
Karena performa yang dianggap kurang memuaskan dari meriam Howitzer KH-178 105 mm, Artileri Medan TNI AD sejak 2015 silam mengidamkan sosok Howitzer lain, yakni LG-1 MKIII 105 mm buatan Nexter System, Perancis, mengikuti jejak Resimen Artileri Korps Marinir TNI AL yang sukses menggunakan LG-1 MKII. Dan lama tak terdengar kabar tentang Howitzer idaman TNI AD tersebut, belum lama situs kostrad.mil (27/3/2018) menyebut bahwa akan didatangkan alutsista baru berupa Howitzer LG-1 untuk mem-backup satuan Batalyon Para Raider. (more…)

Batalyon Artileri Medan (YonArmed) 12 Kostrad, unsur kekuatan di bawah Resimen Artileri Divisi Infanteri 2 Kostrad pada Sabtu lalu (9/12/2017) telah melaksanakan uji fungsi penembakan meriam swa gerak atau SPH (Self Propelled Howitzer) TRF-1 CAESAR (Camion Equipe’ d’un Syste’me d’ ARtillerie) kaliber 155 mm produksi Nexter, Perancis. (more…)

Ada yang berbeda dari HUT Artileri Medan (Armed) TNI AD Ke-72 di Pusdik Armed Kodiklatad, Cimahi, Jawa Barat. Diantara etalase alutsista Armed yang ditampilkan pada Senin (4/12/2017), ada satu yang menarik perhatian, yakni terlihat sosok rudal jelajah AV-TM 300 dengan warna putih. Disebut menarik perhatian lantaran ukurannya yang terbilang paling bongsor diantara deretan amunisi ASTROS (Artillery Saturation Rocket System) MK6. (more…)

Hari Selasa kemarin (5/9), sebuah roket milik Balitbang Kementerian Pertahanan (Kemhan) dilaporkan jatuh di kebun bambu milik warga di Desa Mekarsari, Kecamatan Rumpin, Bogor, Jawa Barat. Mengutip sumber dari Detik.com (6/9/2017), roket tersebut mengalami kegagalan paska uji coba statistik. Tidak ada kerusakan berarti dan korban jiwa akibat jatuhnya roket ini. (more…)

Oleh pengembangnya jenis senjata strategis ini disebut sebagai loitering rocket (rocket-assisted glide bomb), namun karena kemampuannya menggabungkan kebisaan antara drone/UAV (Unmanned Aerial Vehicle) dan rudal, maka WS-43 juga populer dengan label Attack Cruise Missile. Yang jadi menarik perhatian adalah rudal serang berkemampuan jelajah ini baru saja merampungkan tahapan uji coba. Meski belum masuk masa produksi, kabarnya selain didapuk untuk militer Cina, WS-43 sudah dilirik oleh Pakistan dan Cina. Indonesia pun sudah ditawari rudal canggih ini. (more…)

Bila meriam Howitzer KH-179 155 mm yang berbobot 6,8 ton ditarik oleh truk KIA KM500, maka di kelas meriam Howitzer kaliber 105 mm sudah mahfum TNI menggunakan light utility truck. Diantara jenis yang populer sebagai penarik meriam 105 mm adalah truk Mercedes Benz Unimog, REO M35 dan KIA KM250. Yang disebut terakhir punya keunikan tersendiri, pasalnya dominan digunakan Satuan Artileri Medan (Armed) sebagai penarik meriam KH-178 105 mm. Baik KIA KM250 dan meriam KH-178 memang berasal dari induk perusahaan yang sama di Korea Selatan. (more…)

Secanggih apa pun suatu alutsista, pada kenyataan kinerjanya bakal sangat bergantung pada kondisi alam. Dan bicara tentang kemampuan roket MLRS (Multiple Launch Rocket System) yang digadang Armed TNI AD dan Armed Marinir TNI AL, maka dalam gelar operasinya juga harus memperhatikan kondisi cuaca yang ada di daerah sekitar peluncuran. Dan untuk perihal pemantauan cuaca, sistem baterai (kompi) ASTROS (Artillery Saturation Rocket System) II punya kecanggihan tersendiri. (more…)

Dalam gelar kekuatan setingkat baterai (kompi), alutsista MLRS (Multiple Launch Rocket System) ASTROS (Artillery Saturation Rocket System) II Armed TNI AD setidaknya membutuhkan pergerakan 13 kendaraan khusus (ransus). Lakon utamanya memang kendaraan peluncur AV-LMU (Universal Multiple Launcher), namun ada beberapa ransus lain yang berperan vital dalam sistem baterai ASTROS, diantara yang langsung terkait launcher adalah keberadaan kendaraan pembawa/re-supply amunisi yang disebut AV-RMD. (more…)

Jika tiada aral melintang, tak lama lagi etalase Batalyon Armed GS (Gerak Sendiri) TNI AD bakal bertambah, yakni dengan hadirnya 20 unit Self Tracked Propelled Howitzer M109A4 Paladin dari Belgia. Ini tentu angin segar, mengingat kekuatan Batalyon Armed (Yon Armed) GS, khususnya yang berbasis self tracked (tank) sejak tiga dekade lebih belum mendapat peremajaan alutsista. (more…)

Bagi Indonesia, senjata jenis self propelled MLRS (Multiple Launch Rocket System) bukan ‘barang’ baru, setidaknya Armed TNI AD dan Marinir TNI AL sudah mulai menggunakannya sejak persiapan operasi Trikora di tahun 60-an. Namun tatkala ASTROS (Artillery Saturation Rocket System) II MK6 datang dari Brasil, semua perhatian seolah beralih ke sistem senjata besutan Avibras ini. Bahkan militer Malaysia sejak tahun 2001 menjadikan ASTROS sebagai senjata pemukul di wilayah perbatasan. Lantas apa yang membuat senjata yang telah dipakai di delapan negara ini begitu spesial? (more…)