Cegah Nasib Seperti Venezuela, Rusia Kirim Ilyushin Il-76 Perkuat Pertahanan Kuba dari Ancaman AS

Kehadiran pesawat kargo militer berat milik Rusia di Kuba baru-baru ini memicu kekhawatiran regional. Langkah ini dipandang sebagai pesan tegas dari Moskow bahwa mereka tidak akan membiarkan skenario yang menimpa Venezuela terulang pada sekutu terdekatnya di Karibia tersebut.

Baca juga: Ilyushin Il-76 Rusia ke Venezuela: Misi Kargo Rahasia Militer Hindari Wilayah Udara Barat

Berdasarkan data penerbangan yang dikutip oleh Defense News, sebuah pesawat angkut berat Ilyushin Il-76 yang dioperasikan oleh maskapai yang berafiliasi dengan pemerintah Rusia, Aviacon Zitotrans, terpantau melakukan perjalanan panjang sebelum akhirnya mendarat di Kuba pada 1 Februari 2026.

Pesawat dengan nomor registrasi RA-78765 tersebut memulai perjalanannya dari St. Petersburg melalui Sochi, Rusia, pada akhir Januari. Dalam perjalanannya menuju kawasan Karibia, pesawat ini melakukan beberapa kali transit, termasuk di Aljazair (Algeria), Mauritania, hingga Republik Dominika.

Penerbangan jarak jauh ini berakhir di Pangkalan Udara San Antonio de los Baños, yang terletak sekitar 50 kilometer di selatan ibu kota Havana, pada Minggu malam waktu setempat. Lokasi pendaratan ini merupakan instalasi militer penting di Kuba, yang sering digunakan untuk penerbangan strategis.

Pola penerbangan ini memicu kekhawatiran karena kemiripannya dengan aktivitas “darurat” Rusia sebelum intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela. Pesawat yang sama tercatat pernah melakukan penerbangan serupa ke Venezuela dan Nikaragua saat ketegangan antara Caracas dan Washington memuncak tahun lalu. Kala itu, pesawat tersebut diduga kuat membawa sistem pertahanan udara canggih seperti Pantsir-S1 dan Buk-M2E untuk memperkuat rezim Nicolás Maduro.

Kini, fokus Rusia bergeser ke Kuba. Setelah peristiwa di Venezuela, Kuba merasa berada dalam bidikan utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ketegangan semakin meruncing setelah adanya perintah eksekutif yang menyatakan Kuba sebagai “ancaman keamanan nasional” dan penerapan sanksi ekonomi yang ketat, termasuk penalti bagi negara-negara yang memasok minyak ke Havana.

Meskipun secara geografis terpisah jarak ribuan kilometer, Rusia tampak sangat gigih memberikan dukungan kepada sekutunya. Pada Maret 2025, kedua negara telah meratifikasi perjanjian kerja sama militer baru yang mencakup operasi gabungan, pelatihan, pertukaran spesialis, dan pasokan peralatan militer.

Walaupun isi kargo pesawat tersebut tidak diumumkan secara resmi, para ahli militer menduga kuat bahwa Rusia sedang memperkuat sistem pertahanan udara Kuba. Langkah ini diambil karena di Venezuela, sistem pertahanan buatan Rusia dianggap gagal melindungi titik-titik vital. Kegagalan tersebut oleh para ahli dikaitkan dengan faktor kesalahan operator, kurangnya persiapan, serta besarnya kapabilitas militer AS.

Detik-detik AS Hancurkan Buk-M2E Venezuela di Caracas: Analisis Kegagalan Sistem Hanud Beroda Ban Rusia-Belarusia

Dengan mendaratnya pesawat kargo tersebut di San Antonio de los Baños, Moskow seolah memberikan “payung pelindung” bagi Havana. Pesawat Il-76 dikenal mampu mengangkut hingga 50 ton kargo, termasuk senjata ringan, hulu ledak, hingga suku cadang helikopter.

Langkah berani Moskow ini menunjukkan bahwa di tengah ancaman militer yang nyata dari Amerika Serikat, Rusia tetap memandang Kuba sebagai garis depan strategis yang harus dipertahankan demi menjaga keseimbangan pengaruh di belahan bumi barat. (Gilang Perdana)

Cina Bangun Pangkalan Mata-mata (SIGINT) di Kuba, Hanya Berjarak 160 Km dari Florida