Jajal Dogfight, J-11 (Sukhoi Su-27) Kalah Telak dari Gripen, Ini Dia Sebabnya!

Beritanya terasa subyektif, tapi harus diakui kabar tentang kalah telak J-11 (Sukhoi Su-27SK) AU Cina dari Saab Gripen C AU Thailand dalam sebuah latihan tempur jarak dekat (dogfight) telah menjadi perbincangan hangat di jagad alutsista nasional. Selain kedua pesawat yang sejatinya beda kelas, Gripen C yang awalnya dianggap underdog memang dalam proses ditawarkan ke Indonesia, sebagai pengganti F-5E/F Tiger II TNI AU.
Baca juga: Beratnya TNI AU “Melepas” Si Macan F-5 E/F Tiger II
Merujuk ke peristiwa, secara rutin antara AU Thaiand (Royal Thailand Air Force) dan AU Cina (People’s Liberation Army Air Force) mengadakan latihan bersama yang diberi sandi Falcon Strike 2015. Kejadiannya sendiri sudah berlangsung pada tahun lalu, dimana Falcon Strike berlangsung pada 12 – 30 November 2015 di Lanud (Pangkalan Udara) Korat, Thailand. Dalam latihan tersebut, Thailand mengerahkan F-16 dan JAS-39C, sementara AU Tiongkok yang dipimpin Mayjen Mao Liang Long selaku Deputi Kepala Staf AU Guangzhou Military Region, mendatangkan J-10 dan enam Su-27/ J-11.


Su-27/J-11 datang dari 6 Squadron, 2nd Division, Guangzhou Military Region. Sebagai pesawat pendukung adalah dua Il-76 dari 13th Transport Division. JAS-39 Gripen C yang dikerahkan RTAF dalam latihan dikawal penuh oleh perwakilan teknis dari Saab dan AU Swedia, mengingat skenario latihan juga mencakup pertukaran pilot yang menerbangkan pesawat masing-masing.
Yang lantas bikin heboh adalah munculnya laporan tidak resmi dalam bentuk bocoran info dari lingkungan internal, dan kemudian dirangkum dan disajikan dalam majalah bergengsi Air Force Monthly edisi Mei 2016 dan ditulis oleh wartawan Analayo Korsakul. Sementara riuhnya pemberitaan di Indonesia, belakangan terkait postingan berita peristiwa dari blog thaimilitaryandasianregion.wordpress.com.
Pangkal hebohnya dalam skenario dog fight (satu lawan satu), Gripen C mampu membuat keok J-11 Cina, bahkan dengan skor fantastis 4 – 0. Sontak berita ini langsung membetot perhatian, pasalnya J-11 (Sukhoi Su-27 versi Cina) didapuk diatas angin dalam duel tersebut. Mesin dengan dapur pacu yang lebih kuat, daya muat/kapasitas senjata, dan jarak jangkau, semuanya J-11 lebih unggul diatas kertas.
Padahal dalam briefing, setiap pilot Gripen Thailand tidak diharuskan menang; dari sisi Thailand tujuan latihan adalah untuk evaluasi dan menemukan kelemahan pada sistem senjata Blok Timur seperti J-10 dan Su-27/ J-11. Pilot-pilot Thailand mengakui bahwa pilot Tiongkok hebat, tetapi J-11 yang mereka bawa kelihatannya adalah versi awal yang masih menggunakan sistem analog, yang jauh tertinggal dari avionik Gripen C Thailand yang sudah menggunakan avionik terbaru, termasuk Helmet Mounted Sight.
Hal ini memberikan keunggulan terutama pada skenario dogfight dimana pilot Gripen dapat melakukan kuncian secara off boresight. Reaksi pilot pilot Gripen pun tentu lebih baik dari pilot J-11. Keunggulan yang sama juga dicatatkan Gripen dalam simulasi pertempuran BVR (Beyond Visual Range). Alhasil Sukhoi Su-27 yang menyandang gelar air superiority fighter dapat ditumbangkan oleh Gripen yang single engine ini.

Baca juga: Melihat Skema Combat Radius (Calon) Jet Tempur Baru TNI AU
Memang yang cukup unik, pasca kejadian tersebut, baik pihak AU Thailand dan AU Cina tidak mengumumkan secara resmi hasil latihan. Lebih-lebih, AU Cina meminta press blackout, tidak ada media yang meliput, tidak ada media day, dan akses informasi untuk wartawan ditutup habis. Seluruh personel AU Cina tidak diperbolehkan keluar dari Lanud Korat
Kembali lagi ke paragraf awal, meski berita ini cukup menarik, namun masih subyektif, pasalnya tak ada keterangan secara resmi yang dirilis. Pernyataan kemenangan satu pihak atas pihak lain dalam sebuah latihan memang kerap subyektif, terutama dalam latihan udara, sebab masing-masing mempunyai kepentingan dan parameter serta cara pandang berbeda.

Baca juga: Menyambangi Basis Fasilitas Produksi Gripen di Linköping
Menanggapi keunggulan Gripen atas J-11, Magnus Hagman, Campaign Director Gripen and Airborne System Saab Asia Pacific berpendapat, “Gripen adalah generasi jet tempur multirole dengan teknologi terbaru, pesawat ini menyajikan efektivitas tempur tinggi yang memungkinkan pilot untuk menggunakan taktik yang lebih unggul,” ujar Magnus yang juga mantan penerbang Gripen AU Swedia.
Sekilas J-11 (Sukhoi Su-27)
J-11 merupakan versi rakitan lokal dari Su-27 yang dibeli Cina dalam bentuk kit sejumlah 200 pesawat. Namun dalam perjalanannya Cina melakukan reverse engineering dan berhasil membuat J-11 secara lokal, termasuk mesin Woshan WS-10A Taihang yang menggantikan mesin Lyulka AL-31F dari Rusia.
Mengutip dari Wikipedia.org, J-11 dibuat oleh Shenyang Aircraft Corporation. Rancang bangun J-11 menggunakan airframe dari Sukhoi Su-27SK, jenis yang juga dimiliki TNI AU di Skadron Udara 11. Harapan Cina cukup besar pada jet tempur ini, karena digadang untuk bisa mengungguli jet tempur F-15 Eagle yang dioperasikan AS dan Jepang. Sejak terbang pada tahun 1998, Shenyang Aircraft Corporation kini telah memproduksi J-11 dalam beragam versi. Mulai dari J-11A, J-11B, J-11BS (tandem seat), J-11BH (versi AL), dan J-11D. Di versi J-11B yang dilengkapi glass cockpit, kabarnya juga akan dipasang radar AESA (Active Electronically Scanned Array).
