Saat AL Filipina resmi mengorder helikopter AKS (Anti Kapal Selam) AgustaWestland AW159 Wildcat pada Maret 2016, maka lengkaplah pasar pertarungan helikopter AKS di Asia Tenggara. Maklum Filipina sebagai negara maritim kedua terbesar di Asia Tenggara, sejak lama dipandang paling inferior dari segi aspek kekuatan laut. Dengan bergabungnya Filipina di kompetisi helikopter AKS, maka kloplah parade helikopter AKS di kawasan ini. Namun biasanya muncul pertanyaan, jenis helikopter AKS mana yang terbaik? (more…)
Akhir tahun ini unit perdana helikopter AS565 MBe Panther pesanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI untuk TNI AL akan diserahkan kepada user, yakni Puspenerbal (Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut). Menurut kabar helikopter Panther batch pertama kini sedang dalam proses perakitan di PT Dirgantara Indonesia. Meski sudah banyak ulasan tentang sosok helikopter besutan Airbus Helicopters ini, rasanya masih menarik perhatian adalah bagaimana cara Panther dalam melumat kapal selam lawan. (more…)
Untuk kelas korvet, tonase 1.700 ton memang tergolong ringan, namun jangan anggap sepele, korvet andalan Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmatim KRI Diponegoro 365 justru dipercaya untuk memimpin satuan tugas dalam misi AKS (Anti Kapal Selam) di ajang latihan bersama (latma) multilateral terbesar di dunia RIMPAC (Rim of Pacific) 2016 yang tengah berlangsung di Perairan Hawaii, AS. Tentu ada alasan, mengapa KRI Diponegoro 365 dipercaya untuk mengomando misi buru kapal selam. (more…)
Secara kodrat, korvet Parchim TNI AL punya kemampuan melaksanakan misi AKS (Anti Kapal Selam). Bila dijabarkan lebih detail, tugas korvet buatan Jerman Timur ini tak sekedar memburu, melainkan juga menghancurkan target bawah air. Maka tak heran korvet ini dibekali torpedo, bom laut (depth charge), roket anti kapal selam RBU-6000, dan tentunya perangkat sonar. Namun, musibah yang menimpa KRI Pati Unus 384 di Perairan Belawan sontak mengagetkan kita tentang sosok pemburu kapal selam era Perang Dingin ini.
Seandainya haluan politik Indonesia tidak berubah pada tahun 60-an, boleh jadi saat ini armada kapal perang, pesawat tempur, hingga kapal selam TNI lebih dominan berasal dari Rusia. Dan salah satu silsilah alutsista yang ditinggalkan Rusia (d/h Uni Soviet) adalah unit helikopter AKS (Anti Kapal Selam) Mi-4 Hound. Helikopter berbasis utility tersebut memperkuat Puspenerbal TNI AL dalam persiapan Operasi Trikora. (more…)
Area pabrik kapal selam PT PAL dalam proses pembangunan.
Ada kabar baik untuk perkembangan ToT (transfer of technology) industri alutsista di Indonesia. Pasalnya pihak PT PAL menyebut bahwa di bulan September 2016, seluruh pekerjaan fisik pembangunan komplek pembuatan kapal selam di Surabaya akan rampung, artinya proses pengerjaan pesanan ketiga Changbogo Class sudah dapat dimulai. (more…)
Seperti telah disinggung pada artikel sebelumnya, bahwa mulai tahun 70-an, tepatnya sejak 1974, TNI AL mulai mengoperasikan alutista baru, yaitu torpedo SUT (surface and underwater target). Kedatangan torpedo SUT pada tahun tersebut merupakan bagian dari kelengkapan armada perusak kawal (destroyer escort) kelas Claud Jones (Samadikun Class). Torpedo yang dimaksud dari jenis MK (Mark) 46 yang dirancang oleh Naval Ordnance Test Station Pasadena, dan diproduksi Alliant Techsystems. (more…)
Setelah lumayan update di lini rudal anti kapal, ada hal lain yang masih dirasa ‘pincang’ bagi kekuatan maritim sekelas TNI AL yang notabene di dapuk sebagai armada laut terbesar di Asia Tenggara. Ini tak lain karena tiadanya satuan pemukul udara AKS (Anti Kapal Selam). (more…)
Ada yang menarik dari berlangsungnya ajang Paris Air Show 2015, yakni kabar bahwa PT Dirgantara Indonesia (PT DI) pada 15 Juni lalu telah melakukan pemesanan dua unit helikopter Dauphin AS365 N3+ kepada Airbus Helicopters. (more…)
PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dalam beberapa bulan kedepan bakal menerima order pekerjaan yang lumayan banyak, salah satunya adalah merakit sebelas unit helikopter AKS (Anti Kapal Selam) AS565 MBe Panther dari Airbus Helicopters (d/h Eurocopter). Menurut informasi, PT DI akan mengirimkan kesebelas unit helikopter tersebut dalam kurun waktu tiga tahun. Dan, seperti kabar yang dinanti-nanti, akhirnya terkuak sistem senjata dan sensor AKS yang bakal melengkapi sang Panther Puspenerbal TNI AL. (more…)