Selain punya panser lawas model Ferret dan Saracen, Korps Kavaleri TNI-AD masih punya panser lain yang juga sama-sama berusia lanjut dan berasal dari satu pabrik, yakni panser berpenggerak roda 6×6 FV601 ”Saladin”. Trio panser, Ferret, Saracen, dan Saladin ketiganya merupakan asal pabrikan Alvis dari Inggris. Trio panser ini sama-sama didatangkan pada awal tahun 60-an. Bila Saracen populer sebagai APC (armoured personal carrier) yang legendaris sebagai kendaraan pengusung peti jenazah Pahlawan Revolusi. Maka Saladin juga punya sisi fenomal yang tak kalah serunya. (more…)
BTR-40 hasil retrofit Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD
Satu lagi inventaris alutsista TNI-AD yang berusia sepuh, yakni panser BTR (Bronetransporter)-40. BTR-40 bisa dikategorikan sebagai mesin perang satu angkatan dengan tank amfibi PT-76/BTR-50P buatan Rusia yang legendaris. Yakni sama-sama didatangkan pada awal tahun 1960-an. Meski menyandang ”gelar” BTR, panser ringan ini tidak mempunyai kemampuan amfibi. Pada masanya BTR-40 sangat diunggulkan sebagai kendaraan taktis berpenggerak roda 4×4.
Persiapan konvoi BTR-40 TNI-AD
Diperkirakan populasi BTR-40 di Indonesia mencapai 85 unit. Dan seperti halnya mesin perang ex Rusia, BTR-40 sempat terbengkalai dalam waktu lama akibat ketiadaan suku cadang. Bisa dikatakan sebagian panser ini telah menjadi besi tua. Sadar akan jumlahnya yang relatif banyak dan kualitas baja yang cukup baik. BTR-40 pada tahun 1995/1996 dicoba untuk ”dibangkitkan” dari ”kubur”. BTR-40 mengalami program retforofit besar-besaran. Utamanya mencakup penggantian mesin dari bensin ke diesel, perangkat komunikasi, rangka, persenjataan, dan masih banyak lainnya. Program retrofit BTR-40 dilakukan oleh Direktorat Peralatan Bengkel Pusat Peralatan TNI-AD. BTR-40 hasil retrofit pertama kali diperlihatkan ke publik pada pameran ABRI di tahun 1995.
Tapi perubahan yang cukup mudah dilihat adalah dilengkapinya BTR-40 hasil retrofit dengan atap model tetutup. Hal ini menjadikan personel dan awak panser terlindungi dari serangan peluru lawan. BTR-40 retrofit pun kini sudah dilengkapi air conditioner. BTR-40 dirancang dengan beragam versi, TNI-AD memiliki tipe APC (Armoured Personel Carrier) dengan bekal standar senapan mesin kaliber 7,62 atau 12 mm. Dengan desain persenjataan yang terbilang minim, akhirnya diputuskan sebagian BTR-40 disalurkan untuk satuan Brimob Polri. Di tangan Polri, justru BTR-40 banyak mengemban penugasan, contohnya keterlibatan BTR-40 dalam menumpas GPK GAM di Aceh.
BTR-40 Polri, dirancang untuk penangkal aksi huru haraBTR-40 Retrofit Polri saat beroperasi di Aceh
Sejarah BTR-40
Pengembangan desain BTR-40 dimulai pada awal tahun 1947 oleh biro Gorkovsky Avtomobilny Zavod (GAZ). Rancang bangun BTR-40 didasarkan dari kendaraan truk tipe GAZ-63 4×4 yang berbobot 2 ton. BTR-40 sejak tahun 60-an hingga kini masih digunakan di banyak negara, terutama di negara-negara sahabat Rusia, seperti RRC, Vietnam, Korea Utara, eks Jerman Timur, Ukraina, Polandia, Yaman Utara, Cuba, dan Mesir. Bahkan Israel pun sempat memiliki BTR-40 hasil dari rampasan perang saat melawan Mesir.
BTR-40 versi awal milik pejuang PalestinaBeragam varian BTR-40
BTR-40 terbilang fleksibel untuk urusan persenjataan, selain versi APC, BTR-40 juga bisa disulap sebagai pengusung mortir dan dapat dipasangi kanon anti serangan udara tipe ZPTU twin gun kaliber 14,5 mm. Di lingkungan TNI-AD, BTR-40 ditempatkan sebagai komponen unit kavaleri di beberapa Kodam di luar pulau Jawa.
