan adanya fasilitas meja putar (turntable). (more…)

Dalam operasi Seroja di Timor Leste (d/h Timor Timur), tak kurang 3.000 pasukan TNI dari berbagai kesatuan telah gugur di medan pertempuran. Tentu jumlah tewas yang lebih besar dirasakan oleh pihak lawan. Dan dibalik sepak terjang operasi tempur yang berlangsung dua dekade tersebut, ada sosok yang amat ditakuti fretilin dan Tropaz, yakni sniper (penembak jitu) legendaris Pembantu Letnan Satu (Peltu) Tatang Koswara dari Pusdikif (Pusat Pendidikan Infanteri) TNI AD. (more…)

Selain kondang karena reputasi tempurnya, Korps Marinir TNI AL juga menjadi elemen komando utama (kotama)TNI yang unik bila dicermati dari sisi arsenal alutista yang dimilikinya. Keberadaan alutsista tua, seperti tank PT-76 dan pansam BTR-50, memang menjadi trade mark yang melekat kuat di mata masyarakat Indonesia. Tapi bila mau dibedah, bukan hanya tank/panser amfibi, meriam, dan KAPA (kendaraan amfibi pengangkut artileri) yang asli produk Uni Soviet, dan masih digunakan hingga cukup lama, masih ada satu alutsista lain yang namanya tak begitu nyaring didengar, tapi punya kontribusi besar dalam operasi militer di Tanah Air, yang dimaksud adalah BM (Boyevaya Mashina )-14/17. (more…)