Elang Thainesia
Thailand terbilang rajin melakukan event latihan bersama, selain dengan AU Cina, antara Thailand dan Indonesia punya hubungan yang erat dalam bidang militer. Salah satu wujudnya adalah berlangsungnya latihan bersama untuk angkatan udara yang diberi sandi “Elang Thainesia.” Yang terakhir diadakan pada 8 – 16 September 2015 di Thailand. Elang Thainesia sudah berlangsung sejak 1984, kedua negara cukup erat melakukan latihan, terutama sejak menggunakan pesawat tempur yang sejenis, yakni dari era OV-10F Bronco, F-5E/F Tiger, dan kini di era F-16 C/D Fighting Falcon. (Gilang Perdana)



Lebih baik ambil gripen aja..sukhoi itu harganya Mahal, karena gak bisa G to G Harus lewat rosoboronexport, selain itu biaya operasionalnya juga Mahal, lha Wong APBN Kita aja defisit , percuma aja punya pesawat Tempur canggih to gak bisa terbang gara2 anggaran dikurangin, Jadi mending pilih yang low cost aja…
untuk manuver kobra, yg pertama kali melakukan manuver itu adalah Saab Draken, bukan sukhoi.
SEMUA PESAWAT TEMPUR MAMPU MELAKUKAN MANUVER KOBRA.
TVC pada mesin sukhoi tidak efektif untuk doghfight, maintenace luar biasa ribet, dan hanya untuk mencoba melawan hukum fisika pesawat terbang.
HUKUM FISIKA PESAWAT TERBANG TIDAK BISA DILAWAN.
LEBIH BAIK MEMENSIUNKAN SUKHOI SU 27/30 dengan cepat SEBAGAI TEMPAT UNTUK 2 Skardron GRIPEN E.
peluru,missile, itu sangat bodoh.
mereka tidak sedang berdebat antara single engine dengan twin engine
mereka juga tidak tahu mahal murahnya pesawat.
yg mereka tahu , adalah pespur yg lebih besar, 2 mesin panas adalah target yg mudah dihancurkan macam Su 35.
beli su 35, ya tidak apa apa, tapi yg diterima hanyalah versi downgrade dan belinya sama perantara rosoboronexport yg kualitasnya sangat meragukan dan menggentarkan uang rakyat.
AS dan konco konconya sudah mempelajari semua tentang kemampuan sukhoi dari berbagai tipe. mereka tidak bakal takut apabila indonesia punya Su 35.
Bohong kelewatan, sampa isekarang SUKHOI TETAP PALING HEBAT
ini website kesukaan anda :
http://jakartagreater.com/gripen-thailand-pecundangi-jet-sukhoi-27-tiongkok/
disini juga ada :
http://www.indomiliter.com/jajal-dogfight-j-11-sukhoi-su-27-kalah-telak-dari-gripen-ini-dia-sebabnya/
Gripen, pesawat tempur masa depan Negeriku. gerbang menuju IFX, dan pengganti Su 27 dan 30 downgrade yg kualitasnya sangat mengecewakan bagi TNI AU sekarang ini.
BERITA BOHONG, BAHKAN SANGAT BOHONG. KEHEBATAN SUKHOI BELUM ADA YG MENANDINGI BROW
Sukhoi nya made in China, ini sama aja bandingin antara Yutong / Zhongthong ama Volvo…ya jelas kalah telak…
Lalu CN-295, Heli Cougar dst… buatan PT. DI disebut apa ?
J-11 adalah Su-27SK yang dirakit (lisensi) di China, jadi sama persis.
Namun setelah kontrak habis, China masih terus memproduksi (melanggar)
J-11B malah lebih canggih dari Su-27SK, setara Su-27SKM milik TNI-AU
konon yang dipakai uji tanding adalah J-11B
dikit info mngenai j-11
jeroannya sdh banyak diganti, Radar N001E Rusia yang tua digantikan dengan pulse Doppler Type 1493 China, yang kabarnya bisa mendeteksi jet tempur pada kisaran lebih dari 90 mil dan kapal perang permukaan pada lebih dari 200 mil
trus sdh glass cocpit, sdh ada on-board oxygenator
katanya kendala utama di mesin dimana WS-10A ini ada yang menyebut merupakan usana cloning dari AL-31F Rusia, atau desain dalam negeri yang memasukkan unsur mesin CFM56 Amerika yang diperoleh sekitar tahun 1980-an
Pada satu titik WS-10A dilaporkan membutuhkan overhaul setiap 30 jam penerbangan. Jauh dibandingkan dengan 400 jam untuk mesin AL-31F Rusia yang digunakan di Su-27
Coba Liat diatas, mesin aja beda, sukhoi itu mesinnya Lyulka AL-31F, sementara J-11 pake mesin lokal Woshan WS-10A Taihang, jelas sangat berbeda performanya, Ibaratnya HP Smartphone, kalo ngebandingin antara Smartphone Cina dengan Samsung, dari segi fitur mungkin sama..tapi dari segi performa jelas beda dong..
WS-10A : 120–140 kilonewtons (27,000–31,000 lbf) of thrust
AL-31F : 74.5 kilonewtons (16,700 lbf) dry thrust, and 122.58 kilonewtons (27,560 lbf) with afterburner
Dari perbandingan diatas, Performa WS-10A jauh lebih unggul diatas AL-31F
perkembangan mesin buatan lokal mereka selalu menghadapi masalah bahkan di pesawat siluman mereka terpaksa menggunakan mesin buatan rusia tapi patut di apresiasi usaha mereka mengembangkan mesin lokal
dikit catatan pespur mereka untuk varian ekspor seperti JF-17 menggunakan mesin buatan lyulka termasuk pakistan dengan alasan lebih ke pemasaran
pukulan telak bagi fansboy sukhoi hahaha
tapi secara politik kita mending prefer ke russia. ingat masa lalu bung kita lebih sering di embargo amerika, inggris dan sekutu2nya paling-paling dengan alasan HAM dan pada akhirnya alutsista kita gak ke pake. secara politik russia lebih setia perjanjian dibanding dengan negara lainnya. ini apasih negara kecil disuruh embargo komponen paling nurut.