BTR-40 dengan kanon anti AA ZU23 kaliber 14,5mm
BTR-40 Retfofit TNI-AD/Polri
Tentu BTR-40 di era Sukarno berbeda dengan BTR-40 di era reformasi. Untuk urusan body memang tetap dipertahankan, tapi pada versi retrofit ditambahkan armoured steel plate armox 500S setebal 6 hingga 8 mm. Ini menjadikan BTR-40 punya atap, dan personil lebih terlindungi baik dari serangan lawan dan cuaca hujan/panas.
Rangka BTR-40 yang nyaris jadi besi tuaProses retrofit di Bengkel Peralatan TNI-ADBTR-40 Retrofit dengan senjatan GPMG 7,62 mm tanpa kubah
Dari sisi mesin, BTR-40 retrofit menggunakan dapur pacu Isuzu 4 BEI motor diesel dengan 4 silinder. Jumlah percepatan yakni 5 maju dan 1 mundur, tipe silinder Isuzu MSA 5G. Kecepatan maksimumnya 100 km/jam dengan jarak jelajah 660 Km. Bandingkan dengan BTR-40 versi jadoel, mesin menggunakan jenis GAZ-40 motor bensin dengan 6 silinder. Jumlah percepatan 4 maju dan 1 mundur, kecepatan maksimumnya hanya 80 Km/jam dengan jarak jelajah 288 Km. Jelas dari performa mesin, BTR-40 retrofit punya kinerja yang jauh lebih baik.
BTR-40 TNI-AD tanpa kubah
Bagaimana dengan persenjataan? Untuk versi kavaleri TNI-AD, BTR-40 dilengkapi variasi pilihan senjata, diantaranya pelontar granat otomatis AGL 40mm, senapan mesin berat kaliber 12,7 atau senapan mesin ringan kaliber 7,62 mm GPMG. Untuk menjamin keamanan awak penembak, BTR-40 dilengkapi kubah lapis baja yang dapat berputar kesegala arah. Bila panser terjebak di medan perang tak perlu khawatir, BTR-40 dibekali pelontar granat asap kaliber 66 mm sebanyak 8 tabung. Untuk keamanan pengemudi, BTR-40 punya kaca anti peluru dari jenis bullet protective glass setebal 62 mm dengan kemiringan 45 derajat.
Ruang kemudi BTR-40BTR-40 milik AD Rusia
Bila BTR-40 jadoel tak dilengkapi alat komunikasi, BTR-40 retrofit sudah dibekali radio komunikasi tipe PRC 64. Sebagai kendaraan dengan kemampuan four wheel drive, BTR-40 sangat siap untuk terjun di medan off road. Kemampuan ini semakin afdol berkat penambahan alat pionir seperti kapak, skop, gergaji, dan kabel sling. Untuk jelajah off road, BTR-40 dibekali winch, pada versi jadoel winch digerakan secara mekanis pada gearbox dengan beban tarik 5 ton. Sedangkan pada BTR-40 retrofit, winch menggunakan jenis electronic ramsey model RE10.000 dengan beban tarik 4,5 ton. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi BTR-40 Retrofit
Panjang : 4,780 meter
Lebar : 1,880 meter
Tinggi : 2,695 meter (versi kanon dengan kubah)
Mesin : Isuzu 4 BE1 Diesel
Berat kosong : 4960 Kg
Berat tempur : 6000 Kg
Awak + personel : 10 orang
Radius putar : 6,7 meter
Kapasitas tanki : 110 liter
Kecepatan max : 100 Km/jam
Sumber listrik : Alternator 24 volt
Tragedi berdarah di Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara 14 April lalu membuat keprihatinan mendalam, ratusan orang mengalami luka berat/ringan dan ditambah tiga nyawa anggota Satpol PP melayang. Tapi korban kerusuhan di Koja tentu cukup luas, salah satunya terbukti puluhan kendaraan aparat dari Polri dan Satpol PP hancur dan dibakar massa. Dalam tiap kerusuhan yang melibatkan aparat vs warga, sudah umum terdengar kendaraan aparat dihancurkan massa.
