
Selain pesawat angkut berat C-130B A-1301 Hercules, Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala di Yogyakarta juga akan diperkuat alutsista bersejerah dari lini helikopter, yakni Mil Mi-1, jenis helikopter ringan single engine multirole yang dahulu pernah memperkuat Skadron Udara 7. Dibanding jenis helikopter milik TNI lainnya, Mi-1 terbilang asing didengar, bahkan situs Wikipedia.org tak menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara pengguna. (more…)

Bila Korps Marinir (d/h KKO) dan Kopassus (d/h RPKAD) kondang menggunakan senapan serbu AK-47 dalam operasi Trikora. Maka, unsur pasukan komando TNI AU (d/h AURI) yakni Paskhas (d/h PGT – Pasukan Gerak Tjepat) saat itu juga punya atribut senjata yang khas, yakni battle rifle G3 kaliber 7,62 mm NATO. (more…)

Tupolev adalah legenda besar bagi TNI AU, namanya begitu masyur mewakili kehadiran pembom jet jarak jauh Tu-16 pada dekade 60 dan 70-an di Indonesia. Meski terkesan terlupakan, namun sejarah telah mencatat tak hanya Tu-16 yang dirilis Tupolev di Indonesia, justru jauh sebelum hadirnya Tu-16, TNI AU (d/h AURI) telah mengoperasikan pembom medium Tu-2, yang oleh NATO diberi kode Bat. (more…)

Cerita mengenai vampire menyebutkan bahwa makhluk malam tersebut hidup selamanya dan tidak akan bisa mati, kecuali dengan beberapa cara khusus yang tidak akan kami bahas disini. Dengan nama yang diambil dari cerita horor, de Havilland Vampire DH-100 adalah pesawat tempur bermesin jet Inggris yang dikembangkan oleh Angkatan Bersenjata Inggris, Royal Air Force selama Perang Dunia Kedua. (more…)

Jauh-jauh hari sebelum hadirnya radar berkualifikasi mobile macam Thomson TRS2215 yang dimiliki TNI AU dan radar Giraffe milik Arhanud TNI AD, di awal tahun 60-an, tepatnya pada masa kampanye operasi Trikora, Indonesia juga telah menggunakan radar pendeteksi dini yang cukup maju pada jamannya. Radar yang dimaksud adalah Nysa P-30 B/C buatan Polandia. (more…)