Baca sejarah yang betul bung
Anti Embargo = MANDIRI
Bung indomilky, apakah anda tidak tahu bahwa Rusia juga mengembargo kita pda orde baru, seluruh Mig dan tupolev kita lumpuh total, dan terpaksa pake mustang. lalu rusia tidak pernah lupa tentang indonesia melakukan pengkhianatan dengan menghibahkan 13 mig 21 ke AS.
Maju tak gentar dimasa Embargo AS, Buktinya kita berhasil menekuk 5 F18 hornet AS dibawean walaupun hanya dengan 2 F16 yg dikanibalisasi suku cadangnya. tidak lama kemudian embargo itu langsung dicabut.
Sedangkan Sukhoi?. sudah setahun lama 4 buah sukhoi gak balik ke NKRI buat menjalani perbaikan mendalam di rusia dan jarang terbang, apakah ini yg namanya Anti Embargo!
Lebih baik Bekerja Sama dengan Negara Eropa buat kemandirian Nasional.
Alutsista versi export
negara pembeli tidak tahu apa yg sudah di downgrade.
karena kedaulatan 100% berada di AS DAN RUSIA!!
@eki
Udah mas, gak usah gaya2an….komenmu cuma jiplak dari blognya GI, sama persis sampai titik komanya.
#cie-cie yang tukang ngadu….
Jiplak atau tidak, bukan masalah serius. Tanyakan saja Sama Adminnya Di Blog GI Tentang kehebatan Sukhoi. HHH
@eki masardika tukang ngadu
Gue gak ngurusin sukhoi !!!
Komenmu itu lho gak orisinil, kalo cuma mo baca artikelnya GI, gue udah tau blognya…gak usah copy paste kesini
#udah ngadu lagi sono ma GI
Cieeeeeee, Marah, gara gara nyalahin gue jiplak komen dari GI. HHHHHh, Kalo LO sok nyuruh GUE ngadu ke Bung GI, LO NGADU AJA SANA KE BUNG GI SAMPE NANGIS NANGIS kaya anak kecil.
MAKANYA BELAJAR LEBIH DEWASA, JANGAN NGAYAL dan asal KOMEN !!!
SLUKUK BULLSHIT! 😀 😀
huwahahahhahahahh ..semoga pemerintah mengambil tawaran Gripen NG……yg pasti para fans Sukhoi tak mau menerima kenyataan su 27 cina kalah
Salut sayah sama tim GI…kompak selalu
Mental juara, ayoo..kamu pasti bisa!
Artikel menarik dari Antara nih http://www.antaranews.com/berita/570205/saab-swedia-resmi-tawarkan-jas39-gripen-kepada-indonesia
–>
“Dia mengungkap nilai kontrak yang bisa diajukan, yaitu 1,14 miliar dolar Amerika Serikat untuk paket pembelian SATU SKUADRON JAS39 Gripen itu.”
…
““Yang menarik, ENAM di antara jumlah yang dibeli Indonesia itu nanti akan DIRAKIT DI INDONESIA. Ini proses penting untuk penguasaan teknologinya,” kata dia.”
…
“Sisa dari unit JAS39 Gripen yang dipesan Indonesia, katanya, dibangun di hanggar produksinya di Linkoping, Swedia. “Akan dikerjakan bersama dengan para teknisi dan ahli dari Indonesia dalam proses pembuatan dari awal hingga akhir di hanggar produksinya di Linkoping,” kata Calqvist.”
…
““Saya bisa katakan, 85 persen dari jumlah itu akan berupa alih teknologi dan kerja sama industri pertahanan yang produknya bisa dipergunakan untuk kepentingan lain, sesuai keperluan Indonesia,” kata dia.”
—————————–
Kalo anggaran yg dibutuhkan “1,14 miliar dolar” untuk pengadaan 1 skuadron (12-16 pesawat) Gripen (mungkin C/D u/ anggaran segitu) tapi 6 diantaranya dirakit di sini, sisanya dikerjakan di Swedia dgn menyertakan teknisi Indonesia sebagai wujud alih teknologi hingga “minimal” Indonesia bisa mereparasi & mengupgrade Gripennya sendiri maka itu lumayan murah.
Itu sekaligus pelengkap/pendukung dari kerjasama KFX/IFX yg lagi berjalan dengan Korsel (bisa aja kan di tengah jalan Indonesia memilih keluar krn suatu alasan).
Konon anggaran untuk pengganti F-5 Tiger 1,5 milyar dolar. Lalu jadi 850 juta dolar. Tapi 1,14 milyar dolar masih masuklah :D. Kira2 setara dgn biaya pengadaan 3 kasel CBG improve. Pantes aja salah satu pejabat tinggi kemhan yakin Gripen bakal kebeli 😀
Betul sekali mas @Erick, kebetulan pas wawancara itu, kami jg ada di lokasi dan ikut menyimak pernyataan tersebut.
barang tiruan..!! tentuhlah kenerjanya tidak sebagus aslinya. apalagi J11 tiruan su27 melawan gripen C ya tentu lebih baru gripen C musunya tidak setara…meski melawan yg asli paling la sebelas duabelas…cobak cari musuh yg seimbang seperti Su35 meskipun itu cuman simulasi doghfigh namun juga harus diperhitungkan..
Salam.. buat kel. G.I
Pengganti Hawk 100/200 adalah FA-50 Golden Eagle
bukan kel. G.I, habislah harapan setelah F5.
http://angkasa.co.id/info/militer/angkatan-udara/ingin-spektek-terbaik-tni-au-bersabar-menunggu-su-35/
@rubis
Tdk habis ttp brkurang. Yg diperjuangkam Gripen jauh lbh besar dari Sukhoi yg dijatah cuma untuk Skuadron 14
Pengadaan pespur workhorse yg sblmx 5 skuadron berkurang mnjd 4 skuadron. Kandidatnx sdh fix yaitu Viper, Gripen , Thypoon & JF-17 plus FC-31
Rusia sdh menawarkan Su-35 & Mig-35 ttp sdh tersingkir lebih duluan krn tdk mmnuhi kritreria sprt low cost op, radar AESA, multirole
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pertahanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan di akhir artikel kedua Kompas yg mengulas soal Gripen malah ngasih dukungan ke Gripen.
Persis di akhir artikel 19 Juni 2016 itu:
“”Iya, insya Allah pemerintah menjatuhkan pilihannya ke Gripen,” ujar Danardono.”
http://print.kompas.com/baca/2016/06/19/Tawaran-Menggiurkan-SAAB-untuk-Industri-Pertahanan
Ini saya copas artikelnya karena linknya hanya bisa dibuka pelanggan kompas cetak digital.
