Di tengah ketegangan antara Venezuela dan AS, Korps Marinir AS (USMC) kini tengah melakukan latihan militer di Puerto Riko, berjarak sekitar 900 km dari Venezuela, ribuan marinir AS melakukan latihan pendaratan di pantai, salah satu yang kemudian viral adalah momen pendaratan amfibi menggukan hovercraft pengangkut atau Landing Craft, Air Cushion (LCAC), yang diluncurkan dari kapal amfibi jenis Landing Helicopter Dock (LHD) dan Landing Platform Dock (LPD) yang berada di Laut Karibia. (more…)
Umumnya suatu alutsista mendapatkan paket upgrade atau peningkatan kemampuan setelah dioperasikan. Namun, ada yang berbeda dari alutsista pesanan Australia. Pesawat spesialis peperangan elektronika (electronic warfare/EW) MC-55A Peregrine yang belum diserahkan, alias unitnya masih di negara produsen, diwartakan telah mendapatkan persetujuan untuk mendapatkan upgrade. (more…)
Demi kepentingan strategis, kebijakan standar ganda lazim dilakukan oleh Amerika Serikat dari waktu ke waktu, yang paling baru dan membuat Turki ‘sakit hati’ adalah terkait tawaran dari AS ke India untuk membeli jet tempur stealth F-35 Lightning II. Padahal, India adalah pengguna sistem rudal hanud (pertahanan udara) S-400 Triumf dari Rusia. (more…)
Kilas balik ke tanggal 21 Mei 2021, saat itu pemerintah Iran memperlihatkan untuk pertama kalinya sosok drone yang diberi label “Gaza.” Pemberian nama Gaza tak lain sebagai bentuk penghormatan atas pejuang dan warga di Jalur Gaza, Palestina. Nah, bersama dengan tercapainya gencatan senjata di Gaza, ada kabar bahwa drone tempur (UCAV) Shahed-149 Gaza telah melakukan uji terbang dengan membawa sejumlah persenjataan. (more…)
Expeditionary launcher Iron Dome. Sebanyak 10 tabung rudal Tamir terlihat dimuat di peluncur, yang dapat menampung total hingga 20 tabung sekaligus
Setelah serangkaian pengujian internal, Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) akhirnya mengikuti jejak Angkatan Darat AS (US Army) yang lebih dulu menggunakan rudal Tamir pada sistem hanud Iron Dome buatan Israel. Pengadaan sistem hanud Iron Dome untuk USMC terdiri dari tiga baterai dengan hampir 2.000 unit rudal Tamir. Tentu ada maksud tersendiri bagi pasukan pendarat terkuat di dunia ini untuk melengkapi arsenalnya dengan Iron Dome. (more…)
Posisi geografis Indonesia yang strategis, membuat kita dapat menjadi mangsa Negara lain. Karenanya untuk terus meningkatkan pertahanan Nasional, kita harus memperkuat persenjataan. Indonesia mulai mencoba mandiri dalam pengadaan alat pertahanan strategis. Salah satunya adalah sistem pertahanan missile/ peluru kendali jarak menengah dan jauh. Usaha ini penting mengingat keuangan Indonesia mungkin tidak sekuat negara-negara lain. (more…)
Keberadaan roket tak bisa dipandang sebelah mata dalam perkembangan alutsista, pasalnya roket terbukti punya nilai strategis yang sangat diperhitungkan. Tengok saja bagaimana konsep MLRS (Multiple Launch Rokcet System) masih begitu di kedepankan oleh AS dan NATO, begitu juga dengan Indonesia yang sejak era RM70 Grad mulai ‘serius’ memikirkan kemandirian lini roket penggebuk ini. Dalam dimensi lain, penguasaan teknologi roket menjadi dasar untuk pengembangan rudal (peluru kendali). Karena pada dasarnya, rudal adalah roket yang diberi sensor pemandu dan kendali. (more…)
Selain senapan serbu AK-47, granat berpeluncur roket RPG -7 layak dinobatkan sebagai senjata perorangan besutan Uni Soviet yang legendaris melintasi batas jaman dan telah digunakan banyak negara. Sejak dioperasikan AD Soviet pada tahun 1961, kini 73 negara telah mengoperasikan RPG-7, dan seperti halnya AK-47, RPG-7 juga banyak diproduksi oleh negara lain. Meski agak belakangan, Indonesia akhirnya ikut bergabung sebagai pengguna resmi RPG-7. (more…)
Masih ada yang tersisa dari pembahasan seputar senjata anti tank perorangan (man portable) yang dimiliki TNI AD. Setelah di artikel terdahulu kami ulas Armbrust dan C90-CR yang berbasis roket, kemudian dilanjutkan NLAW (Next Generation Light Anti Tank Weapon) yang berbasis rudal, kini giliran sosok senjata anti tank buatan Perancis yang sudah lumayan lama dipakai satuan infanteri TNI AD, yaitu LRAC 89. (more…)
Selain RBU-6000 yang merupakan sista (sistem senjata) peluncur roket anti kapal selam buatan Rusia, TNI AL dalam gelar operasinya juga mengdalkan sista Bofors 375mm, peluncur roket anti kapal selam buatan Bofors (kini Saab Underwater Systems) dari Swedia. Adopsi Bofors 375mm oleh TNI AL bahkan sudah lebih dulu ketimbangRBU-6000. Pasalnya Bofors 375mm menjadi alutsista yang melekat pada frigat kelas Fatahillah, yang terdiri dari KRI Faatahillah (361), KRI Malahayati (362) dan KRI Nala (363). (more…)