Jelang latihan Armada Jaya 2016 pada bulan Agustus lalu, TNI AL sempat melakukan uji tembak torpedo SUT (Surface and Underwater) dari KCT (Kapal Cepat Rudal) KRI Ajak 653. Ada yang spesial dalam momen, pasalnya sebagai sasaran TNI AL menggunakan target drone bawah air. Target drone bawah air yang disebut Skipper ini boleh dibilang tidak banyak terpublikasi, padahal banyak pembaca yang bertanya-tanya tentang spek dan asal-usul sosok ‘kapal selam’ bersayap ini. Dan di tulisan ini akhirnya sosok Skipper berhasil kami bedah. (more…)
Meski belum diberi label nama, hari ini (24/10) pesanan kapal selam kedua Kementerian Pertahahan (Kemhan) RI dan TNI AL dari Changbogo Class resmi diluncurkan secara simbolis di Galangan Kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Okpo, Pulau Geoje, Korea Selatan. Peresmian ditandai secara simbolis dengan pemotongan tali oleh Sekjen Kemhan RI Laksamana Madya TNI Widodo didampingi Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Arie H. Sembiring. (more…)
Bila merujuk ke sejarah, dahulu TNI AL pernah memiliki jenis kapal tender kapal selam (submarine tender). Jenis kapal ini difungsikan untuk melayani segala kebutuhan logistik, perawatan dan perbaikan kapal selam. Saat Republik Indonesia ‘mesra’ dengan Uni Soviet, maka melengkapi hadirnya 12 unit kapal selam Whiskey Class, turut hadir submarine tender. Dan yang namanya tersohor dalam catatan sejarah adalah KRI (d/h RI) Ratulangi (RLI). Kapal yang dalam kondisi muatan penuh berbobot 9.00 ton. (more…)
Evakuasi pada kapal selam tentu beda dengan kapal di permukaan, selain dibutuhkan nyali ekstra, sejumlah tahapan serta prosedur ketat harus diterapkan bila ingin selamat mencapai permukaan. Seperti simulasi peran peninggalan kapal dan SAR kapal selam yang secara rutin telah dijalankan oleh awak Korps Hiu Kencana TNI AL. Dengan menggunakan Submarine Escape Immersion Equipment MK-10 Suite, awak kapal selam dapat melakukan free escape melalui conning tower. Meski cukup efektif dan telah teruji, penggunaan MK-10 memiliki keterbatasan. (more…)
Dikenal punya tugas khusus dalam pertempuran bawah air, menjadikan kelengkapan persenjataan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL terbilang spesial dibanding unit tempur TNI lainnya. Selain sista dan alat menyelam yang punya kualifikasi khusus, seperti Combat boat X38, senjata APS dan alat selam close circuit, dalam menunjang misi senyap di bawah air, satuan elit ini juga punya wahana transportasi bawah air yang terbilang sangat khas. (more…)
Dengan rampungnya basis produksi kapal selam di galangan PT PAL pada September mendatang, secara langsung dimulai babak baru pembangunan kapal selam di dalam negeri. Selain proyek perdana berupa pengerjaan KRI Nagarangsang 405 (Nagabanda Class – aka Changbogo Class), fasilitas produksi kapal selam PT PAL juga nantinya dicanangkan untuk merilis kapal selam lanjutan untuk kebutuhan Korps Hiu Kencana TNI AL. (more…)
Area pabrik kapal selam PT PAL dalam proses pembangunan.
Ada kabar baik untuk perkembangan ToT (transfer of technology) industri alutsista di Indonesia. Pasalnya pihak PT PAL menyebut bahwa di bulan September 2016, seluruh pekerjaan fisik pembangunan komplek pembuatan kapal selam di Surabaya akan rampung, artinya proses pengerjaan pesanan ketiga Changbogo Class sudah dapat dimulai. (more…)
Bila saat ini pengembangan alutsista kerap terganjal ToT (Transfer of Technology) dari luar negeri, maka berkaca ke era tahun 40-an, Indonesia yang kala itu terdesak agresi militer Belanda justru mampu meluncurkan kapal selam perdana. Meski hanya berupa kapal selam mini dengan rancangan sederhana, hasil karya Letkol D. Ginangan menjadi tonggak kebangkitan teknologi persenjataan nasional. Bermodal torpedio eks pesawat terbang Jepang, kapal selam Ginangan di tahun 1947 digadang untuk menembus blokade laut Belanda. (more…)
Diatas kertas, boleh jadi kecanggihan kapal perang AL Singapura dan Australia lebih unggul ketimbang kepunyaan TNI AL saat ini. Begitu juga dengan keberadaan kapal selam, sebelum tibanya Changbogo Class, diatas kertas armada siluman bawah laut milik Singapura, Australia dan Malaysia terasa lebih unggul. Namun disisi lain, ada keunggulan komparatif pada kekuatan kapal perang TNI AL, tak lain dengan keberadaan beragam jenis rudal anti kapal (anti ship missile).
Seperti telah disinggung pada artikel sebelumnya, bahwa mulai tahun 70-an, tepatnya sejak 1974, TNI AL mulai mengoperasikan alutista baru, yaitu torpedo SUT (surface and underwater target). Kedatangan torpedo SUT pada tahun tersebut merupakan bagian dari kelengkapan armada perusak kawal (destroyer escort) kelas Claud Jones (Samadikun Class). Torpedo yang dimaksud dari jenis MK (Mark) 46 yang dirancang oleh Naval Ordnance Test Station Pasadena, dan diproduksi Alliant Techsystems. (more…)