————————————————————————
Kompas, Minggu, 19 Juni 2016
TAWARAN MENGGIURKAN SAAB UNTUK INDUSTRI PERTAHANAN INDONESIA
Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan mantan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro tentang industri pertahanan, saat ditanya seperti apa model yang ingin dicapai Indonesia, tanpa ragu dia menyebut model industri pertahanan di negara-negara Nordic. Lebih khusus lagi dia menyebut Swedia.
Sejarah industri pertahanan di Indonesia telah ada sejak masa kolonial Hindia Belanda antara lain dengan berdirinya Leger Produktie Bedrijven atau Perusahaan Produksi Militer di Bandung yang menjadi cikal bakal PT Pindad dan Marine Establishment yang nantinya berubah menjadi PT PAL di Surabaya. Namun, peta jalan industri pertahanan Indonesia sebenarnya mulai terang saat pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.
Purnomo menuturkan, Indonesia tidak ingin meniru negara-negara yang industri pertahanannya sebangun dengan keinginannya membangun kekuatan militer, seperti Amerika Serikat, Inggris, atau Jerman. Indonesia, kata Purnomo, juga tak ingin meniru negara yang punya alat utama sistem persenjataan dan kekuatan militer yang kuat, tetapi tak mau mengembangkan industri pertahanan seperti Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya.
“Yang ingin kita tiru bukan seperti Amerika Serikat, Jerman atau Arab Saudi. Tidak di antara negara-negara ini juga. Kalau begitu, mana kiblatnya? Nordic countries. Anda tahu enggak Swedia, yang punya SAAB. Kamu tahu Singapura beli kapal selam Swedia. Nordic countries itu tidak pernah perang, tetapi Sukhoinya Rusia kalau patroli enggak berani lewat situ (wilayah negara Nordic). Nordic countries itu ada lima: Swedia, Norwegia, Finlandia, Denmark, dan Islandia. Itu kuat sekali. Mereka enggak pernah perang, tetapi orang takut sama mereka,” ujar Purnomo.
UU Industri Pertahanan dengan tegas menyatakan, TNI dan Polri harus menggunakan peralatan pertahanan dan keamanan buatan dalam negeri selama masih bisa dibuat oleh industri pertahanan Indonesia. Jika memang spesifikasi teknis peralatan pertahanan dan keamanan yang dibutuhkan TNI dan Polri belum dapat diproduksi di Indonesia, mereka boleh membeli dari luar negeri dengan sejumlah persyaratan. Syarat itu tertulis tegas di Ayat 5 Pasal 43 UU Industri Pertahanan, yakni mengikutsertakan industri pertahanan dalam negeri, harus ada kewajiban alih teknologi, jaminan tidak adanya embargo, adanya imbal dagang, kandungan lokal dan atau ofset paling rendah 85 persen, dan pemberlakuan ofset paling lama 18 bulan. Ofset pertahanan adalah kompensasi yang diberikan industri pertahanan terhadap negara pembeli produk.
Transfer teknologi
Misalnya Indonesia membeli tiga kapal selam kelas Changbogo dari Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME). Ofset pertahanan dari kontrak pembelian kapal selam ini adalah satu di antara tiga pesanan kapal selam tersebut dibuat di galangan milik PT PAL Surabaya dan DSME punya kewajiban melakukan transfer teknologi. Sebagai bagian dari ofset pertahanan pembelian kapal selam ini, TNI AL mengirimkan perwiranya ke DSME, sementara PT PAL mengirimkan teknisinya.
Polemik yang mencuat saat petinggi TNI AU ingin membeli helikopter VVIP AugustaWestland AW 101, beberapa waktu lalu, menjadi contoh seberapa konsisten pemerintah menerapkan UU Industri Pertahanan. Keinginan petinggi TNI AU membeli helikopter VVIP AugustaWestland ditentang karena PT Dirgantara Indonesia bekerja sama dengan Airbus mampu membuat helikopter EC 725 Super Cougar. Helikopter ini diklaim PT DI dapat dikustomisasi menjadi helikopter VVIP. Istana akhirnya membatalkan keinginan petinggi TNI AU membeli AugustaWestland. Salah satu pertimbangannya karena PT DI mampu membuat helikopter dengan spesifikasi teknis untuk VVIP. Jika pemerintah menyetujui pembelian helikopter AugustaWestland, bisa saja pemerintah dinilai melanggar UU Industri Pertahanan.
UU Industri Pertahanan mensyaratkan secara ketat ketentuan ofset ini. Ketentuan UU ini yang disadari salah satu industri pertahanan global asal Swedia, SAAB, saat menawarkan pesawat tempur multiperan JAS-39 Gripen hingga sistem radar airborne GlobalEye AEW&C ke Indonesia. Kepala Kerja Sama Industri SAAB Eva Soderstrom, seusai pelucuran generasi terbaru Gripen, pertengahan Mei lalu, di Linkoping, Swedia, mengungkapkan, perusahaannya menyadari betul ketentuan ofset yang diterapkan negara calon pembeli seperti Indonesia. “Lewat kerja sama industri dan transfer teknologi, SAAB dapat menawarkan akses pada teknologi yang kami miliki. Dengan akses ke teknologi yang kami miliki dan dukungan dari kami, keinginan suatu negara membangun kemampuan dan kekuatannya dapat dicapai secara efektif,” ujar Soderstrom.
Membangun pabrik
SAAB punya model kerja sama industri dengan negara pembeli produknya. Mereka menamakan model kerja sama ini dengan triple helix. Platform kerja sama yang melibatkan perguruan tinggi, industri lokal, dan badan pemerintah. Soderstrom tak asal bicara. SAAB melakukan kerja sama industri dengan lebih dari 30 negara. Salah satu yang terbesar adalah Brasil yang membeli 28 Gripen NG (Next Generation) dan 8 Gripen F.
Saat ini, ada 107 insinyur asal Brasil dan keluarganya yang datang ke Swedia untuk memastikan bentuk ofset pertahanan dengan SAAB berjalan. Mereka bagian dari 350 insinyur asal Brasil yang ikut terlibat langsung dalam pembuatan Gripen NG dan Gripen F. SAAB dan industri dirgantara Brasil membangun pabrik dan fasilitas produksi Gripen di Gavio Peixoto, kota tempat pabrik pesawat asal Brasil, Embraer, berada. SAAB juga membangun fasilitas uji coba penerbangan di sini. SAAB bersama Brasil tengah merancang desain pesawat tempur masa depan.
Menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pertahanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Marsekal Pertama Danardono Sulistyo Adji, nilai kesepakatan ofset antara SAAB dan Brasil lebih 100 persen dari total nilai kontrak pembelian Gripen oleh negara tersebut. Danardono, yang datang ke Linkoping menyaksikan peluncuran Gripen NG, mengatakan, tawaran ofset seperti ini sangat jarang ditawarkan industri pertahanan global. Sesuatu yang, menurut dia, sebenarnya cukup menggoda Indonesia.
Bagi SAAB, kerja sama dengan industri pertahanan lokal telah menjadi kunci sukses pertumbuhan bisnis mereka. “Kerja sama industri telah mengarahkan kami pada keuntungan bisnis dan pertumbuhan yang lebih baik,” kata Soderstrom.
Ini antara lain dibuktikan dengan backlog atau pesanan yang belum terselesaikan pada 2015 yang mencapai rekor tertinggi sepanjang berdirinya SAAB, yakni 13 miliar dollar AS. Salah satunya disumbang dari order penjualan Gripen ke beberapa negara dengan menyertakan proposal kerja sama dengan industri pertahanan lokal.
Bagaimana dengan Indonesia yang tengah mencari pengganti F-5 Tiger? SAAB menawarkan Gripen ke Indonesia dengan proposal menggiurkan ofset pertahanan yang bisa mencapai lebih 100 persen dari kontrak pembelian “Iya, insya Allah pemerintah menjatuhkan pilihannya ke Gripen,” ujar Danardono.
http://print.kompas.com/baca/2016/06/19/Tawaran-Menggiurkan-SAAB-untuk-Industri-Pertahanan
Gripen agresif banget jualan nya akhir2 ini. ???
J-11 cina kan mesinnya WS-10 apa masa hidupnya akan lebih lama daripada Su-27 ?
Berita gak masuk akal hoak masak su 27 di desain buat pertempuran supermasi udara kalah ama jas gripen bisanya bawak tangki bahan bakar doang …fakta dogfighter su 30 mki india vs eurofighter …juaranya su 30 mki india . Lagian tni au buat apa belli jet tempur gampang di embargo igat …igat sejarah di jamin indonesia selamat buat masa panjang stop ambil uang kontan .
kalo klaim sepihak seperti dr gripen thailand atau sukhoi india gk harus diterima mentah2..
lebih fair dan adil jika kedua belah pihak sama2 membeberkan hasil latihan mereka dan itu juga blm tahu kapan waktunya.
kubu barat dan timur sama2 rawan embargo dan bebas embargo jika mandiri tapi jarang kubu timur embargo dengan alasan ham. Bukan berari memihak sama kubu timur
Mau Lisensi/kw atau bukan…ngga masalah…yang penting kita – Indonesia – Bisa memenuhi kecukupan akan alusista dulu bagi TNI…
Sukoi itu hebat klu untuk demo, buat pertunjukkan manuver di udara, mcmx2 gerakan bisa dilakukan. Tapi manuver yg dilakukan sukoi itu bersifat lambat dan mudah dijadikan sasaran tembak. Aksi seperti itu tidak bermakna dalam peperangan dogfight skrng. Kerana dogfight perlukan kecepatan, gripen pesawat kecil dan lincah. Sudah pasti kecepatan manuver dalam genggaman pesawat ini.
Fans sukhoi keliatannya pada nggak terima 😀
Entah menang ato kalah, satu hal yg udah pasti, Gripen C, meskipun kecil & nggak meyakinkan, udah membawa AU Thailand lebih maju dalam manajemen tempur udara dengan efisien :D.
Bandingin dengan ulasan ini http://angkasa.co.id/info/militer/realistiskah-pesawat-intai-maritim-incaran-menteri-susi/
Dan jauh masih mending Su-27 ‘KW’ China karena setidaknya kalo rusak bisa diperbaiki dalam negeri. Minimal mereka punya jaminan stok suku cadang yg membuat Sukhoi mereka tetap bisa terbang. Lha kita?
Jadi fans sukhoi Rusia jangan remehkan sukhoi China.
😀
@jangkrik
“Dalam Perang Teluk tahun 1992, F-16 (single engine) sering menembak jatuh MiG-25 (dual engine) atau pesawat lainnya milik Irak.” Mungkin mau dikaitkan dengan artikel dari admin dan mengarah bahwa pespur singel engine di atas angin dari pespur double engine
Poin knp mig-25 keok dari f-16
1. Keterbatasan dalam teknik manufaktur Soviet membuat pesawat lebih berat dibandingkan pespur Barat. Hal ini menjadikan pesawat akan memiliki kemampuan buruk dalam buruk pada kecepatan tinggi dan sulit menangani pada saat terbang di ketinggian rendah.
Efektivitas radar terbatas dalam situasi pertempuran konvensional melawan jet tempur musuh
2. Selama perang teluk pespur koalisi di tunjang dengan pesawat peringatan dini dan dari sisi teknologi f-16 pada perang teluk termasuk f-16c/d yang pada masanya termasuk canggih dibandingkan dengan pespur milik irak. ( f-16 menembakkan aim-120 buat hancurin mig-25)
JIka dikatakan f-16 sering menembak jatuh mig-25 bisa saja benar bisa tidak krn gk tw f-16 dari negara lain di luar AS apakah lebih banyak dari lakukan kill shot ke pespur irak (selama perang teluk f-16 usaf hanya dua kali nembak jatuh pespur milik irak yaitu mig-25 dan mig-23)
“AS paling sering menerjunkan F-16 sebagai garda terdepan pertempuran udara di Perang Teluk”
Justru dalam perang teluk pespur mesin ganda milik USN (F-18, F-14) dan USAF (F-15 dan F-111) paling sering diterjunkan dan terlibat dengan pespur milik irak
buat saya membandingkan f-16 vs mig-25 dengan gripen vs j-11 berada di konteks yang berbeda
Silahkan anda google atau cari saja di PUSTAKA TNI tentang perang teluk
disitu tidak di sebutkan ada F-15 pada First Srike hari pertama, tapi disebutkan F-16, Jaguar dan F/A-18A/B
Perlu diketahui F/A-18A/B pada waktu itu disebut penempur kelas ringan sekelas dengan F-16, diambil dari Light-weight Fighter (LWF) program yaitu YF-16 (F-16) dan Northrop YF-17 (F/A-18)
Hampir semua penempur f-16 cadangan di terjunkan di teluk, warisannya sekarang dipakai TNI-AU yaitu F-16 52ID
F-15 hanya ada untuk pembersihan “sisa-sisa” atau kloter berikutnya
“buat saya membandingkan f-16 vs mig-25 dengan gripen vs j-11 berada di konteks yang berbeda”
Bila anda menyimak Artikel dari @Admin diatas ternyata sama dengan jawaban anda 1 dan 2…silahkan dibaca lagi
At 2:43 A.M. two USAF EF-111 Ravens with terrain following radar led 22 USAF F-15E Strike Eagles against assaults on airfields in Western Iraq. Minutes later, one of the EF-111 crews – Captain James Denton and Captain Brent Brandon – destroyed an Iraqi Dassault Mirage F1, when their low altitude maneuvering led the F1 to crash to the ground.
