Setelah Modernisasi Hampir Tiga Dekade, Battlecruiser Nuklir RFS Admiral Nakhimov Masuki Tahap Akhir Uji Coba Laut

Kekuatan maritim global dihangatkan dengan kabar ‘kebangkitan’ salah satu monster laut paling mematikan dari era Perang Dingin. Pemerintah Rusia resmi mengumumkan bahwa kapal penjelajah (battlecruiser) bertenaga nuklir, RFS Admiral Nakhimov, telah meninggalkan galangan kapal Sevmash untuk memasuki tahap akhir uji coba laut (sea trial).

Baca juga: Misi Victory Day 2026: Rusia Siapkan Reaktivasi Pangkalan Laut Tartus di Suriah

Langkah ini menandai kembalinya salah satu kapal perang permukaan dengan persenjataan paling berat di dunia setelah menjalani proses perombakan dan modernisasi besar-besaran selama hampir tiga dekade. Pengaktifan kembali kapal raksasa berbobot 28.000 ton dengan panjang 251 meter ini secara strategis ditujukan untuk memperkuat taji Moskow di wilayah Arktik yang diperebutkan, sekaligus mengawal benteng pertahanan kapal selam rudal balistik Armada Utara yang menjadi pilar utama pencegahan nuklir Rusia.

Kehadiran Admiral Nakhimov menjadi pembuktian bahwa Rusia masih mampu membangkitkan dan menyulap kejayaan armada Uni Soviet menjadi mesin perang modern yang siap menantang dominasi Barat.

Proses panjang menuju uji coba laut akhir ini sebenarnya telah dimulai secara bertahap sejak beberapa tahun lalu, di mana tonggak sejarah penting tercapai ketika reaktor nuklir KN-3 pertama berhasil diaktifkan kembali pada Desember 2024, disusul oleh reaktor kedua pada Februari 2025. Pengaktifan reaktor ini memulihkan sistem penggerak nuklir kapal untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, memberikan jarak jangkau yang praktis tanpa batas dan kemampuan operasional jangka panjang di perairan Arktik yang ekstrem tanpa ketergantungan pada logistik bahan bakar.

Meskipun kontrak modernisasi awal yang ditandatangani pada tahun 2013 memproyeksikan kapal ini kembali bertugas pada tahun 2018 dengan biaya 50 miliar rubel, proyek raksasa ini mengalami pembengkakan biaya hingga mendekati 200 billion rubel (sekitar US$2,67 miliar) serta penundaan jadwal yang masif. Alhasil, kapal perang Kirov class yang awalnya bernama Kalinin dan masuk dinas pada tahun 1988 ini menghabiskan waktu hampir 27 tahun di galangan kapal sejak pertama kali tiba di Sevmash pada tahun 1999—sebuah durasi yang bahkan melampaui masa dinas aktifnya di garis depan Angkatan Laut Uni Soviet.

Dari aspek persenjataan, apa yang keluar dari Sevmash kini benar-benar menjadi lompatan teknologi yang mengerikan karena seluruh sistem persenjataan lama era Soviet telah dipangkas habis. Dua puluh rudal anti kapal raksasa P-700 Granit yang menjadi ciri khasnya di masa lalu kini digantikan oleh sepuluh modul peluncur UKSK yang menampung 80 sel sistem peluncuran vertikal (VLS) universal.

Sel-sel VLS ini mampu meluncurkan kombinasi mematikan dari rudal jelajah penyerang darat Kalibr, rudal anti-kapal P-800 Oniks, rudal anti kapal selam Otvet, hingga rudal hipersonik 3M22 Zircon (Tsirkon). Secara total, Admiral Nakhimov membawa estimasi 176 sel peluncuran utama, yang terdiri dari 80 sel rudal serang dan 96 sel pertahanan udara jarak jauh. Kapasitas magasin yang masif ini membuat Admiral Nakhimov membawa daya pemukul yang setara dengan beberapa kapal perang kecil sekaligus, memiliki jumlah sel 57% lebih banyak daripada perusak Type 055 Cina, 83% lebih banyak dari Arleigh Burke Flight III milik AS, dan 120% lebih banyak dari perusak Zumwalt class.

Di era modern di mana ancaman perang asimetris kian nyata, kemampuan Admiral Nakhimov dalam menghadapi hantaman drone menjadi fokus krusial yang dirombak total oleh para insinyur Rusia. Belajar dari tragedi tenggelamnya kapal penjelajah Moskva pada April 2022 akibat serangan rudal di Laut Hitam, Rusia menyadari bahwa kapal perang permukaan berukuran raksasa memiliki jejak radar dan inframerah yang sangat besar karena tidak dibangun dengan prinsip siluman (stealth).

Untuk membentengi diri dari ancaman drone udara, drone laut, maupun rudal jelajah yang kian intensif dilancarkan seperti dalam konflik Ukraina, arsitektur pertahanan udara Admiral Nakhimov dibangun kembali berbasis sistem Fort-M yang didukung oleh enam sistem pertahanan udara jarak dekat (Close In Weapon System/CIWS) Pantsir-M terbaru.

Kehadiran Pantsir-M secara signifikan memperluas kapasitas pertahanan titik (close-range) kapal, sementara integrasi radar modern, sistem kendali tembakan digital, dan infrastruktur manajemen pertempuran digital dirancang untuk mempercepat koordinasi sensor dalam melacak dan merontokkan target-target kecil yang bergerak cepat sebelum sempat menyentuh lambung kapal. (Gilang Perdana)

Kapal Penjelajah KRI Irian: Monster Laut Kebanggaan Indonesia

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *