Mengambil tempat di Pantai Bocor, Kebumen, Jawa Tengah, hari kamis lalu (4/8/2016), satuan Artileri Medan (Armed) TNI AD berhasil melaksanakan uji tembak MLRS (Multiple Launch Rocket System) jenis ASTROS (Artillery Saturation Rocket System) II MK6. Berita ini mendapat respon hangat dari jagad pemerhati alutsista nasional, pasalnya ASTROS dipandang sebagai alutsista strategis dengan letalitas tinggi. Apalagi sejak diperkenalkan ke publik di Tanah Air pada tahun 2012 silam, baru kali ini ASTROS dijajal kemampuan tembaknya.
RM70 Grad Batalyon Roket Pasukan Marinir (Pasmar) TNI AL memang alutsista yang kondang, selain kerap tampil dalam show parade militer, seperti penembakkan salvo spektakuler di HUT TNI ke-70 lalu, RM70 Grad juga rajin diikutkan dalam operasi latihan tempur, termasuk digelar dalam operasi di Poso, Sulawesi Tengah belum lama ini. Letalitas yang maksimal, bisa menghancurkan area 3 hektar dalam tembakkan salvo, menjadikan MLRS (Multiple Launcher Rocket System) digadang pas sebagai sista artileri medan unggulan. (more…)
Bila ada yang bertanya, jenis senjata apa yang punya daya rusak atau daya hancur paling tinggi dalam sekali aksi? Meski jawabannya bisa beragam, tapi salah satu yang pasti adalah (multiple launcer rocket system). Armed TNI AD dan Korps Marinir TNI AL pun tak asing mengoperasikan MLRS, terlebih self propelled MLRS. Meski ada yang terbaru ASTROS II MK6 Armed TNI AD, tapi yang sudah teruji dalam operasional dan juga sering tampil adalah RM70 Grad, MLRS pengusung roket kaliber 122 mm buatan Cekoslovakia. (more…)
Untuk kategori meriam, awalnya saya mengira bila meriam milik Armed (Artileri Medan) TNI AD yang paling kecil kalibernya adalah 76 mm, tepatnya diwakili tipe M-48, atau kondang disebut meriam gunung. Tapi anggapan itu keliru, faktanya masih ada meriam kaliber 75 mm. Lebih tepatnya meriam ini terlihat digunakan pada saat tembakan penghormatan pada momen upacara HUT RI Ke-70 di Istana Negara, Jakarta. (more…)
Dari beragam varian senjata di lini artileri medan, keberadaan self propelled (swa gerak) howitzer tidak dapat dipandang sebelah mata, bersamaan dengan towed (tarik) howitzer, self propelled howitzer punya andil yang cukup strategis dalam jalannya pertempuran, terlebih pada penekanan keunggulan daya gerak dan proteksi bagi awak. TNI AD pun termasuk senior dalam mengoperasikan self propelled howitzer. (more…)
Dipandang paling sesuai untuk gelar tempur di medan Tanah Air, porsi meriam tarik (towed) kaliber 105 mm cukup dominan di TNI. Selain digunakan Armed TNI AD, kaliber ini juga jadi andalan Armed Korps Marinir TNI AL. Untuk maksud modernisasi alutsista, kemudian datanglah meriam-meriam anyar kaliber 105 mm buatan luar negeri, seperti KH-178 dari Korea Selatan dan yang akan datang LG-1 MK III dari Perancis. (more…)
Meski TNI AD sudah mendapatkan meriam tarik (towed) Howitzer 105 mm generasi anyar, yakni tipe KH-178 buatan WIA Corporation (dulu Kia Machine Tool Company) dari Korea Selatan. Namun, sejatinya Artileri Medan (Armed) TNI AD lebih mengidamkan howitzer lain buatan Perancis, yang di maksud adalah LG-1 MK III, howitzer kaliber 105 mm besutan Nexter System. (more…)
Guna memenuhi elemen fire power dalam MEF (minimum essential force), satuan Artileri Medan TNI AD pada tahun ini mulai kedatangan alutsista andalannya yang telah dipesan pada tahun lalu. Sebut saja ada ASTROS II MK6 Self Propelled MLRS, lalu di lini meriam ada TRF-1 CAESAR Self Propelled Howitzer 155 mm yang berkaliber besar. Meremajakan lini meriam berkaliber sedang, yang puluhan tahun mengandalkan M2A2 Howitzer 105 mm, TNI AD pun bakal mendapatkan 54 pucuk meriam KH-178 dari Korea Selatan untuk melengkapi 3 batalyon. (more…)
Dalam duel artileri kecepatan untuk memperoleh informasi dari mana asal tembakan menjadi sesuatu yang sangat menentukan. Dengan mengetahui titik asal tembakan, akan memudahkan bagi satbak (satuan tembak) pada Yon Armed TNI AD untuk bisa membalas tembakan artileri ke basis perkubuan musuh. Tidak asal tembak tentunya, diharapkan tembakan balasan dapat mempunyai presisi tinggi, sehingga daya hancur pada sisi lawan dapat maksimal, yang pada akhirnya dapat melumpuhkan serangan lawan. (more…)
Bila ditinjau dari aspek jangkauan, roket begitu diandalkan sebagai senjata strategis, karena roketlah sosok Korea Utara dan Iran mempunyai daya deteren tinggi dimata rivalnya. Terkait dengan sista roket, TNI pun mendapat ‘angin segar’ dengan telah dibelinya ASTROS (Artillery Saturation Rocket System) II buatan Avibrás Aerospacial, manufaktur alutsista asal Brasil, pada kuartal keempat tahun lalu. ASTROS sendiri masuk dalam kelas MLRS (Multiple Launch Rocket System). (more…)