At 3:00 AM, ten USAF F-117 Nighthawk stealth bombers, under the protection of a three-ship formation of EF-111s, bombed Baghdad, the capital. The striking force came under fire from 3,000 anti-aircraft guns firing from rooftops in Baghdad
itu ada serangan pembuka pasca irak menghiraukan peringatan dari amrik
dan prioritas serangan koalisi tertuju ke bunker, misil scud, lapangan udara dan aset lainnya dimana menggunakan F-111, F-15E, Tornado GR1, F-16, A-6, A-7E,and F-117, dan didukung oleh F-15C, F-14 and Tornados buat pertahanan udara
mengenai kelemahan mig-25 disama ratakan dengan j-11 saya belum pas meski ada beberapa poin yg mirip tp j-11 dan mig-25 beda kelas
gripen menang, j-11 memang atau seimbang tergantung dari hasil latihan dari kedua belah pihak..
klaim sukhoi india unggul dari pespur inggris saya g gk terima utuh karena tergantung dari hasil kedua belah pihak
ini sudah sangat OOT,
Anda protes dengan tulisan saya ini :
“AS paling sering menerjunkan F-16 sebagai garda terdepan pertempuran udara di Perang Teluk”
saya ambil dari majalah Aviation Week, Combat Aircraft dan Artikel di Internet dengan inti yang sama :
“In Operation Desert Storm of 1991, 249 USAF F-16s flew 13,340 sorties in strikes against Iraq, the most of any Coalition aircraft”
Majalah angkasa :
“Pesawat yang tangguh dan paling banyak dipakai dalam perang teluk”
Majalah lain juga menyadur dengan artikel yang sama
Pustaka TNI :
“Pada hari pertama Operation Desert Storm Markas pusat kontrol Irak dan pertahanan udara Iraq telah hancur. Hal ini terjadi ketika Pesawat tempur mulai masuk F-16 Jaguar,dan F-18 secara sistematis merobek semua kubu Irak yang tersisa”……………………………….”pengawalan dilakukan oleh skadron F-15………………………”
Kalau menurut anda belum pas, itu terserah anda, karena menurut saya sudah pas sekali
pertanyaan terakhir anda, sudah saya jawab di komentar saya dibawah, silahkan dibaca
maaf bung jangkrik yang saya soroti serangan pembuka bukan dari f-16 dkk tp dari yang sdh sy posting sebelumnya
Okelah memang f-16 paling banyak sorti dlm golf war tp yang anda katakan paling sering menembak jatuh mig-25 salah, jika dikatakan f-16 usaf dlm gulf war hanya sekali nembak jatuh mig-25
dan membandingkan f-16 vs mig-25 dgn gripen vs j-11 hal yang beda
f-16 pada masa gulf war termasuk pespur tercanggih dan mig-25 irak pake teknologi lama dan perannya sebagai pesawat pencegat, bukan penempur
dan membandingkan dgn gripen vs j-11 sdh beda dan klaim sepihak dari thailand jgn serta merta diterima, lebih fair jika kedua belah pihak membeberkan hasil latihannya toh dari cina hingga skrg blm ada laporannya.
dan sepertinya anda sangat anti dan alergi dengan yang namanya sukhoi
Lha ini apa bung ???
ini pertanyaan AWAL anda
“AS paling sering menerjunkan F-16 sebagai garda terdepan pertempuran udara di Perang Teluk”
Jawaban anda :
“Justru dalam perang teluk pespur mesin ganda milik USN (F-18, F-14) dan USAF (F-15 dan F-111) paling sering diterjunkan dan terlibat dengan pespur milik irak”
Abingu sekali anda ini, OMG
“anda katakan paling sering menembak jatuh mig-25”
Siapa yang mengatakan ???
“sepertinya anda sangat anti dan alergi dengan yang namanya sukhoi”
Siapa yang Alergi ???
Di forum hal seperti ini DILARANG bung
ini namanya Person Attack dan Junker
Dalam Perang Teluk tahun 1992, F-16 (single engine) sering menembak jatuh MiG-25 (dual engine) atau pesawat lainnya milik Irak.
itu komentar anda di posting paling bawah, gk usah mengelak kalo prnh posting
ambigu apanya mas,
“AS paling sering menerjunkan F-16 sebagai garda terdepan pertempuran udara di Perang Teluk”
trus sy jawab si koment sebelumnya sy akui sorti f-16 paling banyak sesuai komentar mas
“Justru dalam perang teluk pespur mesin ganda milik USN (F-18, F-14) dan USAF (F-15 dan F-111) paling sering diterjunkan dan terlibat dengan pespur milik irak”
poin ini sy tekankan seberapa sering pespur selain f-16 ketemu pespur milik irak dan terlibat pertempuran
maaf jika gk komplit
trus anda soroti pespur yg lakukan serang pembuka di golf war f-16 tp saya berkata bukan,
trus perbedaan mengenai perbandingan f-16 vs mig-25 dengan gripen dan j-11 kan sampai skrg beda pendapat.
cuma poin2 itu saja yg dibahas
maaf kalo anda merasa saya serang anda di forum ini dgn mengatakan anti sukhoi
“anda katakan paling sering menembak jatuh mig-25”
Coba anda bandingkan dengan perkataan saya :
“Dalam Perang Teluk tahun 1992, F-16 (single engine) sering menembak jatuh MiG-25 (dual engine) atau pesawat lainnya milik Irak”
Anda telah melakukan tindakan KORUPSI, dengan SENGAJA menghilangkan :
“….atau pesawat lainnya milik Irak”
sehingga maknanya jadi berbeda. (seperti tabiat forum sebelah)
atau anda Admin dari sebelah tersebut ????
dengan jam terbang yang paling sangat tinggi dibanding pesawat lainnya, tentunya F-16 paling banyak berhadapan dengan musuh musuhnya di perang teluk.