Tapi bila dicermati, ada sisi dahsyat lain dari tragedi Koja, yakni untuk pertama kalinya di Republik ini ada sebuah panser dibakar massa, hingga bisa dikatakan total lost. Panser yang dimaksud adalah tipe Tactica buatan BAE Land System, Inggris. Panser ini jelas bukan panser untuk keperluan militer/tempur (non ofensif). Tactica dirancang untuk digunakan lingkungan kepolisian/anti huru hara, desainnya lebih mengacu pada APC (Armoured Personal Carrier), alias kendaraan lapis baja angkut personel. Tactica sendiri punya beberapa versi, seperti angkut personel, water canon, dan penjinak bahan peledak. Di lingkungan Polri, Tactica dioperasikan satuan Brimob dan Gegana.
Nah, yang bernasib sial pada tragedi Koja adalah Tactiva versi water canon. Alih-alih menghalau massa, panser ini malah jadi bulan-bulanan Massa. Meski bersifat lapis baja, ketebalan baja hanya mampu menahan serangan peluru kaliber 5,56 mm. Dan tentunya Tactica bukanlah kendaraan anti api, sebab hancurnya Tactica di Koja disebabkan karena dibakar oleh massa. Syukur, awak Tactica dapat menyelamatkan diri.
Diperkirakan populasi Tactica mencapai ratusan unit di Indonesia. Panser yang pertama kali diproduksi tahun 1989 ini juga aktif mengamankan Jakarta saat terjadi kerusuhan massal di tahun 1998. Selain Indonesia, Tactica juga dioperasikan oleh kepolisian Norwegia, Ghana, Saudi Arabia, dan angkatan darat Argentina.(Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi
Pabrik : BAE Land System
Awak : 2 + 12
Mesin : Turbocharged Diesel
Kecepatan max : 120 Km per jam
RodaPenggerak : 4×4
BTR-50 adalah salah satu alutsista (alat utama sistem senjata) milik TNI-AL yang sudah berusia lanjut alias paruh baya. Umur panser amfibi (pansam) ini bila ditakar memang cukup sepuh, sebab sudah beroperasi di Tanah Air sejak 1962. Pansam BTR-50 dibeli dari Uni Soviet bersamaan dengan tank amfibi legendaris Marinir, yakni PT-76. Kedua alat tempur ini memang di impor dalam menyongsong operasi Trikora. Di negeri asalnya, BTR-50 mulai beroperasi sejak 1955. (more…)
Sekedar buat unjuk gigi alias show of force, pada kediaman presiden dan wapres lumrah ditempatkan alutsista TNI-AD berupa kendaraan lapis baja dari jenis panser. Apalagi saat musim demonstrasi, hadirnya panser lumayan ampuh sebagai unsur penggetar bagi demonstran yang berniat rusuh.
Salah satunya dibuktikan dari penempatan panser ringan jenis Panhard VBL 4×4. Panser model jip ini disiapkan secara khusus saat kediaman wapres Boediono di Yogyakarta yang sempat didatangi para demonstran. Menurut pemberitaan, ada 2 panser VBL yang menjaga kediaman Boediono yang berasal dari Yon Kav Serbu 2 Kodam IV Diponegoro.
Panhard VBL termasuk alutsista anyar yang dibeli dari Perancis. Performa panser ini terbilang sangat baik dalam berbagai medan pertempuran. Setidaknya kini ada 17 negara yang mengoperasikan VBL, termasuk Indonesia kabarnya yang membeli sejumlah 18 unit Panhard VBL. Meski jumlah yang dimiliki Indonesia sangat sedikit, panser ini ikut serta dalam misi batalyon mekanis PBB di Lebanon.
Bagi TNI khususnya TNI AD sangat familiar dengan kendaraan satu ini, Kendaraan yang masuk dalam kategori “Light armoured vehicle” alias kendaraan lapis baja ringan ini mampu digunakan dalam berbagai misi sehingga berbagai varian pun di munculkan oleh produsennya yaitu ; Société de Constructions Mécaniques Panhard et Levassor yang berlokasi di Paris Perancis.
Walaupun mempunyai berbagai varian hingga kurang lebih 10 varian termasuk diantaranya versi ekspor, namun pada dasarnya Panhard VBL berasal dari dua versi dasar yaitu Panhard VBL versi kendaraan tempur anti tank yang di awaki oleh 3 personel dan di persenjatai dengan senapan mesin kaliber 7.62 mm dan versi Panhard VBL untuk intelijen atau kendaraan intai yang di awaki 2 personel dan dipersenjatai dengan senapan mesin kaliber 7.62mm serta senapan mesin kaliber 12.7 mm.
