PT SAS Aero Sishan, perusahaan holding industri pertahanan nasional menjalin kemitraan strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk pengembangan beberapa alpalhankam, antara lain sistem kendaraan pengangkut/peluncur mortir “Bajra”, sistem dukungan tempur berbasis Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) yang dipersenjatai (weaponized drone, combatan drone), sistem roket kendali (Folded Fin Aerial Rocket) 70 mm dan 122 mm, serta sistem senjata berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligent). (more…)
Belum lama ini, yaitu pada 17 – 20 Mei 2023, Rosoboronexport (bagian dari Rostec State Corporation) berpartisipasi dalam pameran militer MILEX 2023 di Minsk, ibu kota Republik Belarusia. Di antara display produk pertahanan dan keamanan yang lazim diunggulkan, rupanya ada update menarik yang terkait dengan operasi khusus Rusia di Ukraina. (more…)
Gegara Iran dituduh telah memasok drone kamikaze kepada Rusia, hubungan antara Iran dan Ukraina telah memburuk yang berujung kepada pemutusan hubungan diplomatik. Uniknya, meski telah ada jurang pemisah antar kedua negara. Namun, ada fakta bahwa justru militer Ukraina menggunakan sistem senjata buatan Iran. (more…)
Meski sudah lama ada dalam etalase produk PT Pindad, namun rupanya jenis senjata mortir kaliber 81 mm (MO-3) baru dalam proses pengajuan sertifikasi. Dari laman Instagram Dislitbang TNI AD, Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD (Kadislitbangad) Brigjen TNI Hery Setiyono memipin Gelar Uji Coba Sertifikasi Mortir Kaliber 81 (MO-3) yang diajukan oleh PT Pindad di Lapangan Tembak Sub Lab Uji Laboratorium Dislitbangad, Ambal, Kebumen, Jawa Tengah, Kamis (12/1/2023). (more…)
Walau butuh waktu panjang untuk mencapai tahap produksi, namun, bukan berarti kreator alutsista di dalam negeri menjadi lemah dalam berinovasi. Seperti di pameran pertahanan Indo Defence 2022, PT Pindad dan manufaktur drone asal Bandung, PT Bentara Tabang Nusantara, secara perdana memperkenalkan drone Hybrid VTOL (Vertical Take-off Landing) Ruppell yang digadang dapat meluncurkan mortir. (more…)
Bila Angkatan Lautnya tengah berlatih melepaskan rudal di Perairan Guam, maka Angkatan Darat Singapura diwartakan juga mendapatkan aktivitas baru, namun yang ini bukan dalam wujud latihan, melainkan adanya pengadaan senjata baru yang memperkuat militer Negeri Pulau tersebut. (more…)
Mortir selama ini dikenal sebagai bagian dari senjata bantu infanteri yang legendaris. Saking populernya, adopsi mortir telah banyak dikembangkan, seperti Batalyon Infanteri Mekanis TNI AD yang menempatkan peluncur mortir di ranpur Anoa, sampai pembuatan peluncur mortir mekatronik yang dibuat oleh Dislitbangad dan PT Pindad. Namun, pengembangan yang dilakukan belum menyentuh pada elemen amunisi, yaitu proyektil mortir itu sendiri. (more…)
Sebagai senjata bantu infanteri (senbanif) tembak lengkung, keberadaan mortir menjadi sesuatu yang melekat pada elemen kompi dan batalyon infanteri. Sebagai senjata yang tergolong standar, maka dapat dipastikan stok mortir dalam kaliber 60 mm dan 81 mm terbilang besar di tiga matra TNI. (more…)
Mungkin maksud hati ingin mencontoh Super Rapid Advanced Mortar System (SRAMS) keluaran ST Kinetics, Singapura. Meski masih berupa prototipe yang belum tuntas, Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Darat (Dislitbangad) pernah membuat terobosan mortir otomatis yang mirip-mirip dengan SRAMS. Bila SRAMS mengusung mortir kaliber 120 mm, maka mortir jenis mekatronik inovasi Litbang TNI AD mengusung mortir kaliber 81 mm, kaliber mortir yang juga masif digunakan sebagai senjata bantu infanteri (senbanif). (more…)
Keberadaan mortir memang tak bisa dilepaskan dari pergerakan tempur pasukan infanteri. Karena dinamika yang terjadi dalam pertempuran, mortir yang bertindak sebagai ‘artileri mandiri’ pada unit infanteri juga membutuhkan kaliber mortir yang memadai. Selain standar digunakan kaliber 40 mm, 60 mm, dan 81 mm, TNI juga pernah menggunakan mortir heavy barrel (kaliber besar) 120 mm yang ukuran kalibernya melampaui kaliber Howitzer TNI kebanyakan. (more…)