OK kita sudahi debat KUSIR yang tidak ada artinya ini.
sikat,hajar,habisi, panggil KPK, bersihkan indonesia dari korupsi
iya bener ya, sangat menjengkelkan sekali istilah 2x anti sukhoi, anti barat, seles gripen, malingsia, asu dan lain-lain
hahahahah
seberapa sering f-16 tembak jatuh pesawat irak (mig-25 dan pespur lainnya)? jika parameternya f-16 usaf hanyak 2 kali doang, sdh sy posting sebelumnya
mau korupsi kata atau apalah itu urusan anda menilai>>
admin apaan? blog apaan? mana buktinya, jgn asal nuduh bos jangkrik
cape deh mas, santai sajalah. Tadi ngomongnya jgn person attack lah situ ngapain tadi..balas dendam toh 🙂
panggil sajalah kpk dll, santai sajalah mas 🙂
@omega, potong/utak atik kalimat itu tindakan hina, gaya JKGR,.jangan diulangi lagi pak
yah udah saya minta maaf kalo tindakan gw hina 🙂
lagian saya gk tw apa gaya JKGR dan semacamnya..
web nya atau blognya pun saya mana tahu
ini komentar posting awal “JIka dikatakan f-16 sering menembak jatuh mig-25” dan itu yang saya soroti, mengenai f-16 pespur lainnya saya abaikan
27 December 1992
USAF F-16 vs. IRAF MiG-25
A MiG-25 crossed the no-fly zone and an F-16D shot it down with an AIM-120 AMRAAM missile. It is the first kill with an AIM-120, and also the first USAF F-16 kill
dan serangan itu berasal dari Dhahran, Saudi Arabia dengan tipe f-16d blok 42
sorti paling banyak blm tentu sering nembak mig-25 krn f-16 cuma sekali nembak mig-25
jika di komentar berikutnya kata sering diganti dngn paling sering buat saya tidak mengubah konteksnya terlalu jauh jika dianggap hina sekali lagi sy minta maaf 🙂
Astagfirullah, ternyata masih lanjut juga, manusia macam apa sampeyan mas ??? puasa-puasa bikin jengkel saja
““Dalam Perang Teluk tahun 1992, F-16 (single engine) sering menembak jatuh MiG-25 (dual engine) atau pesawat lainnya milik Irak”
Artinya : yang sering dijatuhkan bisa MiG-25 juga bisa pesawat yang lainnya misal Su-22, MiG-23 dst milik irak
sedang anda tulis :
“anda katakan paling sering menembak jatuh mig-25”
Artinya : sering menembak jatuh MiG-25 saja
berarti ITU KOMENTAR ANDA SENDIRI, bukan komentar saya, karena anda dengan sengaja MEMELINTIR perkataan saya.
““Dalam Perang Teluk tahun 1992, F-16 (single engine) sering menembak jatuh MiG-25 (dual engine) atau pesawat lainnya milik Irak”
Artinya : yang sering dijatuhkan bisa MiG-25 juga bisa pesawat yang lainnya misal Su-22, MiG-23 dst milik irak
berulang2 kan sy soroti mig-25 dan saya gk singgung pesawat lainnya,,
f-16 usaf cuma 2 kali nembak jatuh pesawat irak, sekali mig-25 dan pesawat lainnya itu mig-23..
27 December 1992
USAF F-16 vs. IRAF MiG-25
A MiG-25 crossed the no-fly zone and an F-16D shot it down with an AIM-120 AMRAAM missile. It is the first kill with an AIM-120, and also the first USAF F-16 kill.
17 January 1993
USAF F-16 vs. IRAF MiG-23
A USAF F-16C shoots down a MiG-23 when the MiG locks the F-16 up.
USAF F-16s vs. IRAF Su-22s
Two IRAF Su-22 “Fitters” open fire on two USAF F-16s in protest of the no-fly zones. No aircraft are damaged in the encounter.
artinya bukan sering nembak mig-25 atau pesawat lainnya, tapi dua kali
spertinya mas kurang paham, sy potong bukan mau memilintir tp sy fokusnya f-16 sering jatuhkan mig-25 krn f-16 cuma 1 kali, bukan sering
kalo masih gk paham dan gk terima yah sudahlah 😀 daripada diteruskan nanti ada yang jengkel
emang KW bro mesinnya J-11 secara lokal termasuk mesin Woshan WS-10A Taihang yang menggantikan mesin Lyulka AL-31F dari Rusia.
KW lagi, KW lagi, risih sekali mendengarnya
Seharusnya anda malu, karena sampai sekarang Indonesia belum bisa membuat mesin JET
Tak usah jauh jauh, SMARTPHONE saja masih Impor, 90% dari China lagi
Merek Lokal pun ternyata juga tempelan merek belaka, aslinya dari China
bagaimana pendapat agan agan katanya kita sudah punya rafale, typhoon, su 34 dan lain lain??? sumber dari patriotgaruda.com, kalau memang benar berarti memang luar biasa alutsista kita?
ente mau percaya mau tidak itu terserah anda sendiri
Termasuk kejadian beberapa bulan lalu dimana F-16 (single engine) Turki yang menembak jatuh Su-24 (dual engine) Rusia
Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa J11 kalah, yaitu:
1. Pilot cina sengaja mengalah (untuk mengetahui kemampuan gripen)
2. Pesawat KW (jadi jgn bilang sukhoi)
3. Pilot cina mungkin kurang terlatih (tapi ini kemungkinannya kecil)
CMIIW
Istiah KW terlalu mengada ngada
Karena J-11 adalah LISENSI Su-27SK asli dari Rusia
Namun setelah lisensi habis, China terus memproduksi J-11 dengan senaknya tanpa se ijin pihak Rusia
Justru J-11 telah dimodifikasi oleh China sehingga “agak” lebih dari disain Aslinya
CN-295 (Lisensi C-295) yang diproduksi PT. DI apakah KW juga ??
NBO-105 (Lisensi BO-105) juga KW ?