Dengan menggunakan mesin diesel 4 silinder turbocharged Peugeot XD3T yang mampu menghasilkan tenaga 105hp, Panhard VBL mampu melaju hingga kecepatan maksimum 95km/jam dengan daya jelajah yang dapat di tempuh 600km, kendaraan yang mempunyai berat total 3.590kg ini mampu dikirim ke berbagai tempat dengan menggunakan alat angkut udara. Salah satu keistimewaan dari Panhard VBL hingga banyak di gunakan oleh berbagai negara adalah, kemampuannya berenang di permukaan air, ini dimungkinkan karena Panhard VBL dilengkapi juga dengan baling-baling tunggal yang di pasang di bagian belakang bodinya, daya dorong baling-baling tersebut mampu membuat Panhard VBL berenang hingga kecepatan 4.5 km/jam. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Panhard VBL
Berat 3,5 sampai 4 ton
Panjang 3,80 m (4.00 m long version)
Lebar 2,02 m
Tinggi 1,70 m
Awak 2-3
Senjata terganung versi
Mesin Peugeot XD3T turbo-diesel
hp ( kW)
Suspensi 0,35 m ground clearance
Jarak Tempuh 600 km (can be extended to 1000 km with external gas tanks)
Kecepatan 95 km/h
Dari beragam alutsista (alat utama sistem senjata) lawas milik TNI-AD, khusus di korps kavaleri, nama panser Ferret tentu harus diperhitungkan. Bersama dengan panser Saracen dan Saladin, Ferret didatangkan pada periode tahun 60-an. Bersama panser Saracen dan Saladin pula, Ferret turut menjadi saksi sejarah pergolakan saat revolusi di tahun 1965. Pada dasarnya Ferret dirancang sebagai kendaraan intai, kawal dan pemandu tempur tanpa kemampuan amfibi. Untuk itu Ferret dibuat dengan desain body yang mungil, tujuannya agara ”si Musang” ini dapat bergerak cepat dan lincah. (more…)
Unimog di kalangan militer dan penggemar off-road, amat kesohor. Truk serbabisa ini di negara asalnya, Jerman telah menjadi legenda hidup berkat kemampuannya yang luar biasa dalam mengatasi medan berat apa pun! Di reli Paris-Dakar, kebolehan truk ini pun teruji dan mampu lolos dari lautan pasir dan medan ekstrem. Tentara di Indonesia pun memakainya sebagai kendaraan taktis (rantis) yang cukup diandalkan untuk mendukung setiap operasi. (more…)
KRI Karel Satsuit Tubun 356 – salah satu fregat kelas Van Spijk TNI-AL yang dibekali meriam Oto Melara
Meriam Oto Melara 76 mm terhitung sebagai meriam yang banyak di gunakan sebagai meriam utama di berbagai jenis pada kapal perang, meriam yang di produksi oleh perusahaan Otobreda Italia ini walaupun mempunyai kaliber yang tidak begitu besar namun bisa diandalkan, sehingga banyak dipercaya oleh produsen kapal perang di dunia untuk di pasang di atas kapal perang produksi mereka, mulai dari jenis kapal patroli, korvet hingga fregat.
Meriam Oto Melara 76 mm ini mampu menembak dengan kecepatan tinggi (rapid fire) sehingga cocok untuk digunakan sebagai meriam penangkis serangan udara, baik berupa peluru kendali maupun pesawat terbang dan helikopter. Dengan kaliber sebesar 76 mm, juga mampu digunakan sebagai meriam anti kapal permukaan, amunisi yang di pakai meriam ini terdiri dari berbagai jenis, diantaranya adalah jenis amunisi armour piercing, incendiary, directed fragmentation dan lain-lain, sedang untuk jarak tembak tergantung pada sudut tembakan dan material amunisi yang di gunakan, namun secara umum jarak tembak bisa mencapai antara 5.000 meter hingga 20.000 meter.
Meriam Oto Melara di KRI Diponegoro, fregat kelas SIGMA
Otobreda sebagai pabrikan Oto Melara 76 mm, juga mengeluarkan produk Meriam 76 mm dengan kubah anti radar sejak beberapa tahun yang lalu, untuk saat ini salah satu kapal yang sudah menggunakan kubah stealth dari Otobreda adalah kapal perang dari jenis fregat kelas Fridtjof Nansen milik Angkatan Laut Norwegia.
Sedang untuk penggunaan Meriam Oto Melara 76 mm dengan kubah standar TNI AL tercatat sebagai salah satu penggunanya, meriam ini dapat kita jumpai pada empat korvet SIGMA yang baru saja datang ke Indonesia. Tapi jauh-jauh hari sebelumnya, Oto Melara juga sudah menjadi standar persenjataan pada enam fregat TNI-AL kelas Van Spijk yang dibeli bekas dari Angkatan Luat Belanda pada tahun 90-an. Jadi Oto Melara bukan sesuatu yang baru lagi, dan teknologinya sudah dikuasai penuh oleh TNI-AL.
Dua tipe Oto Melara – gambar atas menunjukkan kubah versi stealth yang lebih baruOto Melara saat memuntahkan amunisi 76 mm
Namun Indonesia bukan yang pertama untuk kawasan Asia Tenggara sebelumnya sudah ada Malaysia dan Thailand yang telah menggunakannya terlebih dahulu. Tidak dapat di sangkal lagi, Meriam Oto Melara 76 mm merupakan meriam yang banyak di minati oleh angkatan laut dunia, lebih kurang 53 Angkatan Laut telah menggunakan meriam jenis ini.
Oto Melara dalam proses pabrikasi
Sekedar informasi, sejak september 2006 lalu Iran telah mengumumkan produksi masal meriam yang di beri nama Fajr 27, yang tak lain dan tak bukan merupakan hasil reverse-engineered meriam Oto Melara 76 mm ini, yang jadi pertanyaan iseng adalah… kapan giliran indonesia bikin reverse-engineered meriam ini? (dikutip dari www.tniad.mil.id)
Tipe : Naval gun
Negara pembuat : Italy
Weight 7500 kg (without ammunition)
12.34 kg (complete round)
Shell 76 mm × 900mm (complete round)
Caliber 62 caliber 76 mm
Elevation -15°/+85°
speed:35°/s (acceleration: 72°/s²)
Traverse 360°
speed: 60°/s (acceleration: 72°/s²)
Rate of fire Compact: 85 round/min
Super Rapid: 120 round/min
Muzzle velocity 925 m/s
Maximum range Compact: 20,000 m (HE round at 45°)
Super Rapid: 30,000 m (HE round at 45°)
Feed system Magazine: Compact: 80 ready rounds on gun mount
Super Rapid: 85 ready rounds on gun mount
Kamis pagi, 27 April 2000, dua F-5E Tiger TNI-AU segera mengudara setelah mendapat kode “scramble” dari menara pengawas. Dengan cepat kedua jet tempur itu melejit menuju area di sekitar pulau Roti, Timor Barat. Tak berapa lama, pada ketinggian 29 ribu kaki, mereka menemukan apa yang dicari, satu gugus terbang yang terdiri dari lima pesawat: Satu pesawat tanker udara, diikuti empat F/A-18 Hornett di belakangnya, milik angkatan udara Australia (RAAF) dari Skadron 75. Itu diketahui dari identitas di ekor pesawat. (more…)
Tetral tampak di atas ruang navigasi KRI Diponegoro 365
Bila Arhanud TNI AD punya rudal Grom, maka TNI AL untuk memperkuat pertahanan pada armada frigatnya juga mengandalkan rudal SAM jenis Mistral. Antara Grom dan Mistral pun sejatinya punya banyak kesamaan, kedua rudal SAM ini masuk kategori SHORAD, rudal ringan untuk sasara jarak pendek. Lebih dari itu, Grom dan Mistral juga mengusung basis platform Manpad (man portable), alias rudal yang pengoperasiannya bisa dilakukan dengan dipanggul oleh seoeang prajurit.
Mistral dibuat oleh pabrikan MBDA missile systems yang berbasis di Perancis. Rudal ringan ini mulai dirancang sejak tahun 1974, dan baru benar-benar operasional pada tahun 1988 untuk versi pertamanya (S1), dan di tahun 1997 diluncurkan versi keduanya (M2). Meski masuk segmen Manpad yang mobile, Mistral dalam pengoperasiannya harus menggunakan penyangga, serupa dengan rudal RBS-70 TNI AD, ini lantaran bobot 1 unit Mistral yang mencapai 18,7 kg.