Tentu kita tidak terima dikatakan Produksi (Lisensi) PT. DI dikatakan KW bukan ?
sepertinya sukhoi india juga pernah menang dogfight lawan jet typhon 11-0 berarti juga terfantung usernya atau strategi nya
covering both side. klaim kemenangan seringkali lebih sebagai internal propaganda.
https://theaviationist.com/2015/08/08/have-indian-su-30s-really-dominated-raf-typhoons-in-aerial-combat-with-a-12-0-scoreline-most-probably-not/
setuju dengan mas @jangkrik dam mas @irawan
Sebaiknya kita jangan menggunakan istilah KW pada J-11 tapi juga jangan terburu mengamini hasil latihan sebagai final score. Pasti ada banyak faktor yang mempengaruhi hasil latihan tersebut.
Saya yakin TNI AU secara rutin melakukan latih tanding antara armada sukhoi dengan F-16, HS-Hawk dan mungkin dg F-5 sebelum pensiun. Mungkin juga dg Tucano atau T-50 dengan skenario tertentu.
Apa bung @admin punya info pendapat pilot2 Tni AU sendiri mengenai kelebihan dan keurangan masing2 pesawat tersebut?
Yang perlu diperhatikan adalah
China sudah sangat berpengalaman memproduksi pesawat tempur
Sejak J-2 (MiG-15) , J-5 (MiG-17), J-6 (MiG-19) dan J-7 (MiG-21)
Tentunya dengan sangat mudah bagi mereka untuk memodifikasi J-11 agar jauh lebih mumpuni daripada versi EKSPOR Su-27SK milik TNI-AU
Jangan sampai kita MENELAN LUDAH SENDIRI dengan adanya istilah “KW”
@admin
Oom mau tanya ttg peran perwakilan teknis dr saab dalam latihan ini?
Bbrp formil menyebut adanya modifikasi pd Instrument acmi….bukankah teknisi dr Cubic yang mensuplai peralatan acmi yang seharusnya lebih berperan?
Disebut juga dlm artikel ini ttg pertukaran pilot antara kedua AU…beneran mereka saling mengawaki pesawat counter partnya dalam latihan tsb? Mungkin pilot rtaf duduk di kursi belakang j-11b dan pilot cina duduk dikursi belakang gripen d….?
Kalau dari info lanjutan yang didapat, proses pertukaran pilot batal dilakukan, entah sebabnya apa, mungkin karena faktor risiko kecelakaan, dll. Dugaan saya sama dengan yang mas sampaikan, ya mereka menjajal di versi tandem kedua jet tersebut.
Tergantung dari strategi peran udara yg dimainkan jg..
Jd inget waktu sukhoi au india yg mempencundangi typoon au inggris kmrn.. 11-0 klo gak salah..
Seperti kata @Admin, dalam latihan penilainya sangat subyektif.
Gripen Thailand seharusnya diwajibkan mengalah (seperti kata @admin)
jadi kemampuan tempur Gripen sengaja diturunkan
namun kenyataannya malah menang telak
sekali lagi semuanya sangat subyektif, karena hanya latihan
Referensi battle Proven yang terbaik adalah perang sesungguhnya seperti Perang Teluk dan Perang Israel – Negara Arab
Salam super mas @Jangkrik 🙂
Bukannya di artikel ditulis: dalam briefing dikatakan para pilot grifen thailand tidak diwajibkan menang.
Kok jadi diwajibkan mengalah? Kan beda arti?
terima kasih koreksinya mas
Silakan dibaca dari kedua sisi.
Anyway, just like all the simulated kills we have much talked about in the past, including some involving F-22 shot down, all these kill ratio claims should be taken with a grain of salt since they are often used for internal “propaganda” and marketing purposes and they have very little value unless we have some details about the scenario, the supporting assets involved in the engagement (AWACS, Electronic Warfare platforms, Ground Controlled Interceptors, etc.) and the ROE.
https://theaviationist.com/2015/08/08/have-indian-su-30s-really-dominated-raf-typhoons-in-aerial-combat-with-a-12-0-scoreline-most-probably-not/
itukan sukhoi yg kw coba kalau lawan yg asli la jauh grippen masih lebih kurang darpd f-16 su27 levih tinggi dari f16 tapi kalau mau ambil grippen boleh lah buat pelapis tetapi su35 harys di ambil lebih bannyak
Istiah KW terlalu mengada ngada
Karena J-11 adalah LISENSI Su-27SK asli dari Rusia
Namun setelah lisensi habis, China terus memproduksi J-11 dengan senaknya tanpa se ijin pihak Rusia
Justru J-11 telah dimodifikasi oleh China sehingga “agak” lebih dari disain Aslinya
CN-295 (Lisensi C-295) yang diproduksi PT. DI apakah KW juga ??
NBO-105 (Lisensi BO-105) juga KW ?
Tentu kita tidak terima dikatakan Produksi (Lisensi) PT. DI dikatakan KW bukan ?
Changbogo (KW U-series) malah unggul dalam Rimpac 🙂
Kenapa j-11 dikatakan KW saya msih enggak abis pikir. Anda pake kan platformnya dibuat dari su-27 terus f-2 jepang KW F-16 dong, dan Anoa KWnya VAB dong. Kalau saya pikir j-11 bukan ecek2 dia dibuat sesuai dengan kebutuhan PLA. Hahah sebenarnya sedih dengan liat orang2 fanatik banget dengan Sukhoi family hahaha
Kualitas Swedia lawan Sukhoi Kw, ya ga usah dogfight mestinya sukhoi juga udah tahu dia pasti kalah hahahaha
Istiah KW terlalu mengada ngada
Karena J-11 adalah LISENSI Su-27SK asli dari Rusia
Namun setelah lisensi habis, China terus memproduksi J-11 dengan senaknya tanpa se ijin pihak Rusia
Justru J-11 telah dimodifikasi oleh China sehingga “agak” lebih dari disain Aslinya
CN-295 (Lisensi C-295) yang diproduksi PT. DI apakah KW juga ??
NBO-105 (Lisensi BO-105) juga KW ?
Tentu kita tidak terima dikatakan Produksi (Lisensi) PT. DI dikatakan KW bukan ?
Dalam Perang Teluk tahun 1992, F-16 (single engine) sering menembak jatuh MiG-25 (dual engine) atau pesawat lainnya milik Irak.
AS paling sering menerjunkan F-16 sebagai garda terdepan pertempuran udara di Perang Teluk