Tetral pada buritan KRI Diponegoro
Mistral terbilang kaya modifikasi, selain bisa dioperasikan secara Manpad, Mistral juga amat pas dipadukan dengan teknologi sistem peluncur, artinya Mistral mampu dijalankan secara remote untuk mengejar target. Untuk sistem peluncurnya, TNI AL diketahui memiliki Mistral dengan dua platform, yakni Tetral dan Simbad. Tetral merupakan platform peluncur yang k atas 4 unit Mistral, sistemnya dapat bekerja otomatis, dikendalikan secara remote, dan tergolong low maintenance. Desain Tetral memang dirancang oleh MBDA untuk dipasang pada jenis kapal perang yang menganut konsep stealth. Dan bisa ditebak, Tetral memang menjadi andalan frigat TNI AL dari kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) yang dibeli dari galangan Schelde Naval Shipbuilding, Belanda. Frigat dengan desain stealth. Pada tiap frigat SIGMA dilengkapi dua sistem peluncur, masing-masing peluncur memuat empat rudal. Dalam pengoperasiannnya, Tetral dikendalikan dari PIT (pusat informasi tempur).
Sistem peluncur Simbad yang dioperasikan manual
Platform peluncur kedua untuk Mistral yang digunakan TNI AL adalah Simbad. Simbad merupakan platform peluncur untuk dua rudal Mistral dan dioperasikan secara manual oleh operator (Manpad). Simbad saat ini dipasang pada frigat TNI-AL kelas Van Speijk. Hadirnya Mistral di frigat Van Speijk sebagai pengganti rudal SAM jenis Sea Cat yang usianya sudah lawas. Meski belum serempak digunakan oleh semua frigat Van Speijk TNI AL, paling tidak dipastikan KRI Karel Satsuitubun (356) sudah terlihat memasang Simbad pada bekas dudukan peluncur Sea Cat.
Meski tergolong rudal ringan jarak pendek, Mistral bisa melahap multi target, termasuk target yang bermanuver cepat, dalam hal ini seperti pesawat tempur dan helikopter, bahkan Mistral dengan kecepatan luncurnya yang 800 meter per detik bisa melahap target berupa rudal. Dalam rilis yang dikeluarkan MBDA, tingkat success rate Mistral Tetral mencapai 93 persen. Untuk menghajar target, rudal ini dilengkapi kendali berupa canard dan sistem sensor pengarah berupa passive IR (infra red) homing. Sensor passive IR akan bekerja 2 detik setelah peluncuran.
Siatem peluncur Sadral pada fregat AL Perancis
Mistral terbilang kaya ragam platform peluncur, selain di kapal perang dan Manpad, Mistral juga laris diupasang pada berbagai kendaraan militer di darat, bahkan Perancis menggunakan Mistral sebagai senjata pamungkas di helikopter Tiger dan Gazelle. Dengan bobot peledak 3 kg, dan jangkauan tembak hingga 5,3 km membuat rudal ini ideal dipasang pada beragam platform. Selain Indonesia, di kawasan Asia Tenggara rudal ini juga dimiliki oleh Singapura. Tercatat sejak 1989, Mistral sudah di ekspor ke 25 negara dengan produksi lebih dari 16.000 unit rudal.
Selain Simbad dan Tetral, sebenarnya masih ada platform peluncur lain, yakni Sadral. Sadral pada prinsipnya mirip dengan Tetral, dimana sistem rudal diluncurkan secara remote otomatis dari PIT. Bedanya Sadral mengusung enam peluncur rudal Mistral. Baik Simbad, Tetral dan Sadral, ketiganya dapat cepat untuk diisi ulang dan dapat ditebakkan secara salvo. TNI AL pada 20 April 2011 telah melakukan uji coba penembakkan Mistral denga target berupa rudal Sea Cat. Mistral dilepaskan dari KRI Hassanuddin (366) yang merupakan bagian dari armada frigat kelas SIGMA. Jadi bisa dipastikan Mistral dilepas dari platform peluncur Tetral. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Mistral – Simbad
Panjang : 1,86 meter
Diameter : 90 mm
Berat : 18,7 kg (termasuk 3 kg hulu ledak high explosive)
Kecepatan luncur : 800 m/detik atau 2,6 Mach
Jangkauan : efektif hingga 5,3 km
Sistem pemandu : infra red
Mekanisme peledakan : laser proximity atau impact triggered
Mesin : solid rocket motor
Spesifikasi Tetral
Berat Sistem Peluncur : 600 Kg (termasuk 4 rudal)
Bearing : 310 derajat
Sudut Elevasi : -16 sampai 75 derajat